Lelah Menanti

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Patah Hati, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 7 September 2019

Di bawah pancaran sinar matahari, dua orang pemuda yang sedang asik memperebutkan bola oranye itu seakan tidak mempedulikan keringat yang bercucuran membasahi wajahnya. Mereka tertawa lepas tanpa memperlihatkan wajah yang kelelahan, tanpa mempedulikan seragam sekolahnya yang semakin bau terkena keringat. Hingga akhirnya mereka menghentikan permainan dan salah satu dari mereka menanyakan sesuatu dan hanya dijawab dengan anggukan oleh pemuda yang satunya, kemudian mereka berjalan ke pinggir lapangan mungkin mereka lelah.

Tidak lama setelah mereka berdua duduk di pinggir lapangan ada seorang gadis berambut panjang bermata lebar yang berlari menghampiri mereka dengan membawakan sebotol minuman dan diberikan kepada pemuda dengan sorot mata tajam dengan kulit hitam manis, sedangkan pemuda berhidung mancung dengan sorot mata teduh dan berkulit putih di sebelahnya hanya tersenyum melihat sahabatnya itu.

Tanpa mereka semua sadari, ada seorang gadis yang memperhatikan mereka dari bangku taman yang tidak jauh dari lapangan basket. Ya gadis mungil berambut panjang yang mengenakan bandana berwarna hijau muda itu enggan mengalihkan pandangannya dari sana, mungkin ada yang ia pikirkan dengan memperhatikan dua pemuda yang sama-sama pernah mengisi hatinya bahkan sampai sekarang salah satu pemuda itu masih tetap ada di hatinya. Gadis yang duduk sendiri dan hanya ditemani oleh sebuah buku diary berwarna hijau muda itu ialah Ranesya Iraniah, atau lebih akrab disapa Nesya. Dan pemuda berhidung mancung dengan sorot mata teduh dan berkulit putih itu ialah Raynald Elhandi atau lebih akrab disapa Ray, dia adalah mantan kekasih Nesya dan setahu Nesya setelah mereka putus Ray dikenal sebagai seorang playboy, tidak seperti yang Nesya kenal dulu. Sedangkan pemuda dengan sorot mata tajam yang berkulit hitam manis itu ialah Narendra Haffandi atau lebih akrab disapa Rendra, dia adalah sahabat Nesya sejak kecil dan bahkan mungkin Nesya menaruh harapan lebih dari sahabat kepada Rendra, namun harapan itu harus dikuburnya dalam-dalam karena Rendra telah memiliki pacar. Ya gadis berambut panjang bermata lebar yang menghampirinya adalah pacarnya, dia ialah Calya Karelina dan lebih akrab disapa Calya. Calya merupakan kakak kelas mereka namun karena wajahnya yang imut mungkin terlihat cocok dengan Rendra yang notabenenya adalah adik kelasnya.

Angannya kembali ke masa itu, kepada kejadian beberapa bulan yang lalu, yang mengharuskan Nesya menjaga jarak dengan Rendra. Waktu itu Rendra masih berpacaran dengan Kak Filda, dia juga merupakan kakak kelasnya. Awalnya hubungan Rendra dan Kak Filda baik-baik saja, bahkan di sekolah mereka dikenal sebagai pasangan yang cukup membuat orang lain iri melihatnya dan Nesya pun cukup akrab dengan Kak Filda karena mereka sama-sama anak organisasi. Hingga beberapa bulan kemudian mereka putus entah karena apa? Nesya sendiri tidak mengetahuinya. Yang Nesya tahu Rendra hanya bilang kepadanya bahwa dia putus karena merasa sudah tidak nyaman.

Namun ternyata sepertinya Kak Filda tidak menerima dengan keputusan Rendra dan menyangka bahwa Nesyalah penyebab ini semua. Karena beberapa minggu setelah mereka putus Kak Filda menulis di dinding facebooknya dengan kata-kata yang tidak mengenakan dan itu ditujukan kepada Nesya. Awalnya Nesya tidak mengetahui itu karena memang dia tidak cukup aktif dalam bermain social media, hingga akhirnya salah satu sahabatnya memberitahunya bahwa kata-kata Kak Filda di dinding facebooknya ditujukan untuknya. Dan yang membuat Nesya tidak menyangka adalah dalam tulisannya Kak Filda menyindir Nesya dan mengatakan bahwa Nesya adalah orang munafik, tambah-tambah saat dia membaca semua komentar yang mengomentari tulisan itu, ada salah satu komentar yang menuliskan “dari luar aja keliatan alim, padahal sih sebenarnya munafik”. Dan itu dituliskan oleh sahabatnya sendiri dan bahkan sahabat-sahabatnya yang lain juga banyak yang meng-iyakan tulisan itu, Nesya tidak habis fikir oleh semua itu.

Rendra yang mengetahui semua itu merasa tidak enak dengan Nesya karena tidak cuma di facebook Nesya dibully, namun di sekolahnya juga dia dijauhi oleh beberapa sahabatnya. Dan Rendra memutuskan untuk meminta maaf kepada Nesya, karena keputusannya memutuskan Kak Filda ternyata berimbas kepada Nesya. Saat Rendra meminta maaf, akhirnya Nesya memutuskan agar mereka menjaga jarak hingga semua kembali seperti semula, dengan catatan mereka masih bersahabat namun jika di depan teman-teman mereka berusaha berbicara jika ada perlu saja tidak lebih. Dan benar, Rendra menuruti permintaan Nesya namun sepertinya dia benar-benar melupakan Nesya sejak dia berpacaran dengan Calya hingga sekarang, Rendra benar-benar mengacuhkannya, Rendra benar-benar sudah tidak peduli dengan Nesya. Itulah yang membuat Nesya sedih, namun Nesya selalu berfikir mungkin dengan bersama Calya, Rendra bisa lebih bahagia.

Angannya kembali, tanpa sadar seulas senyum muncul di wajah Nesya sekejap dan setelah itu hilang. Senyum yang menyembunyikan seribu satu rasa yang ia rasakan. Nesya mengambil buku diary di sampingnya dan menumpahkan rasa yang sedang ia rasakan ke dalam barisan kata.

“RINDU”

Hay Rindu,
Sejak kapan kita sedekat ini?
Ehm, entahlah Aku sendiri lupa,
Mungkin sejak,
Aku terperangkap dalam belenggu rasamu yang asing,
Rasa yang sebelumnya tidak pernah kukenal saat Dia masih dekat.

Hay Rindu,
Sejak kapan engkau hadir?
Mungkin sejak,
Aksaranya mulai menghilang dari ponselku,
Aksara yang dulu selalu datang tanpa pernah kuminta.

Hay Rindu,
Kapan kau akan pergi?
Apa saat Dia mulai kembali lagi?
Namun itu hanyalah harapku,
Harapan kosong yang selalu meyakinkanku bahwa Dia akan kembali.

Dia menuangkan perasaannya dalam puisi yang berjudul “rindu”, ya dia merindukannya. Merindukan sosok yang dulu pernah hadir dan sampai sekarang namanya masih tetap di hatinya.

Nesya menutup buku diarynya dan beranjak dari duduknya untuk menuju ke kelasnya. Entah apa yang sedang dipikirkan Nesya hingga dia berjalan tanpa memperhatikan jalannya dan itu mengakibatkan dia menabrak seseorang hingga ia sendiri terjatuh saat berada di koridor kelas. Nesya mendongak dan mendapati sesosok wajah lelaki yang sangat ia rindukan dengan tatapan tajam yang masih sama seperti yang dulu. Mereka sama-sama terdiam untuk beberapa detik.
“Eh, sorry Sya.” ujar cowok itu, ya benar dia adalah Rendra.
“Iyah nggak pa-pa kok Ren.” jawab Nesya sambil menunjukkan seulas senyum untuk meyakinkan bahwa dia tidak apa-apa.
“Yaudah aku duluan ya.” ujar Rendra dengan melangkahkan kakinya meninggalkan Nesya.
Nesya hanya tersenyum tipis sambil memandangi punggung itu yang akhirnya menghilang di belokan ujung koridor kelas. Dia hanya bisa menghela nafas mengingat sekarang Rendra sudah tidak mempedulikannya lagi. Nesya pun kembali melangkahkan kakinya menuju kelasnya.

Hari-hari Nesya kini ia jalani dengan sepi, tanpa Rendra. Sekalipun mereka berdua sering bertemu dalam acara-acara organisasi, namun tak sekalipun Rendra menyapa Nesya, jangankan menyapa tersenyum tipis saja mungkin dia enggan.

Kriiiiingggggg kriiiingggg kriiiiingggg, Nesya terbangun dari tidurnya ketika mendengar dering alarm jam bekernya berbunyi. Nesya mengambil jamnya dan melihat jarumnya yang menunjukkan pukul 11:50 malam, yah seharusnya masih sangat malam untuk jamnya berdering ditengah malam seperti ini, namun tidak untuk malam ini. Nesya sengaja mengatur alarmnya pada pukul 11:50 untuk hari ini, itu semua ia lakukan hanya untuk memberi ucapan kepada seseorang yang akan berulang tahun tepat di pukul 12 nanti.

Nesya pun mengambil handphonenya yang tergeletak di meja samping tempat tidurnya, menuliskan beberapa baris kalimat di kolom sms setelah ia rasa sudah tepat, Nesya melirik jamnya lagi dan ternyata jarumnya telah menunjukkan pukul 12 tepat, dan ia pun segera mengirimkan sms tersebut kepada seseorang yang berulang tahun itu. Siapa lagi orang yang istimewa untuk Nesya sampai dibela-belain bangun jam 12 malam cuma buat ngucapin selamat ulang tahun, ya dia adalah Rendra.

Tanpa perlu menunggu lama, handphone Nesya pun berdering menandakan ada sms masuk ia pun segera segera mengambil handphonenya dengan berharap itu balasan dari Rendra. Harapan Nesya benar itu sms dari Rendra, namun sms itu bertuliskan
“Makasih yah buat ucapannya, tepat jam 12 lagi. Ini pasti no-nya Calya kan?”
“Iya” singkat jawaban yang dikirimkannya.

Mungkin cukup Nesya sampai disini penantiannya, dia lelah dengan semua ini. Mulai saat itu Nesya bertekad untuk melupakan Rendra.

Cerpen Karangan: Maylya Isnaeni
Blog / Facebook: Maylya Isnaeni

Cerpen Lelah Menanti merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Nampak Tak Terlihat

Oleh:
Ketika semua telah berubah dan berakhir. Aku takut untuk melihat dunia, aku takut melihat jalan hidupku. Amanda adalah namaku dan dinda adalah panggilan kesayangan dari nenekku. Aku selalu memanggil

A Mysterious Boy

Oleh:
“Bu, aku tahu ini hari pertamaku, tapi kan aku ingin pergi sendiri.” Dengusku kesal. Ibuku hanya tersenyum matanya masih fokus dan tetap berkonsentrasi dengan laju mobilnya. Aku terdiam dengan

Bukan Cinderella

Oleh:
Namaku Cinderella. Ya, Cinderella. Seperti nama tokoh dongeng yang sangat terkenal. Dan kebetulan atau memang takdirnya, ibuku meninggal saat aku kecil dan ayahku menikah lagi dengan janda beranak dua.

Hari Sial

Oleh:
Di suatu sekolahan ada anak laki-laki namanya Fachri, yang bisa di bilang ganteng engga jelek engga ya pas-pasan juga engga ya, dia ngekost di samping sekolahan. Awalnya dia sudah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *