Love History

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 4 December 2018

Terima kasih
Vena Albella

Dua tahun empat bulan lamanya hubunganku berjalan. Sebut namanya Vena. Ia gadisku. Aku sangat mempercayainya. Sangat menyayanginya. Dan rencananya, Desember tahun ini aku dan Vena akan melangsungkan hubungan ke jenjang yang lebih serius lagi.

Aku bekerja sebagai Teknikal Suport disalah satu Perusahaan ternama di Jakarta. Dan Vena bekerja sebagai seorang Flight Attendent di sebuah Maskapai Penerbangan.

Sanking padatnya jadwal kerja, itu membuat kami sering kali lost communication. Sama sekali, dalam satu hari. Tapi aku selalu mengerti akan hal itu. Karena itu merupakan salah satu resiko yang harus aku terima, memiliki pasangan seorang Pramugari.

Karena jam kerjaku reguler yaitu 5 hari kerja saja, Jum’at sore selalu aku sempatkan untuk pulang. Rumahku ada di Tangerang. Tepatnya di JL. Modern Golf IV Tangerang, Banten. Dekat dengan JL Hartono Raya. Untuk alamat lebih detailnya tak usah ya? Takut banyak yang datang ke rumah. Boros cemilan. Haha. Bercanda.

Sore itu, sebelum aku pulang dari Jakarta ke Tangerang, aku sempatkan untuk chat Vena.
Aku merasa seperti admin online seketika itu. Mulai dari Messenger, Twitter, BBM, WA, Instagram, terakhir SMS. Semua ter-install di HP-ku. Hanya untuk Vena, sampai segitunya aku ingin sekali ngabarin dan dikabarin dia.

“Ven, sore ini aku pulang, ya. Kamu pasti masih kerja, toh? Semangat kerjanya Sayang ya,. luang nanti, aku harap kamu bisa balas chat ku ini. Love you…”

SEND.

Kukirim kalimat itu ke segala Sosial Media yang terinstal di HP-ku.

1 menit.
5 menit.
20 menit.
Chat-ku tak ia read sama sekali. Aku mendengus kesal. Lalu kuletakkan HP-ku di dashboard mobil. Tak pikir panjang lagi. Aku langsung menyalakan mobilku, kuinjak kopling full dan kutahan. Kemudian dari gigi netral, kudorong perseneling ke arah kanan pojok, dan kutarik perseneling ke arah bawah. Kutekan pedal kopling penuh dan kurem sedikit-sedikit agar laju kemunduranku tak terlalu cepat. Begitu kurasa cukup, kuarahkan langsung stir mobilku ke arah kanan untuk kumundur ke arahnya sekaligus arah pulang.

Sial!
Macet!

Berharap banget rasanya disaat-saat seperti ini ada Vena yang bisa nemenin. Sebentarpun.
Kadang ada rasa bosan sebenarnya dengan hubungan ini. Punya pacar tapi seperti tak punya pacar. Tiap detik pikiran enggak tenang. Selalu saja ingin buka gadget. Ingin tahu kabarnya saat itu juga.
Benciku begitu mudahnya muncul. Patah begitu saja. Saat kubuka HP, tidak ada satu chat-pun darinya.
Tapi niatku baik. Aku menjalin hubungan dengannya atas dasar sayang. Menerima. Dan benar-benar serius. Selalu kucoba sabar apapun keadaannya. Dan menurutku dia pun sama.

“Terimakasih ya, Ven, untuk 2 tahun 4 bulan ini.” kataku pada sebuah foto yang kugantung apik di bawah kaca mobilku. Berulang kali aku mengajaknya ngobrol. Bisa dibilang aku mirip seperti orang gila saat itu.

10 menit lamanya mobilku teronggok di tengah-tengah mobil yang lain. Kakiku benar-benar sampai kesemutan. Bahkan kram. Aku kaget begitu HP-ku bergetar dan berdering. Dengan buru-buru, aku langsung mengambilnya.

Senangnya aku saat itu. Saat aku tahu Vena mengajakku calling by video on BBM. Cepat-cepat kupasang HP-ku di sebuah Car Holder yang memang sudah sengaja kupasang di dashboard mobilku.

Kuangkat panggilan video darinya.

Sekali lagi, terimakasih Venaku.
Rasanya langsung hilang seketika kesemutan di kakiku begitu kuceritakan padanya betapa macetnya jalanan ini.
Dia memang tipe orang yang humoris. Selalu pandai membuat lelucon yang akhirnya aku pun selalu berhasil dibuatnya tertawa.

“Ya udah, aku mandi dulu Sayang, ya. Salam nanti untuk Umi juga Abah. Gerah banget akunya.” pamitnya kemudian. Sebenarnya aku masih kangen, tapi ini pun juga sudah alhamdulillah banget, deh.
“Ih ih ih. Kok manyun? Awas loh. Nanti nggak bisa dibedain mana kamu dan mana ban bajaj-nya Bang Bajuri.” ledeknya membuatku tertawa. Ada-ada saja.
“Yaudah ya.. Selamat kesemutan Bawelku. Aku cinta kamu.”

Tut!
Mati.
Maksudku panggilan videonya yang mati. Haha Ven, Ven. Dasar kamu, yaaaaa,-
Cukup membuatku lega. Senyum. tenang. Senang. Damai. Ah, campur.
Aku senyum-senyum sendiri hampir 2 jam di perjalanan.
Ahh Venaaa..

Minggu pagi rencanaku balik ke Jakarta. Nyari aman saja. Biar enggak kena macet seperti malam sabtu kemarin. Tapi sebenarnya bukan cuma itu. Alasan lainnya adalah Vena. Selalu Vena. Dia bilang libur dua hari. Hari minggu dan hari senin. Makanya harapanku, hari minggu aku bisa bertemu dengannya. Sekedar untuk makan pun tak apa.

Dan sepertinya harapanku akan terkabulkan. Lihatlah. Jalanan ini begitu lengang. Jadi aku bisa menambah laju mobilku agar cepat sampai di Jakarta.

Sesekali aku tersenyum. Bahkan tertawa sendiri kalau ingat kalimatnya di WA 15 menit yang lalu.

“Sayang?” WA dari Vena.
“Hehem?” Balasku
“Sin, Cos, Tan, Sayang,-” Balasnya lagi membuatku bingung lalu bertanya apa maksudnya.
“Ih, rumus matematikanya ngga jalan, deh. Maksudnya: Sini dong ke Cos-an, aku Tangen Sayangggg…”
Hahahaha. Ih Venaaaa..
Sabar sayang, ya. Aku pasti datang.

Jam 2 siang, Vena mengajakku pulang ke rumahnya. Rumah dia di Bandung. Di JL. R.A.A Martanegara. Karena aku pun masih ingin bersamanya, aku pun ayo ayo saja.
Hampir 3 setengah jam perjalanan.
Benar-benar pantatku sampai terasa panas.

Sesampainya di Bandung, aku bertemu dengan ayah dan ibunya yang baru saja selesai mengobati pasien mereka. Orangtua Vena ini keduanya seorang Dokter Gigi. Kebetulan, di rumahnya mereka membuka praktek untuk siapapun yang mau berobat masalah gigi.
Kami sudah sangat akrab. Jadi, akupun tak canggung lagi dengan mereka.

Saat itu, mereka bilang padaku untuk menitipkan Vena bersamaku. Minggu depan, mereka ada kontrak kerja di luar kota yang memang tak bisa ditunda atau batal sekalipun.
Dan dengan senang hati aku menerimanya. menerima titipan mereka. 100 ribu Vena pun aku rela dititipin, kok.

“Dan, aku laper,” rengek Vena menggelendot manja di lenganku. membuatku malu karena ada ayah dan ibu Vena di depanku saat itu.
“Vena…” tegur ibu Vena. Memberi kode agar vena sedikit bisa menjaga sikapnya dengan laki-laki yang belum menjadi makhram-nya. Terlebih di depan orang tuanya sendiri.
“Hehehe, oh iya, Ayah, Ibu, aku boleh tidak keluar makan sebentar sama Danar?” Tanya Vena meminta ijin. Do’aku saat itu, semoga mereka mengijinkan. AMIN.
“Bol…”
“Yes!” aku keceplosan sebelum ayah Vena mengatakan”boleh” secara lengkap. Malunya aku saat itu.
Mereka hanya bengong menatapku. Lalu secara bersamaan saling tatap satu sama lain, menghela napas lalu geleng-geleng.
Tapi karena mereka mengizinkan, akupun tak masalah-lah digeleng-gelengin juga.
Pesan Ayahnya cuma satu: Jam 10 pulangkan Vena dengan utuh.

“Siap, Om! Anak Om yang kemayu ini aman, kok, sama saya. Ya udah, kami pamit dulu, ya, Om, Tante.”
Pamit. Cium tangan. Dan berangkat.

Kami makan malam di sebuah Hotel bintang lima di Bandung. Karena Restaurant-nya di lantai tiga, aku dan Vena menuju ke lift terdekat.
Kutekan tombol AZ begitu aku dan Vena tiba di depan Lift. Saat pintunya terbuka, aku dan Venapun masuk. Beberapa detik kemudian pintu itu menutup kembali.
Kulihat angka itu mulai naik. Dari 1 ke 2 lalu ke 3 dan pintu kembali terbuka.
Aku dan Vena pun keluar. Senang sekali rasanya sedari tadi Vena menggandeng tanganku.

Jangan dilepas ya, Ven..
Harapku dalam hati.

Desertnya enak. Bahkan it’s so delicious desert. Membuat si Vena lahap sekali makan. Lapar, ya, Ven?

“Eh, mau ke mana?” tanya Vena ketika melihatku beranjak dari tempat dudukku.
“Bentar,” jawabku.

Aku berjalan mendekati sederetan alat musik di samping meja kasir. Aku berbisik pada gadis yang baru saja selesai menyanyikan lagu dari G.A.C dengan judul lagunya Kita Bahagia.
Gadis itu manggut-manggut mengerti dengan apa yang kubisikan.

3 detik kemudian ia membenahi buku lagu yang ada di hadapannya, lalu beranjak dari tempat duduknya untuk kemudian kududuki.

Aku ingin menyanyikan lagu untuk Vena.
Mungkin terdengar norak. Tapi biarlah tak romantispun.

“Selamat malam semuanya..” sapaku mengawali sambil menenteng gitar akustik untuk kemudian kumainkan. Memang tak hanya aku dan Vena saja yang ada di sana. Ada puluhan orang.
Sahutan riuh terdengar di telingaku. Kulihat Vena tanpa berkedip menatapku.

“Terimakasih, oke, maaf mungkin ini ngga asyik buat kalian. Malam ini akan kunyanyikan sebuah lagu untuk Bidadarku yang sedang duduk di depan meja Kasir dengan gaun merahnya. Vena Albella.”
Kembali suara riuh itu terdengar.

Aku mulai memetik gitarku, lalu menyanyikan sebuah lagu dari Geisha – Cinta Itu Kamu.

Kujaga cintamu
Begitulah cinta menyatukan kita
Kau jaga Hatimu
Kujaga cintamu
Karena memang seharusnya begitu
Hidup ini indah bersamamu
Takkan ku siakan dirimu
Dimana aku tetap percaya
Kita nikmati cinta yang sama
Kau jaga hatimu
Kujaga cintamu
Begitulah cinta menyatukan kita
Kau jaga Hatimu
Kujaga cintamu
Karena memang seharusnya begitu
Cinta itu Kamu
Kau jaga hatimu
Kujaga cintamu
Begitulah cinta menyatukan kita
Kau jaga Hatimu
Kujaga cintamu
Karena memang seharusnya begitu

Venaaa… Kamu istimewaku.

Waktu menunjukan pukul 10 malam. Aku tepat waktu mengantarnya pulang. Tak sempat lagiaku mampir ke rumahnya. Karena aku masih harus balik ke Jakarta malam itu juga. Besok kerja.

“Selamat tidur, ya, Ven. I Love You Venaku”

SEND.
Kukirim ucapan selamat tidur itu ke segala SosMed yang terinstal di HP-ku.

Aku berhenti di sebuah Minimarket 24 jam sekedar membeli minuman bervitamin saja. Untuk jaga-jaga. Kalau-kalau aku nanti ngantuk di jalan.

Kulihat chatku tak diread-nya. Mungkin dia langsung tidur.

Aku iseng-iseng buka Facebook malam itu. Ingin sekali ku upload beberapa fotoku bareng Vena seharian itu. Tapi niatku urung, begitu kulihat teman obrolanku yang aktif ada nama Venna AL Bella di sana.

Pikiranku bertanya-tanya.
“Kalau dia online, kenapa dia nggak balas chat ku?”

Sekiranya seperti itu. Tapi sudhlah. Mungkin tadi sebelum tidur, ia lupa menutup akun Facebook nya. Positif, Danar. Positif.

Kubuang botol minuman dari kaca itu ke tong sampah begitu kuteguk habis isinya.
Rasanya memang lebih segar setelah meminumnya.

Aku memasukan HP-ku ke kantong celanaku dan kembali masuk ke dalam mobil untuk melanjutkan perjalanan ke Jakarta.

“Lhoh, ini kan tasnya Vena? Ya ampun sayang, kok teledor, sih!” kataku setelah menyadari kalau ternyata tas Vena ketinggalan di mobilku. Dengan kesal dan berat hati, aku melanjutkan laju mobilku. Mencari jalan putaran untuk kembali ke rumah Vena.

Hem…

“Yaudah, hati-hati ya, Sayang. Daaahh…” ucap seorang gadis yang sedang mengantar kekasihnya di depan pintu gerbang rumahnya. Kulihat mereka tak sadar melakukan sebuah ciuman mesra di depanku. Dan gadis itu adalah Vena.
Vena kekasihku. Vena gadisku. Gadis yang kupercayai. Kubangga-banggakan selama ini. Gadis yang…

Ahh!! Hancur semuanya. Aku harap itu hanya mimpi.
Benar-benar tak bisa kuduga sebelumnya kalau dia setega ini.
Aku hanya terpaku menyaksikan mereka. Terpaku di hadapan Vena yangbaru saja menyadari keberadaanku.

Aku nggak tahu lagi harus bagaimana. Aku bingung harus mendekatinya atau langsung saja kulempar tas ini ke mukanya. Ya tuhan, Vena. Kenapa? Apa yang kurang dan salah dariku selama ini?

Entahlah, tiba-tiba aku memberanikan diri untuk melangkah mendekatinya. Kulihat ia begitu takut. Begitu cemas. Ia diam saja. Tak menjelaskan apapun terhadapku. Dan buatku, aku juga tak perlu lagi mendengar penjelasan apapun darinya untukku. Segala yang kulihat sudah cukup jelas untuk menjelaskan, kenapa dia begitu berubah. Kenapa dia begitu kurang memberi kabar.
Aku benar-benar merasa dibodohinya selama ini. Dipermainkan begitu saja.

Beberapa detik kemudian,
Aku menyerahkan tas kecil warna hitam itu padanya. Sedikit kulemparkan senyum untuknya. Dan kuusap rambutnya untuk yang terakhir kalinya.

“Terimakasih, Vena.”

Ucapan terakhirku untuknya yang masih terpaku di depanku. Aku lalu pergi meninggalkannya. Kulihat ia berulang kali memanggil namaku. Lalu menangis. Tersungkur menatap kepergianku bersama dengan mobilku.

Sudahlah..

Aku tak tahu lagi apa yang harus kuceritakan.

Yang kulakukan saat itu adalah menghapus segala aplikasi yang biasa kupakai komunikasian dengannya. Kuhapus kontaknya. Kuhapus semua foto bersamanya. Aku benci. Sangat benci dia.

Entah kecepatanku saat ini sampai berapa, tak kuhiraukan lagi..

Untukmu yang nyaris hinggap membekas lara
Melukis kisah berduri dusta..
Yang masih,
Namun beda..

Kumohon lelap..
Tidurlah dalam darahmu..
Bangunlah dengan cerminmu..

Kumohon ratap..
Jauhlah dari otakku..
Hilanglah dari gelapku..

Aku membencimu..

Cerpen Karangan: Anna Safitri
Blog: kumpulankaryapena.blogspot.co.id
Facebook: Anna Shafitriy

Nama: Anna Safitri
Twitter: @anna_shafitriy
IG: @anna_safhitriy

Cerpen Love History merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sakit

Oleh:
Andi prayoga brahmantara, itu lah Namaku. Singkat saja dengan andi, karena aku tidak ingin membuat pusing orang yang akan memanggilku. Ya benar, aku adalah seorang anak laki-laki yang berdarah

Dariku Untukmu

Oleh:
Bagaimana perasaanmu ketika sahabatmu telah menemukan seseorang yang dicintainya? Akankah kau takut ditinggalkan olehnya? Tetapi, sebagai sahabat yang baik kau akan tetap ada untuknya seperti apa pun dia bukan?

Cinta SMA

Oleh:
Aku menduduki kursi Sekolah Menengah Atas tepatnya kelas 10 SMA. Kelasku bersebelahan dengan seorang lelaki yang bernama Rehan, karena alasan kelas bersebelahan kami mulai mengenal satu sama lain, kita

Peringkat 1 (Part 1)

Oleh:
Ada satu pertanyaan yang selama ini selalu ada di benakku terus-terusan. Pertanyaanya seperti ini. Apa di usiaku yang sebentar lagi menginjak usia 18 tahun ini? Setidaknya 1 saja… Apakah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *