Patah Hati Pertamaku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 5 February 2018

Pagi ini, mentari mulai muncul dari ufuk timur. Malu-malu, memancarkan sinar kemerehannya. Sepertinya, ia bergegas bangun. Kembali bertugas menggantikan sang rembulan.

Aku pun begitu, wajahku sepertinya kemerahan. Malu-malu, hari ini adalah hari pertamaku masuk SMA. Sebenarnya bukan malu, hanya sedikit depresi. Karena aku berada di sekolah yang bahkan tak ada di daftar keinginanku.

Ditemani merahnya mentari, aku meminta Mama untuk mengantarkanku. Yaaa mungkin ini salah satu bentuk depresiku. Untungnya, Mama tidak keberatan untuk menerima tawaranku. Aku meminta Mama untuk mengantarku hingga gerbang sekolah. “Akankah ini menjadi gerbang menuju kebahagian, atau sebaliknya?”. Hati kecilku berisik, tidak mau menerima keadaan.

Mentari mulai memudarkan warna kemerahannya, tapi tidak dengan wajahku. Karena hati ini amat berisik, mengajak perang, tidak mau kalah. Mungkin karena hatiku sedang perang, segala keringat dalam hati tiba-tiba muncul ke permukaan. Di kedua pelupuk mataku. Untungnya, mata ini menolak untuk mengeluarkannya. Hanya tertahan, kemudian menguap, kemudian hilang.

Apa dayaku yang menginginkan bersekolah ke SMA Negeri, namun nilai ujian nasional yang menjadi penentu ternyata menggagalkan semuanya. Hanya kurang 0,1 saja. Tetap membuatku didepak dari kursi SMA Negeri. Bak tertusuk duri, kaki ini tidak sanggup lagi melangkah, mencari sekolah. Kuserahkan urusan ini pada Mama. Terserah Mama. Dan ternyata Mama mengirimku ke sini. Ke SMA swasta, yang membuat hatiku seakan berperang. Ya, inilah SMA Wiralaya.

Hari demi hari, rangkaian ospek, perkenalan senior, membuat surat cinta, pertukaran kado, sudah terlewati. Hatiku mungkin sudah lelah berperang, egonya kalah dengan keadaan yang sudah tidak dapat di ‘bagaimanakan lagi?’.

Kegiatan belajar pertama di SMA dimulai. Semuanya diawali dengan pembentukan organisasi kelas. “Ayo, siapa yang mau bantu Ibu di depan, bantu menulis?”. Ucap wali kelasku, Ibu Wijaya.
Entah kenapa semua diam membisu terpaku dan tertunduk. Jelas-jelas itu adalah gelagat pertanda menolak. Aku yang enggan berlama-lama, ingin bergegas pulang kemudian menangis di kamar karena tidak terima akhirnya memberanikan diri, mengacungkan tangan, menawarkan diri. “Saya Bu”. “oh boleh sini nak, bantu Ibu di depan”, jawab Ibu Wijaya dengan senyum manisnya.

Aku pun mulai memimpin pemilihan ketua kelas dan petugas kelas lainnya. Sepertinya aku membutuhkan orang yang mau membantu. Tak perlu lama, seorang lelaki tinggi berkulit putih menawarkan diri untuk membantu. Tentu, aku tidak keberatan.

Diskusi berjalan dengan lancar, akhirnya terpilihlah si putih tinggi sebagai ketua kelas kami. Kelas X-1 yang ‘katanya’ adalah kelas unggulan. Ah, aku tidak yakin.

Meski perang dalam hati sudah berakhir, namun sisa-sisa perang itu masih terasa. Semuanya berangsur-angsur membaik karena aku punya teman-teman yang sangat menyenangkan.
Saat ini, yang menjadi fokusku adalah mengikuti ekstrakurikuler yang ada di SMA ‘tercinta’. Pilihanku jatuh pada ekskul Paskibra. Mereka keren, gagah, dan terlihat bermental ‘baja’.

Pilihanku mantap, tidak goyah. Sampai akhirnya diadakan pemilihan Palu dan Bulu. Apa itu?. “Palu itu pemimpin kalian, para bakal calon paskibra putra. Kalau bulu untuk putrinya. Pak lurah dan Bu lurah. paham?” jelas salah satu senior. “Siap paham!” jawab kami kompak.
“Interupsi, izin memperkenalkan diri. Nama saya Althea Putri. Nama panggilan Aleth. Visi saya menjadikan Paskibra sebagai ekstrakurikuler yang maju, berkembang dan teraktif di SMA Wiralaya. Misi saya menjadikan kerja sama dan kekompakkan sebagai ciri khas bakal calon paskibra. Menempatkan rasa saling menghargai di atas segalanya. Sekian terimakasih”.

Ya, namaku Althea Putri, tak ingin dipanggil Althea, apalagi Putri. Panggil saja Aleth. Aku lagi-lagi maju, karena kekurangan kandidat. Tak apalah ‘berkorban’ lagi, daripada harus terus mendengarkan omelan senior yang memberlakukan 3 pasal. (Haarr.. 3 pasal apanya!).

Setelah melakukan perkenalan, kemudian semua menyumbangkan suara, menuliskan nama kandidat yang dipilihnya di atas gulungan kertas. Apalah dayaku, yang ternyata diberi amanat untuk menjadi Bu lurah. Bu lurah bertanggung jawab atas kelangsungan hidup para balonpas. Uang kas, memberi izin, menerima izin, menghukum, laporan perkembangan anak buah, kegiatan sehari-hari. Arrggghh!

Setelah pemilihan selesai, semua anggota menyalami Palu dan Bulu baru mereka. Lalu kemudian aku yang berjabat tangan dengan si Palu, sebagai tanda komitmen untuk terus bekerja sama. Dia adalah Dennis.

Setiap hari selasa, kami selalu berlatih. Melawan teriknya matahari, tetap memegang komitmen untuk menjadi ekskul yang eksis. Kadang hujan turun, tapi tak sekalipun kami bubar dari lapangan. Kami melanjutkan latihan, tetap dalam barisan. Mempertahankan senyum ‘aaaaseeem’ kami, bersama hujan dan genangan air. Kami tidak berhenti, malah kesemuanya itu membuat kami menikmati. Betapa indahnya kebersamaan dan kekompakkan. Dalam kondisi apapun, asalkan tetap bersama-sama pasti akan menyenangkan.

Tentu saja hal itu tidak akan terwujud tanpa adanya koordinasi yang hebat antara Palu dan Bulu, hahaha. Aku dan Dennis, selalu memikirkan cara. Bagaimana agar kami semua tetap ber-enambelas. Tentu itu tidak mudah. Aku dan Dennis selalu pulang bersama-sama selepas latihan. Membicarakan perkembangan anak buah kami yang semakin hari semakin luarrrr biasa. Tentulaaah, kami bangga!

Dennis, lurah kita semua. Adalah lelaki berbadan tinggi kecil, berwajah sangar dan berkulit eksotis. Namun, wajah sangarnya sangat menipu. Dennis, si aneh tukang mengeluh. Haha.

Pembicaraanku dengan Dennis tidak hanya soal keberlangsungan hidup anak buah. Tetapi juga soal kehidupan kami. Dennis banyak menceritakan tentang dirinya yang mulai tidak akur dengan kekasihnya. Tapi tidak denganku, aku tidak punya cerita seru. Lebih seru jika mendengarkan Dennis yang bercerita.

Cerita yang paling kuingat dari Dennis adalah ketika ia hampir saja diputuskan oleh kekasihnya, gara-gara Dennis tidak membalas sms kekasihnya. Saat itu Dennis sedang latihan Paskibra bersama kami. Mana sempat membalas? Cerita itu, setiap kali mengingatnya aku pasti tertawa geli bahkan terbahak-bahak.

Ya, kekasih Dennis adalah perempuan yang disinyalir ‘tercantik’ seantero SMA. Bahkan mungkin sekampung sekecamatan. Delila namanya. Belakangan hubungan Dennis dan Delila renggang, karena Paskibra. Ironi memang.

Dennis meminta aku untuk membantu menyelesaikan permasalahannya. Dengan cara apa? Dia memintaku agar mengurangi jadwal latihan. Oh oh oh.. tentu saja tidak bisa. Untuk mencapai tujuan kami, menjadikan Paskibra sebagai ekskul tereksis, semua anggota sepakat untuk menambah jadwal latihan. Tadinya hanya hari selasa saja, kemudian ditambah dengan hari kamis dan jum’at. Tidak ada yang keberatan, termasuk Dennis.

Dennis sepertinya menyerah. Melihatku yang enggan untuk membantu Dennis dengan cara seperti itu. Dennis mulai ego, mementingkan urusan sendiri diatas kepentingan banyak orang. Jelas-jelas ini bukan motto kami.

Seperti itulah Dennis, dibalik wajah sangarnya, ia selalu terlihat kalah di depan Delila. Dennis melarangku untuk menyebarkan kasusnya kepada para balonpas. Jika mereka tahu, mungkin Dennis akan kehilangan julukan ‘Palu terbijak’. Itu mengerikan bagi Dennis, pasti.

Dennis selalu meminta saran dan petuah dariku yang sebenarnya sok tau perkara cinta. Dennis mempercayaiku, karena ternyata saran-saran yang diberikanku pada Dennis selalu berjalan dengan mulus. Aku senang dapat membantu Dennis.

Hari demi hari berlalu, masih ber-enambelas menghabiskan siang, menyaksikan matahari lungsur. Aku dan Dennis pun semakin dekat.

Belakangan ini Dennis sepertinya jarang menceritakan Delila, kekasih yang bersamanya sejak enam bulan lalu. Mungkin Dennis khawatir aku bosan. Padahal tidak sama sekali Dennis, aku akan tetap mendengarkan ceritamu. Tentang apapun itu.

Ternyata sikap Dennis pun makin hari makin berbeda. Padaku khususnya. Setelah enam bulan menjadi Palu dan Bulu. Baru kali ini Dennis memanggilku Althea, bukan Aleth seperti biasanya. Aku tidak suka dipanggil Althea, karena nama itu hanya akan disebut ketika Mama memarahiku. Tapi dalam kasus ini, aku malah merasa khawatir terhadap Dennis. Khawatir ada yang tak beres dengan dirinya.

Aku dan Dennis tidak menghilangkan kebiasaan untuk pulang bersama-sama selepas latihan. Bahkan akhir-akhir ini Dennis sering memintaku untuk menemaninya di pinggiran tanah hijau. Dennis tidak banyak bicara. Hanya terpaku melihat hamparan rumput hijau yang luas.

Sampai pada akhirnya, ini adalah kali pertamaku menangis karena tingkah Dennis. Bagaimana mungkin, Dennis rekan kerjaku mengungkapkan satu paragraf perasaannya padaku. Aku ingat betul, apa kata Dennis. Pohon-pohon yang menari dibawah birunya langit seakaan menjadi saksi kejadian hari itu.

“Althea, terimakasih karena telah menemaniku sejauh ini. Kamu adalah orang yang selalu menerima keluh kesahku. Menggantikan setiap luka dengan tawa. Kamu menghiburku. Memberiku saran, memberiku kebahagiaan. Althea kamu harus tahu, aku sebenarnya sudah meninggalkan Delila sejak tiga bulan yang lalu. Aku tidak bisa berhenti memikirkan dirimu bahkan saat dengan Delila. Aku merasa nyaman dekat denganmu, aku merasa kau adalah tempatku menemukan kebahagiaan. Aku membohongi diriku dan Delila. Sebenarnya hatiku lebih memilihmu. Althea, aku tidak ingin kau hanya sekedar rekan kerja atau teman berbagi saja. Aku ingin kamu, A l t h e a, menetap di sini, di dalam hatiku. Ternyata cintaku ada untukmu, Althea.”

Aku berusaha mencerna perkataan Dennis, tapi entah kenapa tiba-tiba tubuh ini bermandikan peluh. Semua terasa kaku, aku rasa aku akan jatuh. Tapi aku berhasil mengendalikan segalanya. Aku menjawab pernyataan Dennis dengan sedikit candaan. “ahaha Dennis, rupanya kau terlalu mabuk Delila. Omong kosong apa ini? Sudahlah, lebih baik kamu pulang dan beristirahat. Besok kita harus latihan lagi. Aku duluan ya Dennis!”
Aku pulang mendahului Dennis. Sedangkan Dennis masih diam terpaku di bawah langit nan biru. Benar saja, tangisku pecah di dalam kamar. Mencoba mencerna perkataan Dennis. Tapi entah kenapa hati ini terasa sakit, berasa di kepal sekencang-kencangnya. Ini lebih bergemuruh dibanding perang hati sebelumnya.

“Bagaimana mungkin Dennis, kau berkata seperti itu. Aku tidak ingin menjadi siapapun bagi dirimu kalau bukan sebagai temanmu. Aku hanya ingin menjadi temanmu, sahabatmu, tempatmu berbagi dan bercerita. Ya aku akui, bahwa perasaanku padamu sama. Seperti perasaanmu, Dennis pada ku. Bahkan kau bisa menggeser Randi, yang jelas-jelas telah terlebih dahulu mengungkapkan perasaannya padaku. Bagaimana ini Dennis, sebenarnya aku menderita!”

Dia adalah Randi, ketua kelas X-1. ‘Si putih tinggi’, tepat satu bulan yang lalu menyatakan perasaan yang sama dengan yang dikatakan oleh Dennis. Namun, perasaan Randi aku tolak mentah-mentah. Karena sebenarnya hatiku pun jatuh kepada Dennis.
Itulah alasan kenapa saranku kepada Dennis soal Delila selalu mulus. Itu sebabnya! Kadang aku membayangkan diriku sebagai Delila! Aku terkadang ingin menjadi Delila! Walau Delila selalu membuat Dennis terlihat kacau. Tapi dialah Delila! Yang Dennis banggakan, yang Dennis takut kehilangannya. Tapi aku hanya Aleth buat Dennis. Jelas tadi itu hanya khayalanku. Aku bisa jadi iri terhadap Delila.

Ungkapan Dennis kemarin sore memang masih terngiang di telinga, hati dan pikiranku. Tapi, aku akan berkomitmen untuk tetap menjadi Aleth teman Dennis. Bukan Aleth, si pemilik hati Dennis.

Hari ini kami kembali latihan, tetap ber-enambelas dibawah terik matahari. Kami terus berlatih sepanjang siang. Hanya berhenti ketika adzan ashar berkumandang. Kemudian shalat, dan melanjutkan kembali latihan.
Aku dan Dennis kembali pulang bersama-sama. Kali ini kami pulang terakhir. Tepat di persimpangan, Dennis memegang tanganku. Dengan tatapan matanya yang tajam, Dennis bertanya. Jawaban dari pernyataannya kemarin.
Aku langsung tertawa, sambil mengajak Dennis berjalan. Aku berkata kepada Dennis bahwa aku juga mengaguminya. Tapi aku hanya ingin menjadi Aleth teman Dennis. Bukan yang lain. Dennis mencoba memahami.

Saat itu Dennis tidak banyak bicara. Mungkin orang-orang yang mendengarkan ceritaku ini akan bertanya. “Hei Aleth, kenapa kamu tidak menerima Dennis. Padahal perasaanmu terhadap Dennis juga sama dengan perasaan Dennis padamu, Aleth?”

Huuuhh, aku paham betul. Bagaimana jadinya jika aku dan Dennis menjadi sepasang kekasih. Mungkin aku benar-benar akan seperti Delila. Yang Dennis banggakan, yang Dennis takut kehilangannya. Tapi Delila juga yang selalu membuat Dennis kebingungan, tidak semangat. Itu mengerikan! Aku hanya ingin menjadi Aleth, yang selalu menghibur Dennis, membuat Dennis tertawa, mendengarkan Dennis bercerita. Aku khawatir semua itu akan hilang. Karena Dennis tidak melakukan hal seperti itu dengan Delila. Lebih menyenangkan, dan lebih bahagia jika Aleth tetaplah Aleth. Meskipun sempat iri terhadap Delila.

Beberapa Minggu setelah kejadian itu, aku dan Dennis kembali normal-normal saja. Meskipun Dennis masih saja menanyakan kenapa aku menolak dia, padahal dia sudah mencoba terus mengungkapkan bahkan sampai delapan kali. Tapi aku konsisten menjawab tidak! Jelas saja, aku tidak akan memberitahu alasanku.

Kami ber-enambelas kembali latihan. Kali ini dibawah guyuran hujan. Kami bergembira, karena ini membuat kami seakan terlahir kembali. Hujan adalah sumber kebahagiaan.
Saat kami sedang berlatih sambil menikmati hujan, tiba-tiba salah satu dari kami jatuh terkulai di dalam barisan. Ya Allah, itu adalah Dennis. Dennis seakan tumbang, tergeletak lemah. Semua kegiatan latihan dihentikan.

Aku terlihat paling khawatir saat itu. Namun para balonpas pasti tidak akan curiga, karena kami adalah Palu dan Bulu.
Aku memberikan air hangat kepada Dennis, kemudian membalurkan minyak kayu putih ke telapak tangan dan kakinya. Dennis terlihat seperti bukan Dennis.

Aku sempat menoleh ke samping kiri Dennis. Berdiri juga salah satu dari kami ber-enambelas. Dia adalah Mia. Tentu aku hafal, mereka adalah anak buahku.
Mia menatap Dennis dengan tatapan yang biasa saja, namun tak pernah berpaling. Tidak seperti yang lainnya yang hanya lalu lalang, agak apatis.
Aku tidak peduli, aku tetap duduk di hadapan Dennis. Memastikan dia baik-baik saja. Aku memperhatikan Dennis, dan aku tahu Dennis sempat melihat ke arah Mia, lalu kemudian memejamkan mata kembali.

Tak lama, tiba-tiba Mia beranjak dari tempatnya. Tanpa permisi, meninggalkan lapangan. Dennis ternyata menyadari hal itu. Entah kenapa, aku benar-benar heran dan tidak mengerti kepada Dennis.
Dennis beranjak dari tempatnya bersandar. Ia bangun dengan sigap, lalu pergi keluar lapang tanpa melihatku. Kami ber-enambelas melihat Dennis pergi.
Ketika aku susul, aku melihat Dennis berlari begitu kencang, tanpa alas di kakinya. “Hai Dennis, bukankah tadi kau tergeletak lemah di hadapan kami? Kenapa sekarang larimu secepat kilat?” hatiku bicara.
Setelah kuperhatikan, ternyata Dennis mengejar Mia yang mulai pergi dengan kendaraan umum.

Aku semakin tidak mengerti. Dari belakang, salah satu dari kami ber-enambelas yaitu Gian memukul pundakku, dan berkata “Biarlah leth, mungkin Mia cemburu, marah karena kejadian tadi”
“Apa maksudmu Gian?” aku tidak mengerti.
“Mereka resmi berpasangan sejak 15 November kemarin. Kenapa bulu sampai tidak tahu?”
Kau tahu? Hatiku hancur, bak terkena hempasan panah tajam! Tepat sasaran! Seketika remuk! Seketika hancur! Bagaimana mungkin Dennis melakukan hal itu? Padahal tepat pada hari itu, dimana langit menyaksikan, pohon ikut menari, aku dan Dennis berkomitmen untuk saling menjaga hati dan mencegah ada orang lain masuk walaupun kami hanya teman. Dennis berjanji, aku pun demikian.

Aku ingat betul, itu adalah 28 Oktober. Di pinggir hamparan rumput hijau, bersaksikan langit dan pohon yang menari. Bagaimana mungkin? Hanya 18 hari? Lalu bagaimana dengan delapan kali ia mengungkapkan perasaannya? Lalu untuk apa ia meninggalkan Delila? Bukankah untuk aku?

Aku malu terhadap diriku. Aku gagal menjadi pemimpin yang baik. Sungguh Mia, aku sama sekali tidak tahu bahwa Dennis adalah milikmu aku minta maaf. Miaaa maafkan aku yang berbuat seperti itu di hadapanmu.
Mia, aku gagal menjadi pemimpin! Tentang kau dan Dennis pun bahkan aku tidak tahu!

Untukmu Dennis, aku tidak peduli dengan semua komitmen yang kau buat! Aku tidak peduli dengan semua janjimu! SUNGGUH AKU TIDAK PEDULI! Aku benci karena kau berbohong padaku Dennis, aku benci!

Dennis bagaimana caraku mengatasi airmata ini Dennis? Setidaknya bantu aku! Aku gagal! Aku menyakiti Mia, yang jelas-jelas adalah anggotaku! Kau jahat Dennis, menyakiti dua hati sekaligus! Kau kehilangan wibawa Dennis! Di mataku kau hanya laki-laki payah yang tidak pantas dihormati. Terimakasih Dennis, ini adalah PATAH HATI PERTAMAKU!

Untukmu Dennis yang saat ini entah di mana, berhentilah berbuat seperti itu.

Dariku yang benci dipanggil Althea.
Untukmu, Dennis.
Lelaki yang hilang perasaan.

“Kembali ke kegelapan, 5 tahun setelahnya”

Cerpen Karangan: Teman Althea
Facebook: Amelia Noviantara

Cerpen Patah Hati Pertamaku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Bertepuk Sebelah Tangan

Oleh:
Waktu pertama ku masuk “SMA” terbayang sosok seorang yang berdiri disampingku yang sedang mengikuti masa orientasi siswa “MOS”. Entah siapa dia? Aku disini adalah Khanza. Setelah mos berakhir, dan

Cinta Ku Terbelenggu

Oleh:
Aku mengenalnya di tempat ini, di sebuah jalan penghubung antara dua kota yang tak layak disebut jalan poros. Jalur yang terbentang antara Samarinda dan Berau. Awalnya dimulai dari pertemuan

I am Strong

Oleh:
Apa kalian pernah jatuh cinta? Bahkan jatuh cinta tanpa alasan dan walaupun tidak pernah bertemu tetapi cinta itu tetap ada. Memang orang bilang cinta itu buta, tak kenal pada

Mawar Pertama

Oleh:
Sepulang sekolah, badanku lelah sekali. Kuraih handphoneku, lalu berbaring di tempat terempuk dan ternyaman yang kumiliki, yaitu tempat tidurku. Ku mencek medsos, sembari beristirahat. Inilah yang biasa kulakukan sepulang

Masih Ada

Oleh:
Tik… tik… tik… dentuman detik waktu membawaku berlari begitu cepat. Memaksaku untuk cepat melupakan masa lalu. Ya, masa lalu. Masa lalu yang sulit terdefinisikan. Bahagiakah? Senangkah? Sedihkah? Pilukah? Aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *