Life Isn’t an Imagination

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 30 November 2014

01.30 pm
Gadis itu, termenung seorang diri. Menelungkup di atas kedua tangannya pada meja kuliahan yang tengah ia duduki. Ia tak sendiri. Ia ada di antara teman-teman kelasnya yang sibuk dengan canda masing-masing. Entah apa yang membuatnya memilih untuk berdiam diri dengan situasi kelas seribut ini.

Perlahan, ia mulai mengangkat kepalanya dan melongok ke luar melalui kaca hitam pada kelasnya. Bermaksud melihat sang penunjuk waktu yang terpajang tak jauh dari pintu kelasnya. Dan angka yang ditunjuk oleh kedua jarum jam itu mambuatnya menghela nafas.

Ke mana ya dia?

Pertanyaan itu sontak muncul pada benaknya sebelum ia kembali menidurkan kepalanya. Kelas sudah masuk lebih dari sepuluh menit yang lalu. Tapi, guru serta sosok yang ia tunggu tak kunjung datang. Meskipun kedatngan guru bukan hal yang terlalu ia harapkan.

Ia kembali menunggu.

1 menit..

2 menit..

3 menit…

“Ah!” desahnya. Sampai kapan ia berada dalam batin yang penuh dengan kegelisahan. Setiap hal yang terjadi di sekitarnya seolah tak jelas. Sulit untuk mencerna kenyataan jika ia memang benar-benar tetap bernafas. Sulit untuknya tetap percaya jika tubuhnya masih bernyawa.

Kenapa ya?

Nadine -gadis itu- membenamkan wajahnya dalam lingkupan kedua lengannya di atas meja. Kegelisahan ini cukup untuk membuat indera penglihatannya mengantuk.

Cklek..

Engsel pintu kelasnya berbunyi. Terdengar suara pintu terbuka yang diiringi oleh langkah kaki yang berjalan masuk ke dalamnya. Nadine tak berniat untuk melihatnya. Mungkin saja ms. Anna, pikirnya dalam hati. Entah apa yang membuatnya segelisah ini.

“Kenapa?” tanya seseorang setelah sebelumnya mendudukkan tubuhnya pada kursi yang berada di depan Nadine. Suara berat yang tiap tiga kali seminggu ia dengar. Yang sukses membuatnya terhenyak dan membelalak dalam kegelapan. Refleks ia mengangkat wajahnya dan kaget melihat sosok itu.

“Cieeeeee!!!” Sontak seisi kelas bersorak sorai ketika pemuda berpipi tembem itu duduk di depan gadis berambut gelombang itu. Termasuk Irya, sobat yang duduk bersebelahan dengannya.

Seketika wajahnya memerah, dengan senyuman manis terkembang yang sebisa mungkin ia tahan. Hampir membuatnya salah tingkah.

“Kau kenapa?” tanya Bryan -pemuda itu- sekali lagi.

“Tidak aku hanya mengantuk..”

Tapi nampaknya, Bryan tak begitu menggubris jawaban Nadine yang cukup membuatnya khawatir. Ia justru mengubah pandangan menuju sosok Irya di sebelahnya.

“Pindah sebentar.. Aku ingin duduk sebelah Nadine..”

“Tidak mau!” jawab gadis berkaca mata itu ketus.

Ayolah Irya!!!

“Ku mohon.. Sebentar saja…”

Irya nampak berpikir sejenak. Ia menoleh ke arah Nadine yang melihatnya tersenyum tipis. Mengisyaratkan seolah semua keputusan terserah padanya.

“Baiklah..” ujarnya seraya bangkit dari singgasana, “Aku melakukan ini untukmu Nadine..”

Yosshh!!

Nadine dan Bryan saling menukar posisi tempat duduk mereka. Dan sekarang Bryan benar-benar berada dekat dengan Nadine. Tak sampai 30 sentimeter. Wajahnya serius. Menatap gadis di sebelahnya yang sedari tadi masih tersenyum tipis.

“Aku ingin mengatakan sesuatu…”

Deg!
Nada-nada minor mulai beraksi pada organ pemompa darahnya.

Apa? Apa yang akan dikatakannya? Tentang perasaannya? Atau sesuatu yang buruk??

“Berikan tangan kananmu!”

Nadine mengernyitkan dahi, khawatir sekaligus heran. Pernyataan buruk dan baik terus bergeming dalam benaknya. Kalimat-kalimat itu terus saja saling mencerca. Perasaan campur aduk yang menyelubungi otaknya.

Tangan mereka saling bertemu. Dengan lembut pemuda itu sedikit menggengamnya. Dibalas oleh sang gadis yang sangat mencintainya. Iris coklat mereka saling menatap. Meskipun kekhawatiran itu dapat dibaca jelas oleh sang pemuda yang menatapnya serius. Ia berusaha untuk tetap lembut.

“Aku minta maaf..”

“Minta maaf kenapa?”

“Aku minta maaf… Aku minta maaf padamu..”

“Iya.. Minta maaf kenapa?”

“Aku benar-benar minta maaf.. Aku tidak ingin kau marah..”

Marah? Jangan-jangan…

“Aku tidak akan marah..”

“Aku minta maaf.. Aku be–”

“Aku janji!” ucap gadis itu mantap memotong kalimat pemuda itu.

“A.. aku.. sudah punya pacar.. poto seorang gadis yang kemarin kau lihat di ponselku adalah orang yang aku maksud.. maaf, atas selama ini… Aku juga… Aku.. aku juga.. tak memiliki perasaan apa pun padamu… maaf.. aku minta maaf…”

Jadi itu?

Nadine tersenyum tipis. Ia mengangguk-ngangguk kecil dengan pandangan sayunya. Berusaha menerima jika itu memang kenyataan. Entah apakah ia harus menyesal atau tidak, telah mengungkapkan perasaannya beberapa hari yang lalu. Yang tengah ia rasakan hanyalah… mati rasa.

“Tidak apa-apa..” jawabnya lembut. Sedikit demi sedikit, perlahan namun pasti, ia melepaskan genggaman tangannya pada pemuda itu. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.

Hening menyelubungi ruang di antara mereka di tengah-tengah suasana kacau. Gadis itu tertegun. Sedangkan pemuda itu, hanya menatapnya.

Gadis itu berusaha untuk terlihat tegar. Sekali pun air mata itu menggunung pada pelupuknya, membuat kabur pandangan Nadine yang terarah ke papan tulis. Ia terus berusaha menahannya. Menahan rasa sakit yang terbenam dalam hatinya.

Aku tidak boleh menangis!!!

Bruk!!

Nadine kembali menelungkup dalam ruang lingkup lengannya di atas meja. Ia menangis. Meluapkan perasaan yang tak sanggup lagi ia tahan. Yang tersisa hanyalah isakan yang sayup-sayup terdengar.

“Nadine..” lirih Bryan khawatir. Menyikap tiap untaian rambut gadis itu yang diuarai.

“Nadine..” lirihnya sekali lagi. Masih terus berusaha melihat wajah gadis itu dalam dekapan tangannya sendiri.

“Nadine, kenapa kamu nangis?”

Aku sudah menebak ini!!

“Nadine.. Nadine…”

“Aku baik-baik saja.. Jangan khawatir..” timbalnya tersenyum tipis setelah sebelumnya sempat menghapus air matanya dan segera mengangkat wajahnya. Bulir air mata yang tersisa pada pelupuknya itu masih terlihat jelas membasahi bulu mata yang melindunginya.

Bryan menghela nafas. Ia membuka pengait pada tas kecilnya dan mulai merogoh-rogoh meraih sesuatu.

“Ini.” ujarnya. Menyodorkan sapu tangan kecil polos berwarna merah jambu pada Nadine. “Pakai ini..”

Entah benda itu milik siapa. Yang pasti, tidak mungkin laki-laki seperti Bryan memilikinya. Tapi…

Nadine meraih benda itu dari genggaman pemuda yang telah memberinya harapan palsu itu. Ia beranjak dari singgasananya dan pergi ke luar ruangan menuju satu-satunya ruangan yang sepi. Tak ada yang ia lakukan di sana kecuali, menangis dan menyapunya kembali dengan sapu tangan pinjaman itu. Ia tak tahu sudah seberapa kuat hatinya menghadapi hal sesakit ini. Berbeda jauh dengan imajinasinya selama ini. Tapi setidaknya, ia tahu tentang kebenaran yang sebenarnya. Jika hidup, bukan imajinasi.

The End

Cerpen Karangan: Feby Pratiwiii
Blog: febypratiwiii.blogspot.com

Cerpen Life Isn’t an Imagination merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mata Najwa

Oleh:
“Baiklah anak-anak. Hari ini kita akan bermain olahraga kasti! Setuju?”, tanya pak guru. “Setujuu!”, “Pak, kasti itu melelahkan!”, “Nanti ketek saya tambah bau, pak”. Langsung saja berbagai respon dan

Forgive Me

Oleh:
Aku masih tersenyum memandangi indah warna bunga mawar saat bel tanda masuk berbunyi. Yah, buyar deh keindahan pagi ini. Ditambah lagi kehadiran seorang Alfi di kelas, anak pindahan dari

Kurcaci Vs Buto Ijo (Part 1)

Oleh:
Siapa sih yang nggak kenal sama Jowi, sang ketua OSIS. Nggak usah tanya seluruh siswa SMA Nusa Bandung, guru-guru dan juga para stafnya pasti tau. Tapi coba deh tanya

Indahnya Persahabatan

Oleh:
“Sahabat yang baik adalah orang yang sangat kita percayai dan membuat kita tenang bersamanya. Dia menjadi tempat berbagi kelelahan, berbagi kesedihan dan tidak pernah menjual rahasia diri kita” Samsi

Masih Sama

Oleh:
Awal mula, aku kenal dengan seorang cowok dari sosial media. Seorang yang menurutku beda dari yang lain karena sifatnya yang dingin dan kalem. Waktu itu, dia mengirimkan pesan lewat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *