Ketidak Mungkinan Yang Aku Semogakan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Patah Hati, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 3 May 2017

Matahari sudah ada di atas kepala, bel sekolah pun seduh berbunyi aku duduk di bangku taman sendirian sambil memandangi matahari yang ada di atas kepalaku. Aku sedang menunggu sahabatku yang belum keluar dari kelasnya, beberapa saat kemudian dia pun datang dan mengagetkanku dengan suaranya yang serak-serak basah,

“Hey, ayo pulang!” ajaknya
“Oke, lama banget sih kamu!” jawabku
“Maaf, Maaf, tadi ada tambahan sedikit dari Bu Wulan.” Jawabnya. Sambil menarik tanganku untuk berdiri dari bangkuku
“Oke, aku ngerti kok.” Aku beranjak dari bangku itu

Kami pun pulang berdua, bercanda, bernyanyi, ketawa-ketawa, sampai-sampai disangka kayak orang gila, tapi itulah kami, kami mempunyai sifat yang sama walaupun orangnya berbeda, dia adalah sahabat saya Sari namanya, dia agak pendek, rambutnya juga pendek, dan dia suka sekali dengan yang namanya ketawa, jadi kalau sedang bersama dia hidup itu terasa bahagia banget walaupun ada masalah seberat apapun kalau lagi deket sama dia pasti ikut ketawa. Dia selalu bersama saya dari TK sampai SMP, satu sekolah, bahkan di rumah kami sering bersama karena jarak rumah kami yang berdekatan. Terkadang kami sering mencurahkan isi hati kami masing-masing, mulai dari masalah teman, pelajaran, bahkan masalah cinta, tak ada masalah yang tak kami curhatkan, jadi tak heran kami dekat sekali bahkan seperti saudara.

Kukayuh sepedaku cepat-cepat agar sampai di rumah, keringat sudah bercucuran karena saat itu matahari yang terik telah menyengat tubuhku, sampai di rumah aku langsung masuk kamar dan kurentangkan tubuhku di atas ranjang tempat tidurku untuk melepas penat, lalu ada suara yang memanggilku dari luar ternyata ibuku,

“Indah.. Indah.. Indah.. ayo keluar nak, makan siang sudah siap!” panggilnya kepadaku.
“sebentar bu, lagi males makan nanti kalo nafsu aja aku makan.” Jawabku lemas
“pokoknya ibu gak mau kalo nanti kamu sakit, cepat makan!” suruhnya
“ya, bu bentar, sebentar lagi kok.” Jawab ku lagi
“ya sudah, ibu mau keluar sebentar, jangan lupa makan, jaga rumah ya, jangan lupa kalo keluar rumah, rumahnya dikunci, ya sudah ibu keluar dulu, Assalamualaikum.” pamitnya
“ya bu, hati-hati, Waalaikum salam.” jawabku
Ibu pun pergi keluar, ibuku memang agak sedikit sibuk mengurusi kegiatannya, tapi ibu selalu menyempatkan waktu untuk keluarga kecinya. Ayahku memang tak ada di rumah beliau sedang bekerja di luar kota. Jadi rumahku sering sepi.

Pagi yang cerah telah menyapaku, matahari sudah menampakkan wajah cerianya dan menyapaku dengan senyuman. Pagi ini seperti biasa aku sudah harus dihadapkan dengan sejuta aktivitasku, seperti biasa aku berangkat dengan sahabatku Sari. Sampai di sekolah, aku duduk sendirian di depan kelas sambil melihat orang lalu lalang kesana kemari dengan kesibukannya masing-masing, pandangan mataku yang kosong menatap satu orang yang menurutku itu orang terkeren dan terkece yang pernah aku tahu, dia adalah Rama anak beda kelas denganku yang selalu aku pandangi waktu pagi sebelum masuk kelas, istirahat, bahkan pulang sekolah. Aku sudah mengaguminya sejak dulu, sejak kelas 1 dan sekarang aku sudah kelas 3 maklum lah, aku itu cewek jadi mau apa kalo gak diem kalo lagi ngagumi cowok, walaupun aku udah usaha apapun tetap aja aku gak berani, aku bukan tipe orang yang berani melakukan hal-hal yang seperti itu apalagi masalah CINTA.

Jam berputar sangat cepat, semua pelajaran yang melelahkan itu sudah menguras energiku, tetapi sesaat aku melihat Alif yang lewat di depanku, disaat itu aku langsung terpaku memandanginya dan berharap waktu untuk berhenti sejenak membiarkan aku memandanginya lebih lama lagi, tapi itu tak mungkin itu semua tak akan mungkin terjadi, itu semua hanya terjadi di alam mimpiku saja, namun dalam hatiku aku berdoa, Tuhan semoga di suatu saat nanti bisakah aku memandang wajahnya lebih lama, agar aku tau orang yang aku cintai benar-benar ada dihadapanku bukan hanya sebentar tapi untuk waktu yang lama, tapi lamunan sementara ini buyar setelah Sari si cerewet ini yang suka mengagetkanku membuyarkan semua lamunan itu.

“Hey, kebiasaan selalu aja ngelamun dimana-dimana, pasti lagi nglamunin Rama?” sambil menepuk pundakku dan menyeretku untuk beranjak dari tempatku.
“Sotoy, kamu itu!” jawabku sambil tersenyum
“sudah pasti, tak lain dan tak bukan kamu lagi ngelamunin Rama, lagian tadi Rama lewat di depan kamu, seketika itu juga kamu diam tanpa kata.” Ejeknya kepadaku
“eh kok kamu tahu sih, kamu merhatiin aku ya, cie!” ejekku balik
“udah.. udah.. panas tau ayo pulang.” Ajaknya kepadaku.

Terik matahari yang panas tak kurasakan hanya ada rasa bahagia yang menyelimuti hati, sampai-sampai aku diejek lagi oleh Sari, tapi sesaat itu pudar setelah Sari tiba-tiba berbicara tentang Rama yang membuat aku kaget.

“tak usah terlalu berharap dengannya.” Sambil memandangiku
“kenapa?” jawabku heran
“ini semua tak akan mungkin buatmu, bukan maksudku begitu tapi aku tak mau kamu bersedih.” Katanya lagi
“kenapa Sar, kenapa kamu berbicara seperti itu berikan alasannya padaku, aku butuh alasan darimu?” jawabku sambil menatapnya tajam
“aku tak tega mengatakannya padamu Sahabatku, aku tak mau membuatmu bersedih.” Jawabnya lesu
“katakan saja Sahabatku, aku tak apa, percaya saja. Lebih baik aku tahu dari sekarang dari pada aku tahu nanti itu malah membuatku lebih sakit dari pada ini.” jawabku sambil tersenyum
“gak usah sok tegar dan sok kuat kamu, nanti saja kalo di rumah kamu aja kalo di sini itu gak enak.”

Akhirnya kami sampai di rumahku, dengan penasaran aku hujani sejuta pertanyaan sahabatku ini, mengapa dia bisa berkata seperti itu kepada ku. Diceritakannya panjang lebar, dia beri alasan mengapa dia bisa berkata seperti itu kepadaku.

“Kamu harus kuat, kamu harus janji dulu kamu gak boleh nangis untuk hal ini, sahabatku gak boleh lemah.” Katanya sambil menyemangatiku
“Oke, aku gak akan nangis, aku janji.” Sambil menunjukkan senyum manisnya
“Sebenarnya aku tadi juga sempet shock dan heran, cowok yang kamu kira kece selama ini dan katanya gak mau pacaran ternyata dia udah punya pacar anak dari sekolah lain.”
“Apa!!!! Yang bener kamu.” Aku sangat kaget dan seketika itu aku terdiam.
“gak boleh nangis, kamu udah janji.” Dengan wajah yang penuh harap agar aku tak menangis.

Aku tak tahu kenapa air mataku seketika turun, hati yang tadi aku tata rapi agar aku tetap kuat ternyata runtuh juga, aku tak sekuat yang kubayangkan. Kutahan air mataku ini dengan bendungan senyuman tapi percuma. Saat itu Sari sahabatku yang ada di dekatku memelukku dan meneteskan air matanya juga.

“katanya gak nangis, kenapa nangis kamu itu sudah janji sama aku, kamu lupa?” sambil melepaskan pelukannya
“aku gak nangis kok, ini itu cuma keringat yang keluar dari mataku, siapa bilang aku nangis aku gak nangis.” Sambil kuusap air mata yang ada di pipi ku
“kamu itu sekarang bisa nglucu juga ya kayak badut, senyum dong mana senyum manis kamu, masak gara-gara ini aja kamu nangis.”
“apa aku kayak badut? Gak dong, kamu itu kayak pelawak. Iya ini aku senyum.” Sambil memperlihatkan senyumku di hadapannya
“gitu dong senyum, itu yang namanya sahabatku.” Mengacungkan jempolnya kepadaku
“Tapi aku masih bingung kenapa kamu bisa ikutan nangis?” tanyaku heran
“Aku cuma terharu dan aku gak nangis aku cuma mengeluarkan keringat saja.” Sambil di garuk-garuk kepalanya
“itu kan kata-kata ku, kok kamu pake, kamu tiru aku ya?” ejekku.
“hahaha!!!” tertawa terbahak-bahak denganku.

Tak terasa jam yang terus berputar menghilangkan tangisku dan semua kesedihanku, untuk saat ini aku hanya bisa tersenyum dan tersenyum, aku sudah berjanji kepada sahabat ku Sari agar aku tak menangis lagi. Untuk saat ini Rama adalah ketidakmungkinan yang aku semogakan untuk suatu saat nanti agar aku bisa bersamanya.

Cerpen Karangan: Mustikah
Facebook: Nurindah Mustikah
nurindah mustikah follow ig: @mustikah_n

Cerpen Ketidak Mungkinan Yang Aku Semogakan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Move On

Oleh:
Nama aku riri, aku sekolah di salah satu SMA favorit di kotaku dan sekolah itu memang sudah cita-cita aku sejak lama. Cerita ini berawal dari seorang teman cowok ku

Kamu dan Duniamu

Oleh:
Merekakah sahabat-sahabatmu? Tahu apa mereka? Apakah mereka selalu menemanimu setiap saat? Aku yang tahu kamu! Aku yang selalu menemani kamu ke manapun! Aku juga yang selalu merasakan apa yang

My First Love Itu Sahabatku

Oleh:
“Yasmin tunggu!” kata seseorang kepadaku sambil menarik tanganku. “Apa?” jawabku singkat. “Minta datanya dong, kurang nih” pintanya kepadaku. “Oyaudah tukeran aja aku juga kurang” jawabku sambil menyodorkan buku. “Minta

Gambaran Penyesalan

Oleh:
“Assalamu’alaikum warahmatullah..” “Assalamu’alaikum warahmatullah..” Tepat dini hari, aku kembali bersimpuh lemah. Menengadahkan kedua tangan di hadapan Sang Kuasa pemberi kehidupan. Berdialog singkat dengan melantunkan Asma-Nya dan tak lupa memberi

Kenapa Jatuh Cinta

Oleh:
Di pinggiran kota inilah aku memulai segalanya, detik yang berjalan, hari yang terus berlalu, impian yang terangkai, harapan yang selalu tumbuh, dan juga cinta yang selalu bersemi. Sejujurnya, sampai

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *