My Secrets

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 28 October 2017

Rhythm begitu indah terdengar. Genre musik apapun terdengar sama indahnya walau makna berbeda. Untuk malam yang sepi, hanya ditemani rhythm indah. Cerita hidup yang tak patut ditiru. berhenti melakukan hal yang terlihat memalukan. Cerita yang aku pun baru sadar kalau ini adalah ceritaku.

Sudah sejak lama aku memendam sebuah rasa. Menyerah terjadi setiap kali berfikir, namun percuma cinta yang berharga ini terus membangkitkanku. Begitu mudahnya mencinta lagi setelah tersakiti beberapa kali. Hingga sulit untuk membencinya. Sulit kubisa, dan sangat sulit untuk menuruti apa kata orang-orang yang menyayangiku. Ini lebih sulit dari memahami banyak rumus fisika, sulit dimengerti. Setengah hati maju setengah hati lain ingin mundur. Kurasa kaki ini berjalan maju, tak mundur menuruti kata hati yang lain. Walau duri melekat erat di jalan itu, terasa sakit, tapi hati yang lain ingin terus maju walau kenyataannya hanya diam di tempat. Hanya aku yang ingin maju, sedang sasaran di depan sana terus menjauh hingga tak terlihat.

Duduk di koridor dengan sahabatku yang bernama ghina. Menikmati hujan yang membuat kami tak melangkahkan kaki.
“Kau mau cerita lagi?” Tanya ghina dengan tekanan pada pengucapan kata “lagi”. “Ada, tapi mungkin kau bosan mendengarnya” jawabku dengan tertawa kecil. “Tepat sekali” ujar ghina semangat dengan tertawa. “Hmm, sudah kuduga. Aku sendiripun bosan bila dia terus melintas di otaku” lanjutku yang menatap datar ke hujan di depan sana.

Kurasa hujan begitu membakar seluruh kulitku. Tanganku kaku, lidahku kelu entah apa yang harus aku katakan. Batu berukuran besar seakan duduk di dalam hati, membuatku sesak. Hujan bagai teman yang mengerti, menutupi tangisanku yang deras. Dengan wanita tua itu, dia duduk dengan tawa mereka. Wajah mereka terlihat bahagia. Aku merasakan hujan dengan kedua tanganku, menggenggamnya agar tak terjatuh lagi. Menangis di bawah hujan. Tak peduli badanku basah kuyup karena diperlambat langkahku, hanya untuk memastikan mata minusku tak salah melihat.

Tak pernah terbayang akan seperti ini. Akhirnya apa yang aku takutkan terjadi. Namaku hilang diterpa waktu. Karena apa? Atau mungkin karena wajahku jarang ia lihat. Dunia yang begitu kejam, aku menunggunya dengan harap yang nyatanya kosong. Dia membuang namaku begitu saja. Jawaban yang tak menggunakan kata-kata, namun terasa begitu pahit. Sakit menyelimuti bagai selimut tebal, sesak serasa tenggelam di laut bebas. Tak bisa kuteruskan kesabaranku. Dunia ini pun tak sabar menunggu dia duduk berdua denganku, hingga duduk dengan wanita tua itu. Ada dalam jiwa, api yang membara. Dunia yang berbeda alasannya, tapi bukankah aku dan dia tinggal di bumi yang sama?

Ghina setia menungguku, membujukku. “Semuanya telah terjadi san, sudahlah kau bisa mendapatkan yang lebih dari juan” ucapnya mengusap bahuku. “Tapi aku hanya cinta dia ghin” jawabku dengan pelan. Tangisan pertama untuk seorang laki-laki. “Ya, tapi ayolah move on san” ucap ghina menyemangatiku.

Hadirnya cukup lama, 640 hari kuhitung mengenalnya dari jauh. Semuanya hilang karena suatu alasan yang tak pernah ia katakan. Kesedihan yang mendalam karena apa yang dia lakukan. Merasakan hal yang tak pernah terbayangkan. Bayangkan bila dia jadi aku, terhempas begitu jauh. Dia berjanji akan menungguku, tapi nyatanya tidak. Bayangkan sekali lagi, aku pun menjaga cinta hanya untuknya. Tapi bayangkan untuk yang terakhir kalinya dia menggoreskan status dengan wanita tua itu. Hanya 640 hari tapi meninggalkan luka begitu mendalam.

Seperti bunga yang layu karena waktu, apa cintanya pun seperti bunga? Untukku, dia berkata mencintaiku dan akan menungguku. Beberapa menit kami habiskan untuk berbicara dari hati ke hati, hingga waktu singkat itu tak lagi berarti. 00:18 yang selalu kucantumkan di statusku kuhapus. Kini tak ada “00:18” di statusnya, berganti dengan nama wanita tua itu. Aku tak tertidur di waktu malam itu, itu bukan mimpi. Pesan pertamanya untukku. Aku cinta dia, sebelum pesan itu kuterima. Tapi apa daya, aku sudah istiqamah untuk tidak pacaran.

Aku kembali menerawang jauh ketika hujan turun. Rindu tatapan singkat karena lupa menundukan pandangan. “Berkelanalah, jangan diam” ucap ghina yang duduk di sampingku. “Aku sedang berkelana, pikiranku” jawabku yang tersenyum tipis. “Aku tau, kau beranjak pada kenangan singkat dengan laki-laki brengsek itu” ujar ghina yang terlihat tak senang. Aku hanya tersenyum tipis dan berkata “hmm”

Aku menggeram kesal, apa salahku? Aku tak mengatakan apapun hanya berkata jujur. Berpadunya dua insan, insan yang lain terpental jauh. Burung itu tak lagi bernyanyi untukku, dia meneriakiku. Kututup mulutku rapat-rapat, tapi dia dengan mudah membuka mulutnya lebar.

Dia marah padaku, karena aku berkata jujur. Salahkah bila aku berkata jujur? Aku hanya menjawab “ya” ketika pacarnya bertanya “apa kau pernah dekat dengannya?” “Apa juan pernah mencintaimu?” “Apa kau mencintainya?” “Apa aku merusak semuanya?”. Itu semuanya benar, aku pernah dekat dengannya, dia pernah berkata mencintaiku, aku pun mencintainya dan yang terakhir pun benar kalau bagiku wanita tua itu adalah perusak.

“Juan lagi?” Tanya ghina yang tiba-tiba datang ke kamarku. “Ya” jawabku “dia berkata kalau aku terlalu berlebihan menyikapi semuanya” lanjutku yang tersenyum tipis. “Tanpa tangisan lagi?” Tanyanya. “Apa berguna tangisan itu?” Tanyaku menatap ghina dengan wajah ceriaku yang kuada-adakan. Ghina pun memelukku dengan erat, karena air mata telah menggenangi kelopak mataku.

Aku yakin tanda tanya begitu besar berdiam di atas kepala juan. Dia tak akan pernah menyangka akulah yang mengirimnya. Aku pun malu pada diriku sendiri. Tapi aku sungguh tak tahan. Ketika aku menulisnya, begitu ringan menggerakkan tanganku. Jawabannya hanya singkat saja, dengan semua ancamanku. Hampir aku tertawa lepas ketika dia menjawab “ini siapa?” Ini adalah teka-teki. Tak akan menemukan jawaban, karena dia tak akan menyangka kalau akulah pelakunya. Mungkin dia menyangka kalau satu dari puluhan wanita yang mengejarnya, pengirim pesan itu.

Akulah si pengirim pesan yang setia mengancam setiap harinya. Menerornya dengan pesan, mengacam kalau dia memblokir akun instragramku aku akan melakukan suatu kejahatan pada keluarganya. Maafkan, aku pun merasa malu pada diriku. Tak ada yang bisa aku lakukan selain ini. Ku hanya bisa membuat instragram baru untuk meluapkan kekesalanku yang telah menggunung. Semua karena kekejamannya, membuangku seperti sampah. Berkata kalau aku berlebihan menyikapi semuanya. Yang lebih menyakitkan, dia memutuskan aksesku untuk sekedar mencintainya dari jauh. Memblok akun instagramku karena aku berkata jujur pada wanita tua itu. Bayangkan bagaimana jadi aku? Ditinggalkan begitu saja, dan sulit memberontak. Aku menangis setiap kali mengirim dm (direct messenger) itu, walau tawa tak kupungkiri hadir.

Ini adalah rahasiaku, di pesan terakhirku aku berkata aku akan jujur. Menjadi pengirim setia setiap harinya selama 5 bulan, tak lelah karena sakit yang mendalam. Jam dinding di kamarku menjadi saksi, butuh waktu yang lama untuk mengetik. Kumaki diriku sendiri karena kelakuan burukku, tapi entahlah aku merasa lega setelah mengirim pesan itu. Apalagi ketika dia membacanya. Hanya aku dan allah yang tahu, aku terpaksa melakukannya.

Cerpen Karangan: Renita Melviany
Facebook: Renita melviany’s blog

Cerpen My Secrets merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dia Untuk Sahabatku

Oleh:
“Imell..” panggil seseorang dari belakangku. “Eh Ferro, kenapa?” tanyaku . “Nggak apa-apa, tahu gak?” Ferro membuatku Kepo. “Nggak, Emang A…” Belum selesai ku ngomong Ferro udah meninggalkan tempat ini.

PHP

Oleh:
Tidak bisa dilihat, tidak bisa dipegang tapi bisa dirasakan. Dirasakan bukan berarti mengecap, bukan lidah yang merasakan. Sakitnya hati seorang cewek saat diberi harapan palsu itu sudah tidak dapat

Patah Hati

Oleh:
“Mami, Mima berangkat dulu ya..” Ucap Mima kepada Maminya. “Iya.. Hati-hati ya di Bekasi,” Pesan Mami. Mima hanya mengangguk kecil sambil menebarkan seulas senyum manis. Sesampainya di Bekasi, Mima

Usaha Yang Tak Berujung Indah

Oleh:
Cinta, cinta, cinta dan cinta. Itulah yang aku rasakan saat ini. Pasti semua orang pernah merasakan rasanya cinta kepada seseorang yang spesial bagi kita, tidak memandang wajah, fisik, harta

Kau dan Dia, Aku dan Dia

Oleh:
Mereka berdua saling tatap, tak sabar ingin mengetahui kata apa yang akan diucapkan. Pada awalnya Iben mengajak salah satu sahabatnya, Odie untuk mengisi sebuah kekosongan, kehampaan semata. Di sebuah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *