Menunggu Senja Di Terminal Giwangan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Patah Hati, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 22 February 2016

Sebelum pukul 07.00, aku telah bergegas menuju kampus, aku berjalan menuju halte trans jogja tak jauh dari rumah kost tempat aku tinggal. Selama beberapa menit kemudian, sebuah bus berwarna hijau tampak di kejauhan bergerak mendekati halte kemudian berhenti, segera aku bangkit dari tempat duduk dan beranjak masuk ke dalam bus. Tak banyak orang dalam bus ini, selain sopir dan kondektur, hanya ada aku dan beberapa anak-anak berseragam sekolah. Ku pasang headset di sepasang telingaku mendengarkan radio favoritku yang selalu menemani perjalananku. Beberapa kali bus berhenti di halte yang dilewatinya, dan untuk yang ketiga kalinya bus kembali berhenti di halte, aku ke luar dari bus untuk transit.

Jarum jam hampir menunjukkan angka delapan, namun bus yang aku tunggu belum juga tampak, terpaksa aku keluar dari halte dan berlari menuju kampus. Baru beberapa meter aku berlari, napasku sudah terengah-engah, padahal jarak ke kampusku masih cukup jauh, dengan ragu-ragu aku menyetop taksi yang melintas di hadapanku. Pukul 08.15, aku tiba di kampus, segera aku berlari menaiki anak tangga menuju ruang kuliah di lantai tiga, beruntung kampusku tidak terlalu luas, jadi aku tidak perlu waktu lama menuju gedung kuliah. Sampai di kelas aku terkejut melihat keadaan kelas yang terlihat sepi, hanya ada beberapa temenku yang terlihat sibuk di depan laptopnya masing-masing.

“Seharusnya aku sudah terlambat, tapi kok masih sepi, atau malahan sudah selesai,” tanyaku dalam hati.

Aku duduk di kursi paling depan, ku letakkan tasku di atas meja sembari mengambil handphone di dalamnya. Ku lihat di layar handphone-ku ada satu pesan masuk, segera aku membuka dan membacanya. “Assalamualaikum, pemberitahuan kepada seluruh teman-teman bahwa untuk mata kuliah algoritma dan pemrograman digantikan besok lusa, berhubung dosennya berhalangan hadir hari ini.” Aku menghela napas panjang membaca pesan dari Adi, teman sekelasku. Pesan itu telah mewakili jawaban pertanyaan yang mengganjal di hatiku.

Aku beranjak dari kelas menuju perpustakaan. Aku sempatkan untuk mengerjakan tugas, sambil menunggu jam kuliah berikutnya. Saat aku sibuk di depan laptop, tiba-tiba ada seseorang memukul pundakku dari belakang. Aku menoleh ke belakang, dan ku lihat seseorang berdiri di dekatku, dilemparnya senyum ke arahku sambil menaikkan kedua alis matanya. Aku berbalik kembali ke posisiku semula tanpa mengacuhkannya. Ditariknya kursi kemudian dia duduk di sebelahku, dia Ifan, temen akrabku di kampus.

“Sombong banget lu.” sapanya mengawali percakapan.
“Gaya banget pake elu elu segala, by the way kok kamu tahu aku di sini?”
“Ya tahulah.”
“Perasaan aku kan gak pernah ke sini kalau sama kamu, kamu kan paling males kalau ke sini.”
“Kutu buku kayak kamu, kan habitatnya di sini,” jawabnya sambil tertawa.
Aku melirik ke arahnya, ku lihat ada beberapa buku dalam genggamannya, “tumben kamu rajin, pake ngambil banyak buku lagi,”
“Ah kamu mah tahunya ngeledek terus. Tahu sendirilah tugas kita banyak banget, emang kamu aja yang mau dapat nilai bagus.” Suasana hening sesaat, sebelum kemudian Ifan kembali membuka percakapan.

“Aku mau tanya sama kamu, kenapa kamu gak suka sama cewek?” tanyanya menatap ke arahku.
Ku balas tatapannya sembari ku kerutkan dahiku, “Maksud kamu?” diam sesaat, “Aku g*y gitu?”
“Eh, bukan gitu maksudnya, kenapa kamu selalu bersikap cuek sama cewek. Tuh Dina sepertinya suka sama kamu, cewek secantik dia kamu sia-siain, mubajir bro.”
“Ah, jangan sok tahu, lagian ngapain sih ngurusi begituan, kita ini mahasiswa, tugas kita bukan untuk mikirin cewek, tapi masa depan.”
“Cewek kan masa depan juga bro.”
“Ya, tapi kan itu beda, adalah saatnya nanti, dan mungkin sekarang belum saatnya, jodoh gak akan lari kok.”

“Kapan lagi saatnya, udah tua gini, cuma kamu loh yang masih jomblo satu jurusan, gak iri apa?”
“Ngapain mesti iri dengan hal seperti itu, gak penting kali.”
“Kamu sama Dina kan akrab banget, kenapa gak kamu tembak aja dia?”
“Kan aku udah bilang tadi, gak penting.”
“Kamu bicara seperti itu kayak gak pernah jatuh cinta aja. Lihat aja nanti kalau kamu udah ngerasain mabuk cinta, tidur gak nyenyak makan pun tak enak, kayak lagunya Armada, hahaha.” Ucapnya sembari beranjak pergi meninggalkanku. “Huuuu, Lebay lu.”

Ku lirik jam tangan yang melilit di pergelangan tangan kiriku, jarum pendeknya sudah hampir menunjukkan angka sembilan, segera ku matikan laptop dan kembali menuju ke kelas. Setelah jam kuliah usai, aku kembali berjalan menuju halte trans Jogja, setiap harinya, aku memang lebih suka menggunakan trans Jogja, Selain tidak punya kendaraan apa pun, juga karena ongkosnya terjangkau untuk mahasiswa perantauan sepertiku dan juga setidaknya bisa mengurangi kemacetan meski tak seberapa. Yah, walaupun memang fasilitasnya tidak seperti transportasi umum di negara-negara Eropa sana dan cukup memakan banyak waktu, tapi aku tetap menikmati setiap detik waktu perjalananku.

Ada yang berbeda saat bus mulai melaju, rute yang dilaluinya tak seperti biasa, sepertinya aku salah jalur bus. Aku hanya bisa pasrah dan mengikuti ke mana pun bus ini membawaku. Hingga bus berhenti di halte Kridosono. Seorang wanita masuk ke dalam bus, dilihatnya sekeliling bus tak ada kursi yang kosong. Aku yang sejak tadi memperhatikan tingkah lakunya bangkit dari kursiku dan mempersilahkannya duduk di kursi yang tadi aku duduki. Dia tersenyum sambil mengucapkan, “Terima kasih.”

Suaranya begitu lembut, tatapannya teduh, wajahnya sangat manis dan cantik dibalut kerudung berwarna biru gelap. Aku merasa ada sesuatu yang aneh dalam diriku, dadaku terasa sesak serasa terkena asma tiba-tiba, jantungku berpacu sangat cepat. Pandanganku tak lepas darinya yang terlihat serius membaca buku. Tiba-tiba dia mengangkat kepalanya, mata kami saling bertemu, meski cukup jauh, aku tertunduk malu dan bersikap salah tingkah di hadapannya. Ku lirik kembali ke arahnya, dia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, ku balas dengan senyum juga lalu ku palingkan kembali pandanganku darinya. Tak lama kemudian bus berhenti di depan puro pakualaman, gadis itu berdiri kemudian mendekat ke arahku.

“Silahkan duduk kembali Mas, terima kasih,” ucapnya sambil melangkah turun dari bus.

Mataku terus mengikutinya, hingga dia menghilang dari pelupuk mataku. Namun bayangannya masih tetap tinggal dalam khayalku. Aku seperti orang gila tersenyum-senyum sendiri tak ku hiraukan orang-orang memandangiku. Tiba-tiba sopir bus menginjak pedal rem secara mendadak dan membuyarkan lamunanku. Aku kembali tersadar, aku teringat akan perkataan Ifan di perpustakaan tadi, “Mungkinkah aku sudah merasakan jatuh cinta? Entahlah, hanya Tuhan yang tahu.”

Dua hari berikutnya, aku berencana ikut Ifan ke kampung halamannya di Klaten. Usai kuliah kami langsung menuju terminal Giwangan, Kali ini kami naik taksi karena takut ketinggalan bus. Tiga hari aku menginap di rumah Ifan, hari keempat, aku memutuskan untuk kembali ke Jogja lebih dulu, karena ada tugas kuliah yang harus aku selesaikan. Setelah berpamitan kepada keluarganya Ifan, Ifan mengantarku ke Terminal. Kurang lebih dua jam, aku baru tiba di terminal Giwangan. Aku turun dari bus dan langsung menuju halte trans Jogja.

Saat memasuki halte, di antara kerumunan orang di dalam halte pandanganku tertuju ke arah dua wanita yang sedang asyik bercengkerama. Satu di antara wanita itu adalah dia yang beberapa hari ini selalu hadir dalam mimpi-mimpi indahku, wanita yang aku temui di dalam bus beberapa hari yang lalu. Dia menoleh ke arahku, lalu berjalan menghampiriku, terlukis senyum dari sudut bibirnya kemudian menyapaku dengan ramah.

“Eh, masnya di sini juga toh?” tanyanya.
“Iya Mbak, saya baru dari Klaten.” Jawabku dengan senyuman juga.
“Saya ingat aroma bulgari aquanya,” ucapnya sambil tersenyum.
Aku hanya bisa tersenyum malu mendengar ucapannya sambil berbicara dalam hati, “Sebegitu hafalnya dia dengan parfum yang aku pake, sampai-sampai dia tahu namanya, atau jangan-jangan dia…” segera ku buang perasaan GR dalam diriku kemudian berkata, “Emmm, namaku Harriansyah, biasa dipanggil Ari, nama kamu siapa?”

Belum sempat dia menjawab pertanyaanku, bus yang di 2-A sudah tiba di pintu keberangkatan. Dia segera berpaling mendekati temannya yang sejak tadi sibuk dengan telepon selularnya sambil sesekali melirik ke arah kami berdua. Mereka berdua berdesak-desakan dengan penumpang yang lain. Tak ada senyum apalagi ucapan yang mengakhiri pertemuan kami kali ini. Aku menghela napas, batinku kembali berbisik, “Mungkinkah aku jatuh cinta padanya?” Ku sandarkan tubuhku di kursi. “Apakah pertemuan yang kedua kalinya masih dikatakan kebetulan? Atau ada sesuatu di balik itu semua? mungkinkah dia jodohku?” hatiku terus bertanya-tanya, namun aku berusaha membuang jauh-jauh pikiran itu dari otakku, meskipun hatiku memberontak dengan keras.

Seminggu kemudian. Berhubung hari ini libur, entah kenapa ingin sekali rasanya aku pergi ke terminal Giwangan, entah apa yang telah merasuki pikiranku. Tapi akhirnya aku mengikuti apa kata hatiku, aku bersiap-siap dan bergegas menuju terminal Giwangan dengan bus Trans Jogja. “Anggap saja jalan-jalan keliling kota Jogja, mengisi kekosongan waktu.” batinku. Sampai di terminal, aku turun dan duduk di kursi halte di paling pojok. Tak ku hiraukan panggilan petugas yang mengarahkan penumpangnya untuk naik ke bus sesuai tujuannya. Aku hanya duduk diam sambil mendengarkan radio menggunakan headset. Beberapa bus berhenti dan berangkat dari halte ini, orang-orang di dalam halte pun silih berganti. Melihatku yang tak juga beranjak dari kursi, padahal semua armada bus telah berjalan, salah seorang petugas menghampiriku.

“Masnya mau ke mana?”
“Oh, saya sedang menunggu teman Pak,” Jawabku setelah melepaskan headset dari telingaku.
Beliau hanya mengangguk kemudian pergi meninggalkanku.

Aku mulai merasa bosan, sudah lebih dari satu jam aku di sini tanpa tujuan yang jelas. Ketika sebuah bus merapat ke halte, aku memutuskan untuk kembali ke kost. Dan saat aku bangkit ingin masuk ke dalam bus, aku melihat seorang wanita yang tak asing lagi di mataku turun dari bus, tentu saja hal itu membuatku kembali duduk dan mengurungkan niatku untuk meninggalkan halte. Sengaja ku tundukkan kepalaku agar dia tidak melihatku.

Ku lirik gerak-geriknya sedang sibuk mencari tempat duduk, dan tanpa sengaja dia berdiri membelakangiku tepat di depanku. Ku ambil selembar kertas dan pena, ku tulis sebuah kalimat di kertas itu, lalu ku jatuhkan di hadapannya. Kertas itu bertuliskan “Silahkan duduk mbak cantik.” Diambilnya kertas itu, dia membalikkan tubuhnya, dia terkejut melihatku berdiri di hadapannya. Aku langsung berpindah selangkah di belakangnya. Dia tersenyum, lalu kami berpindah posisi, dia duduk sementara aku berdiri di depannya.

“Untuk yang kedua kalinya, kamu membebaskanku dari keram dan pegal-pegal Ri.”
“Tapi sejujurnya aku lebih senang kalau kaki kamu keram.”
“Issh, kamu jahat banget ternyata ya.” Ucapnya kemudian membuang muka.
“Biar aku bisa mijitin kaki kamu, hehehe.”
“Huuh dasar, coba aja kalau berani, palingan ini sepatu melayang ke jidat kamu.” Ucapnya dengan nada sok kejam.
“Nah karena itulah aku mempersilahkan kamu duduk, karena aku sudah memperkirakan hal itu, agar jidat ku aman dari pendaratan darurat sang sepatu, aku juga gak tega melihat kaki cantikmu kelelahan.” Jawabku datar.

Dia tersenyum lebar “Cerdas banget kamu ya, dapat Sarjana Gombal dari mana?”
“ISTRI,” Jawabku singkat.
“Haaahhhh?”
“Institut Raja Gombal Negeri, hahaha.”
“Oh dasar, kirain kamu sudah punya istri,” dia memukulkan bukunya dengan pelan ke pahaku dari arah samping.
“Namu kamu siapa?” Tanyaku dengan wajah yang mulai serius.
“Buat apa kamu tanya namaku?” Dia balik bertanya dengan nada bercanda.
“Ya biar aku bisa cari kamu di google.” Jawabku sambil memperlihatkan handphone-ku yang telah menampilkan halaman google.com, “Kamu ini ada-ada aja tingkahnya, namaku Senja,” diam sejenak, “Nenekku yang memberi nama itu, karena aku lahir saat azan magrib berkumandang.” Kemudian dia kembali melanjutkan bacaannya.

“Kamu cocok dengan nama itu.” Dia kemudian menatapku, aku bisa membaca tatapannya penuh tanda tanya. “Habisnya, kamu cantik sebagaimana cantiknya langit senja,” Mimik wajahnya berubah, pipinya terlihat sedikit memerah, “Eh, busku sudah datang, aku duluan ya, sampai ketemu lagi.”
“Kalau kita ketemu lagi, mungkin kita jodoh kali ya?”
Dia tersenyum lalu berkata, “Kalau gitu, aku akan pergi jauh agar kamu tidak menemukanku lagi. Assalamualaikum.”

Aku terdiam mendengar jawabannya, ku jawab salamnya hanya dalam hati. Beberapa minggu kemudian, aku tidak lagi pernah bertemu dengannya, mungkin dia sengaja menghilang karena ucapanku di terminal waktu itu. Untuk mengisi waktu luang, aku berencana pergi ke toko buku bersama Ifan. Aku sampai di toko buku lebih dulu. Setelah menitipkan tas dan jaket, aku segera masuk ke dalam toko. Dengan headset yang masih menempel di telingaku aku berkeliling melihat-lihat buku yang menarik untuk dibaca. Ku hentikan langkahku saat memasuki ruangan yang hanya di sekat rak-rak buku, salah satu rak itu bertuliskan Agama Islam. Aku melihat seorang wanita sibuk mencari-cari buku. Ku lepaskan headset dari telingaku lalu aku menghampirinya dari belakang.

“Jodoh memang tak akan lari ke mana-mana,” Ucapku kepada wanita itu, sambil pura-pura sibuk mencari-cari buku.
Dia berbalik badan, “Ari?” dia menatap tajam ke arahku.
“Kenapa? Kok terkejut,” jawabku santai.
“Gak nyangka aja bisa bertemu di sini, mau nyediain kursi lagi, aku gak lagi butuh kursi?”
“Iya, kursi pelaminan.”
“Ah, kamu tetep aja sama, gak ada berubah-berubahnya.”
“Aku serius loh.” Tiba-tiba terdengar suara yang memotong pembicaraan kami, “Tapi katanya gak penting.”
Ternyata Ifan, dia datang menghampiriku, “Ternyata sahabatku ini diam-diam menyembunyikan wanita, mau diajak ke pelaminan lagi. Tapi katanya gak penting, katanya mau raih sarjana dulu.”

“Apaan sih lo, ngomong sembarangan, lo kira emas disimpen-simpen, ini temen gue.”
“Terus gak dikenalin gitu? Ya udah aku pulang aja, kan udah ada temen,” Kata Ifan dengan candaan khasnya yang sering dilakukan saat baru bertemu dengan teman-teman perempuanku.
“Ya udah pulang sono.”
“Oh, oke.” Jawabnya menantang, namun dia malah menunduk dan memandangi sekeliling toko.
“Katanya mau pulang, kok masih di situ?”
“Ya aku mau cari buku dulu,” Jawabnya ngeles.

Senja tersenyum melihat tingkah laku kami, yang memang sering bercanda. Kemudian dia memperkenalkan diri, “Namaku Senja, kamu Ifan ya?”
“Kok kamu tahu, namaku Ifan?” Tanya Ifan penasaran.
“Ari pernah bercerita tentang kamu,” Jawab Senja.
“Nyeritain aku?” Tanya Ifan semakin penasaran
“Ya, dia pernah cerita tentang sahabatnya yang nyebelin, susah dibilangin, tapi perhatian dan pengertian.”

Akhirnya kami bertiga menjadi akrab, setelah dari membeli beberapa buku, kami makan di Cafe tak jauh dari toko buku tersebut. Kami saling berbagi cerita, dan bercanda tawa bersama. Setelah makan, kami kembali ke kost masing-masing. Seperti biasa, menggunakan trans Jogja. Sejak pertemuan itu, aku dengan Senja menjadi lebih akrab, kami sering jalan-jalan berdua mengunjungi tempat-tempat wisata di Jogja, meski hanya menggunakan trans Jogja.

Setiap hari, kami bertemu di terminal Giwangan dan berpisah pun di terminal Giwangan. Hari-hariku menjadi lebih berwarna, lebih ceria. Ifan pun mengerti akan apa yang aku rasakan, dia sering meledekku gara-gara percakapan kami di perpustakaan beberapa bulan lalu. Jujur aku mulai bisa merasakan cinta kepada senja dan Ifan tahu perasaanku itu meski aku tak pernah cerita kepada siapa pun, termasuk kepada Senja. Selalu ada untuknya saja aku merasa sudah cukup bahagia tanpa memilikinya seutuhnya. Bagiku kisah persahabatan lebih indah dari kisah cinta para remaja, karena tak mengenal adanya kata putus.

Hampir setahun aku kenal Senja, hingga tiba suatu hari aku tak lagi pernah bertemu dengannya. Bunga yang dulu menghiasi taman hatiku kini seakan layu dan mengering. Keceriaanku kembali hilang, aku kembali ingat perkataan Ifan. Kalau cinta bisa membuat kita susah tidur dan hilang nafsu makan. Ku cari Senja di tempat-tempat yang biasa kami kunjungi, namun tak juga ku temukan, lebih sebulan sudah berlalu namun tak juga ada kabar dari Senja, ribuan sms yang ku layangkan tak pernah dibalas, begitupun dengan pesan di facebook, BBM. Nomornya pun tak lagi pernah aktif setiap aku menghubunginya.

Di Malioboro, aku duduk di kursi di trotoar di depan kantor gubernur DIY, di tempat inilah terakhir kalinya aku bersama Senja. Saat itu kami baru saja berkeliling Malioboro, kemudian kami istirahat di sini sambil menikmati semangkuk es krim. Dan saat itu pula dia mengenakan baju yang persis sama dengan baju saat pertama kali aku melihatnya di bus. Hingga akhirnya seorang temannya yang pernah aku temui di halte, datang menjemputnya. Dan sejak itulah aku tak lagi pernah melihatnya.

Dari malioboro aku naik Trans menuju terminal Giwangan, yang menjadi saksi perkenalan kami, yang dulunya menjadi tempat pertemuan dan perpisahan kami. Di sini aku tetap berdiam diri seperti biasa sambil mendengarkan radio favoritku. Entah sampai kapan aku terus menunggu Senja di terminal ini. Matahari terus berjalan menuju peraduannya, bulan pun tampak telah siap untuk menggantikannya dengan cahaya yang dimilikinya. Ku lihat Ifan ke luar dari dalam bus, sahabatku ini memang selalu ada saat-saat seperti ini, dia menghampiriku dan duduk di sebelahku.

“Udah, gak usah dipikirin, kan kamu sendiri yang bilang ngapain mikirin wanita, pikirkan masa depan kita, kalau kamu seperti ini, masa depan kamu bakalan hilang semua.” Ujarnya menyemangatiku.
“Tumben kamu bijak”
“Ngeledek terus, ya biasanya kamu yang motivasi aku, sekarang mana Ari yang dulu, jodoh gak akan lari ke mana kan.”

Dari kejauhan terdengar suara azan berkumandang, sejenak ku lupakan semua kesedihan yang mengurungku, dan pergi menghadap-Nya meminta perlindungan dan kesabaran kepada-Nya. Usai salat aku kembali ke halte. Saat ke luar dari ruang tunggu terminal, handphone-ku berdering tanda pesan masuk. Ku raih handphone itu dari dalam sakuku, terlihat ada pesan masuk dari nomor baru.

“Assalamualaikum Ari, ini aku Senja, maaf aku tidak pernah mengirim kabar kepadamu, aku baru menemukan nomormu yang sempat hilang, sekarang aku sudah bekerja di Singapura, mungkin kita tidak akan bertemu lagi dalam waktu yang lama. Maaf juga aku tak sempat memberitahu kamu saat aku pergi, Tetap semangat ya. Terima kasih telah menjadi sahabat terbaikku, terima kasih atas gombalan-gombalan kocak yang sering kamu tujukan untukku, aku rindu akan itu semua terutama sama kamu. Aku berharap takdir akan mempertemukan kita lagi. Aku ingin kamu hadir lagi menyediakan kursi untukku. Aku menyayangimu, tunggu aku kembali. Wassalamualaikum.”

Mataku terasa sesak dipenuhi butiran-butiran bening yang memberontak ingin ke luar, namun berusaha ku tahan. Ifan mengusap bahuku dengan lembut, mencoba menenangkanku. Akhirnya aku kembali pulang ke kost bersama Ifan. Sampai saat ini, setiap hari minggu aku selalu pergi ke terminal Giwangan, menunggu kehadiran Senja kembali, sesuai janjinya.

Cerpen Karangan: Iky Adrilianto
Blog: pratamapustaka.blogspot.com
Lis: Iky Adrilianto hobi menulis sejak SMP, sudah banyak menulis cerpen, namun masih belum banyak dipublikasikan. Saat ini sedang menempuh pendidikan S1 di STMIK Amikom Yogyakarta jurusan Teknik Informatika. Penulis bisa dihubungi melalui e-mail di iky.adrilianto[-at-]gmail.com

Cerpen Menunggu Senja Di Terminal Giwangan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


My First Love My First Hurt

Oleh:
Gue menatap hamparan lautan luas di depan gue. Ya Ini yang gue lakuin kalau gue lagi butuh ketenangan. Kalau lagi frustasi gini kalau gue gak lihat laut maybe I’ll

Cinta Mikha

Oleh:
23 Desember 2014 merupakan hari perpisahan antara aku dan dia. Namaku Mikhaila Putri, biasa dipanggil Mikha, aku kuliah di salah satu universitas swasta di Jakarta. Dia adalah mantan pacarku

Cinta The Geniuses

Oleh:
Masa-masa Smp adalah awal mula aku berkembang menjadi dewasa. Di smp banyak hal yang kudapatkan. Salah satunya adalah “Cinta”. Jujur aku tidak tahu apa itu cinta? dan kapan cinta

Dia Yang Telah Kembali

Oleh:
Cit, cit, cit, Sinar mentari memasuki sela-sela jendela kamarku, ketika aku mendengar suara burung-burung bersiul di ranting pohon yang terdapat di samping jendela kamarku. “Hoaaaamm,” Aku bangun sambil merentangkan

Hard

Oleh:
Angin berhembus. Membawa terbang semua yang ingin dibawanya. Menyentuh lembut semua yang dilewatinya. Terlalu transparan hingga tak terlihat. Terlalu abstrak untuk digenggam. Tapi, angin akan selalu ada dimanapun kau

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Menunggu Senja Di Terminal Giwangan”

  1. puji says:

    Keren ceritanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *