Kereta Pukul 06.14 WIB

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 30 October 2017

Pagi itu, seperti biasa aku melaksanakan rutinitasku sebelum berangkat kerja. Kebetulan tempat kerjaku lumayan jauh dari tempat tinggalku sehingga aku mesti menggunakan mode transportasi kereta. Kereta yang biasa kutumpangi adalah kereta pagi pukul 06.14 WIB. Pikirku, lebih baik kepagian daripada harus berdesak-desakan naik kereta jam berikutnya yang selalu lebih penuh.

Namun, pagi itu, hujan turun dengan derasnya. Aku sempat bingung harus memaksa untuk berangkat yang artinya akan basah-basahan atau menunggu hingga hujannya agak mereda. Aku tersadar, ada agenda pagi yang harus aku kejar, sehingga aku memutuskan untuk berangkat kerja sambil menerobos hujan menuju stasiun. Dengan menggunakan sendal jepit sambil menenteng tas plastik berisi sepatu, aku pun memantapkan langkahku menerjang hujan. Jalanan tampak lengang pagi itu, mungkin orang-orang masih betah berdiam diri di dalam selimutnya.

Akhirnya, setelah melakukan perjalanan kurang lebih 10 menit, aku tiba di stasiun. Peron tengah menjadi tempat favoritku menunggu kereta, biasanya di sana isi gerbongnya selalu kosong. Jarang orang yang rela berjalan jauh dari pintu masuk, sehingga mereka hanya akan memenuhi gerbong ujung dan ujung saja, tidak sampai ke tengah.

Pagi itu, tak terlalu banyak orang di stasiun, namun tempat biasanya aku berdiri sambil nyender nunggu kereta sudah diambil alih oleh orang lain. Sekilas aku memperhatikannya, seorang lelaki berperawakan tinggi dan berambut ikal. Merasa kuperhatikan, dia balas menatap sambil mengangguk dan tersenyum, aku jadi salah tingkah dan menunduk menatap jari-jari kakiku yang hanya beralaskan sendal jepit cap swellew.

Kemudian, kereta pun tiba tepat pukul 06.14 WIB, aku dan pria tersebut memasuki gerbong yang sama. Tak kuduga ternyata ia memilih duduk di sampingku, padahal masih banyak bangku kosong yang tersedia. “Turun di mana?”, tanyanya membuka percakapan. “Tebet,” jawabku asal sambil menjejalkan earphone ke telingaku tanda bahwa aku sedang tidak ingin melakukan percakapan. Dia pun mengerti dan akhirnya percakapan singkat kami pun tidak ada kelanjutannya.

“Mbak bangun mbak, udah di Cawang nih bentar lagi turun,” suara merdu tersebut membuyarkan mimpi indahku. Aku pun terbangun dan langsung bergegas setelah mengucapkan terimakasih. Ia hanya tersenyum dan aku baru sadar ternyata senyumannya manis juga.

Malamnya, saat turun dari kereta dan berjalan menuju arah pintu keluar tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundakku. “Hey, ketemu lagi,” ujar suara yang kukenal. Saat kutolehkan muka, aku pun melihat pria perebut tempat favoritku nungguin kereta. “Oh hay, baru pulang juga?” Jawabku.
Kemudian kami mengobrol singkat sambil menuju keluar stasiun.

Setibanya di depan stasiun, secara tiba-tiba ia mengajak makan. Katanya, ia tahu tempat makan yang enak di dekat stasiun. Seolah tersihir, aku pun menyanggupi ajakannya.

Sambil makan, ia banyak bercerita. Namanya Gusti, dan ternyata setiap hari ia berangkat kerja naik kereta pukul 06.14 WIB karena tempat kerjanya yang jauh, yakni di dekat stasiun Jakarta Kota. Sementara kami berangkat dari stasiun Citayam. Dalam hati aku meradang, ternyata masih ada orang yang jauh lebih menyedihkan harus berangkat pagi buta setiap hari, sementara aku, yang berangkat paginya tidak setiap hari masih sering saja mengeluh. Ya, profesiku sebagai reporter kadang mengharuskan berangkat pagi buta demi mengejar agenda, kadang berangkat pada jam normal seperti yang lainnya.

Aku tak terlalu banyak bicara saat itu, cukup jadi pendengar yang baik saja pikirku karena kulihat dia tipe orang yang suka bercerita. Selesai makan, aku bilang mau buru-buru pulang karena takut kemaleman, maklum juga kalau jam segitu jalanan menuju rumah yang kebetulan berukuran sempit akan dipenuhi oleh kendaraan sehingga menimbulkan macet.

Ia pun menawarkan diri mengantarku pulang, namun harus mengambil dulu motornya di penitipan motor. Sontak aku menolak, pertama aku tidak mau merepotkan orang yang baru kukenal, kedua, aku kasian sama tukang ojek akan kehilangan satu pelanggan jika aku pulang bersamanya. “Kalau gitu besok berangkat bareng ya, naik kereta bareng. Subuh aku bangunin kamu biar gak telat bangunnya. Mau gak?” Tawarnya. Aku pun mengangguk tanda setuju.

“Udah nyampe rumah?” Begitu bunyi pesan yang kuterima di aplikasi whatsapp dengan nama kontak Gusti. Tak kugubris pesan tersebut karena aku masih dalam perjalanan dan terjebak macet. Sesampainya di rumah, langsung kulempar sepatu dan tas kemudian menuju kamar mandi. Sehabis mandi, aku menyalakan TV menonton berita yang sebetulnya kuanggap basi karena sudah aku ketahui isi beritanya dari siang hari.

Saat sudah merasa jemu, kumatikan TV dan langsung menuju tempat tidur, tak lupa kuambil HP ku yang sedari tadi kuletakkan di atas meja. Terlihat banyak notifikasi pesan, “ah palingan dari grup, siapa juga yang suka ngirim chat secara pribadi,” pikirku.

Tiba-tiba aku teringat sosok Gusti, dan pesannya yang belum sempat aku balas dan terlupakan. Aku lihat ada lima pesan darinya yang seolah khawatir karena aku tak kunjung membalas pesannya. “Maaf tadi lagi di jalan, pulang langsung mandi dan ini baru mau tidur,” jawabku. Entah kenapa, aku merasa deg-degan dan berharap dia belum tidur sehingga bisa membalas pesanku. “Ok, syukurlah kalau gitu. Kirain kamu ada yang nyulik. Selamat tidur ya, jangan lupa besok berangkat bareng,” ujarnya datar tanpa dibubuhi emoticon satupun. Aku mengerutkan kening membaca pesannya, lalu aku pun tidur sambil mematikan HP, karena sudah kebiasaanku kalau mau tidur HP harus dimatikan.

Paginya, aku terbangun kemudian bersiap-siap berangkat kerja. Begitu kunyalakan HP, langsung berisik menandakkan ada pesan yang masuk dan semuanya dari Gusti. “Iya sudah bangun kok,” balasku.
Sebenarnya aku tak terlalu berharap dengan ucapannya, tapi nyatanya dia sudah berdiri di peron tengah dengan senyum manisnya, dan aku pun menghampirinya.

Sepanjang perjalanan kami membicarakan banyak hal, dari mulai hal yang penting sampai yang tidak penting. Aku jadi semakin nyaman mengobrol dengannya yang selalu menyelipkan canda di setiap obrolannya. Siang hari aku dapat pesan dari Gusti. “Jangan lupa makan ya,” ucapnya. “Iya, kamu juga ya,” jawabku. Kemudian ia mengirimkan photo makanan dengan caption “iya ini aku lagi makan nih,”. Lalu tanpa sadar aku pun memotret nasi kotak jatah makan siangku dan mengirimkannya pada Gusti.

“Pulang bareng yuk” ajak Gusti. “Aku pulangnya malem nih,” jawabku. “Gak apa-apa, aku tungguin ya di stasiun ntar aku turun di Tebet,” tawarnya. Malamnya kita pulang bareng, ternyata dia betul-betul menungguku di stasiun Tebet sejak pukul 17.00 WIB dan aku baru bisa pulang pukul 20.00 WIB. Sebetulnya aku merasa bersalah membuatnya menunggu lama, dan akhirnya aku menawarkan untuk mentraktir dia makan, tapi dia menolaknya.
“Gimana kalau sebagai gantinya, kamu nemenin aku jalan-jalan weekend ini?” Tanyanya. Aku pura-pura berpikir dulu sebelum ku iyakan tawarannya.

Begitulah, hari demi hari dia selalu membanjiriku dengan perhatian-perhatian manisnya. Dia juga tak pernah absen menunggu kepulanganku selarut apapun itu. Bahkan, saat aku sakit dan masuk Rumah Sakit pun dia langsung mengambil cuti dari perusahaannya karena ingin menemani dan merawatku. “Pasangan itu harus saling menjaga, kalau kamu sakit aku harus nemenin kamu sampai sembuh,” ucapnya yang membuatku kaget. “Pasangan? Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur?” Jawabku dengan nada bercanda sambil tertawa seperti biasanya. Aku lihat raut mukanya tak berubah, malah semakin serius. Kemudian ia menarik jemari tanganku ke dalam genggamannya. “Aku pengen serius sama kamu,” tegasnya dengan mimik muka penuh keseriusan.
Aku hanya bisa terdiam, berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Melihatku yang kebingungan ia melepaskan genggamannya dan berkata “gak perlu dijawab sekarang, pikirin aja dulu baik-baik,” tukasnya.

Semenjak kejadian itu, setiap hari dia selalu menagih jawaban. Berkali-kali juga aku tegaskan padanya aku tidak mau pacaran, aku lebih nyaman berteman sama dia karena kami belum terlalu lama saling mengenal. Hingga suatu malam, dia hujan-hujanan datang ke rumahku hanya untuk mengantarkan obat batuk. Sebelumnya, aku sempat terbatuk-batuk saat sedang video call dengan dia. Tak kusangka dia langsung datang saat itu juga.
“Aku gak mau kamu sakit lagi,” katanya sambil menyodorkan tas plastik berisi sebotol obat.

Entah kenapa, malam itu aku merasa terharu dan merasakan ketulusannya. Sebelum ia pulang aku menarik tangannya dan berkata “aku mau” ucapku. “Mau apa?” Tanyanya sambil tertawa. “Yang jelas dong, mau tidur? Ya udah sana tidur kamu kan kebo si tukang tidur” Lanjutnya sambil terkekeh. “Mau jadi pacar kamu,” jawabku sambil tersipu. “Walaupun kita belum terlalu lama kenal, tapi aku nyaman sama kamu,” ucapku sambil menunduk malu.
Kemudian ia berbalik dan langsung memelukku sambil berkata “mulai saat ini kamu milikku ya, jangan sakit terus ya,” ucapnya.

Ia pun pamit untuk kedua kalinya, entah kenapa ada perasaan tak rela dan tiba-tiba takut kehilangan yang menerpaku. Kuikuti dia sampai menghilang dari pandanganku di belokan gang, sekilas ia sempat menoleh sambil tersenyum tengil penuh kemenangan.

Seperti biasa, pagi hari kami berangkat bareng dan pulang bareng. Sebagai pasangan baru, kami pun selalu memamerkan keromantisan kami di muka umum. Ia bahkan tak akan melepaskan genggaman tangannya yang mengurung jari jemariku hingga aku turun di stasiun tujuanku.

Sore itu, aku mendapat kabar dari Gusti yang menyatakan kalau dia tidak bisa menungguku pulang karena sedang tidak enak badan sehingga mau cepat pulang untuk istirahat. “Hemm, tak bisanya,” pikirku. Orang yang selalu memamerkan kesehatannya dan mengejekku si tukang sakit kini mengakui kalau dirinya tak enak badan. “Ya udah, cepat pulang dan jangan lupa minum obat,” jawabku. Hingga aku pulang, tak ada satupun pesan dari Gusti, mungkin dia sudah tidur sangkaku. Paginya, ku lihat masih belum ada pesan darinya.

Aku yang tak biasa mengirim pesan duluan terpaksa menurunkan gengsiku dan mengiriminya pesan. “Belum sembuh?” Tanyaku. Namun layar HP ku menandakan bahwa pesanku belum sampai ke HP Gusti. Aku pun terpaksa berangkat sendiri. Di stasiun tempat biasa Gusti berdiri sambil nyengir menunggu kedatanganku yang dia bilang gak pernah memecahkan rekor karena selalu datang lebih telat darinya tak kulihat kehadirannya. Ada perasaan cemas yang menyelimutiku, apa dia sakit parah sampai-sampai dia tidak bisa mengirim kabar padaku.

Malamnya, di dekat stasiun aku tak sengaja bertemu seseorang yang aku ketahui sebagai temannya Gusti. “Bang, lihat Gusti gak hari ini?” Tanyaku. “Dia lagi sakit, tadi siang juga saya sama yang lain abis jenguk dia. Mbak gak dikasih tahu?” Ujarnya balik bertanya. Sakit apa sih dia, baru sakit sehari doang udah dijengukin teman-temannya, aku aja yang pacarnya belum jenguk dia. Berbagai pertanyaan berseliweran dalam pikiranku. “Kalau gitu yuk saya anterin ke rumahnya,” tawarnya memecah lamunanku. Aku menolak dengan halus tawaranya dengan alasan takut mengganggu istirahat Gusti.

Besoknya, aku berangkat agak siang karena penyemangat berangkat pagiku hari itu tidak ada. Tak kusangka, Gusti sudah berdiri menungguku di tempat biasa. Ia bersandar sambil mengenakan masker berwarna abu-abu dan jaket tebal. “Kamu kok siang banget sih, aku bisa kesiangan nih gara-gara nungguin kamu huhh dasar kebo,” omelnya sambil mencubit hidungku. “Aku kangen hidung kamu, baru sehari gak ketemu aja udah kangen,” ucapnya sambil tersenyum. Aku diam saja tak menggubris ocehannya, aku masih sebal karena dia telah menghilang dan membuatku khawatir.

“Aku minta maaf ya, aku gak mau bikin kamu khawatir,” mohonnya. Aku lihat matanya tampak sayu, lalu ku tarik masker yang menutupi setengah wajahnya. Aku kaget melihat mukanya yang pucat pasi dengan bibir yang tak kalah pucatnya. Aku taruh kedua telapak tanganku di pipi dan dahinya, rasanya panas sekali. “Kamu masih sakit kenapa sudah masuk kerja? Harusnya kamu istitahat biar cepat sembuh!” Bentakku khawatir. Ia hanya tersenyum dan melepaskan tanganku dari wajahnya. “Kalau gak salah, tadi aku udah bilang kalau aku kangen kamu, terutama hidung kamu, itu alasannya aku gak bisa sakit berlama-lama. Aku takut kamu ketiduran di kereta dan nyender ke pundak orang lain,” ujarnya sambil cemberut.

Seperti biasa, pulang kerja ia menungguku di stasiun. Ia berdiri sambil menenteng tas plastik yang berisi makanan, aku pun menghampirinya sambil berlari, aku tahu isi tas plastik tersebut pasti makanan kesukaanku. Aku lebih senang lagi karena melihat Gusti yang tidak sepucat tadi pagi. “Kita pulang malem ya, naik kereta yang berikut dan berikutnya aja,” katanya. “Kenapa? Aku kan pengen cepet-cepet pulang, aku ngantuk,” gerutuku. “Itulah. Aku mau menghabiskan waktu lebih lama sama kamu. Habisnya kamu kalau udah pulang ke rumah pasti langsung tidur, gak mau nemenin aku chatting lebih lama,” protesnya. Kemudian, malam itu kami pulang naik kereta terakhir pukul 11 malam lewat. Dia mengaku tak bisa mengantar pulang karena hari itu dia tidak membawa motor ke stasiun.

Sesampainya di rumah aku lihat HP tidak ada pesan yang menanyakan aku sudah sampai apa belum. Aku yang kelewat ngantuk tak memikirkan hal itu, langsung saja tidur dan mematikan HP. Paginya, aku tak melihat Gusti di stasiun. Pesanku pun tak terkirim. Aku menunggu hingga dua jam lamanya di stasiun. Perasaanku mulai tak enak. Ke mana dia? Sakit lagi kah?. Seharian aku tak tenang, berulang kali melirik HP berharap ada pesan masuk dari Gusti atau setidaknya ada tanda bahwa HP nya aktif, namun pesanku belum terkirim juga.

Besoknya dan besoknya lagi kejadian yang sama berulang. Gusti benar-benar hilang tanpa jejak. Aku merasa bodoh, bahkan rumahnya pun aku tak tahu, harus ke mana aku mencarinya? Aku tak tahu ke mana mesti menanyakan kabarnya. Temannya yang sempat kutemui pun tak pernah lagi kulihat di sekitar stasiun.

Kemudian, seminggu setelah kontak terakhirku dengan Gusti aku lihat tanda bahwa pesanku terkirim. Setiap hari aku memang mengirim pesan, kadang cuma titik doang sekedar untuk mengetahui kalau HP nya aktif.

“Kamu ke mana aja?” Tanyaku.
“Ini siapa?” Balasan pesan dari nomor Gusti.
“Loh ini siapa? Gusti nya ke mana?” Tanyaku heran.
“Aku calon istrinya Gusti, kami mau nikah bulan depan,” jawabnya.
Kemudian langit seakan runtuh menimpaku.

Tamat

Cerpen Karangan: Yayu Agustini Rahayu Achmud
Blog: shakuyaa.blogspot.com

Cerpen Kereta Pukul 06.14 WIB merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Love You Ken

Oleh:
Namaku Odelina Azkanah sebut saja Lin. Aku dibesarkan oleh nenekku di bandung, karena orangtuaku yang sibuk dengan pekerjaannya. Setelah umurku 15 tahun aku pun ikut kedua orangtuaku. Disini aku

Pangkuan Masa

Oleh:
Aku tetaplah orang yang sama seperti pertama kali kita bicara, tetap sama dalam menanggapimu ketika berbalut amarah, bahkan tetap sama saat kau telah beranjak meninggalkanku. Hingga kini, setelah hari-hari

Dalam Ingatanku

Oleh:
Ku masuki kelas yang berbau cat ketika ku hirup udara dalam kelas ini. Ku putar mataku dan memperhatikan tembok kelas yang dipenuhi dengan karya tulis dan curahan hati anak-anak

Cinta Datang Saat Perpisahan

Oleh:
Hari ini adalah hari perpisahan di sekolahku. Hari ini aku akan resmi menjadi alumni dan melepaskan masa-masa putih abu-abu. Aku berharap ada hal hal spesial yang terjadi hari ini.

Jadi ini Akhirnya

Oleh:
Senja pun telah bergulir, berganti pekatnya malam berhiaskan gemintang perak menggantung di hamparan langit hitam. Sirius mulai menampakkan diri ditemani bola kuning bercahaya, rembulan. Drama manusia dikejar jadwal kian

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *