Menanti Cinta Hingga Senja

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Patah Hati, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 11 April 2016

Elsa. Itulah nama seorang gadis yang penuh dengan pengharapan. Hampir setiap malam sebatang pena biru berdansa di atas kertas. Ratusan halaman diary sudah tertulis. Lembaran demi lembaran mengisahkan cinta yang terpendam di hatinya. Rasa itu sudah sekian lama menjelma di dalam jiwanya. Ketika pertemuan pertamanya dengan Reymond. Pria bermata cokelat itu berhasil membuatnya jatuh cinta. Sehingga saat malam mengukir gelap dan menghadirkan taburan bintang. Mulailah ia berkisah lagi dengan diary kecilnya. Hanya ingin menulis rasa gelisah agar tak terhapus oleh penyakit lupa.

Elsa adalah gadis yang cantik. Rupanya membuat kaum adam jatuh hati kepadanya. Namun dari kesekian pria yang datang mengetuk pintu hatinya, tak ada satu pun yang berkenan. Ia memilih untuk tetap menaruh hati kepada Reymond. Pria yang bertampang biasa-biasa saja. Tapi membuat dirinya begitu nyaman. Gadis itu tak pernah menceritakan perasaan yang dimilikinya. Bibirnya terlalu sulit untuk mengutarakan kata cinta kepada Reymond. Ia hanya seorang wanita yang tercipta dari rusuk seorang pria. Karena itu, gadis tersebut rela menanti hingga pria bermata cokelat itu memiliki rasa yang sama untuknya. Suatu ketika Reymond jatuh sakit. Kabar itu sangat meresahkan Elsa. Ia buru-buru untuk melihat kondisinya.

Tak ingin ada sesuatu yang buruk menimpa orang yang sangat ia cintai. Selama pria itu terbaring lemas. Gadis itu selalu hadir menemaninya. Bahkan ia berjanji tetap berada di sisinya sampai pria itu benar-benar pulih. Tak peduli berapa banyak waktu yang habis untuk orang yang ia sayangi. Pada saat itu Elsa mulai menunjukan sikap dinginnya kepada Reymond. Cara yang dilakukan hanya ingin menyadarkan pria itu kalau ia sedang jatuh cinta. Bersama dengan penantiannya ia sungguh berharap, kalau satu saat nanti pria itu peka terhadap rasa cinta yang dimilikinya.

Kendati demikian, Reymond hanya bersikap seperti seorang sahabat. Mungkin saja hatinya jauh lebih baik menghargai wanita itu sebagai seorang teman. Daripada menjadikan dirinya sesempurna rasa yang dimiliki Elsa. Tak ada tanda cinta yang membuktikan bahwa pria itu memiliki rasa yang sama. Getaran hatinya tampak biasa-biasa saja. Malam itu tiupan angin sungguh bersahaja. Lembut, menggelora, dan membalut tubuh dengan suhu cukup dingin. Belum lagi tamparan ombak yang membahana di setiap bibir pantai. Seorang gadis yang tak berjaket.

Mencoba bertahan bersama dengan kedinginan malam. Tak peduli kalau tubuhnya serasa diselimuti es. Ia menantikan seorang pria. Yang berjanji akan sebuah kedatangan di cafe Dolland, yang terletak di pesisir pantai. Waktu terus berjalan. Elsa tetap sabar menanti Reymond. Sepaket kue tar yang dibuatnya dari rumah turut menemaninya. Sebelum itu, keduanya telah berjanji untuk merayakan hari ulang tahun pria yang dipujanya itu. Namun, sampai dengan saat ini Pria bermata cokelat itu tak kunjung datang. Bukan hanya gelisah, kedua bola mata pun mulai letih menunggu. Ia merundukkan kepala dan melipatkan kedua lengan. Kemudian meletakkan dahinya sambil berkata dengan nada memalas.

“Aku bertahan menantimu hanya karena rasa cinta yang ku miliki,” gumamnya. Suara itu mulai disambar oleh deru angin malam. Gadis itu pun terlelap di atas meja. Matanya mulai terpejam bersama kelelahan akibat sebuah penantian. Mimpinya buyar. Ketika seorang pelayan tambun cafe itu mengejutkannya.
“Nona, sekarang sudah larut malam. Cafe ini segera ditutup,”

Kedua matanya terbuka. Seketika itu ia menatap sekeliling cafe namun terlihat sepi. Tak ada sepasang kekasih bermadu asmara. Semuanya beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut. Hanya ada seorang anak kecil yang sedang memungut kaleng bir. Dengan langkahnya yang tak karuan, ia menghampiri bocah itu dan memberikannya kue tar yang hendak ia berikan kepada sang pengingkar janji. Kemudian kakinya melangkah dan menerobos remangan malam. Musik cafe tak terdengar lagi, yang ada hanyalah samar-samar suara ucapan terima kasih dari anak itu. Elsa terlihat begitu letih. Berkali-kali ia menguap sebagai tanda kalau matanya terasa ngantuk. Ingin saja gadis itu merebahkan kepalanya di atas gundukan kertas. Namun tumpukan di atas meja kerjanya itu menjadi penghalang niatnya. Tiba-tiba ada suara menampar kuping telinganya.

“Hey, aku minta maaf. Kau menungguku kan di cafe Dolland? Aku menghabiskan waktu dengan teman-temanku. Sehingga terlupa kalau kita berjanji untuk merayakan hari ulang tahunku bersamamu,” sapa Reymond.
“Aku mengerti,” balasnya dengan semangat walau raut wajahnya terlihat letih.

Sekilas Reymond menyapa Elsa. Sepenggal kata yang terucap darinya hanya sekedar meminta maaf tanpa ada basa-basi. Gadis itu tersenyum dengan wajah penuh kelelahan. Jika saja orang yang dicintainya itu tahu betapa lelahnya ia menunggu semalaman. Mungkin dia pun tahu seberapa besar panantiannya selama ini. Hanya saja hatinya tidak terlalu peka. Namun langkah Reymond berhenti. Ia memutar balik badannya dan menatap Elsa yang sedang mengucek-ngucek kedua matanya. Kemudian pria itu berjalan dan mendekati gadis itu lagi. “Oh ya kau sudah tahu? Dua minggu lagi aku akan berangkat ke Belanda. Kemungkinan aku menyelesaikan tugas karirku di sana selama dua tahun,” suara itu menyapanya Elsa.

Pria itu tertunduk menatap lembaran kertas yang berserakan di meja kerja gadis itu. Kemudian ia melanjutkan, “kita sudah terlalu lama berkenalan di tempat kerja ini. Bagaimana kalau kita duduk menghabiskan waktu di akhir pekan nanti?” Selama berkenalan dengan Reymond, bahkan sampai dengan dirinya jatuh hati kepada pria bermata cokelat itu. Sungguh langkah kalimat itu berkumandang. Tentunya fenomena aneh itu membuatnya tidak percaya. Penyakit apa yang membuat pria itu berkata demikian. Apa lagi pertemuan yang mereka janjikan beberapa hari yang lalu adalah inisitiaf dari Elsa.

“Kau sedang tidak mengigau kan Ray?” Tanyanya. “Apa aku terlalu aneh dengan tawaranku itu? Kalau kau keberatan aku sungguh tidak memaksa,” jelasnya dengan nada datar.
Tangannya sedikit berani mencubit ringan lengan Reymond, “Oh jangan marah. Aku sungguh berharap tawaran itu menjadi nyata di akhir pekan nanti. Kau tidak menipuku lagi kan?” Tanyanya dengan dahi berkerut. Kali ini ia menompang dagunya sambil menatap tajam wajah Reymond. Seolah ia sedang menyanggah jutaan harapan yang ada di dalam pikirannya. Ia tak ingin dibohongi oleh penantian.

“Tidak! Kali ini aku sungguh serius untuk bisa berdua denganmu. Aku berusaha untuk tidak membuatmu menunggu seperti di cafe Dolland,” kemudian Reymond membungkukkan badannya. Bibir yang penuh janji itu hanya berjarak dua senti meter dari kuping Elsa, “Aku merasa dosa jika tidak melunasi utangku,” tuturnya.
“Utang? Pasti peristiwa yang semalam kan?”
“Ya, semalam aku terlupa untuk melunasinya. Agar aku tidak terlihat berdosa. Aku menawarkan bertemu di akhir pekan nanti,” jelasnya sambil menegakkan tubuhnya lagi. Kemudian disusul dengan anggukkan Elsa.

Pagi itu awan terlihat menghitam. Samar-samar cahaya mentari terlihat kelabu. Belum lagi deru angin menghantam pepohonan. Sehingga dedaunan terlihat berhamburan di halaman rumah. Elsa yang masih berselimut melangkah mendekati jendela kamarnya. Kemudian ia menyingkap gorden yang menghalangi pandangan mata. “Huh, jangan sampai bumi menangis di akhir pekan. Aku takut siang nanti pertemuanku dengannya terhalangi lagi,” gerutu gadis itu sambil cemberut menatap bentangan awan hitam yang sedang bergerak.

Kali ini jiwanya sangat resah jika badai bergelora sepanjang hari. Tentunya bumi akan menjadi penghalang kesepakatan mereka. Mengingat Reymond hanya memiliki satu kesempatan saja. Karena pekan depan pria yang dicintai dalam diam itu akan berangkat ke Belanda. Baru saja Elsa mengalihkan pandangan dari perkarangan rumah. Dering handphone menyambar perhatiannya. Dibukanya pesan yang baru saja baru masuk. Dengan lekat matanya menilik kalimat yang dikirim oleh Reymond. “Di sini hujan begitu deras. Aku menundanya kita bertemu di siang ini. Bagaimana kalau sore nanti?” Itulah isi pesan yang dikirim.

“Baiklah,” balas gadis itu lewat pesan singkat. Senja sore menyelimuti bumi dengan warna keemasan. Seorang gadis dengan wajah gelisah duduk di sudut cafe Dolland. Benaknya sedikit terusik jika ia menunggu terlalu lama. Tentunya ia tak ingin kejadian serupa terulang lagi. Waktu sudah berlalu 30 menit. Reymond tak menunjukkan wujudnya.

“Padahal sore ini terlihat cerah. Apa mungkin di tempatnya sedang turun hujan? Ku rasa tidak!” bisiknya dalam hati sambil menatap langit sore yang kian memerah.
“Maaf membuatmu menunggu,” suara itu menjalar gendang telinganya. Ia menoleh ke belakang. Tampak seorang pria dengan rambut berantakan. Wajahnya begitu lembab tak ada tanda kalau sinar mentari mengigit kulitnya. “Di sana masih gerimis membuatku terlambat. Itu pun aku harus menerobosnya,”

“Eh akhirnya kau datang juga,” balasnya dengan ekspresi sedikit terkejut.
“Kopi susu satu gelas dan Blue Burger satu porsi,” sahut Reymond ke arah waiter tambun sambil menarik kursi, “Lantas apa menumu sore ini?” Lanjutnya.
“Aku mau ayam asam pedas dan air jeruk,” tandasnya.
“Ayam asam pedas dan air jeruk satu,” lanjut Reymond ke arah pria tambun yang dari tadi berdiri menunggu di sudut meja. Pria itu mengeluarkan camera Nikon dari tasnya. Kemudian membidik langit sore dengan warna kemerahan. Ia sedang mengabadikan keindahan senja. Dengan diam-diam lensa kamera tersebut mengarah ke wajah gadis itu. Tampak sebuah wajah terekam di balik lensa berukuran 3 inchi.

“Kau lihat ini, aku mengambil fotomu,” sambil menunjukan hasil jepretan. Keduanya tertawa terbahak-bahak. Elsa mentutup bibirnya agar tawanya tidak terlalu keras. Dengan pipinya yang merah merona. Hatinya bagai hamparan taman yang sedang berbunga. “Oh ya, kemungkinan aku berada di Belanda sekitar dua tahun. Sebagai sahabat aku membutuhkan doamu untuk kelancaran karirku di sana. Tentunya dengan waktu yang begitu lama, aku sangat mengharapkan kalian di sini baik-baik saja,” Jelasnya kepada gadis itu sambil menikmati hidangan sore.

Detak jantungnya tak beraturan. Bibirnya terkunci dengan seribu bahasa. Padahal hatinya sungguh bergelora. Sedikit grogi menghadapi pria yang ia cintai itu. Padahal inilah kesempatan yang baik untuk menceritakan apa yang dialami selama berkenalan dengan Reymond. Tentunya cinta yang ia rasa. Mentari senja mulai berangsur pergi. Ia tetap saja tidak berkilah tanpa menjelaskan isi hatinya. Benaknya sungguh tidak ingin kesempatan ini berlalu begitu saja. Tapi ketakutan masih menyelimuti dirinya. Mungkinkah ia kehilangan harapan ketika kepergian Reymond ke Belanda. Bisa jadi kalau orang yang dicintai mendapat jodoh di negeri kincir angin.

“Sore ini kau terlihat beda sekali. Kau menyimpan sesuatu yang kau sembunyikan dariku. Apa kau marah?” kalimat Reymond sungguh menghentikan aliran darahnya. Sungguh pria itu tak tahu apa yang terjadi dengan Elsa. Namun tidak dengan mimik wajahnya. Seolah memberi syarat kepada siapa saja yang memandanginya. Kalau gadis itu menyembunyikan sesuatu di balik raut muka yang merah merona.

“Kau tidak memiliki kesalahan sama sekali,”
“Lalu?”
“Sudahlah, lain waktu akan ku ceritakan kepadamu,” sahut gadis itu sembari memperbaiki serakan rambutnya. Mana kala diusik oleh angin senja yang begitu nakal.
“Kapan?” Tanya Reymond sambil mengotak-atik camera Nikonnya.
“Tunggulah kau pulang dari Belanda,” tutupnya dengan nada sedikit kecewa. Bukan karena Reymond. Tapi gadis itu sungguh kesal dengan rasa takut yang dimilikinya. Membuat ia harus bertahan lebih lama lagi. Menanti pada kesempatan lain, bahkan ia rela terhukum dengan gelora hatinya dengan waktu yang cukup lama.

Juni. Bulan yang penuh air mata. Bertepatan pada dua tahun silam. Pada waktu itu sebatang pena jadi saksi di atas kertas. Taburan tinta hanyalah rekaman kata. Ia mudah luntur bersama dengan kusamnya kertas putih. Tapi tidak dengan kisah yang tertulis. Ribuan lembar diary penuh dengan penantian. Namun dengan sekejap kisah-kisah itu menjadi luka. Hanya karena satu halaman yang berkisah duka. Inilah Desember yang membuat Elsa merasa getir. Belum lagi ingatannya pada bulan Juni yang lalu. Kisah itu tak mampu dilupakannya. Ia seperti sedang mengumpulkan kepingan cermin yang pecah. Namun tetap saja tak bisa menyatuhkan bayangan wajahnya.

Seperti itulah kepingan harapan yang telah hancur. Lalu membuatnya menyimpan kebencian yang besar akibat luka. Kemudian tak bisa mendamaikannya dengan kertas berwarna merah tua di atas meja. Mata gadis itu terlihat membengkak. Dari tadi kepalanya disandarkan di tembok berwarna hijau dengan kaki menjulur lurus. Tubuhnya lemas tak berdaya. Tenaganya telah dicuri oleh penyesalan. Jiwanya terasa hambar. Nafsu hidupnya telah karam seperti raga di ambang pintu kematian. Sehingga teh hangat yang disuguhkan ibu Tin, pembantu buntal itu terlihat dingin hampir beku di atas mejanya.

“Seharian non belum makan. Perhatikan kesehatanmu ndok, nanti Ibu akan marah sepulang dari Bandung kalau mereka tahu kondisimu seperti ini,” Perempuan tua itu terlihat begitu resah. Ketika melihat secangkir teh hangat masih dibiarkan saja dari pagi hingga sore ini. Apa lagi sesuap nasi yang belum menyentuh perut gadis itu. Elsa menggelengkan kepalanya. Kemudian ia merebahkan tubuhnya dalam pelukan ibu Tin. Dibenamkan saja suara rintihannya. Sehingga terdengar seperti suara yang sedang disekap. Wanita buntal itu mengusap bagian pundaknya. Sembari membujuk gadis itu berulang kali.

“Bu, Ibu boleh tinggalkan aku sendiri di sini. Aku akan baik-baik saja, selesaikan saja pekerjaan Ibu,” Wanita tua itu menuruti perintah gadis tersebut. Elsa mendekati jendela kamarnya yang menganga ke ufuk barat. Tangannya masih membuka lembaran demi lembaran diary. Ia terlihat begitu setia dengan catatan-catatan kisahnya. Padahal lembaran-lembaran itu akan dengan cepat melukainya. Namun ia tak peduli dengan semuanya itu. Akhirnya ia harus mengingat kembali kisah pertemuannya dengan Reymond lewat diarynya. Pertemuan itu terjadi di bulan Juni dua tahun yang lalu. Saat kepulangan pria itu dari Belanda.

“Elsa, kau masih ingatkan tempat ini di mana sebelum keberangakatanku ke negeri kincir angin. Apa kau lupa dengan sesuatu yang hendak kau ceritakan? Aku masih penasaran,” Elsa membayangi lekuk-lekuk bibir pria itu saat merangkai kalimat tanya. Ingatannya belum pudar dengan kalimat itu. Elsa kembali memejamkan matanya. Titik-titik embun menghempaskan tubuhnya di atas lembaran kertas yang sedikit usang hingga lembab. Pipi gadis itu menjadi basah ketika air matanya menjalar lembut, tak sempat lagi tangannya untuk menyeka. Kemudian ia coba mengusap sisa beningan itu. Matanya terbuka kembali ketika hatinya dengan tegar membaca rangkaian kisahnya yang terdapat di dalam diary.

“Ceritakan saja. Aku siap untuk mendengarkan. Jika kau siap untuk berkisah ada sesuatu yang harus ku katakan kepadamu,” Kalimat itu menghentikan pikiran Elsa. Hingga bibirnya yang tadi bersiaga untuk menceritakan perasaan cintanya kembali terbungkam. Ada satu firasat yang menyelubungi jiwanya. Raymond telah membuatnya jatuh hati pasti memiliki perasaan yang sama. Terkaan benak menikam sendi-sendi pikirannya. “Maafkan aku yang telah membuatmu penasaran selama dua tahun. Aku ingin mendengarkan sesuatu darimu. Setelah itu baru aku berkisah,” bujuk gadis itu membuat Reymond harus mengalah.

Pria itu menceritakan kalau ia akan segera menikah dengan Monica. Gadis yang telah dipacarinya selama dua tahun di Belanda. Acara pernikahan itu akan berlangsung bulan Desember. Dengan wajah serius, ia berharap Elsa bisa datang di hari bahagianya. Dan, memberikan doa restu untuk keluarga baru mereka. Kisah itu sungguh memukul batinnya. Padahal Elsa telah berjuang mempertahankan rasa sayangnya. Namun penantiannya itu segera berubah wujud menjadi mata pisau yang tajam. Sehingga hatinya tercabik dengan cepat oleh harapannya. Bahkan undangan yang bercover warna merah tua itu tak mampu mendamaikan batinnya. Saat itulah Elsa teringat. Kalau waktu itu adalah kali pertama ia menangis di depan orang yang dicintainya. Karena kisah itu telah menyandarkan pikirannya. Bahwa pengharapan yang selalu tertunda akibat penantian mengubah jalan cerita hidupnya. Kalau orang yang dicintai itu sungguh bukan menjadi bagian hidupnya lagi. Sekalipun ia memaksa untuk memiliki namun bukan sebuah solusi untuk mencintai yang bukan lagi menjadi miliknya.

“Elsa kau kenapa? Apakah cerita itu sungguh melukaimu?” tanya Reymond sambil menggengam kedua tangan gadis itu.
“Rey..,” Sahutnya dengan lirih sambil menatap wajah pria itu dengan sayu. Beningan air matanya bercucur. Reymond tak sanggup untuk menatap lebih lama wajah gadis itu. Kemudian kalimatnya mendayu beriringan dengan air matanya. Sehingga pria bermata cokelat itu terbungkam. Kalau selama ini ada cinta yang tersembunyi di balik waktu yang telah berlalu, “Reymond sejak dulu aku sangat mencintaimu. Namun aku terlalu takut untuk berkisah kepadamu. Tapi pada akhirnya jiwa ini harus terluka dengan kebodohanku,”

“Elsa aku tak tahu selama ini kau mencintaiku. Namun aku tak menyangka ada gadis secantikmu menyukai pria sepertiku,” ungkapnya dengan rasa tidak percaya.
“Rey kesempurnaan seorang lelaki bukan terletak pada kelebihannya. Justru pada kekurangannya,” Balasnya.
“Elsa aku tak bisa memilikimu setelah mendengarkan kisahmu selama ini. Begitu juga dengan kau yang tak bisa memiliki diriku seutuhnya. Kau bisa lihat cincin di jari manis ini. Semuanya menjadi tanda kalau aku telah menjadi milik Monica. Sekalipun ini luka bagimu aku mohon kau lebih ikhlas,” pintanya sambil menggengam erat jari jemari Elsa. “Iya aku ikhlas kok Rey,” Sahutnya sambil menganggukkan kepala. Kemudian disusul dengan segelintir senyuman. Walaupun pada kenyataan hatinya hancur seketika.

Elsa menutupnya kembali diary tersebut lalu meletakkannya di atas meja. Selain itu undangan yang berwarna merah tua terlihat masih rapi. Ia enggan untuk membukanya kemudian dengan mata yang masih membengkak. Gadis itu menatap lekat Senja dari jendela kamarnya. Di langit sore seolah terpajang kebodohan yang terlukis. Bahwa ia terlalu berharap pria itu peka terhadap rasa yang dimilikinya. Padahal ia juga mudah untuk lupa bahwa pria ditakdirkan untuk menjadi manusia. Bukanlah menjadi sosok malaikat yang mampu menerka isi hati setiap wanita.

Sehingga di akhir kisahnya, ia menanti dengan harapan besar sampai dirinya terluka. Dimana ia menanti hingga senja seperti yang sedang ia pandang di langit sore. Kala itu juga tinta hitam mencatat bahwa hatinya harus terkandas di ujung senja. Mungkin rasa itu harus ia buang dengan jutaan air mata yang terurai. Seperti Mentari yang harus pergi tinggalkan bumi. Karena mentari adalah milik senja, yang pergi dalam gelapnya malam. Sehingga jiwanya sungguh tak bisa menghentikan gravitasi bumi. Dimana kian menjauhkannya dari mentari, yang telah dibawa pergi oleh senja. Bukan senja yang telah melukai hati. Melainkan penantian di ujung senjalah yang melukainya.

Cerpen Karangan: Yohanes Tuba Matarau
Facebook: Yohanes Tuba Matarau
Nama: Yohanes Tuba
Tempat/Tgl lahir: Lubuk, 05-06-1992
Jenis Kelamin: Laki-laki
Hobi: Melukis, membaca, dan menulis

Cerpen Menanti Cinta Hingga Senja merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Happy Birthday

Oleh:
“Besok Mr. anu ulang tahun”. “Yeahhh!” Aku menyebutnya Mr. anu, ya.. Dia adalah orang yang ku sukai lebih dari dua tahun ini tapi cinta ku masih saja jadi cinta

I Know

Oleh:
Aku cuma gadis biasa! aku tidak cantik, tidak menarik, soal pintar juga aku biasa saja. Masalah ekonomi pun, aku terlahir dalam keluarga sederhana. Berbeda denganmu, kau tampan, kau menarik,

Sang Romeo Salma

Oleh:
Siang itu, hujan turun begitu deras. Sederas air mata yang jatuh dari pelupuk mataku, sepuluh menit lalu, mungkin? …hhh, dengan tegar, aku menarik napas dalam-dalam sambil memejamkan mata. Kunikmati

Mengapa Harus Ayahku?

Oleh:
Siang itu panas begitu menyengat, matahari seakan ingin membakar seisi dunia. Tak terkecuali di pangean, kampung tempat dimana aku tinggal dan dilahirkan. Dimas, begitu orang-orang memanggilku. Lengkapnya Dimas Randika.

Untuk Pertama Kalinya

Oleh:
Namaku Khumairoh. Aku anak pertama dari 4 bersaudara. Saat ini aku duduk di bangku kls 2 SMA. Ya hanya menunggu satu tahun lagi untuk lulus dan meracang masa depanku.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *