Mereka Lebih Mengerti

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 3 June 2016

Baru saja beberapa orang yang bertamu ke rumah Citra pulang setelah hampir dua jam mereka di sana. Entah apa yang mereka bicarakan dengan keluarga Citra. Citra tidak pernah berpikir untuk mendengarkan obrolan mereka. Ia sibuk dengan lamunannya. Entah kenapa saat mereka bertamu Citra hanya duduk terdiam dan tidak menghiraukan mereka. Dia seperti sedang menunggu kabar dari seseorang. Citra sangat tak sabar menunggu mereka pulang. Entah apa yang mereka tunggu di rumah Citra. Di luar tidak sedang hujan, tapi akan turun hujan. Apakah mereka tetap berdiam di sini? Seharusnya mereka sudah pulang. Sepertinya Citra ingin ke kamar dan mengambil ponselnya. Tapi pergi meninggalkan orang yang bertamu bukan kebiasaan keluarga Citra.

Sekarang mereka sudah pulang. Citra mengantarkan mereka ke luar. Setelah bayangan mereka tak tampak lagi Citra langsung mengambil ponsel dan membuka pesan dari seorang teman yang belum satu tahun ia mengenalnya. Ani, begitu ia menyebutnya. Pesan gambar hasil tangkapan layar obrolan Ani dengan perempuan lain yang bernama Putri telah ia terima. Putri adalah kakak kelas Citra dan Ani. Citra langsung membuka foto itu dan membacanya.

“Hai kak. Apa benar kakak dengan lelaki itu ada suatu hubungan? Pacaran?” tanya Ani.
“Ya. Aku memang menjalin suatu hubungan dengan lelaki itu. Sudah 2 bulan kami menjalankan hubungan ini,” jawab Putri.

Setelah membaca pesan itu, perasaan Citra tak menentu, hatinya seperti telah ditusuk ribuan paku. Setelah itu Citra langsung mencari sebuah nama di daftar kontaknya. Citra mulai menekan keyborad ponselnya. Ia mulai menulis sebuah pesan. Setelah ia rasa cukup, ia kirimkan pesan itu kepada seorang lelaki. Cukup lama Citra menunggu balasan. Sebuah pesan masuk ke ponselnya, tampak sebuah nama di layar ponsel Citra. Adi, ternyata lelaki itu bernama Adi. Citra kembali merasa hancur setelah membaca balasan dari Adi. “Tadi sore aku memang berdua dengan perempuan itu. Kalau kau mau kita putus, ya sudah. Gak perlu bertengkar gini,” tutur Adi.

Sialan. Lelaki itu kini sungguh menghancurkan perasaan Citra. Lelaki itu tidak merasa bersalah sama sekali. Sudah sepuluh tahun lebih Citra mengenalnya, dan hampir satu tahun dia menjadi pemilik hati Citra. Hubungan mereka selama ini baik baik saja. Mereka masih terlihat harmonis. Tapi, sekarang dengan mudahnya dia menyakiti Citra. Dengan mudahnya dia membuat perempuan yang sangat mencintainya itu menangis. Dia menghancurkan hubungan kasih Citra dengannya dan sekaligus menghancurkan hubungan pertemanan. Kenapa dia begitu tega melakukan ini? apakah Citra terlalu buruk? Sepertinya tidak.

Citra cantik, pintar, sopan, dan rajin ibadah juga. Citra memang tak seperti perempuan lainnya, Citra mempunyai batasan untuk pergi ke luar rumah. Orangtua Citra tidak memperbolehkan Citra pergi hanya berdua dengan laki-laki. Jika dia tidak bisa bertahan dengan batasan yang diberikan orangtua Citra, Dia bisa membicarakan hal ini dan tidak seharusnya dia berbuat seperti itu. Sungguh, dia sangat serius ingin mengkhianati perasaan Citra. Dan perempuan itu, sungguh murahnya dia. Apakah tidak ada lelaki lain yang mencintainya? Kenapa harus lelaki yang Citra cintai yang dia ambil. Keesokan harinya, Citra ke sekolah dengan kantung mata yang tebal. Sepertinya dia tidak tidur tadi malam. Setibanya di kelas, teman-teman Citra langsung menghampirinya dan memeluk Citra. Sungguh mereka tak percaya akan hubungan Citra dengan Adi. Ucapan simpati pun banyak.

“Sabarlah. Kau tidak perlu menangisinya. Kau tidak perlu sedih. Karena, dia telah kehilangan orang yang benar-benar mencintainya,”
“Kau tidak terlalu buruk untuk lelaki itu. Tetapi, kau terlalu baik untuk disakiti seperti itu,”
“Don’t cry Citra. Perempuan yang lebih baik dari kamu mungkin banyak.”

Mereka benar. Tidak pantas untuk menangisi seorang lelaki yang jahat seperti itu. Aku sekarang menyesal mengenal dirinya dan jatuh cinta kepadanya. Mereka lebih mengerti yang aku rasakan. Daripada lelaki itu, dia tidak mengerti bagaimana perasaanku setelah dihancurkan olehnya. Mereka selalu ada di saat aku disakiti seperti ini. Kalimat penyemangat tak henti mereka ucapkan untukku. Ya, aku juga berpikir untuk apa aku menangisi lelaki itu. Aku akan menjalankan semuanya seperti semula. Tidak ada yang berbeda. Bahkan mungkin aku lebih bersemangat. Merekalah yang mengerti semuanya.

Cerpen Karangan: Roza Erisinta
Blog: SintaZee.blogspot.com

Cerpen Mereka Lebih Mengerti merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ikhlas Dalam Duka

Oleh:
Sudah tiga hari ini aku menjalani hidup dengan dan tanpa penuh gairah hidup sedikit pun, makan, minum, bahkan kuliahku pun tak ada yang benar. Sebelum kejadian pada hari minggu

Di Ambang Ramadhan

Oleh:
Allahhu akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar Hari ini terakhir ramadhan, esok sudah tiba lebaran. Gema takbir berkumandang di seluruh penjuru desa. Tak beda dengan masjid yang satu ini, aku

Mengapa Kamu Memilih Dia

Oleh:
Meski malam gelap gulita Angel tetap saja menangis Angel belum bisa melupakan pria yang benar-benar dia cintai. Malam berganti pagi ayam telah berkokok Angel tersentak bangun mendengar suara yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *