Patah Hati Terhebat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 28 July 2017

Semua orang pasti mengalami patah hati. Tapi, mayoritas patah hatinya hanya karena diputusin. Tapi tidak untuk aku, aku mengalami patah hati terhebat dalam hidup aku. Pergi meninggalkan aku dan melupakannya itu sakit.

Waktu itu, sejak aku masih kelas 7. Aku pacaran sama satu cewek. Namanya Regita. Kakak kelas yang aku suka dan dia pun berpikiran yang sama. Karena saling suka, aku pun memberanikan diri untuk menembak dia dan akhirnya pacaran. Tanggal 20 Desember menjadi saksi perjalanan cinta kita.

“Ryan, nanti pulang bareng.” ucapnya.
“Iya nanti aku jemput kamu ke kelas ya.”
Salah satu kebiasaan kita saat masih pacaran yaitu pulang bareng. Berhubung rumah dia jauh dan rumah aku dekat dari sekolah. Akhirnya aku pun menunggu sampai datang angkutan umumnya. Aku rela demi apapun untuk dia.

Aku pun merasa senang dan nyaman bersama dia. Canda tawa, sedih, senang. Menjadi pengantar hubungan kita. Sampai pada suatu hari, Regita meminta padaku untuk datang ke sebuah cafe.
“Eh kamu udah dateng?” ucap dia.
“Iyalah udah dateng buktinya aku udah di sini.” jawab aku nyeletuk.
“Ryan, aku mau ngomong sama kamu. Tapi kita santai aja yah.” ucapnya.
Dari situ, hawa udah gak enak tuh. Lalu aku menjawab, “Mau ngomong apa yah?”
“Kita santai aja yah.” ucapnya.
Dengan menarik nafas dalam-dalam. Dia mengucapkan, “Aku mau kita putus!”
Sontak, aku kaget lalu bingung.
“Putus kenapa?. Kita kan baik-baik aja gak ada apa-apa”
“Aku udah gak mau lagi sama kamu. Udah yah kita udah putus. Jadi jangan harap kita masih punya hubungan lagi.” gumam dia sembari meninggalkan aku sendirian.
Rasa cinta yang selama ini aku pegang dengan rasa nyaman akhirnya pudar. Dia memutuskan hubungan ini saat-saat aku sangat sayang sekali dengan dia.
Dia pergi menjauh dari kehidupanku dan mengubur dalam-dalam ingatan dia tentang aku.

Setelah aku putus, aku menjalani hidup biasa-biasa saja. Tanpa ada pengingat sholat, makan, dan apapun itu. Saat di sekolah, aku datang lebih awal. Kadang aku lihat kelas masih kosong. Lalu, aku membereskan beberapa kursi dan meja yang berantakan. Tiba-tiba teman aku. Olga. Datang dan masuk ke kelas.
“Bagian piket Yan?” tanya dia.
“Iya Ga.” jawab aku dengan nada pelan.
Dia adalah sahabat aku. Semua hal tentang aku dia tahu. Dia selalu memberikan solusi ketika aku sama Regita masih pacaran. Dia anak baik.

“Ryan, aku tahu kamu putus sama Regita.” ucapnya sambil memegang pundak aku. “Dan aku tahu juga, dia mutusin kamu pada saat waktu yang salah. Dia mutusin kamu saat kamu masih sangat sayang sama dia. Aku tahu perasaan kamu gimana sekarang. Sakit. Patah hati. Ingat Ryan, kamu harus jadi orang yang dewasa. Jika, mantanmu sudah move on dari kamu. Kamu harus menunjukan sikap yang sama. Dewasalah.” ucap Olga.
“Makasih Ga. Tapi, aku masih terbayang-bayang saat-saat bahagia aku dan dia. Aku belum bisa move on 100 persen dari dia. Dia gak adil banget. Saat-saat aku nyaman sama dia, lalu secara tiba-tiba dia putusin aku.” ucap aku dengan nada keras.
“Biasa aja Yan. Mungkin kamu masih ingat sama dia, tapi dia sudah lupa apa-apa tentang kamu. Oke kalo kamu keberatan untuk move on dari dia. Aku punya caranya. Kalo kamu mau ikut. Silahkan,” Ucap Olga.
“Aku ikut. Tapi enggak sekarang.”
“Baiklah, aku bakal bantu kamu saat kamu butuh aku aja.”
“Ga tahu gak kita berdua ini apa?” ucap aku dengan nada pelan.
“Apa?” tanya Olga.
“Sama-sama orang yang tahu rasanya ditinggalin kaya gimana.” ucapku sembari meninggalkan Olga.

Saat-saat istirahat, aku biasa dengan Olga dengan Ariq pergi ke kantin. Pada saat yang sama, dia sedang ada di kantin. Lalu, aku melewati dia dan pergi jauh.
“Itu satu-satunya cara untuk move on dari dia.” ucap Olga.
Aku mengabaikan ucapan dari Olga.
“Kalian berdua terlalu sibuk banget ngurusin cewek. Kaya gue dong, jomblo. 15 tahun penderitaan tapi tetep bahagia. Jomblo itu free men free.” gumam Ariq nyeletuk.
“Free free prihatin maksud kamu.”
Aku dan Olga tertawa lepas melihat ekspresi Ariq kaya yang gak nerima gitu.
“Inget yah, meskipun gue udah 15 tahun ngejomblo. Tapi tetep gue mah sabar dan apa adanya. Tenang jodoh mah udah ada yang ngatur.” ucap Ariq.
“Bener juga sih kata Ariq.” ucap aku sembari menatap Olga.
“Inget kalian berdua, awalnya cinta itu perkenalan. Tapi ujungnya cinta, itu perpisahan.” ucap Ariq dengan memegang pundak aku dan Olga.
“Iya sih perpisahan.” gumam aku.

Pulang sekolah.
Biasanya aku pulang bareng dengan dia dulu. Tapi, sekarang tidak. Aku pun pulang bersama sahabatku.
“Ga, aku ikut cara move on dari kamu.” ucap aku.
“Wah siaplah kalo begitu.” jawabnya.

Lalu, Olga pergi ke rumah aku. Sesampainya di rumah aku. Olga meminta aku untuk mengumpulkan barang-barang yang dikasih dari dia. Aku pun mengumpulkan semua barang-barang dari dia.
“Oke, langkah pertama untuk lupain dia. Buang barang-barang dari dia. Nggak ada gunanya kamu nyimpen barang-barang yang bisa mengingatkan kamu soal dia. Sebaiknya kamu mulai menyingkirkan semua barang yang dulu pernah dia kasih. Hapus semua foto kalian yang masih tersimpan di Handphone kamu. Hapus semua sms, email, atau pesan dari dia di media sosial. Percayalah sama aku, dengan terus hidup bersama kenangan tentangnya nggak akan bikin kamu merasa lebih baik.” ucapnya.
“Oke ini seriusan?” tanya aku.
“Bohongan, ya iyalah ini serius. Kan katanya mau move on.”

Aku pergi ke bawah. Lalu, membawa sepedaku dan memasukan beberapa barang dari dia ke plastik. Aku buang dan berharap barang-barang itu aku lupakan.
“Ryan, memang cara untuk move on yang paling ampuh adalah kamu harus menjadi orang yang dewasa. Kamu sebenarnya sudah move on dari dia. Tapi, kamu mengingat kembali tentang dia. Jika dia sudah move on dari kamu, kamu harus menunjukan hal yang sama.” gumam Olga.
“Iya Ga ini juga lagi dicoba untuk lupa dari dia.”
“Kesian yah, dia ninggalin sesuatu yang udah nyaman untuk dia, tapi pas balik lagi. Perasaan itu udah beda. Kaya yang udah gak kenal lagi.” ucap Olga dengan penuh lirih.
“Perkataanmu menjawab apa yang aku rasakan saat ini.” ucapku, “Makasih.”
Olga menawarkan diri dan berkata, “Kalo kamu butuh bantuan, aku siap bantuin kamu. Dengan kemampuanku sendiri.”
Dia sahabat baik aku.

Di sekolah, aku berusaha untuk menjadi seorang Ryan yang baik. Aku mulai berusaha untuk melupakan dia. Pertama, aku menekuni hobi aku yaitu menulis. Aku menulis cerita-cerita humor yang dapat membuatku melupakan dia dengan cara ini. Kedua, aku main basket. Karena satu-satunya cara untuk melupakan dia menurut aku yaitu main basket. Dan banyak cara lagi untuk dapat melupakan dia.

Malam hari, aku mendapat pesan dari dia.

Regita
“Maaf Ryan, aku putusin kamu karena aku ketemu orang lain”
Ryan
“Siapa? Kapan? Dimana?. Kenapa kamu ninggalin aku kaya gitu”
Regita
“Karena aku mau apa yang dia mau Ryan. Aku cinta sama dia”

Pesan yang menyakitkan. Dia mutusin aku karena dia ketemu cowok lain. Sontak, waktu itu aku langsung hubungi Olga. Tapi, Olga tidak menjawab. Ya sudah aku tidak apa-apa waktu itu. Aku hanya bisa menikmati pesan sakit dari dia.

Pagi itu, aku datang ke sekolah pada saat bel berbunyi. Untungnya aku tidak dihukum. Lalu, aku langsung pergi ke kelas untuk menemui Olga.
“Eh Yan, kamu malem nelpon aku? Maaf gak ke bales soalnya lagi di luar.” Ucap Olga.
“Engga apa-apa kok. Ga aku mau ngomong sesuatu.”
“Ngomong apa?” Tanya Olga.
“Tadi malam, aku ketitipan pesan dari dia. Dia hanya ingin aku tahu bahwa dia mutusin aku karena ada alasan. Alasan itu menurut aku sakit banget.”
“Alasannya apa?” Tanya Olga.
“Dia ketemu orang lain.” Jawab aku.
“Apa? Dia ketemu orang lain. Siapa? Kapan? Di mana?” Ucap Olga kaget.
“Biasa aja. Katanya sih Raihan namanya.”
“Kelas B bukan?”
“Iya”

Dari situ aku mengerti, bahwa salah satu kunci untuk move on adalah cari pasangan lain untuk menjadi pelampiasan move on nya. Aku heran. Untungnya aku tidak berpikiran seperti itu. Aku hanya ingin menjadi pribadi yang kuat.

Pada waktu itu, sekolah libur selama 1 minggu karena kelas 9 melaksanakan UN. Itu peluang buat aku untuk mengubah diri aku. Pada suatu hari, ketika aku hendak main bersama Olga dan Ariq ke suatu mall. Ada satu cewek yang digandeng sama Raihan, pacar dari mantan aku. Lalu, aku foto mereka berdua dan disimpan. Siapa tahu aku kirim foto ini ke mantan aku.

Malam hari, Olga mengirim pesan buat aku.
Olga
“Ryan, kirim foto yang tadi ke Regita”
Ryan
“Oke siap”
Lalu, dengan rasa gugup. Aku mengirimkan foto itu.

5 menit kemudian.
Regita
“Astagfirullah, dapet dari mana?”
Ryan
“Tadi pas ke mall”
Aku punya feeling, dia marah sekali dengan pacarnya.

Sore hari, ketika pulang sekolah. Regita memintaku untuk datang ke kelasnya. Gugup dan takut rasanya. Aku pun memberanikan diri untuk masuk ke kelasnya dia.
“Ryan.” ucapnya pelan.
“Iya?” tanyaku.
“Aku salah. Gak seharusnya aku ninggalin kamu kayak gitu. Aku bingung.” ucapnya.
“Ini ada apa ya?” tanyaku.
“Aku nyesel. Aku nyesel jadian sama dia.”
“Nyesel kenapa?”
“Iya aku bego aja kok mau aja aku jadian sama cowok playboy kaya dia. Kok kamu mau aja sih fotoin dia sama ceweknya?”
“Mungkin aku masih belum bisa ngelupain. Gimana rasanya ditinggalin sama kamu. Pas lagi sayang-sayangnya. Tapi, kamu gak usah takut. Aku gak bakal ganggu kamu lagi. Aku hanya ingin, kamu jangan benci sama aku. Jangan benci sama orangnya, tapi benci sama perpisahannya” ucap aku dengan nada pelan sembari pergi dari kelasnya.

Pada malam harinya. Aku mengirim pesan untuk Raihan.
Ryan
“Raihan, besok kamu ke Regita. Kamu klarifikasi soal kamu berduaan sama cewek itu.”
Raihan
“Oke, aku besok bakal datang. Tapi please, kamu bantu aku buat balikan!”
Ryan
“Loh? Kamu putus sama Regita.”
Regita
“Iya, gara-gara itu.”
Semenjak itu aku baru tahu, kalo cewek udah sakit hati. Dia langsung putusin cowoknya dengan cepat. Tanpa berpikir panjang.

Keesokan harinya, aku meminta Raihan untuk datang ke kelas Regita untuk menjelaskan semuanya. Aku dan Raihan datang.
“Raihan, kamu jangan panik ya. Santai aja.” ucapku menenangkan dia.
“Oke”
Setelah aku masuk, dia ternyata sudah menunggu aku dan Raihan. Aku menghembus nafas dalam-dalam. Dan mengatakan,
“Regita, kita salah. Kita sekarang sudah jadi orang yang berbeda. Kamu sekarang lebih cocok sama Raihan. Kemarin aku ngomong sama Raihan soal masalah kalian yang cuma salah paham. Aku hanya ingin kalian bahagia. Bahagia karena kalian saling mencintai satu sama lain. Aku hanya ingin lihat kalian bahagia. Jangan terpuruk oleh masalah.” Ucap aku dengan penuh hasrat.
Lalu, Regita menatap aku dalam-dalam sembari mengucapkan, “Makasih Ryan, kamu telah memperbaiki masalah kami. Aku berharap kamu mendapatkan perempuan yang sempurna dari aku.”
Spontan, aku meninggalkan mereka berdua. Pulang dari kelas. Aku tersenyum. Aku teringat pesan mamahku waktu itu.
“Ingat nak, jodoh itu jangan ditunggu. Tapi dicari. Kamu boleh patah hati. Tapi jangan tutup hati kamu.”

Selama ini aku salah menanggapi soal patah hati. Menurut aku, patah hati adalah tantangan mau apa kita selanjutnya. Disaat dulu memberatkan, harus jadi yang meringankan. Yang dulu pergi, harus cepat direlakan.
Patah hati bukanlah proses untuk putus asa dari cinta. Tapi, patah hati adalah proses kita untuk mempertahankan kenyamanan dari cinta yang kita tinggal. Ingat, cinta butuh perjuangan. Dan perjuangan itu adalah mempertahankan kenyamanan yang ada.

Cerpen Karangan: Ryan Adriansyah
Facebook: Ryan Adriansyah
Assalamualaikum
Nama aku Ryan Adriansyah. Aku masih belajar menulis. Dan kali ini, aku mencoba memasukan karya aku ke website ini.
Terima kasih

Cerpen Patah Hati Terhebat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Chat Random

Oleh:
Tahu aplikasi chat random gak? Pasti tahu dong. Itu loh aplikasi semacam sosial media dimana kita bisa chattingan dengan orang tak dikenal. Di situlah, pertama kali aku mengenalnya. Namanya

Admirer Line

Oleh:
Sudah seminggu berlalu, namun hubungan Alena dan Rasya belum ada perkembangan. Gadis itu memeluk bantal makin erat, mukanya sengaja dibenamkan dalam bantal. Seandainya, Rasya merupakan cowok yang perhatian dan

Cinta Yang Baru Terasa Kembali

Oleh:
“Perkenalkan nama saya Beni Pratama, Umur saya 21 tahun setatus jomblo sudah 9 bulan”. ujar Ku pertama kali sambil tertawa di depan rekan-rekan kantorku yang baru dan juga “si

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Patah Hati Terhebat”

  1. lunarv2 says:

    Keren story nya, kalo gw bimbang yang ada dipikiran cewek baik takut jadi mantan. Fix buat gw bimbang banget, pedahal kayaknya dia suka gw..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *