Ku Merindukannya (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 30 September 2018

Kududuk terdiam antara kursi dan meja di sampingku, tak terasa jika aku sudah usai dengannya, ya Tiberias Calvin Natalarik Marcel Saputra sebut saja Calvin, cowok yang dulu pernah menemaniku dengan suka dan duka, tapi sayang sekarang menjadi kenangan.
Kita menjalani hubungan 2 kali, yang pertama 2 bulan yang kedua 3 bulan. Begitu singkat bukan? tapi masih kurasakan kasih sayangnya dulu, karena aku masih menyayanginya sampai kita hilang kontak seperti ini.
Terlintas aku berfikir tentang masa depanku dengannya, ya ini yang membuatku antara PUTUS dan LANJUT. Karena ada satu alasan yang membuat kita saling egois dan membuat kehendak masing-masing yaitu BERBEDA KEYAKINAN, kalau dikata rella sih enggak! mau marah sama Tuhan ya percuma memang nggak ada takdir buat aku dan Calvin jadi satu.
Terkadang di kelas inilah aku masih mengingat, kelas aula dan kelas delapan dekat ruang TU, penuh kenangan aku dan dia bersama.

Di tempat aula, 7 bulan yang lalu.
“Apakah kamu tau Tik?” sambil meraih tanganku dengan lembut
“Apa vin?” tanyaku dengan hati sangat berdetak kencang
“Aku sangat bersyukur, bisa punya kaya kamu seperti ini” dengan senyum manisnya
“Kenapa? apakah aku lebih buruk dari mantanmu yang berhubungan sampai 3 tahun itu?” timpalku, dengan wajahku yang rapuh. Aku sangat tau jika dia dulu sangat bahagia dengannya mantannya, aku sangat tau mantannya adalah temanku SD yaitu Novi
“Ya tidak, dia selalu membuat ulah. Aku yakin kamu tak akan sama, hatimu sangat lembut” jawabnya, aku tau dia membuatku agar tenang sebernarnya aku mengetahui sesuatu tentang perkataan itu.
“Ah vin, aku tak selembut apa yang kau ucap” ujarku membuat ia sangat bertanya tanya

7 bulan lebih 2 hari yang lalu, dan tempat yang sama
“Apakah kemarin hari jadi kita ke 1 bulan Tik?” tanyanya sambil memakan jajan.
“Ya, kau lupa?” tanyaku kembali, seketika wajahnya berubah malu memandangku
“Iya, aku lupa maaf” mohonnya
“Tak masalah” jawabku serta senyuman sekadarnya, sebenarnya aku berharap dia ingat tepat hari jadi itu, kan romantis.

Aku tak pernah suka sms dengannya, ia hanya membalas ala kadarnya. Tak ada kata yang memuaskan berbeda jika bertemu dan bertatap mata ia selalu membuat kata-kata yang paling manis dan membuatku tak bisa harus melupakannya.

7 bulan lebih 2 minggu yang lalu, dan tempat yang sama
“Hari ini hari senin vin, aku berpuasa sunnah senin kamis. Aku mohon kamu jangan dekat aku saat hari itu aku takut batal” ucapku, tanpa menatapnya padahal hari itu aku rindu dengannya.
“Oh, tak masalah. Kenapa kamu puasa? yang ngajari itu siapa?” tanyanya dengan serius
“Hmm .. aku pengen, kata kakakku harus puasa sunnah” ucapku gugup, aku tau dia bukan kakakku melainkan seseorang yang manggil aku Thembem, dan aku juga suka dengannya walau dia terlalu sibuk dan membosankan.
“Oh, kakakmu yang mana?” tanyanya yang membuatku tak sanggup berbohong lagi
“Kakakku yang .. di depan musholla itu?” jawabku dengan tegang, aku takut jika dia marah
“Kenapa sih jangan tegang-tegang dong Tik, jelek lo” ledeknya, yang membuatku malu dengan tingkah anehku.

Tanggal 26 sebelum tanggal 27 hari jadianku dengan ia, aku memutuskan hubunganku dengannya, ya dengan alasan BERBEDA AGAMA ini, sesungguhnya aku memutuskan hubungan ini ada salah satu yang membuatku pergi, yang pertama mantannya masih membuatku jenuh, dan jera untuk berhubungan lama dengannya, dan yang kedua aku punya gebetan baru. Aku tau sebenarnya aku orang yang paling kejam, aku tau kalau aku selalu salah di matanya, apalagi berbohong masalah itu.

Lama aku dengannya tak berkontak, ia sering tak masuk sekolah, alasan inilah alasan itulah. Sebenarnya aku paham dan selalu ngerti, ia ingin mengindar. Kalau tak dengan cara seperti ini, cara bagaimana lagi, aku dan dia satu atap, bagaimana cara untuk Move On?

Berlalu hingga beberapa bulan, lalu ia meminta kasihku lagi. Ia masih mencintaiku, dan begitu pula aku dengannya, aku mulai tersadar bahwa cinta beda agama bisa dipertahankan atas nama cinta

4 bulan yang lalu, di tempat dekat ruang TU
“Udah selesaikan puasanya?” tanyanya senyum ramah
“Udah emang kenapa vin?” tanyaku kembali
“Masa, aku nggak kamu cium?” ujarnya, aku langsung menundukkan kepala
“Hmm .. gimana ya? kapan-kapan aja!” jawabku dengan berpalingkan muka, ia tersenyum melihat tingkahku

5 bulan yang lalu, dengan tempat yang sama
Ini adalah hari senin waktu aku sholat dhuha
“Vin, bentar dulu ya aku mau sholat” ucapku memandangnya lekat-lekat
“Bentar dulu Tik, aku masih pengen berdua. Ntar kalau mereka udah selesai aku antar sholat” jawabnya
“Hmm, mereka udah selesai ayolah aku sholat dulu. Ntar nggak ada tanggungan” ucapku memohon padanya
“Ya, aku antar sekarang” ucapnya sambil menggandeng tanganku keluar
“Aku akan menjadi imammu Tik, hehehe padahal kita berbeda agama” ujarnya, langkahku semakin pelan apakah ia tak punya keseriusan untuk meminangku nanti?

5 bulan lebih 3 hari yang lalu, dengan tempat yang sama
“Aku ingin kamu masuk agamaku? mau kan?” ujarnya yang membuatku sontak kaget, lalu aku menggeleng
“Apa kamu nggak mau masuk agamaku? nggak mau kamu?” ujarnya yang seperti marah denganku, aku menundukkan kepalaku karena aku merasa bersalah

5 bulan lebih 1 minggu yang lalu
“Kenapa smsku nggak kamu balas sama sekali?” teriakku
“Hpku hilang, kemarin aku jalan-jalan sama kakakku” ujarnya dengan wajah yang membohongiku
“lha, aku sms kamu gimana?” teriakku sambil memandangnya tajam, malah ia menari-nari dengan gembira
“Vin” teriakku, ia berhenti lalu memandangku. Ia tersenyum, seperti ia tak bersalah denganku
“Aku bingung harus gimana, hpku hilang” jawabnya dengan senyum seperti bangga
“Kenapa kayak gitu?” ujarku dengan menunjuk-nujuknya
“Aku mikir” jawabnya “Ayo pulang, udah jam segini” jawabnya lalu menggandengku, lalu ku melepaskan tangannya dan pergi ke arah yang berbeda.

5 bulan lebih 1 minggu 1 hari yang lalu
Aku membuka sosmedku, ada chatnya yang membuatku sontak
“Tik, aku ingin jujur sama kamu” Chatnya
“Apa yank?” balasku
“Aku sama ibu di suruh fokus sama UN”
“Aku nggak mau kalau kita putus, kita break kan bisa kan? pokoknya aku nggak mau putus”
“Maaf aku harus mutusin kamu”
“Ya udah kalau memang itu keputusanmu”

5 bulan lebih 2 minggu yang lalu
Aku hanya bisa apa, saat kata perpisahan ini terjadi. Aku hanya bisa menangis, menangis, dan menangis. Kabar kami putus sudah menyebar dan begitu pula perselingkuhan dia dan teman Novi ya itu Tiara, ada rasa nggak rela, ada rasa nggak ingin lihat, ada rasa benci.

Aku terlalu rapuh mendengar semua kabarnya, aku mencoba pergi dengan semua cerita yang tertulis di SMP lalu dan meski aku masih punya foto yang terindah saat dimana aku dan dia bahagia, aku ingin melupakannya begitu juga kasihnya, aku tak bisa jika harus menyimpan semua ini dengan air mata dan rasa sayang.
Dan, aku memutuskan pergi darinya untuk selamanya

BERSAMBUNG

Cerpen Karangan: Dita Artika Muailiya
Blog / Facebook: Taa Chocolatos

Cerpen Ku Merindukannya (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Medul dan Nedul (Part 2)

Oleh:
Sialnya itu cuman harapanku saja. Masalah ini semakin kronis saja. Selang 4 hari dari problem coklat itu. Amel kembali mengadukepada ku. Namun kali ini sepertinya Yoyo tidak bisa dimaafkan.

Tunas Kelapa Panduku

Oleh:
Hari Sabtu, tepatnya pukul 12.30 saatnya Gerakan Pramuka pulang. Nampak pula seorang anak yang bernama Permata yang sudah lelah dan letih itu terus saja berjalan menuju rumahnya yang agak

Phobia

Oleh:
Sepi. Itulah hidup seorang gadis muda dalam kesendirian. Masa lalu, hari ini, dan esok diselimuti kabut hitam. Tak ada pencerahan, bahkan tak pernah ada. Sebuah ruangan gelap yang terkesan

Karena Sahabat hanya Penyemangat

Oleh:
Namaku Aruna, teman-teman menganggapku sosok yang nyaris sempurna, padahal tidak begitu. Papaku memulai usahanya sepuluh tahun yang lalu dan Coaming Dananjaya Center adalah perusahaan programmer terbaik di Bandung. Mama,

Tukang Ngekhayal

Oleh:
Jeeddeeerrr!! Suara petir menyambar nyambar seakan tiada hentinya mewarnai pagi hari kala itu. Dengan mata yang masih 2 watt aku berusaha menembus derasnya hujan kala itu. Tanpa terasa hujan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *