Memutar Roulette

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 14 May 2016

Aku tahu, kau sudah menceritakan kisahmu sendiri dalam satu surel-mu yang kau kirim di hari minggu setahun yang lalu, dan aku sibuk menantikan kedatangannya di mata jendela dan teras rumah. Kau berkisah tentang seorang anak lelaki di hari yang matahari belum mau meninggi. Ia, katamu, dengan kerelaannya meminjamkan sebuah topi merah sebelum upacara bendera berlangsung kepadamu di waktu kau kebingungan apa yang akan kau kenakan di kepalamu karena kau meninggalkannya dan lupa menaruhnya di mana.

Kau berpikir dia menyukai dan mencintaimu. Dia membiarkan dirinya dalam bahaya dan suatu yang tidak disukai: kemarahan dan bukan keramahan guru. Aku percaya, ia bahagia diberi sanksi dan hukuman seberat apa pun sebab melihat kau hormat pada sang saka merah putih dengan leluasa. Tanpa dirundung rasa takut berlebih. Ia mengorbankan dirinya, dan tak peduli rasa sakit -rasa sakit telah hilang dan tak berasa di atas kulitnya. Aku juga berpikir, anak lelaki itu mencintaimu dengan ketulusannya. Ia memberi hal-hal sederhana yang ia punya dan mampu memilikinya. Ia tak ingin melihat permata yang lebih indah ketimbang zamrud di seberang benua. Ia memilih mutiara yang jatuh di tangannya. Menggenggamnya erat, dan tak akan dilepasnya.

Kau bilang, dalam baris terakhir cerita dalam surat yang kau tujukan padaku, ia sudah pergi dan tak ada kabar lagi tentangnya. Berbagai kemungkinan muncul, tapi kau hanya percaya satu di antaranya: ia bersekolah ke luar pulau dan barangkali menunggu kau, atau mungkin mencintai perempuan lain. Menurutku, suatu hari ia akan kembali dan menemuimu di tempat-tempat yang di sana kau merasa muram. Ia akan muncul dan memberi dirimu kebahagiaan setelah aku dan kau mengakhiri kisah cinta remaja yang kita tulis dengan tanda titik. Titik itu menjelma hal-hal yang berupa-rupa: kemarahan, egois, saling pergi, dan mengambil jalan yang berbeda di simpang jalan, telah berhenti membikin janji-janji yang belum pernah ditepati, atau mencintai orang lain dengan suasana yang berbeda dan dianggap tidak lagi tawar.

Ada kisah lain yang tertulis di sana. Seseorang ingin menjadikan kau kekasihnya secara paksa dan mendesak. Kau meminta pendapatku. Bagiku, perasaan tidak bisa dipaksakan, atau hubungan itu hanya akan penuh dengan air mata yang terus mengalir tiap harinya. Seorang dari kalian akan terlukai hatinya dan timbul rasa menyerah -mengakhiri suatu hubungan dengan selekas mungkin, secepat hari berganti. Kau menolaknya, dan kau mengabari bahwa ia terus menginginkan kau jadi pacarnya. Kau bersikukuh begitu pula ia yang terus membujuk. Ia mundur, mengalah, dan marah. Kau dihapus dari pertemanan di media sosial. Kau tegar dan mengerti bahwa membenci orang lain karena cinta adalah hal paling gila dan meruntuhkan arti cinta itu sendiri. Kau berniat bersikap baik pada siapa pun, tanpa melihat seberapa besar mereka membencimu.

Maaf merupakan obat mujarab menyembuhkan luka, begitu kalimat yang ku temukan di sebuah buku. Kau pun bersetuju dengan baris aksara itu. Kau menjadi seorang yang ramah dan penyayang. Kau menjadi gadis berhati lembut dan mudah menangis di malam hari. Kau sudah menceritakan kisah itu dengan gamblang di sana. Aku benar-benar mengingatnya. Waktu itu kita sedang menjejaki tahun kedua di Sekolah Menengah Pertama -kejadian itu dua tahun sebelumnya. Melalui curahan-curahan hatimu, aku yang semula mundur menyukaimu dan mulai menjauh, aku kembali lagi. Aku yang hampir saja menyerah, seketika dunia jadi secerah senyum bayi. Meski aku nantinya akan menjadi penasihat yang baik buat hubungan yang sedang kau rajut bersama kekasihmu. Aku siap menerima apa pun yang akan terjadi.

Mungkin, aku harus bilang dan mengingatnya kembali: perihal awal mula kita menjadi kekasih. Malam itu, aku yang mengatakan rinci kegelisahan yang merundung tubuhku. Keresahan yang menjadikan sesak di dada. Aku bilang padamu bahwa ada seseorang perempuan yang terus menerus melihat, dan bertingkah aneh hingga aku tidak bisa selamat dari gangguan kaki dan tangannya. Ia memindahkan kursi tempatku duduk ketika semua orang menyanyikan lagu “Indonesia Raya” di waktu pagi sebelum jam pertama dimulai. Akibatnya, aku jatuh terduduk di lantai. Tentu saja aku tahu siapa pelakunya. Ku lihat dia dengan sorot mata tajam ia hanya tertawa sambil menutup bibirnya dengan sebelah telapak tangan. Kakinya pernah mendorong kaki kursiku. Sehingga sewaktu-waktu aku tidak bisa lagi berkonsentrasi menulis dan kadang jatuh tertungging. Aku marah, dan ia tetap terkikik dengan tawanya yang tak mengenakkan.

Aku punya prasangka, ia ingin menghibur dirinya dengan mengganggu orang lain dan menjadikannya suatu peristiwa komedi yang tiba-tiba. Barangkali, ia sedang putus dari pacarnya dan sakit hati: mungkin semalam matanya sembap dan rok satinnya basah air mata. Paginya, waktu itu, ia hendak beristirahat sementara dari kesedihan, menanggalkan perih karena banyak perihal yang terjadi tanpa orang-orang sepertiku ketahui. Atau satu kemungkinan yang muskil aku terima: ia.. mencintaiku. Jika itu terjadi, terus terang aku tidak ingin membiarkan air matanya jatuh karena diriku. Lebih-lebih, itu tangis disebabkan kesedihan mendalam. Aku akan dihadang mara bahaya: dicambuk Malaikat ratusan kali di hari akhir. Tetapi, toh, bukan cinta yang abadi. Itu sebatas cinta fana yang kapan saja akan musnah. Sebab tanpa hubungan yang jelas dan penuh dengan tidak kepastian.

Kau membacanya, dan mengirim suatu yang orang sekarang menyebut emoticon, :'(. Kau menangis, begitu yang ku artikan dari tanda itu. Kau mengirimnya tak hanya satu, tapi lebih dari tiga. Aku pikir kau sedang mencintai sahabat laki-laki yang begitu dekat dan peduli denganmu, maka aku mengisahkannya sesuai apa yang aku rasakan seakan-akan tanpa rasa bersalah. Ternyata, fakta berkata lain.

“Aku ingin mengatakan sesuatu,” balasmu setelah surel itu.
“Katakan saja, aku akan mendengarnya,” tulisku.
“Tapi aku tak punya nyali.”
“Jangan takut. Jika terus-menerus merasa takut, kau akan kehilangan kesempatan dan menyesalinya suatu hari. Sekecil apa pun hal itu, mungkin, aku tidak akan kecewa mendengarnya.”
“Aku takut kau akan marah setelah membacanya.”
“Tidak. Aku tidak marah. Meski itu perihal yang aku benci. Atau mungkin, justru sebaliknya yang akan aku sukai.”

“Kau berjanji?”
“Ya, tentunya.” Ku tambahkan emotikon smily di sana.
“Tapi, aku malu. Tidaklah hal yang biasa jika seorang gadis mengatakannya pada pemuda. Terlebih menyangkut rasa.”
Agaknya, aku mengerti apa yang akan dikatakannya. “Dunia sudah berubah. Ada kesetaraan gender di seluruh belahan bumi. Timur dan barat. Utara dan selatan. Mereka duduk sama rata berdiri sama tinggi. Hak lelaki dan wanita sudah disamakan sejak lama.”
“Tetapi….”
“Singkirkan saja keraguan. Jangan khawatir dan jangan bersedih. Atau dunia akan tertawa dan meninggalkanmu sendirian.”

Aku lama menunggu balasan darimu. Mungkin kau sedang memilih diksi dan kalimat yang akan kau tulis cukup panjang. Dadaku diserbu serdadu: cemas, sesak, dan penuh ingin tahu akan hal yang ingin kau bilang. Satu menit. Pesanmu belum tiba. Dua menit. Aku pergi menatap mata jendela. Di luar sudah lama gelap. Kerling bintang-bintang tersebar di langit luas. Melihatku dengan mata yang bahagia. Tiga menit. Waktu merangkak lebih lama dari biasanya. Segalanya seperti slow motion. Empat menit. Aku merebahkan badan di atas kasur dan menatap langit-langit. Sebelum menit kelima, pesanmu datang. Isinya membuatku di antara rasa lega dan sedikit kecewa.

“Maaf menunggu lama. Tadi Ibuku memintaku membantunya. Sebenarnya…. Ah, hal itu akan aku katakan lain waktu saja.”
“Baiklah, kapan pun aku akan menunggunya.”
Setelah itu, aku memutus koneksi email. Dan membuka ponsel. Ada pesan yang panjang. Dari nomor yang tidak terdaftar di kontak ponselku.

“Sebenarnya, aku merasa cemburu. Amat cemburu. Membaca ceritamu tentang perempuan yang sering memperhatikanmu. Dari kejauhan, aku pun melihatmu dengan bahagia. Tapi yang terlihat di matamu ialah gadis itu yang duduk tepat di belakangmu. Mungkin, ia menyayangimu. Dan kau mungkin juga akan menjadi mencintainya. Tapi, selama ini. Aku merasa, bahwa kau begitu peduli padaku. Dan hatiku tersentuh karenanya. Bisa jadi ini adalah suatu yang tak pantas jika aku yang menyatakannya. Aku pernah mendengar sahabatku mengatakan bahwa kau menyukaiku. Kau pernah meminta nomor ponselku pada sahabatku untuk mengirim doa akan kesembuhanku ketika aku sakit. Setelah kejadian itu, di masa aku membutuhkan hal-hal yang sederhana yang tidak aku punya, Tuhan mengirimkan untukku kau terdepan memberi bantuan. Aku melihat matamu. Dari sana aku benar-benar yakin bahwa benar kau mencintaiku. Dan aku, juga mencintaimu.” Satu kata dari namamu tertulis di bawahnya.

Aku berdebar membacanya. Lalu, aku juga mengirim pesan untukmu. “Aku mencintaimu.” Kemudian, aku memejamkan mata dan tidak bisa jatuh tertidur.

Aku pernah begitu merasa bahagia karena cinta pada seorang gadis. Aku kasmaran berlebih dan lupa diri. Aku terlalu memikirkan kebahagiaanmu dan melupakan bagaimana masa depan yang sebetul-betulnya cerah dan membuatku hari-hariku kacau, tak beraturan. Seperti sel hewan yang tak punya dinding sel. Aku benar-benar terjatuh. Nilai-nilai mata pelajaranku turun tajam. Aku berpikir hidup bersamamu suatu hari akan memudahkan segala keadaan. Buruk sekali masa-masa tahun keduaku di SMP. Aku yang tak pernah keluar dari sepuluh besar, tiba-tiba mendapat peringkat yang orang-orang bisa menyebutku paling tidak pintar di kelas. Ya, aku didaulat menjadi peringkat terakhir. Sekali lagi, terakhir. Benar-benar terakhir. Dunia jadi gulita. Aku muram seharian. Perasaanku kacau. Aku bingung dari mana aku akan mulai memerbaiki hal-hal yang salah.

Tiba-tiba kau hilang kontak. Tak bisa dihubungi, meski telah berkali-kali aku kirim pesan pendek lewat alamat surelmu. Aku mondar-mandir berpikir: sedang apa kau di sana? Mengapa tak satu pun pesanku yang kau balas? Mungkin aku mesti belajar, sejatinya bersabar. Aku menutup hari dengan membaringkan tubuh dan menutup mata. Aku ingin melupakan kesedihan ini sebentar saja. Esoknya, kau tetap tidak membalas pesanku. Tidak memungkinkan aku berbicara langsung padamu di depan khalayak ramai. Aku seorang yang pemalu dan sulit berbicara dengan perempuan dengan terus terang. Apa lagi obrolan yang panjang hingga bercabang-cabang dan menghabiskan waktu.

Hari seterusnya kau tidak menjawab sebuah pesan pun. Sebenarnya, tidak apa-apa jika kau menitipkan pesan pada temanmu. Lalu sahabatmu memberitahu kronologi kejadian sebenarnya. Perihal tidak terbalasnya pesan-pesanku. Mungkin waktu, koneksi internet, kesibukan yang kau alami belakangan hari, dan berbagai hal-hal yang terjadi dan tak diduga. Tapi, aku kecewa kau tidak melakukannya. Kau hanya diam dan tertawa bersama sahabat lelakimu. Aku tersenyum tipis. Aku menyadari bahwa telah ditinggalkan di masa aku benar-benar bersedih. Sepi, dan sendiri. Kau berjaya, penuh cahaya, dan didukung banyak orang. Aku hanya sendirian dan dilupakan.

Dalam hati aku masih sempat berucap: “Masih ada harapan. Jangan kasih tunduk kau punya kepala. Berdirilah. Berdiri dengan dua kakimu selama kau bisa. Jatuh dan ditinggalkan bukan berarti tidak bisa berdiri. Susul dan dahului langkah mereka. Hidup ini roda berputar. Roda itu mirip roulette di bar-bar atau klub malam.” Aku mengerti, ditinggalkan mestinya membuatku melakukan suatu yang besar. Banyak orang gagal dalam percintaan. Aku ada di antaranya. Aku mulai belajar dan bermimpi setinggi-tingginya. Agar orang-orang menertawaiku mimpiku dan menganggapnya lelucon, a joke di waktu yang membosankan. Aku ingin dianggap ada. Aku ingin dihormati. Aku ingin menjadi seorang yang berguna bagi mereka. Aku ingin tunjukkan bahwa aku bukan seorang yang gampang menyerah.

Jika tahun ketiga nanti aku tetap duduk di kursi kelas unggul, akan aku muraja’ah surah Maryam di depan mereka. Aku akan membacakannya karena Allah ta’ala. Karena nazarku yang sudah ku ucap. Perlu dicatat, sekolahku bukan sekolah islam. Sekolahku adalah SMP Negeri. Satu lagi, ternyata tidak gampang memertahankan tetap berada di kelas yang diakui. Aku akui bahwa aku pada tengah semester kedua mendapat peringkat terakhir. Tidak. Tidak berarti aku akan kalah dan menyerah. Saat itu adalah di mana kesempatan membalikkan keadaan. Meski tidak semudah membalik telapak tangan.

Aku benar-benar melakukannya. Aku bangga, bahagia, dan bersyukur. Aku sudah memersiapkan pelaksanaan janjiku. Minggu ketiga bulan pertama tahun ketiga di hari sebelum weekend, ada suatu ajang. Ajang penampilan bakat siswa. Dan giliran jatuh pada kelasku. Siapa sangka? Aku membukanya. Aku awali dengan Ummul Quran kemudian surah Maryam. Tanpa terjemahan. Aku yakin mereka yang menyaksikan merasa amat lama. Sangat, sangat lama. Janjiku tunai. Aku membacakannya bukan mencari pujian atau mencuri perhatian. Aku hanya memenuhi janji. Aku tidak ingin ingkar dan menganggap janji itu tidak ada. Aku tidak ingin jadi bagian kaum yang gemar menyalahi janji. Dan menjadikan janji itu guyonan semata.

Meski sudah lama kita saling pergi dan membuat kisah yang baru masing-masing, aku masih mengingat hal-hal kecil perihal diri kau. Aku ingat warna kesukaanmu: hijau, biru, merah, merah muda, dan ungu. Aku masih ingat benar tokoh kartun dan penyanyi favoritmu. Penyanyi dengan lagu cinta yang membikin dirimu berkata, “Cerita lagu yang sepertinya sedang atau pernah ku alami.” Kau bilang kau menyukai salah satu lagunya dan berulang kali menekan tombol play agar lagu itu tetap memutar sepanjang hari. Aku juga ingat judul lagunya. Judul lagu cinta yang sering dinyanyikan remaja muda.

Masih terbayang angka-angka yang tersusun membentuk tanggal lahirmu di kepalaku. Masih ada foto-foto dirimu seorang di ponselku. Alamat email-mu hingga saat ini tertera jelas di daftar kontakku. Riwayat pesan-pesan usang kita, aku belum menghapus history-nya. Sulit bagiku, menghapus kenangan dengan mudah. Kendati telah ku tekan ikon delete, kenangan-kenangan itu masih tersimpan apik di kepalaku. Ia akan terbuka dengan kata kunci yang sering dikatakan orang-orang di mana saja aku berada. Aku ingin melupakannya, tapi itu terlalu berharga. Barangkali, sampai kapan pun aku tak akan lupa. Ya, tidak akan lupa. Oh, ya, sampai aku menulis kisah ini, wajahmu terus membayang. Enggan beranjak pergi.

Tana Paser, 10 Maret 2016

Cerpen Karangan: Rasyad Fadhilah
Facebook: Rasyad Fadhilah

Cerpen Memutar Roulette merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Retakan Di Dalam Dada

Oleh:
Di dunia ini, semuanya terdiri dari 2 hal yang bertolak belakang. Ada panjang dan pendek, ada baik dan buruk, ada gemuk dan kurus, serta ada laki-laki dan perempuan. 2

Take A Bow

Oleh:
Kusingkap tirai yang menutupi jendela kaca kamarku. Rinaian hujan mengguyur rumahku, membuat bercak-bercak putih kecoklatan di jendela. Dari kaca yang bernoda ini, kulihat samar-samar halaman rumahku yang basah kuyup.

Move On

Oleh:
Malam yang sunyi menemani lamunan seorang gadis yang bernama Husna. Sembari di temani lagu-lagu galau air matanya terus bercucuran seakan tak terbendung lagi. “Ya Allah, apakah aku harus ungkapkan

How To Say It

Oleh:
Hari itu sepulang sekolah, taman di sana tampak sepi, hanya ada beberapa siswa-siswi disana yang hanyut dalam ketenangan. Tiba-tiba suasana mendadak sedikit lebih tegang. Rei menghampiri Alika dengan membawa

Khayalan Dalam Mimpi

Oleh:
Aku masih ingat jelas saat aku pertama bertemu dengannya. Tatapannya masih terekam jelas di memoriku, senyumnya mengalihkan dunia. Edo, iya dia hanya adik kelas yang bisa membuatku jatuh dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *