Lukisan Salah Penerima

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 11 May 2016

Dina sangat semangat mempersiapkan selembar kertas karton putih dan kotak berisikan pensil warna yang baru saja dibelinya dari mini market saat pulang dari sekolah, ia bukanlah seorang pelukis dan tidak hobi melukis. Tetapi sahabatnya yang bernama Rio telah berjanji akan melukis tokoh karikatur sahabatnya itu doraemon. Pada saat di sekolah Rio berjanji akan datang ke rumahnya pukul 2 siang, tetapi jam dinding di rumahnya sudah menunjukkan pukul 2 lewat 15 menit.

“Ahh cuma telat 15 menit kok, lebih baik aku sabar saja menunggu,” ucap Dina dalam hati sambil mempersiapkan makanan kecil dan minuman di teras rumahnya. Aroma bau gosong tercium di sekitaran teras Dina, awalnya ia merasa kalau aroma itu bukanlah dari rumahnya ataupun di dapur. Tetapi…
“Astaga.”.. Teriak Dina sambil berlari menuju dapur, ternyata ia lupa mematikan api masakannya telur dadarnya. Dina hanya bisa menganga sambil mengeleng-gelengkan kepalanya. “Untung hanya telur yang gosong.” Ucap Dina sambil mengangkat masakannya dan membuang ke tempat sampah.

Setelah selesai membereskan urusan dapurnya, Dina kembali ke teras rumah. Ternyata Rio telah ada di situ dan melukiskan sesuai yang diminta Dina.
“Kamu ini datang, bukannya ucap salam dulu,” ucap Dina sambil menuangkan minuman ke cangkir.
“Buat apa, kan kamu sendiri yang bilang kalau anggap aja seperti rumah sendiri,” Jawab Rio yang masih asyik tetap melukis.
“Makasih ya Rio, sudah mau datang. Aku beruntung punya sahabat seperti kamu yang bisa melukis.”
“Ahh kamu terlalu berlebihan, Aku senang kok. Melukis adalah hobiku.”

Hanya butuh waktu satu jam lebih, akhirnya Rio menyelesaikan permintaan sahabatnya itu. Sementara itu Dina malah tertidur dengan menundukkan kepalanya di meja tempat Rio melukis. Karena tidak mau mengganggu tidur Dina, Rio memilih untuk pulang secara diam-diam. Sebelum pulang meninggalkan Dina, di selembar kertas dituliskannya. “From Rio For Dina, 23 maret 2006” dan ditambahkannya dengan coretan tanda tangan lalu ditempelkannya dengan sebuah penjepit kertas. Keesokan paginya Dina berangkat ke sekolah tidak seperti biasanya, kali ini dia berangkat lebih pagi dan tidak seperti biasanya juga karena biasanya sebelum berangkat ke sekolah ia singgah terlebih dahulu ke rumah Rio untuk berangkat bersama-sama.

Rio pun yang hanya melihat dari jendela kamarnya juga merasa kebingungan dengan sikap Dina yang kali ini agak sedikit cuek tetapi rasa senang juga menghampiri perasaannya. Pada saat berangkat ke sekolah ia melihat Dina membawakan lukisan yang semalam dibuatnya, Rio berpikir lukisan itu bakalan ditempel di kelasnya Dina agar menjadi bahan pameran kepada teman-temannya. Sesampainya di sekolah Dina bukan langsung mendatangi kelasnya dan meletakkan ranselnya, tetapi ia berjalan riang menuju taman sekolah sambil membawakan segulung kertas yang berisikan lukisan. Ternyata Alvin di sana telah menunggu sambil bermain gitar di bangku sekitaran taman. Alvin adalah kakak kelas di atas Dina 1 tingkat, mereka berdua mempunyai kesukaan yang sama yaitu sama-sama menyukai doraemon.

“Kak, ini lukisan yang telah aku janjikan buat kakak,” Ucap Dina dengan perasaan yang sangat semangat dan gembira. Alvin hanya bisa tersenyum manis saat menatap wajah Dina, lalu mempersilahkan dirinya untuk berada duduk di samping Alvin. Jurus maut Alvin pun ke luar, ia mulai mengeluarkan irama melodi yang indah dari gitarnya dan menyanyikan sebuah lagu berjudul Just The Way You Are yang dipopulerkan oleh Bruno Mars. Dina hanya bisa terdiam terpaku, bibirnya tidak dapat mengeluarkan sedikit pun kata-kata, yang terasa saat ini adalah jantungnya berdebar-debar begitu kencang. Sebelum mereka berdua kembali ke kelas masing-masing ternyata Alvin juga sudah menyiapkan setangkai mawar merah yang dibungkuskan plastik dan bunga itu ditempelkan bersama-sama dengan sebatang cokelat tebal.

“Oiya Din, aku lupa satu lagi.” Alvin mengeluarkan amplop putih yang berisikan surat dari saku bajunya. “Dan terima kasih buat lukisannya ya, aku tidak perlu melihat lukisannya, karena aku pasti tahu ini lukisan terindah yang pernah aku terima.” dengan tangan yang bergetar dan mata yang berkaca-kaca Dina menerima amplop itu
Ini adalah hal pertama kali Dina seperti dijadikan ratu oleh seorang lelaki, apalagi ia sama sekali belum pernah terjatuh dalam cinta pertama.

Sebelum masuk ke dalam kelas Dina mengirim pesan singkat kepada Rio yang berisikan, “Rio… Terima kasih buat lukisannya ya. Oiya nanti jumpain aku di kelas ya, pada saat pulang sekolah. Thank’s my best friend.” Rio yang telah membaca pesan singkat tiba-tiba menjadi salah tingkah, ia menduga bahwa Dina sangat suka dengan lukisannya dan akan memamerkannya kepada teman-teman di kelasnya Dina.

Bel pertanda pulang sekolah telah berbunyi, Rio yang sudah tidak sabar ingin menemui Dina segera berlari dengan cepat menuju ke kelasnya. Sesampainya di sana, tidak ada siapa pun. Yang tersisa hanyalah ranselnya, tetapi ada satu hal lagi yang tersisa. Di lacinya Dina. Ia melihat ada setangkai bunga dan cokelat batang, beserta amplop yang sudah terbuka. Rio mengambil isi amplop itu dan membacanya. “Sebenarnya aku hanya bercanda meminta kamu untuk memberikanku lukisan kepadaku, tetapi bukan lukisan itu yang aku butuhkan darimu. Tetapi cintamulah yang paling aku butuhkan. Aku menunggumu di taman sekolah dan menunggumu untuk dapat menerimaku masuk ke dalam hatimu… Alvin.”

Rio hanya bisa termenung ketika membaca surat itu dan meremas geram hingga membuat surat itu menjadi kusut, seperti perasaannya saat ini. Karena selama ini ia tidak hanya mau Dina menjadi sahabatnya, tetapi juga sebagai kekasihnya. Rio sudah lama memendam rasa itu semenjak mereka pertama kali berkenalan saat duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Namun menjadi sahabatlah yang diterima Rio dari Dina sampai sekarang. Ia pun berlari menuju taman sekolah dan mengintip keduanya dari kejauhan yang sedang senyum bahagia, sepertinya Dina sudah menerima cinta Alvin. Rio tidak bisa berbuat apa-apa, sebab Dina hanyalah sahabatnya dan itu adalah keadaan yang harus ia terima.

Cerpen Karangan: Samuel Gabriel Siburian
Facebook: Samuel Gabriel Siburian

Cerpen Lukisan Salah Penerima merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cintaku di Timur Matahari

Oleh:
“Kukira cinta yang rumit hanya ada di sinetron… Ketika tiga hati mencintai satu wanita dalam waktu yang bersamaan… Cinta kok rumit ya..? aku jadi bingung, bukanya mereka bertiga berteman

Kesenyapan Di Balik Hujan

Oleh:
Semua ini berawal di Sekolah SMA Kenanga, ada seorang gadis bernama Fitri, gadis kecil yang sangat menyukai hujan, saat pertama kali masuk sekolah Hary (ketua kelas) membuat jadwal piket

Ketika Harus Ku Tinggalkan

Oleh:
Aku masih merenungi kejadian yang harus membuahkan pertengkaran semalam tadi. Akankah harus terulang kisah-kisah pahit tentang cinta yang tak pernah kunjung ku rasa bahagia. Entahlah, lagi-lagi aku harus menelan

Bukan Cinta Pertamaku

Oleh:
Kehidupan masa SMA menurutku sebuah hal yang biasa-biasa saja. Cerita tentang persahabatan dan juga percintaan masa muda yang sering muncul dalam novel maupun film, sepertinya sangat bertolak belakang dengan

Move On

Oleh:
Malam yang sunyi menemani lamunan seorang gadis yang bernama Husna. Sembari di temani lagu-lagu galau air matanya terus bercucuran seakan tak terbendung lagi. “Ya Allah, apakah aku harus ungkapkan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *