Mencintai Tak Harus Memiliki, Kan?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 5 August 2021

Tepat hari ini wisuda dilaksanakan. Sepintas terbayang wajah-wajah sentosa yang bangga dengan titel-titel segar kesarjanaan. Ya, hanya terbayangkan. Meski juga mendapatkan cap kelulusan, aku tidak hadir dan menjadi wisudawan. Sudah seminggu aku hidup melongo dalam kurungan.

Sungguh wisuda itu tak terlalu kupikirkan. Yang masih membakar hatiku hingga kini adalah Sari. Meski tubuhku terkurung di penjara berbau peluh dan hal busuk lainnya, hatiku masih bertualang tentang gadis itu. Di kepalaku ia terus berputar. Sari sudah melebur dalam seluruh sel otakku, tak bisa dipisahkan. Di hatiku, kejadian itu bagai algojo yang terus mencabik-cabik tanpa kenal waktu, apalagi rehat. Aku tak punya daya untuk melupakannya. Tak bisa melupakan wajah manisnya. Tak mampu mengusir impresi tentang dia yang …

Apalah itu kata move on, rupanya itu hanya fiksi. Sejak pertama masuk kuliah. Di hari pertama, jam pertama, pertemuan pertama, hatiku langsung jatuh padanya. Mataku tak lepas mengintil sosoknya di setiap kesempatan sejak saat itu. Dan yang mengejutkan, dia tetangga baruku di rumah.

Di tahun kedua kuliah, sejauh itu aku belum berani menyampaikan perasaanku padanya. Pernah aku menulis surat cinta banyak-banyak. Memilih-milih mana yang terbaik untuk diterima oleh haur itu. Setelah itu semua, aku membodoh-bodohkan diri karena masih tak berani menyampaikannya. Lalu untuk apa kutulis itu semua? Kurang bodoh apa aku?

Suatu hari di semester enam. Yah, bahkan saat itu cinta ini masih kupendam. Kepengecutan ini masih kupelihara. Saat itu aku sedang duduk di kantin menikmati semangkuk bakso hangat. Tiba-tiba sang pujaan hati menghampiriku dengan senyuman surgawinya, entah dari mana dia sebelumnya. Mendaratkan telapak tangannya di pundakku, lalu bertutur, “Eko, jangan samakan cinta dengan benci, ia tak seharusnya ditahan dan disimpan saja.” Lalu pergi begitu saja meninggalkan kalimat yang terngiang-ngiang di kepalaku, jangan lupakan paras cantiknya. Padahal aku belum menanggapinya sedikit pun, hanya sempat melongo tolol.

Yah, itu artinya ia sudah tahu perasaan yang kusimpan ini. Agaknya selama ini aku kurang andal menyembunyikan mimik. Apa itu juga berarti ia meminta pernyataan langsung dariku? Tapi keberanian masih belum nongol sedikit pun dari diriku. Kurang dungu apa aku?

Setelah kejadian itu, hari-hari tetap berjalan normal. Ia kembali bersikap biasa saja kepadaku. Aku pun berusaha begitu.

Tak terasa kami sudah duduk di semester akhir. Hari itu hari libur, ponselku membunyikan notifikasi pesan. “Dari Sari?” gumamku.

“Salam, Eko.”
“Salam, Sari. Ada apa?” Meski berusaha santai, jari-jariku bergetar mengetikkan kalimat itu. Jarang sekali tetangga merangkap pujaan hatiku ini mengirim pesan padaku. Kuakui, selama kami berinteraksi di kampus ataupun di lingkungan rumah, aku memang sering ketahuan salah tingkah di depannya.

“Barangkali kamu belum tahu, Eko, atau kalau kamu sudah tahu, maka aku sekadar mengingatkan bahwa mencintai tak harus memiliki. Kuberi contoh seandainya kamu mencintai burung-burung merpati yang sering terbang melintasi rumah-rumah di kampung kita, apakah sebaiknya kamu menangkap burung-burung itu, memelihara, dan mengurungnya di rumah sebagai wujud rasa cintamu pada mereka? Tentu saja tidak. Itu justru merampas kebebasan mereka, Eko. Bahkan barangkali lama kelamaan burung-burung itu akan tak lagi terlihat di langit jika seperti itu cara orang-orang menyayangi mereka. Kehidupan alami mereka memang di alam, bukan? Ketika kamu menikmati keindahan mereka yang terbang bebas ke sana sini, bahagia memandangnya, saat itulah kamu sudah menikmati cinta, dengan cara yang tepat. Itu saja. Semoga kamu sehat selalu ya, Eko. Salam.”
“Oh, baik. Memangnya kenapa Sari? Kok tiba-tiba bilang begini?”
Tak ada jawaban. Meski pesan terakhirku itu sudah bertanda terbaca.

Sebulan sebelum wisuda. Aku sungguh terkejut ketika rumahku kedatangan tamu. Tamu yang tak diundang, melainkan mengundang. Mengundangku untuk menghadiri acara pernikahannya. Tamu itu adalah Sari. Dia datang sendirian kemari dengan wajah yang … entahlah. Perawan molek itu akan menikah dengan Reno, teman sekelas kami juga. Acaranya akan digelar sebulan setelah wisuda. Aku menerima suratnya itu tanpa berkata sepatah pun. Berusaha tersenyum, dia pun membalas senyumku. Mungkin dia tahu hatiku hancur. Alhasil menutup kalimatnya dengan, “Ya sudah, Ko. Aku pamit ya. Doakan agar lancar ya.” Gadis itu berbalik dengan senyum manis terakhirnya. Lalu pulang ke rumahnya yang hanya berjarak tiga rumah dari rumahku.

Apa lagi yang bisa kulakukan? Pasrah? Tentu saja tidak!
Delapan hari sebelum wisuda. Perasaanku sudah hancur luluh. Aku tak ingin pasrah tapi tak bisa. Di malam yang cukup sepi, bidadari itu melintasi depan rumahku. Aku melihatnya dari jendela. Mengamatinya lekat-lekat, tentu dengan hati yang tertusuk-tusuk. Sebuah ide melintas di kepalaku dan langsung kulakukan.

Aku keluar rumah dan mengendap-endap mengikutinya dari belakang. Berhati-hati mencicil langkah satu per satu dengan terus menjaga jarak darinya.

Kala ia memasuki sebuah gang kecil tanpa tahu ada yang mengikuti dan kegelapan semakin pekat, aku mengikis jarak darinya dengan langkah yang semakin hati-hati. Terus melangkah tanpa ketahuan dan … dapat. Tangan kiriku berhasil melingkari perutnya dan tangan kananku berhasil … membenamkan sebilah pisau di lehernya. Cairan merah muncrat mengotori tanganku.

“Benar katamu, Sari. Mencintai tak harus memiliki. Sebagaimana aku mencintaimu namun tak harus memilikimu. Dan juga, sebagaimana Reno. Ia mencintaimu namun aku tak rela ia memilikimu. Aku tak rela, Sari. Inilah caraku agar ia juga tak bisa memilikimu. Mencintai tak harus memiliki, ‘kan?”

“Apa yang kaulakukan, Eko?” Dari belakang terdengar suara Reno. Mau apa dia kemari?

Cerpen Karangan: Triper Tuju

Triper Tuju. Pertama kali merasakan napas pada 15 Februari 2005. Menulis untuk mengabadikan pikiran dan menyebar kebermanfaatan bahkan kepada orang nan jauh dan tak dikenal. Kini ia sedang menjalani pendidikan di pondok pesantren Darus-sunnah, Ciputat, Tangerang Selatan.

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 5 Agustus 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Mencintai Tak Harus Memiliki, Kan? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kemunafikan Hati

Oleh:
Aku mencoba untuk tidak mengenal cinta kembali, rasa perih yang masih tertinggal membuat aku merasa malas jika harus membahas tentang cinta. Namaku Ina, kisah ini berawal ketika aku masih

If You’re Not The One

Oleh:
Aku salah satu siswa SMA Garuda. Di situlah dimulainya kisah cinta pertamaku. Bagiku tak semua cinta berakhir bahagia dan ini kisah cinta pertamaku. Entahlah perasaan ini layak disebut cinta

The Love Story of My Life

Oleh:
Sembari duduk di pinggir sungai, Aku menghabiskan waktu istirahat sekolah yang sangat membosankan, angin-angin genit mulai menghembus kecil seraya membisikan kepadaku bahwa selama aku masih bernafas, aku akan menunjukkan

Bintang, Khayalan dan Air Mata

Oleh:
Malam ini tak berbintang lagi, bukan hanya hari ini tapi mungkin seterusnya, sepertinya dia tak ingin menunjukan cahayanya lagi, karena dia telah menyadari kehadiran seseorang yang sangat mengagumi dan

Aku Bukan Layang Layang

Oleh:
“Maaf Dany, hubungan kita sepertinya sampai di sini saja!” “Kenapa Nisa? Bukannya beberapa hari lalu kamu sudah berjanji untuk terus bersamaku, bahkan hingga kita menikah nanti?” “Maaf, aku minta

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *