My Girl

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 17 April 2016

Suasana kelas 12 ipa 1 begitu ramai maklumlah hari ini hari pertama masuk sekolah di kelas 12 ini. Siswa-siswi sibuk memilih teman sebangku mereka plus bangku yang letaknya paling strategis untuk belajar sekaligus bermain. Aku ketua kelas di kelas ini, namaku Sean cowok super ganteng rangking 2 sesekolah. Dapet kelas ini berkah banget buatku, gimana enggak di hadapanku sekarang duduk cewek paling cantik di mataku alias pacarku. Namanya Riana, tinggi badan 155 cm, wajah sebelas dua belas sama aktris taiwan dan bodynya bak gitar spanyol.

Riana sekarang sedang berorasi di hadapanku tentang betapa bahagianya dia sekelas denganku. Aku hanya tersenyum saja menanggapinya padahal dalam hati aku berjingkrak-jingkrak bahagia tapi mengingat imageku yang cool gak mungkinlah aku jingkrak-jingkrak di depan umum. Di kelas ini harus ku akui banyak cewek-cewek cantik tapi di mataku Riana masih primadonanya sampai mataku melihat ke arah pintu dan menangkap sosoknya. Karina berdiri kikuk di depan pintu, tapi meskipun dia berdiri seperti itu orang memandangnya seperti model yang sedang berpose termasuk aku. Karina cewek nomor satu di sekolah selain kepintarannya juga kecantikannya, wajahnya putih bersinar bak model iklan ponds, tubuhnya tinggi semampai bak model propesional dengan tinggi 168 cm, wajah mirip blesteran bule siapa yang gak tertarik ngelihatnya.

Cewek dan cowok menyambutnya dengan ramah tapi dia hanya tersenyum kikuk. Karina teman sekelasku selama 3 tahun waktu di SMP dan ini kali pertama kami akan sekelas di SMA. Di balik kesempurnaan Karina, sebenarnya dia orang yang sulit bergaul, dia selalu menjadi pusat perhatian jadi dia tak pernah memiliki teman yang benar-benar dekat dengannya. Karina juga cantik kalau tidak bicara karena suaranya benar-benar tak seindah rupanya, suaranya pales banget dan jika dia mengeraskan suaranya dia terdengar seperti orang yang menangis, jangan tanyakan bagaimana suaranya ketika bernyanyi karena semua orang lebih pasti langsung tutup kuping. Aku terlarut dengan ingatan tentang Karina dan lupa akan Riana yang sudah manyun di hadapanku.

“Semua cowok sama aja kalau ngelihat yang cantik pasti deh pada ngiler,” omelnya.
Aku berbalik menatapnya dengan senyum memikatku. “Aku nggak gitu kok say, aku ngelihat dia bukan karena dia cantik tapi karena dia teman SMP-ku sekaligus saingan terberatku.” ucapku menjelaskan.

Riana masih cemberut padaku, aku mencubit pipinya gemas hingga dia meringis dan kembali memberikan senyum manisnya padaku. Aku beruntung memiliki Riana meskipun dia sedikit manja dan sangat pecemburu tapi dia hanya sebentar kalau marah dan dia akan langsung baik sendiri selain itu dia sangat perhatian padaku. Perhatianku dari Riana kembali teralih ketika melihat Karina duduk di bangku yang ada di sebelah bangku yang ku tempati, dia terlihat manyun dan seorang cowok yang mungkin teman sekelasnya di kelas sebelumnya terus membujuknya untuk sabar dan mencoba menyesuaikan diri di tempat baru.

“Ri, gak apa-apa yah duduk di sini sama orang yang gak kamu kenal juga kan ada aku di belakang kamu jadi aku yang akan nemenin kamu gantiin Syasya dan Bella,” bujuk cowok itu. Karina masih manyun dan berkaca-kaca, yah dialah Karina yang ku kenal, orang yang sulit menerima teman baru tapi aku juga penasaran apa hubungan cowok itu dengan Karina sampe dia sedekat itu padahal seingatku dulu Karina paling gak mau yang namanya pacaran bahkan ketika kakak kelas kami waktu SMP dulu nembak dia dengan polosnya dia bilang. “Aku gak mau pacaran, kata Mamah daripada pacaran mending langsung nikah aja.”

Jawaban Karina itu langsung membuat si kakak kelas syok, yah gimana gak syok orang saat itu umur Karina masih 13 atau 14 tahun dan langsung ngajak nikah daripada pacaran. Sejak jawaban konyol Karina waktu itu gak ada satu pun cowok yang nembak Karina lagi karena sadar pasti ditolak tapi ngelihat betapa dekatnya Karina sama cowok itu apa mungkin Karina sudah berubah pikiran tentang paradigma pacaran. Sebagai cowok yang pernah naksir Karina kok rasanya aku gak rela yah ada cowok yang berhasil miliki Karina. Sekelas apalagi duduk dekat Karina membuatku tak bisa konsen dan selalu saja ingin mencuri pandang ke arahnya sedangkan si empunya cuek aja bahkan dia gak inget sama sekali padaku padahal kita 3 tahun sekelas dulu.

Sebagai sama-sama orang pintar kita sering memecahkan soal sulit bersama terutama pelajaran fisika dan kimia. Karina cuek saja duduk di sampingku tapi aku rasanya hampir kena serangan jantung apalagi kalau Riana menangkap basahku menatap Karina makin jadi-jadilah pacuan detak jantungku. Riana sering cemburu dengan Karina yang memang sering menghabiskan waktu belajar denganku apalagi entah kebetulan atau apa kami sering berada di kelompok belajar yang sama. Mengenai Karina dia sama sekali tidak merasa terganggu sama sekali bahkan ketika Riana terang-terangan menunjukkan rasa cemburunya dia adem-adem aja seperti tak terjadi apa-apa.

Karina baik pada semua orang dan itu sukses membuat cowok-cowok pada baper dan para cewek kagum tapi ekspresi Karina itu loh lempeng aja. Seperti cewek pada umumnya dia juga sering merengek dan kalau marah dia bicara sangat cepat seperti orang ngerep, dan orang tempat melampiaskan kekesalannya adalah Aji cowok yang ku kira pacar Karina dan ternyata mereka hanya teman sejak masuk SMA. Setiap hari Karina dijemput sopir dan kalau tidak dijemput maka Aji akan mengantarnya hingga naik angkutan umum setelah itu dia kembali ke sekolah membawa motornya. Melihat kebaikan Aji aku tebak pasti Aji suka pada Karina tapi dia gak berani ngungkapin mengingat Karina akan menjauh dari cowok yang ketahuan mencintainya.

Sebagai sesama cowok aku bisa melihat cinta Aji untuk Karina bahkan dia bela-belaan melakukan apa saja yang bisa membuat Karina nyaman. Jabatanku sebagai ketua kelas dan Karina sebagai sekretaris membuat kami sering pergi bersama mengurus segala kepentingan kelas kami bahkan para guru yang sering menyaksikan kebersamaan kami menyebut kami pasangan yang cocok. Harus ku akui aku merasakan perasaan lebih pada Karina tapi yah mau bagaimana lagi Karina sama sekali tidak mengerti sinyal-sinyal yang ku berikan padanya, entahlah dia polos, bodoh atau pura-pura tidak tahu. Sejujurnya aku juga merasa bersalah atas perasaan ini mengingat aku masih punya Riana sebagai kekasihku.

Tahun terakhir di SMA terasa begitu cepat berlalu bagiku, entahlah karena begitu banyak kesibukan yang ku jalani atau karena aku terlalu bahagia dengan hidupku hingga sekarang tinggal menghitung hari menuju kelulusanku. Hubunganku dan Riana masih baik-baik saja meskipun kita sering cekcok dan Karina dia jarang datang ke sekolah setelah semua ujian selesai dari rumor yang aku dengar dia akan kuliah di Australia bareng kakaknya yang udah lama menetap di sana. Mengenai perasaanku tentu saja rasa cintaku pada Karina masih ada malah semakin besar dan sulit untuk ku kendalikan. Sebelum kelulusan kami mengadakan wisata ke taman hiburan, saat di bus aku duduk tak jauh dari Karina yang duduk di samping Aji dan di sebelahku tentu saja ada Riana yang mengoceh terus dari tadi. Aku tak terlalu menghiraukan Rania karena aku lebih kepo pada obrolan Karina dan Aji.

“Rin, kalau misalkan ada seseorang yang benar-benar mencintaimu, kamu mau gak jadi pacarnya?”
“Gak mau, aku gak mau pacaran aku mau langsung nikah aja,”
“Kalau begitu kamu mau nikah denganku?”
“Tanya aja ke orangtuaku.”

Aku tersenyum mendengar ucapan Karina ternyata dia belum berubah masih sama seperti Karina yang ku kenal dulu. Aku terus memperhatikan Karina hingga Riana mencubitku dan memintaku untuk memperhatikannya. Aku berbalik dan tersenyum pada Riana tak lupa aku juga minta maaf padanya. Sepanjang perjalanan hingga tempat tujuan aku terus memperhatikan Karina yang sedang bercengkerama dengan Aji, entahlah ada sedikit rasa sakit ketika melihatnya tersenyum pada cowok lain seperti itu. Saat di taman bermain Karina dan Aji tak pernah jauh, itu membuatku cukup uring-uringan dan puncaknya Riana marah padaku karena aku ada bersamanya tapi hati dan pikiranku ada di tempat lain. Riana marah besar dan neninggalkanku, aku tak berusaha mengejarnya dan malah kembali memandang Kirana.

Semakin hari cintaku untuk Karina semakin besar bahkan saking nekatnya aku berani datang ke rumahnya ku pikir dia harus tahu perasaanku, walaupun aku pasti ditolak. Hubunganku dengan Riana juga sudah berakhir dan aku rasa ini saat yang tepat untuk menyatakan cintaku. Aku datang ke rumahnya dan betapa kagetnya ternyata Karin sudah bertolak ke Ausi beberapa hari lalu, hatiku hancur saat itu juga. Cintaku yang belum sempat diucapkan akhirnya harus layu sebelum berkembang tapi aku tak pernah menyesal mencintai Karina, justru aku bersyukur setidaknya masa SMA-ku berakhir dengan baik.

The End

Cerpen Karangan: Nina
Facebook: Min Hyu Na

Cerpen My Girl merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hafalan Al Qur’an

Oleh:
Sang surya menampakkan cahaya menyinari setiap sudut kota. Gadis dengan rambut diikat tanpa berponi memoles wajah dengan bedak tabur. Tersenyum di depan kaca sembari menghafal surah Al Qur’an yang

Putra Sang Dekan (Part 2)

Oleh:
Bulan berlalu, daun berguguran, burung-burung berkicau (hubungannya? kagak ada sih) Reva akhirnya tiba pada sesi sidang keduanya. Wacana perjodohan kak ikwan dan nunung lenyap bak ditelan bak mandi. Nunung

If You Know

Oleh:
Aku sangat paham mengapa dulu kamu dan ibu mu sangat menyayangi dia. Dia memang sangat menarik, dia pintar mengambil hati mu, keluargamu dan teman teman mu. Kalian memang serasi.

Kutemukan Bahagia Baru

Oleh:
Malam ini aku menangis lagi “iya sayang itu semua benar aku sudah dekat dengannya sejak desember tahun lalu” kata-kata itu selalu teringat olehku dia masih berani memanggilku sayang dengan

Tak Kusangka

Oleh:
“Nengsih, kamu ikut Hendro!” Kata mandor Arman pada gadis itu. Aku terkejut. Antara senang dan grogi. Bagaimana tidak grogi, dari awal aku melihat dia tadi detak jantungku mendadak berdegup

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *