Memang Diriku Ini Siapa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 19 May 2016

“Ini tidak seperti yang kamu pikiran Sonia! Semuanya bohong, semuanya khayalan. Tidak, tidak, tidak, tidak! Aku tidak boleh seperti ini,” rutuk Sonia pada dirinya sendiri dalam hati.

Bagaimanapun Sonia tidak boleh seperti ini. “Oke, ini soal cemburu atau tidak. Kesel atau tidak. Yang jelas kamu bukan pilihan dia, dan yang pasti adalah Indra bukan jodohmu. Kita memang sering dijadikan bahan bercandaan, dan memang kita sendiri sering bercanda tanpa sepengetahuan orang lain. Tapi bukan berarti ini jodoh. Oh, Tuhan, kenapa seperti ini? Ini tidak boleh. Mereka pantas bersama,” lanjutnya lagi mengerutuk. Sonia mondar-mandir di toilet tempat kerjanya. Dia ingin meluruskan perasaan yang sedang menyelimuti hatinya. Bagaimanapun kenyataannya tidak pernah ada orang yang tertarik padanya. Dia selama ini yang selalu tertarik pada orang lain. Tak akan pernah ada orang yang tertarik padanya sampai kapan pun.

“Aargh…” teriak Sonia. “Aku benci semua ini. Aku benci kehidupan ini. Aku benci semua orang yang ada dalam hidupku. Tapi tidak mungkin aku jadi psikopat. Aargh,” teriak Sonia yang lama kelamaan dia menangis. “Kenapa aku seperti ini? Kenapa selalu aku yang harus memendam perasaan ini? Kenapa begini? Apa aku benar-benar tidak pantas untuk orang yang aku suka? Lalu untuk siapa aku ini? Kenapa setiap pria yang aku sukai selalu jadi milik orang lain?” lanjutnya.

Sonia hanya bisa lompat-lompat kecil, lalu mengatur napas dan terus berulang kali dilakukan agar emosi yang meledak dalam hatinya hilang secara perlahan. Setelah merasa semuanya sudah normal kembali Sonia baru ke luar dari toilet. Tidak lama Sonia bertemu dengan Ardan. Ardan memberi senyuman manisnya pada Sonia. “Argh, orang lagi kesel kayak gini, masih aja senyum!” rutuknya. Dengan terpaksa Sonia tersenyum miris, untungnya Ardan tidak melihat senyuman itu. Waktu sudah malam, tapi Sonia masih belum bisa tidur. Dia masih memikirkan apa yang dikatakan oleh Andini semalam.

“Aku mau makan di luar, yah,” kata Andini semalam. Sonia mengangguk.
“Tahu gak siapa yang ngajak makannya?”
“Siapa?”
“Ardan. Aneh ya dia. Tumben-tumbennya ngajak makan?”
“Ngajak balikan kali,”
“Gak tahu,”

Andini langsung pergi setelah berbicara seperti itu. Tanpa tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Wajah Sonia memerah. Hatinya terluka. Mulutnya tertutup. Sonia benar-benar kaget. Apa yang baru saja didengarnya sama seperti saat dia tersetrum listrik beberapa waktu lalu yang sampai sekarang masih sedikit terasa seperti apa getarannya. Ini berita bahagia. Tapi kenapa hatinya terluka? Kenapa seperti ini? Bayangan saat mereka bercanda teringat jelas. Apalagi saat orang lain sering memojokkan mereka. “Apa ini? Apa aku tidak rela mereka bersama?” tanya Sonia pada hatinya. Ardan dan Andini adalah pasangan kekasih, tapi itu dulu sebelum Sonia bekerja di tempat kerja saat ini. Pertama kali Sonia tahu tentang hal itu langsung dari Andini saat Andini bercerita tentang pengalaman asmaranya. Andini dan Ardan bahkan saling bungkam setelah hubungan mereka berakhir.

“Kenapa gak kamu yang mulai untuk berkomunikasi?” tanya Sonia saat itu.
“Malas. Waktu itu pernah aku bertanya, tapi dia sombong. Gak ngejawab,”
“Ya harus sering bertanya dong, biar jadi akrab lagi. Jadi gak harus bermusuhan,”
“Ya sekarang mah lagi malas, takut seperti yang udah-udah,”
“Emang dia sampai saat ini belum pernah bertanya atau ngomong apa gitu duluan?”
“Belum,”

“Waw, sadis juga,”
“Dia kayaknya sakit hati banget. Aku udah memperlakukan dia dengan gak baik. Padahal dia itu cowok yang paling baik,”
“Di antara semuanya?”
“Yang lain juga baik. Tapi kan aku punya perasaan sama mereka. Kalau Ardan, “menggelengakan kepalanya.
“Jadi kayak dimanfaatin gitu, ya?” Andini hanya tersenyum.

Jika Sonia bertanya, pasti jawabannya adalah Sonia teman Ardan. Jadi sudah sewajarnya Sonia tidak punya perasaan lebih pada Ardan. Kenyataannya adalah Ardan sekarang sudah berkomunikasi lagi dengan Andini. Bukan maksud membanggakan diri. Sejak Sonia tahu bahwa Andini adalah mantan kekasih Ardan, Sonia memang tahu mereka tidak saling berbicara tapi tidak tahu dengan hati masing-masing mantan kekasih itu. Terkadang Sonia mencari cara agar mereka mau saling menyapa. Dan hari itu Andini mencoba bicara pada Ardan. Tepat di hadapan Sonia.

Hari itu Andini mencoba memulai bicara pada Ardan. Dan ternyata Ardan menjawabnya. Senang memang senang, tapi entahlah. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di hati Sonia. Sonia merasa tidak senang dan kesal melihat keakraban Ardan dan Andini. Bahkan Sonia mencoba untuk berpikir positif, mungkin ini bukan yang pertama kalinya Ardan menjawab pertanyaan Andini. Di lain waktu yang sudah berlalu mereka pasti pernah saling berkomunikasi setelah hubungan mereka berakhir. Hanya, mungkin ini untuk yang pertama kalinya mereka saling bicara tepat di hadapan Sonia.

“Ardan, bersihin itu berewok sama janggut kamu, geli tahu lihatnya, apalagi kalau dipegang pasti pada nusuk,”
“Lagi males,”
“Dulu gak pernah kayak gitu, bersih dan enak dilihat,”
“Emang sekarang jelek? Masih ganteng kayak gini,”
“Ke-pede-an,”
“Nah, gitu dong saling bicara. Enak kan dilihatnya juga. Bukannya kayak musuh!”
“Eeh, aku pernah nanya sama Ardan. Dianya aja yang gak pernah ngejawab. Sombong,”
“Sekarang kan udah dijawab. Berarti gak sombong lagi. Kamu Ardan, jangan sombong gitu. Jawab kalau Andini nanya. Sama perasaan kalian sendiri kan enak, apalagi sama orang lain lebih enak dilihatnya,”

Entah sejak kejadian itu, entah sejak kapan Sonia merasa tidak senang dengan kedekatan kembali Andini dan Ardan. Dan jika Sonia mulai menyukai Ardan, pastilah dia akan diam seribu bahasa. Tak akan ada yang tahu jika dirinya mulai menyukai Ardan. Dan itu terbukti sampai saat ini. Ardan sudah kembali dekat dengan Andini. Sonia hanya bisa gigit jari melihat kedekatan itu. Mungkin benar. Sonia mencintai Ardan dengan seiring berjalannya waktu dan berjalannya rasa kesal dan cemburu. Jika tidak cinta. Apa mungkin dia akan sesedih ini melihat dan mengetahui Ardan dan Andini kembali dekat? Rasanya tidak benar jika Sonia harus cemburu. Lantas apa salah jika Sonia jatuh cinta pada Ardan secara diam-diam? Karma atau hukuman. Sonia sendiri tidak tahu. Dia juga ingat dengan ucapan Andini beberapa bulan lalu.

“Kalau lagi disakitin atau lagi kesel sama cowok itu pasti selalu ingat sama Ardan. Karma kali, yah?”

Sonia hanya tersenyum miris. Terlintas di pikirannya apa mungkin Andini masih ada perasaan pada Ardan walau sedikit? Jika sedang membicarakan Ardan dan Andini, dengan siapa pun membicarakannya rasanya Sonia selalu pergi dari situasi itu. Tapi itu tidak mungkin. Akan sangat mudah orang lain tahu jika dia memiliki perasaan pada Ardan. Sedang Sonia sendiri adalah tipe orang yang selalu tertutup. Tidak suka ada orang yang tahu tentang dirinya apalagi perasaannya. Sonia tidak ingin melihat kedekatan kembali Andini dan Ardan, tapi apa yang bisa diperbuatnya? Hanya tersenyum senang tapi hati menangis. Seperti sinetron saja, pikir Sonia. Ada yang aneh melintas di benak Sonia. Kenapa kedekatan mereka terasa terburu-buru dan mendadak seperti ini? Kenapa tidak sejak dulu mereka dekat kembali? Atau sejak mereka sudah mulai saling bicara satu sama lain?

Beberapa hari yang lalu ada kekasih Andini datang ke sini. Dan mereka kepergok oleh Ardan habis jalan bareng malam itu. Apa memang Ardan masih menyimpan rasa pada Andini? Atau, apa Ardan ingin balas dendam? Ardan pernah menceritakan tentang dia yang selalu memberikan apa yang diinginkan oleh kekasihnya. Saat itu juga Sonia langsung berpikir tentang Andini yang tidak pernah punya perasaan pada Ardan. Andini berhubungan dengan Ardan karena kebaikan Ardan padanya. Ardan selalu memberikan apa yang diminta oleh Andini. Dan Ardan baru saja menceritakannya yang berhubungan dengan jalinan kisah cintanya dengan Andini.

“Aargh… kenapa aku jadi seperti ini? Kenapa jadi berburuk sangka seperti ini? Ardan masih mencintai Andini. Ingat Sonia. Ingat!” Dan apa yang dikatakan oleh Andini semalam mungkin itu yang harus jadi alasan Sonia harus siap menerima kenyataan mereka dekat kembali.
“Aku tanya sama Ardan tadi. Bukannya ada banyak wanita yang lain,”
“Tapi dengan kamu rasanya berbeda,” jawab Ardan.
“Bukannya kamu lagi dekat dengan Indah?” tanya Andini.
“Kami hanya dekat biasa,” jawab Ardan.
“Oh,” cerita Andini pada Sonia malam itu yang baru saja pulang makan berdua dengan Ardan.

Sonia tersenyum miris. Nasibnya benar-benar buruk. Lalu dia coba pura-pura tegar.
“Mungkin dia ngajak kamu balikan lagi?”
“Gak tahu tuh. Tapi yang jelas aku pingin ketawa sekeras mungkin. Soalnya sikap Ardan lucu juga,”
“Iya,”

Apa yang harus diperbuat Sonia? Sonia mencoba memejamkan matanya, tapi sangat susah.

Cerpen Karangan: Nia Sri Nuralimah
Facebook: Nia Sri Nuralimah

Cerpen Memang Diriku Ini Siapa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Heartbreak is Not Bad

Oleh:
Waktu menunjukan pukul sebelas malam, tetapi mataku tak kunjung terpejam. Rasanya sangat gelisah menerima kenyataan yang tak sesuai dengan keinginanku. Inilah bagian paling aku benci jatuh cinta: patah hati.

Usaha Yang Tak Berujung Indah

Oleh:
Cinta, cinta, cinta dan cinta. Itulah yang aku rasakan saat ini. Pasti semua orang pernah merasakan rasanya cinta kepada seseorang yang spesial bagi kita, tidak memandang wajah, fisik, harta

Terimakasih (Part 2)

Oleh:
Rupa-rupanya Aldi adalah sepupu dari Yusuf yang telah lama tinggal di Jakarta, dan tujuannya ke Malang adalah untuk menjadi seorang Dosen. Fatma berjingkat kaget saat tau bahwa orang yang

Aku Selalu di Ujung Sini

Oleh:
Aku menempati kursi penonton terdepan namun berada di paling ujung. Selalu. Agar kedua mata yang banyak orang menyebutnya belok ini tetap dapat melihat dengan utuh potongan tubuh atletisnya dengan

Dari Ciremai Aku Menjadi Tau

Oleh:
Semilir riuh angin menjatuhkan angin, yang harus jatuh sebelum ia harus jatuh. Pagi itu di balik menawan gagahnya gunung Ciremai, bukit bukit & yang lain disekitarnya bercakapan dengan sopan.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *