Lelaki Penunggu Senja

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 26 July 2017

Setelah berlabuh di penghujung jalan yang merindu, ada beberapa kenangan yang bersandar di pundaknya.

12 November 1995
Pukul 7:00 pagi, lelaki rembulan yang sederhana sedang menunggu kekasihnya. Namun, sampai matahari mulai meredup, kekasihnya tak kunjung menemuinya. Tapi, lelaki itu selalu percaya, kalau kekasihnya pasti akan datang dengan senyum manis yang tak pernah pudar di wajahnya. Ujar lelaki itu.
Hingga pekerjaan itu Dia lakukan hampir setiap hari dan di jam yang sama. Dan kekasihnya tak juga menemuinya.

Perempuan berambut gelombang, namanya Melati. Dia adalah anak dari putra bangsawan Bugis. Wajahnya sungguh cantik serupa bunga melati. Yah, tepatnya Dia adalah perempuan yang tak pernah pudar senyumnya. Melati adalah anak satu-satunya dari keluarga karaeng Mappalurung dan Ibu becce. Keluarga berdarah biru di desa Sinjai.
Melati, menuai pendidikan di kota Makassar dan mengambil jurusan S1 Keperawatan di Universitas Islam Makassar. Konon katanya, biar nanti kalau Ibu dan Bapaknya sakit, Melati bisa merawatnya. Melati sangat dicintai oleh kedua orangtuanya. Semua apa yang diminta oleh Melati, selalu dituruti. Kecuali satu, Melati dilarang berpacaran.

Sabtu, 26 Desember 1989. Lelaki berbaju kaos hitam duduk di bawah pohon gerseng samping kampus Universitas Islam Makassar, dengan menulis sesuatu. Entah apa yang dia tulis, dan lelaki itu selalu menulis hampir tiap hari.
Dan, setiap kali Melati hendak pulang dari kampus, Melati selalu memperhatikan lelaki itu. Karena penasaran, Melati mendatangi laki-laki itu.

Singkat cerita, Melati jatuh cinta pada lelaki itu. Orang-orang sering memanggilnya Senja. Senja adalah seorang penulis puisi. Dia mengambil jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Juga di Universitas Islam Makassar.
Hingga waktu berjalan begitu cepat, keduanya saling jatuh cinta dan menjalani hubungan asmara. Keduanya telah berjanji untuk tetap saling mencintai sampai ajal menjemput mereka.

Empat tahun berlangsung, keduanya telah menyelesaikan studinya.
Melati memilih untuk kembali ke kampung halamannya. Sementara Senja tetap tinggal di Makassar untuk mewujudkan cita-citanya menjadi seorang penulis.
Tepat di suatu sore, ketika Melati ingin meninggalkan Senja, keduanya kembali bertemu di tempat pertama mereka bertemu. Perlahan air mata Melati menghampiri bibir tipisnya, Ia seakan tak ingin meninggalkan Senja. Melati tersadar saat jemari Senja mengusap air mata Melati serambi berkata “Sudahlah, jangan menangis sayang, aku akan tetap menjadi lelakimu. Dan hanya maut yang mampu memisahkan kita. Percayalah, aku akan setia menunggumu sayang”.

Hari demi hari Senja menghabiskan waktu tanpa sosok seorang Melati. Dan Senja selalu setia menunggu kedatangan kekasihnya itu. Hingga bertahun-tahun sudah berlalu, Melati tak kunjung datang menemuinya.

Suatu ketika, Senja ingin melepas penat dan menenangkan pikirannya. Tepat pukul 3:00 sore, Senja menghabiskan waktunya memandang indahnya warna jingga di ufuk barat dan menikmati hembusan anging mamiri kota Daeng (Pantai Losari). Tiba-tiba ada yang memanggil tepat di belakang Senja.
“Senja, Senja jangan nakal nak. Sudah jangan ki lari-lari nak, nanti jatuh”.
Terlihat seorang anak laki-laki yang kira-kira umurnya 4 tahun, berlari tepat di belakang Senja. Dan dengan sigap, Senja berdiri melihat anak kecil itu. Kemudian betapa terkejutnya Senja pun melihat kekasihnya yang sudah lama Ia nantikan. Senja melangkah pelan mendekati Melati. Namun langkahnya tiba-tiba terhenti saat anak kecil itu memanggil dengan sebutan Mama pada Melati.
Pikiran yang kacau dan kecewa terlihat pada wajah Senja. Dia seakan tidak percaya dengan apa yang sedang Dia alami. Matanya mulai digenangi air mata yang perlahan terjatuh ke bibir dan suara paraunya.
Pandangannya terus tertuju pada kekasihnya dan perlahan tubuh melati hanya menjadi bayangan dan lenyap dari hadapannya.

Dan dengan penuh kesedihan Senja mengambil pena dan selembar kertas dari dalam tasnya. Kemudian Senja mulai menggoreskan penanya untuk menciptakan sebuah puisi buat kekasihnya.

“MELATI DI GERBANG JINGGA”
Elok rambut panjangmu menjadi muara pada malamku
Serpihan rindu yang kau sisihkan sebelum kepergian, kusimpan menjadi permata
Kelak, setelah kepulangan akan ku jadikan cincin yang mengulum sumpah
Wajahmu yang pagi, mengiringi mimpiku dan mengalahkan purnama saat malam
Kau seumpama rembulan yang menggenang di kolam rinduku
Aku tak ingin menyalahkan cinta kali ini
Karena cintalah yang membawaku menatap manis jari manismu
Sayang, kutitipkan rinduku pada lesung pipimu
Ku yakin kelak kau akan paham tentang binar mataku yang setia menatap senyum manismu
Aku rindu padamu, bukanlah sekedar dongeng ataupun nyanyian nina bobo penghantar tidur

Hari-hari semakin cepat berganti, namun Senja masih saja dengan perasaan yang sama, belum bisa menghilangkan wajah kekasihnya dari pikirannya. Rindunya tidak ingin Dia berikan pada perempuan lain, selain melati.
Pada hakikatnya cintanya tetap untuk Melati yang masih saja dianggapnya sebagai kekasih hatinya.

Cerpen Karangan: Al-Izhar
Facebook: Al-Izhar

Cerpen Lelaki Penunggu Senja merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hati Yang Luka

Oleh:
Namaku Annisa. Sekarang aku duduk di kelas XI SMA. Aku terlahir dari keluarga yang agamis. Tak heran jika aku juga memakai pakaian tertutup serta hijab di keseharianku selain di

Cinta tak Kesampaian

Oleh:
Sore itu menjadi awal dari sebuah cerita tentang cinta di antara aku dan dia, seiring dengan berjalannya waktu tak terasa sudah melewati satu tahun lamanya, mungkin memang di awal

It’s Rain When You’re Gone

Oleh:
Hujan itu kembali lagi bersama tetesan yang memaksa mataku menjatuhkan mutiaranya. Aku kembali lagi mengenangnya. Entah bagaimana? lagu ini pun tepat terputar di playlistku “Forever and Always by Taylor

Satu Jam

Oleh:
Bintang yang jauh di sana pun tahu bahwa ada seorang gadis yang menunggu seorang pemuda menghampiri seperti perjanjian di sore hari. Ya, aku. Aku menunggu dalam kesunyian. Sekian detik

Dear Adre

Oleh:
Dear Adre, Aku terdiam di satu tempat yang kuyakin kamu tahu. Tempat favoritku. Entah harus kumulai dari mana, begitu banyak cerita yang terjadi. Bahagia, sedih, cinta dan air mata.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Lelaki Penunggu Senja”

  1. didi aditya says:

    Boleh minta identitasnya mas? Untuk tugas bahasa Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *