My First Love My First Hurt

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 11 February 2016

Gue menatap hamparan lautan luas di depan gue. Ya Ini yang gue lakuin kalau gue lagi butuh ketenangan. Kalau lagi frustasi gini kalau gue gak lihat laut maybe I’ll kill my self. Serem yaaa. Gue clara asyifa biasa dipanggil Clara. Lo mau tahu apa yang bikin gue frustasi saat ini. Dia Hendri cowok gue. Ehh, ralat-ralat. Mantan cowok gue, cowok yang selama ini mengisi hati gue selama 4 tahun. Ldr-an. Dia dimana gue di mana. Tessss, gak terasa air mata gue jatuh. Gue cewek kuat dalam hal apa pun kerjaan, cari duit gue jagonya. Tapi masalah cinta gue asli cengeng banget.

“Hennnddriii.. jahat lo b*ngsat. Kurang apa gue selama ini sama lo hah?! Gue setia selama 4 tahun sama lo. Terus lo mutusin gue cuman kayak cabe-cabean kayak gitu. Masih mending gue ke mana-mana. Hendri, come back and I’ll kill you arrhghh!!!” gue berteriak keras frustasi sambil melompat-lompat persis orang gila. Gue nggak peduli dengan keadaan pantai yang lagi ramai. Jelas gue udah kayak orang gila sekarang. But who f*ck cares. Bodo amat. Toh mereka gak tahu kan apa yang gue rasain.

Gue suka dia. Pas pertama gue ngelihat dia saat pertama masuk sekolah. Gue juga gak tahu apa yang membuat gue tertarik sama dia. Banyak rumor yang beredar di sekolah. Kalau dia itu bandel. Songong, tukang berantem, suka ngelawan guru. Walaupun otaknya nggak kalah encer sama yang lain. Penampilannya pun terkesan berandalan tapi gue suka. Dan gue nggak tahu kenapa bisa suka. Saat itu gue cuman mengagumi dia dari jauh entah dia tahu atau nggak. Yang pasti I think I love him. Dia kakak kelas gue waktu itu dia kelas 3 sedangkan gue kelas 1 masih unyu-unyunya. Dia laki-laki pertama yang membuat gue selalu berdebar-debar. Gue selalu mencuri-curi pandang ke arah dia tanpa dia tahu.

Hari itu hari senin gue masih inget banget kejadian itu. Saat pertama dia menatap gue dan tersenyum. Hari itu untuk kesekian kalinya upacara bendera dilakukan setiap hari senin. Dan hari itu kebetulan kelas gue yang jadi petugas. Dan gue kebagian di pembaca undang-undang dasar, always. Kenapa sih gue terus yang ditunjuk buat jadi pembaca undang-undang. Kadang-kadang temen gue bilang. “Itu karena suara lo tegas, kenceng dan lo baca undang-undangnya cepet Raa. Jadi kita gak berdiri lama-lama.” Dan yang bisa gue lakuin adalah pasrah.

Saat itu. Entah kenapa tumben hari itu Kak Hendri ikut upacara. Biasanya dia paling anti yang namanya upacara. And you know dia berdiri bersebelahan sama gue. Karena kelasnya bertugas jadi paduan suara. Sontak berdiri di dekatnya gue merasa kupu-kupu berterbangan di perut gue. Tiba-tiba gue ngerasa mual, panas dingin ini karena gue tegang. Sama kayak gue lagi di suruh maju ke depan sama Pak Muzani untuk melapalkan hapalan bahasa arab. Atau disuruh Pak Pujo Lasmono untuk mengerjakan tugas fisika di depan kelas padahal gue biasa seperti ini. Gue cuman bisa menunduk malu.

“Gak usah tegang ini hal biasa kan kamu pasti bisa.” dia berkata lirih, gue terbelalak. Suara itu, suara Kak Hendri. Dia ngomong sama gue? Omaygaatt gue seneng banget. Kata-kata itu cukup membuat gue jadi PD.

Dan tiba saatnya buat gue membacakan undang-undang. Gue maju tiga langkah dari tempat gue berdiri. Dan mulai membaca teks undang-undang. Setelah selesai gue mundur tiga langkah lagi. Entah kenapa gue pengen banget noleh ke arah dia. Saat gue noleh dia mengacungkan jempolnya ke arah gue sambil tersenyum. Gue yakin waktu itu muka gue persis tomat mateng. Gue menunduk dengan perasaan senang yang nggak terkira. Gue nggak menghiraukan teman-teman gue yang pingsan berjamaah karena nggak kuat ikut upacara.

Selesai upacara. Gue dan lainnya masuk ke kelas masing-masing. Untuk mengikuti pelajaran. Jam istirahat seperti biasa gue duduk di bawah pohon gede. Bukan buat semedi ya, catet. Gue lagi baca buku gue emang terkenal kutu buku di sekolah. Saking asyiknya gue membaca menghapal pelajaran buat ulangan harian selepas istirahat, tanpa gue sadari ada seseorang duduk di samping gue.

“Serius amat bacanya. Entar lehernya patah loh.” Kelakarnya.
“Hah.” Gue terkejut kemudian melihat siapa yang bicara. Oh my god gue gak mimpikan dia ada di samping gue.
“Baca apa sih?” tanyanya.
“Emm.. Anuu.. Baca buku sejarah buat ulangan nanti,” jawab gue gugup dia cuman membulatkan mulutnya membentuk O tanpa bersuara.
“Cara kamu baca undang-undang bagus, lantang, tegas, kera,” Pujinya yang membuat gue malu.
“Kakak tumben ikut upacara?” tanya gue mengalihkan pembicaraan sekaligus penasaran.
Dia tersenyum kecut. “Tadi digiring sama Pak Amir.” Gue refleks tertawa ngakak.

“Bebek kali digiring.” Gue nggak berhenti tertawa.
“Lo cewek kuat ya?” Dia menatap gue dalam. Gue menelan ludah dengan susah payah.
“Badan lo kecil cuman tulang. Tapi lo kuat ikut upacara sampe selesai. Padahalkan panas banget,” Dia menatap gue lagi.
“Kakak itu memuji aku apa menghina sih!!” sewotku.

Dia kemudian tertawa dan mengelus-elus kepala gue dan berlalu pergi. Gue tercengang. Tadi dia ngelus kepala gue. Uhh, gue jadi mual lagi. Semenjak itu gue sama dia tetep biasa-biasa aja nggak deket nggak jauh kalau kebetulan bertemu di koridor sekolah. Kami hanya saling tersenyum dan saat jam pelajaran olah raga. Gue cuman bisa memandang dia dari jendela kelas gue. Gue tetep pungguk yang merindukan bulan.

Dia punya banyak cewek di sekolah. Pernah gue denger ada cewek berantem gara-gara merebutkan dia. Gue cuman geleng-geleng kepala menahan nyeri di hati. Dah gue mah apa atuh. Ngapain sok berharap Kak Hendri naksir gue emang gue siapa cuman cewek cupu. Gue pun menyerah nggak mau berhadapan lagi sama dia sedikit menjauh. Apalagi saat dia ke kelas gue. Entah meminjam baju olah raga kepada temannya atau ada hal lain. Gue cuman bisa menunduk pura-pura membaca buku tanpa menghiraukan dia. Sakit memang.

Hari ini hari kelulusan kakak kelas. Dan lagi hati gue bertambah nyeri. Sebentar lagi gue nggak bisa memandang dia diam-diam. Sementara yang lain merayakan kelulusan kakak kelas. Gue cuman bisa membaca buku di kelas. Gue nggak terlalu suka keramaian. Apalagi kalau ini adalah terakhir kali dia di sini.
“Emang nggak pegel baca buku terus?” Entah sejak kapan dia muncul di hadapan gue. Gue panik tiba-tiba gue memutuskan buat pergi dari situ tapi dia menahan gue.
“Lo kenapa sih Ra? Kok akhir-akhir ini meghindar. Ketemu gak nyapa lagi. Kakak ajak ngomong diem aja, kamu marah sama kakak?”
“Aa-aaku cuman nggak mau nanti cewek kakak salah paham.” Jawab gue bohong.

“Kamu cemburu?” tatapnya tajam. Gue menunduk.
“Kamu cemburu Ra?” Dia mendesak. Melihat gue diam dia tahu jawabannya.
“Kamu mau kan nunggu aku?” pintanya. Gue menatap nanar.
“Maksudnya?” Akhirnya gue berani bersuara.
“Aku bakalan kuliah di kota lain. Kamu mau kan nunggu aku sampe aku pulang?” Tatapnya.

Air mata gue menetes tanpa sadar gue mengangguk. Dia tersenyum manis di dan menghapus air mata gue. Begitulah tanpa ada kata cinta dia ninggalin gue dan meminta gue buat nunggu dia. Gue bakalan nunggu lo kak apa pun itu. Pagi-pagi sebelum berangkat sekolah. Ada telepon untuk gue. Gue mengangkat telpon yang ternyata dari Kak Hendri. “Aku udah di bus. Sebentar lagi berangkat. Kamu jaga kesehatannya. Jangan terlalu banyak baca buku. Banyakin makan biar badan kamu gemukan. Cepet gede ya cupu.” katanya panjang lebar. Yang cuman bisa gue jawab “Iya” tiba-tiba hening. Dan, “Love you” katanya. Gue tercekat seolah kehabisan oksigen. Cuman bisa diam dan menutup telepon. Kata-kata itu, kata-kata terindah yang pernah gue denger.

Dan sekarang. Lebih tepatnya semalem. Dia mutusin gue lewat facebook dengan gitu aja dan cuman bilang maaf tanpa ada penjelasan. Setelah 4 tahun nggak ketemu. Dan udah 6 bulan dia nggak ada kabar. Arghh, andai aja nomor handphone-nya masih aktif gue bakalan caci maki dia sepuas hati gue. Tadi pagi saking frustasinya gue mengacak-acak facebooknya yang gue tahu ada ratusan. Ya, ketemu. Ada facebook dengan nama lain tapi dengan fotonya.

Tebayo san and hana saryawati in relationship. Begitulah. Pemeberitahuan di akun facebooknya yang lain. Oh, sh*t kampreet. Gue memaki lagi. Ini kalau didengar nyokap gue udah pasti gue dicambuk pake gagang sapu karena mengumpat dari tadi. Sorry mom anakmu ini lagi patah hati tingkat international. Gue meng-kepo-in akun itu perempuan What the hell. Hendriiiii. Apa yang lo lihat dari dia hah? Masih bagusan gue ke mana-mana. Sorry bukan gue sombong tapi ini jelas ngerendahin harga diri gue. Dia mutusin gue buat cabe-cabean, iueweh. Tapi dengan bijak gue menginbok dia.

“Hy.. thanks buat 4 tahun yang sia-sia. Gue nggak ngerti kenapa lo mutusin gue cuman lewat inbok. Hahaha ngenes banget hidup gue. Bukan gue takabur atau apa ya. Gue cuman gak terima lo mutusin gue cuman buat perempuan kayak gitu. Tolong jelasin salah gue apa. Biar gue bisa menjadikan pelajaran di masa depan. Thank you.” Send. Beberapa menit kemudian dia membalas.

“Maaf Ra. Mungkin menurut kamu penantian kamu sia-sia. Tapi menurutbaku nggak. Kamu wanita hebat yang bisa bertahan menghadapi semua ini. Aku yakin kamu kuat. Kamu nggak pantes buat aku. Pengorbanan kamu terlalu besar aku lagi punya masalah di sini yang nggak bisa aku ceritakan. Suatu saat kamu akan mengerti. Kalau kita jodoh pasti kita akan ketemu lagi. Thanks for the best 4 years.”

Cih, cewek kuat. Iya gue kuat karena gue cinta sama lo. Lo selingkuh gue diem. Gue bertahan. Tapi gue nggak nyangka lo mutusin gue dengan cara hina kayak gini. Pengorbanan? Pengorbanan gue lo anggap sampah. Terdengar lagunya mitha yang “Aku cuman punya hati” dari speaker pantai. Yang sukses membuat hati gue seperti di aduk-aduk pake blender mama. Ohh cr*p. Gak sekalian turunin hujan yang deres God biar lengkap penderitaan gue hari ini.

Gue menarik napas dalam dan menghempaskannya dengan kasar. Nggak tahu kenapa kalau lihat laut gue jadi damai. Mulai sekarang gue udah bertekad. Untuk move on dari Hendri. Dan mulai menyeleksi rentetan nama cowok-cowok yang selalu setia pedekate sama gue tapi gue tolak demi laki-laki seperti Hendri. “Thanks for 4 years Kak. Gue yakin kok gue bisa lupa sama lo. Dan gue harap jangan pernah kembali ke hidup gue lagi. Gue bertekad. Lo cowok pertama dan terakhir yang membuat gue terluka. See you.” Gue berbalik arah meninggalkan pantai dengan perasaan lega. Gue bakalan coba buka hati buat seseorang yang tulus. Seseorang yang datang bukan untuk pergi lagi.

Cerpen Karangan: Bella Efriani
Facebook: Bella Efriani
My name is Bella Efriani. Sorry kalaau cerpennya kurang bagus. Ini cerpen pertama gue. So buat yang mau kepoin gue. Add aja facebokk gue. Bella Efriani. Lo bisa lihat betapa jeleknya gue. Hehehe.

Cerpen My First Love My First Hurt merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabatku (Bukan) Cintaku

Oleh:
Hari ini merupakan hari yang kurang baik bagiku. Aku bekerja di salah satu kantor media massa sekaligus online sebagai editor juga pencari berita. Pada suatu hari terjadi insiden di

Cintaku Sebatas Sahabat

Oleh:
Nama gue Rosa. Gue tinggal di Kota S dan gue bersekolah di kota tersebut. Gue punya sahabat namanya Gerald. Dia anaknya baik banget gue pun sampe tertarik banget sama

Keputusan Sepihak

Oleh:
Ya aku ziah seorang wanita yang tak bisa lepas dari handphone. Suatu hari ketika libur sekolah aku hanya asyik dengan handphone, suatu hari ketika aku sedang asyik bermain bbm

Friendzone

Oleh:
“Loe suka ya sama tu orang” tanya tian yang seketika ngebuat gue jadi deg degkan bukan main, mata tian masih terfokuskan ke gue tapi telunjuknya terus menunjuk seseorang yang

“N”

Oleh:
“Jes..Jes.. lihat tuh.. si Alvin ngeliatin aku ‘kan?” Jessica yang baru aja ngamatin mading, langsung memalingkan kepala. Resya memang nggak bisa diem kalau liat cowok yang sudah 2 tahun

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *