November Akhir Penantianku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 16 June 2017

Akhir November 2015, aku berhenti mengharapkannya dan mencintainya. Setelah 5 tahun aku mempertahankan perasaan ini padanya, dan berharap ada kesempatan untuk kembali karena kesalahanku di waktu itu.

Hari demi hari aku mencoba menghindari kekaguman, itu hanya sebatas Guru dan murid. Hanya kufokuskan pada sekolah.
Sejak aku duduk Kelas I SMK, aku mulai sedikit mengaguminya, ada rasa ingin mengenalnya lebih dalam. Tapi itu hanya sepintas di pikiranku. Yah, karena ku sadar aku hanya seorang murid, sedangkan ia seorang Guru. Tak mungkin ia bisa jatuh cinta padaku. Kuhempaskan rasa, dan berlalu.

Seiring berjalannya waktu, tanpa sadar diam-diam dia mengagumiku. Pak Firman, dia guru komputer sekaligus guru termuda di sekolahku. Waktu itu, aku duduk di bangku kelas 2 SMK, setiap kali aku bertemu, dia selalu tersenyum dan menyapa, begitupun aku sebaliknya.

Pagi itu, saat aku pergi ke kantor untuk menemui guru matematika, Pak Deni. Saat di kantor Pak Firman memujiku, berkata “Sepertinya siswa di kelas 2 Tkj 2 yang penurut cuma Ita doang ya? Biasanya yang nurut pasti sukses.” Lalu aku hanya tersenyum saja dan merasa heran dengan tingkah Pak Firman, tumben-tumbennya dia berkata seperti itu. Ada getaran yang tak bisa aku mengerti saat ia memujiku, aku terkesima olehnya. Lalu, segera kupalingkan perasaan ini.
Ah, ini Cuma kekaguman saja, enggak lebih. Dah deh, sadar diri Ita. Kataku di dalam hati. Tanpa berpikir panjang segera aku meninggalkan kantor tersebut, tak mempedulikan perasaanku dan Pak Firman.

Hari demi hari aku semakin dekat dengannya, semakin peduli ia terhadapku. Setiap kali aku keluar kelas dan duduk sendirian, dia selalu menemaniku, bahkan aku siswa yang paling dia percayai. Namun, kebaikan dan kepedulian dia telah aku abaikan, dengan alasan saat itu aku sudah punya pacar. Padahal aku memiliki rasa padanya.

Tanpa sadar waktu terus berjalan dan berganti. Saat aku duduk di bangku kelas 3 SMK, saat sekolah mengikuti Lomba Olimpiade Sains Tingkat Kabupaten Tegal, aku ditunjuk untuk ikut serta, ini pertama kalinya aku ikut Lomba dengan rasa senang dan takut gagal, aku berusaha belajar dengan sungguh-sungguh berharap aku bisa lolos ke babak selanjutnya.

Pagi itu, aku bersama guru fisika beserta guru dan murid lainnya berangkat menuju lokasi Lomba Olimpiade Sains Tingkat Kabupaten Tegal. Ada rasa takut dan gelisah ketika memasuki gedung tersebut.
Setiba di sana, aku berserta teman-teman dan guru-guru bersama-sama mencari ruang kelas Lomba Olimpiade Sains lalu aku mendapati ruang tersebut, aku berada di urutan nomor 4, duduk di kursi paling ujung.

Selang beberapa menit kemudian waktu yang ditentukan telah habis, menandakan Lomba telah usai, aku beranjak meninggalkan ruangan dan berkumpul di Aula bersama guru-guru dan teman-temanku. Setelah semua berkumpul, kami pun beranjak untuk pulang kembali ke sekolah. Tapi aku bingung dengan siapa aku pulang? Aku pun memilih menunggu di luar gedung, siapa tahu ada yang datang menjemputku. Tak lama kemudian Waka Kesiswaan, Pak Agung datang menjemputku.

Setiba di sekolah kulihat Pak Firman ada di belakangku, seraya berkata, “Orang yang mau aku jemput ternyata sudah pulang lebih dulu.” Lalu, aku hanya tersenyum saja, tanpa memberikan penjelasan apa-apa.
Dia pun terus memandangku, aku semakin merasa bersalah, kenapa aku hanya diam? Enggak memberikan penjelasan, bodohnya aku ini, tak punya keberanian untuk terus terang.

Semenjak itu, hubungan kami mulai renggang, kami larut dengan aktivitas masing-masing. Tidak ada lagi senyum, dan sapaan saat bertemu, tidak lagi saling memuji. Hingga hari berganti hari, aku merasa heran dengan keadaan ini. Apa aku salah?
Setiap bertemu, dia selalu menghindar, dia kenapa? Kenapa jadi kaya gini? Keadaan ini membuat aku gelisah, ingin rasanya aku menegurnya dan menanyakan kenapa dia berubah? Apakah aku sudah melukai hatinya? Sayangnya, aku tidak berani untuk menemuinya, sampai akhirnya 5 tahun berlalu, aku masih dilema karenanya.

Sempat aku berusaha untuk menghubunginya, berkali-kali kutelephone tak ada jawaban, lalu kucoba untuk mengirim SMS,
“Assalamu’alaikum, maaf mengganggu sebentar. Saya Ita Alumni siswi kelas XII Tkj 2. Gini, tadi pagi saya menelepon bapak berkali-kali, ada hal penting yang ingin saya sampaikan ke bapak. Tapi tidak ada jawaban dari bapak. Bolehkah saya minta waktu bapak sebentar?”
Kukirim pesan singkat ini, gelisah menanti balasan darinya, lama menunggu, tak ada balasan juga.

Lalu, kucari informasi dari teman-temannya. Namun, hasilnya tetap sama dan yang lebih mengejutkannya lagi, kudengar dia sudah ada wanita lain yang mengisi hatinya.
Berita ini sungguh membuatku shock, seperti mendengar petir di siang bolong. Aku rasakan langit mau runtuh. Sakitnya tidak hanya di hati, tetapi juga di seluruh tubuhku. Dadaku benar-benar sesak. Aku mati rasa.
Apa semudah ini dia lakukan padaku? Apa sebesar ini kesalahanku? Sampai-sampai ia tidak memberikan kesempatan. Setelah 5 tahun lamanya aku memendam perasaan dan menjaga perasaan ini hanya untuknya.

Aku akui, aku memang salah, membiarkan kesalahpahaman ini berlarut begitu lama hingga tak ada waktu untuk kembali. Aku menyesal telah menyia-nyiakannya dan tak mengakui perasaanku sendiri, aku pun mencintainya. Tapi semua sudah berubah, mungkin dengan aku melepaskannya, dia bisa lebih bahagia lagi. Aku sadar, ada hal-hal yang tidak bisa dipaksakan. Masa lalu biarkanlah menjadi pembelajaran untuk hidup yang lebih baik lagi.

Cerpen Karangan: Path Metamorfouse
Facebook: Patmawati (Path Metamorfouse)

Cerpen November Akhir Penantianku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Waktu, Aku Dan 8 Tahun

Oleh:
Siapa bilang waktu itu mutlak? tidak!! waktu itu relatif, tergantung apa yang kau bicarakan. Kau bicara rindu maka sehari itu akan sangat lama, kau bicara pertemuan, maka sehari bisa

Cinta Tak Harus Memiliki

Oleh:
Ayam berkokok pun berbunyi matahari pun mulai terbit dalam lamunanku aku masih di atas kasurku namun aku masih mengantuk aku membuka mata untuk segera mengambil handuk dan menuju kamar

Me and My Beloved

Oleh:
Aku tidak henti-hentinya memainkan pulpen yang ada di tangan kanannya. Mataku menerawang, dia tidak sedang fokus kepada pulpen itu. Lalu cerita 23 jam yang lalu kembali terputar di otakku.

Memilih Jalan Gelap

Oleh:
Saat di sekolah aku melihat randy sedang berdiri di kelas IX G, dia sedang melihat siswa yang berolah raga hari ini bermain sepak bola. Aku terus menatapnya sampai dia

Tangisan Harum Mawar

Oleh:
Tetesan hujan yang mengguyur bumi menjadi saksi buruknya takdirku. Di antara tetesan air hujan, aku menangis. Tanpa memedulikan berapa liter air mata ini ku keluarkan. Teringat kisah cintaku dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *