Karena Luka Itu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 24 September 2015

“Huftt!” aku menghela napas panjang, menyandarkan punggungku ke kursi. Ku tatap lagi monitor komputer di hadapanku dan ku baca sekali lagi cerita yang baru ku ketik. Akhir-akhir ini aku sedang sibuk menulis cerbung untuk sebuah majalah. Kesibukan yang belum pernah ku bayangkan sebelumnya. Sama sekali tak pernah. Tiba-tiba aku teringat pada seseorang yang dikirim Tuhan untuk menjadikanku seperti ini, teringat luka yang membuatku seperti ini.

Siang itu, ketika jam istirahat di sekolah. Seperti biasa, aku sering menghabiskan waktuku di perpustakaan sekolah. Ini masih bulan-bulan awalku di putih abu-abu. Aku belum mengenal banyak teman di sekolahku, apalagi aku berasal dari luar kota tempatku bersekolah ini. Aku sedang asyik membaca novel ketika sebuah suara mengagetkanku.
“Hey! Ini milikmu kan?” katanya sambil menyerahkan sebuah kartu, kartu anggota perpustakaanku yang sibuk ku cari beberapa hari ini.
“Aku menemukannnya di buku ini,” lanjutnya lagi sambil menunjukkan buku yang dipegangnya, sambil tersenyum, buku yang beberapa hari lalu ku pinjam. Senyum yang indah.
“Eh, iya, terima kasih,” jawabku sambil mengambil kartu itu.
“Sama-sama,” jawabnya.

Obrolan kami terus berlanjut hingga bel masuk berbunyi. Tentu saja obrolan dengan suara yang lirih, kalau tak ingin dapat teriakan dari Bu Parti, petugas perpus yang lumayan galak. Aku dan Salsa pernah diteriaki dan dihukum merapikan buku-buku karena tertawa cukup keras saat membaca bagian novel yang menurut kami lucu. Salsa kapok dan tidak mau menemaniku ke perpus lagi.

Rendra. Ku tahu itu namanya. Dia anak basket. Cukup terkenal di sekolahku. Dia juga hebat dalam mata pelajaran Fisika, pelajaran yang membosankan buatku, karena aku lemah di pelajaran ini. Sempurna, kata teman-teman dia bukan hanya tampan tapi juga ramah dan baik hati. Banyak yang menyukainya. Ternyata kelasnya di lantai dua, pantas saja aku jarang melihatnya.
“Nadh, sedang sibuk ya?” sapa Rendra suatu hari saat aku sedang mencoba mengerjakan soal Fisika di perpustakaan. Rendra duduk di kursi sebelahku.
“Tidak juga, hanya sedang mencoba mengerjakan soal-soal ini,” jawabku.
“Susah ya?” tanyanya sambil tersenyum, seperti mengerti kesulitanku.
“Hehe, iya,” jawabku sambil meringis. Ketahuan! Batinku.
“Mau aku bantu?” tawarnya.
“Boleh,” jawabku.

Rendra pun dengan sabar membantuku mengerjakan soal-soal itu. Ternyata dia memang baik, tidak sombong walaupun pintar. Lama aku mengenal Rendra, aku semakin mengagumi sosoknya. Apa aku menyukai Rendra? Entahlah, dia terlalu tinggi buatku, dia yang aktif, keren, pintar dan populer. Sedang aku hanya seseorang yang biasa saja. Rendra, dia pernah menasihatiku ketika aku mengeluhkan tentang ulanganku, tentang aku dengan segala kekuranganku. Bahkan Rendra mau berbaik hati mengajariku ketika aku mendapat kesulitan.

“Yang terpenting itu bukan nilai, tapi ilmu dan pengetahuan yang kita dapat. Yang penting kita sudah berusaha. Tuhan menilai kita dari usaha kita. Mungkin kita lemah di suatu hal, tapi itu bukan berarti kita tak punya kelebihan, Tuhan Maha Adil, kita sempurna dengan kelebihan dan kekurangan kita masing-masing,” katanya sewaktu aku menangis di perpus karena ulangan fisikaku jelek padahal aku sudah belajar habis-habisan.

Tapi semakin lama, rasanya semakin jarang kulihat Rendra di perpus. Ke mana dia? Hari berikutnya belum juga ku lihat Rendra. Aku rindu mengobrol dengannya di perpus. Beberapa hari ini, ku dengar kabar tentang Rendra. Teman-teman sekelas juga banyak yang membicarakannya. Siapa yang tak mengenal Rendra di sekolahku? Kabar yang ku dengar Rendra sedang jatuh cinta! Aku cukup terkejut mendengarnya. Dia jatuh cinta sama anak OSIS, pintar fisika juga! Tentu orang itu bukan aku.

Hari ini, aku bertemu Rendra di perpus. Masih seperti dulu, dia menyapaku dan mengajakku berbincang-bincang.
“Nadh, Sovie cantik ya? Kalem lagi,” kata Rendra spontan ketika melihat Sovie memasuki perpustakaan.
Kata-kata Rendra baru saja itu membuatku mengalihkan pandanganku yang sejak tadi membaca buku, aku jadi ikut-ikutan melihat ke arah Sovie. Rendra tersenyum dan menganggukkan kepala pada Sovie.
“Aku suka sama Sovie,” katanya agak malu-malu.

Hatiku rasanya hancur. “Rendra, kenapa harus Sovie?” Kataku dalam hati. Rendra masih berbicara tentang perasaannya pada Sovie, aku hanya terdiam mendengarkannya, bukan mendengarkannya, tapi lebih tepatnya aku melamun, kata-kata Rendra membuatku semakin perih.
“Hey, sudah bel!” kata Rendra menyadarkanku dari lamunanku.

Sejak hari itu, aku mulai malas ke perpus. Aku malas bertemu Rendra, walau aku tahu aku merindukannya, aku rindu berbincang bersamanya lagi, aku rindu mata dan senyumnya. Aku hanya tak ingin terus mengharapkan Rendra ketika disaat yang sama dia juga sedang mengharapkan cinta orang lain yang bukan aku. Rendra berpacaran dengan Sovie. Mereka makan bersama di kantin. Pulang bersama. Rasanya hatiku semakin perih melihatnya.

Aku tak punya tempat untuk bercerita tentang sakit hatiku ini, aku hanya bisa menumpahkannya pada buku harianku, menumpahkannya dalam bentuk kata. Menulis dan menulis tentang luka sakit hati ini pada Rendra. Baru kali ini aku menulis di buku harian. Sebelumnya, aku tidak terlalu suka menulis. Aku terlalu malu untuk bercerita pada temanku, termasuk Salsa, teman dekatku. Buku harianku ku jadikan pelarian ketika aku harus melupakan Rendra.

Sampai suatu ketika, “Lihat ini! Kamu akan dapat honor, jangan lupa traktirannya!” kata Salsa sambil menunjukkan sebuah tulisan di majalah sekolah.
Kamu, Karya: Nadhina Natasya. Aku membaca tulisan di majalah itu.
“Hah? Kapan aku mengirimkannya?” kataku terkejut.
“Hehe, maaf ya Nadh, aku tidak izin dulu ke kamu. Bulan lalu saat main ke rumahmu, aku menemukan buku harianmu di atas meja saat kamu hendak membuatkan minum. Aku membacanya, aku sempat tak percaya kalau itu tulisanmu. Karena aku belum selesai membacanya dan kamu keburu datang, bukumu ku bawa pulang. Kemudian esoknya aku kembalikan lagi ke mejamu. Dan aku mencoba mengirimkan salah satu tulisanmu itu ke majalah ini, dan hasilnya dimuat! Kamu memang berbakat,” kata Salsa.
Aku jadi teringat pada kata-kata Rendra dulu, kita pasti punya kelebihan.
“Maaf. Jangan marah ya,” lanjut Salsa lagi menatapku yang masih terdiam.
“Aku tidak marah, terima kasih Sal,” kataku sambil tersenyum.

Saat itu, aku semakin bersemangat menulis, aku juga mulai berani mengirimkan karya-karyaku ke majalah. Walau tak semuanya dimuat. Beberapa tulisanku juga mulai menghiasi majalah dinding sekolah. Aku mulai dikenal di sekolah karena tulisanku. Tulisan tentang seseorang yang patah hati. Tapi Rendra tak pernah tahu tentang semua ini, tentang perasaanku. Pernah saat bertemu di perpus Rendra bertanya.

“Kamu kenapa? Kok aku baca tulisan-tulisanmu di majalah pada galau semua?”
Aku hanya menjawab singkat. “Aku tidak apa-apa kok, Rend,” padahal rasanya aku ingin menangis saat mengatakannya. Tapi suatu saat nanti, aku ku buat dia tahu tentang luka ini.
Aku pernah diminta beberapa kali mewakili sekolah untuk mengikuti lomba menulis, walaupun hasilnya aku bukan yang terbaik.

Lama kelamaan tulisanku berubah, bukan hanya tulisan kelabu lagi, aku mulai belajar untuk menulis yang lain. Ternyata ada banyak hal yang lebih menyenangkan yang bisa ditulis selain cinta, selain patah hati itu sendiri. Dan perasaan pada Rendra, aku bisa melupakannya seiring berjalannya waktu. Walaupun bayangnya terkadang tetap hadir. Aku bersyukur bisa mengenal Rendra walau aku harus terluka. Ketika telah lulus SMA, aku masih tetap belajar menulis, meningkatkan kualitas karyaku. Aku senang bisa bergabung sebagai penulis dalam forum Lingkar Pena.

“Nadhiin, ada temanmu, nak!” panggilan dari Ibu membuyarkan lamunanku. Ini pasti Salsa, hari ini aku berjanji mentraktirnya dari hasil honor menulisku. Salsa yang dulu menyemangatiku untuk menulis dan mengirimkan karya-karyaku.
“Ya Bu, sebentar,” jawabku.

Sebelum ku matikan komputerku, ku pandangi lagi akhir dari cerita yang ku tulis, kutambahkan catatan di bawahnya.
“Salam buat Rend, terima kasih untuk luka yang dulu. Aku bahagia bisa menjadi seperti ini karena luka itu.”

Cerpen Karangan: Yasmin Khoiriyyah
Facebook: www.facebook.com/Yasmin.Khoiriyyah99

Cerpen Karena Luka Itu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dua IPA

Oleh:
Bulan-bulan pertama aku menduduki bangku kelas dua SMA, lebih tepatnya lagi di kelas dua Ipa. Untuk orang seperti aku Ipa adalah pilihan yang paling salah untuk dipilih, dengan kemampuan

If You’re Not The One

Oleh:
Aku salah satu siswa SMA Garuda. Di situlah dimulainya kisah cinta pertamaku. Bagiku tak semua cinta berakhir bahagia dan ini kisah cinta pertamaku. Entahlah perasaan ini layak disebut cinta

Phobia (Part 1)

Oleh:
Aku berjalan dengan gagahnya sambil memegang buku dan satu pulpen, menuju taman kecil di seberang kelas. Aku duduk sambil memandangi sekeliling dan berkata, “apakah tempat ini aman untuk membuka

Orang Ke 3

Oleh:
“Maju Sar, MAJU! Lo gak mungkin disini terus” well, itu adalah salah satu kalimat yang sama sekali gak asing dalam hidup gue. Oh ya, nama gue Sarah. Cewek yang

Primut dan Prihand

Oleh:
Widdiih jam sudah menunjukkan pukul setengah 10 pagi. Aku capek sedari tadi hanya mondar-mandir gak jelas, dengan sahabatku Dewi. Ya! Melihat lihat calon sekolah baruku ini salah satu SMK

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *