Payung Hijau

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 4 April 2016

Gadis itu duduk di bangku stasiun, tangannya dimasukkan ke dalam saku sweater yang berada di bagian pinggangnya dengan rok berwarna abu-abu yang sedikit basah karena kehujanan. Matanya melirik kanan-kiri memperhatikan satu per satu orang yang berlalu lalang di peron dan setiap orang yang ke luar maupun masuk kereta. Dari arah selatan di jalur 2 sebuah kereta berhenti di hadapannya, orang-orang berdesakan ke luar kereta ia memperhatikan setiap pintu yang berada di setiap gerbong kereta dari yang pertama hingga terakhir. Namun, orang yang sedari tadi dicarinya tidak juga terlihat di setiap gerbong kereta. Ini sudah kereta yang kesembilan, namun sosok yang dicarinya tidak datang juga.

Satu kereta lagi, ia akan menunggu hingga kereta yang kesepuluh sore itu. Berkali-kali ia lihat jam di tangannya, waktu menunjukkan pukul 16.30 itu artinya ia sudah menunggunya selama tiga jam tapi ia masih menunggunya. Bukan hanya orang yang ke luar masuk kereta yang ia perhatikan tapi pintu masuk stasiun pun tak luput dari matanya. Karena kemungkinan orang yang dicarinya akan muncul dari pintu masuk dan naik kereta yang sama dengannya atau turun dari kereta yang berhenti di stasiun terakhir ini. Tidak pasti. Sudah hampir setahun ia selalu menunggu orang itu sepulang sekolah, sambil menunggu kereta tujuan rumahnya ia akan sengaja menunggu orang yang bahkan ia tak tahu namanya itu.

Hanya sekedar untuk melihatnya, atau jika ia beruntung mereka akan berada di kereta yang tujuannya sama. Namun sering juga arah mereka berlawanan, sehingga gadis itu akan menaiki kereta yang telah orang itu naiki untuk kembali ke stasiun terakhir di utara. Hanya melihatnya selama satu menit, tidak masalah. Gadis itu hanya ingin melihat orang itu saja, tak lebih. Mereka bertemu sekitar setahun yang lalu di stasiun dan naik kereta dan turun di stasiun yang sama. Saat itu, orang itu duduk di kursi yang berhadapan dengannya. Orang itu menggunakan kaos berwarna hijau muda, celana jeans hitam yang berukuran standar, di tangan kanannya melingkar jam tangan berwarna hijau, dan di tangan kirinya melingkar bermacam-macam gelang salah satunya gelang yang terbuat dari karet berwarna hijau.

Rambut berwarna hitam dengan poni yang menutupi dahi. Sepanjang kereta berjalan gadis itu hanya terus memandangi pria berkulit putih itu. Tak hanya wajahnya yang lumayan tampan tapi juga sikapnya yang terlihat baik. Murah senyum, ia tersenyum pada semua orang yang berada di dekatnya. Seorang kakek naik dari stasiun pemberhentian berikutnya, dengan sigap orang itu langsung berdiri dan menuntun kakek itu untuk duduk di bangku yang tadi didudukinya. Kakek itu menepuk-nepuk bahunya tanda berterima kasih, ia hanya menjawabnya dengan anggukan dan senyuman. Di stasiun berikutnya ada seorang ibu yang membawa begitu banyak kantong besar di tangannya, dan lagi orang itu dengan sigap menghampiri ibu itu membawakan kantong-kantong besar itu, lalu mencarikannya bangku kosong untuk ibu itu duduki. Ibu itu berterima kasih, ia membalasnya dengan anggukan dan senyuman.

Stasiun tujuannya hampir sampai, gadis itu segera menuju pintu kereta yang masih tertutup, setelah kereta berhenti tak lama pintu otomatis terbuka dan orang itu berjalan melalui pintu yang sama dengannya. Ia segera turun dari kereta, dan cepat-cepat mengikuti jalan orang itu, namun antrean ke luar stasiun terlalu panjang sehingga ia kehilangan jejak orang itu. Tak sampai di situ, hari-hari berikutnya ia juga bertemu dengan orang itu lagi. Setiap sore atau pagi orang itu akan muncul entah searah dengannya atau tidak, yang pasti orang itu akan muncul di stasiun yang sama. Semakin sering ia melihat orang itu, semakin ia mengagumi orang itu. Setiap melihatnya pasti ada saja kejadian berkesan yang ia lihat dari orang itu.

Lama kelamaan ini melihatnya sudah menjadi kebiasaan bahkan menjadi keinginan. Ia selalu ingin melihat orang itu setiap hari. Tapi kenyataannya tak setiap hari ia bisa bertemu dengan orang yang sepertinya menyukai warna hijau itu, namun hal itu tak membuatnya berhenti menunggunya hanya untuk sekedar melihatnya. Ya, melihatnya memandanginya dari jauh. Mengagumi setiap sikap baiknya pada setiap orang yang bahkan tak ia kenal. Gadis itu hanya bisa seperti ini, ia juga tak mengerti kenapa dia bisa seperti ini. Ini adalah pertama kalinya dia bersikap seperti ini, merasa bodoh menunggu orang yang tak ia kenal, mencari orang yang tak berani ia dekati. Jam yang besar yang menggantung di dinding stasiun menunjukkan pukul 17.00 dan kereta kesepuluh pun sudah berhenti sekitar 10 menit yang lalu.

Tapi orang itu tak juga ada tanda-tanda bahwa orang itu akan datang. Wajah gadis itu mulai layu, ia menunduk dan langsung berdiri dan berjalan menghampiri kereta di depannya. Ia duduk di kursi yang berada di samping pintu kereta, wajahnya masih layu. Kecewa, karena orang yang ia cari tak muncul itu artinya sudah dua hari ia tak bertemu dengan pria itu. Di menit-menit terakhir kereta akan berjalan seseorang berlari menuju pintu kereta. Laki-laki yang menggunakan sweater dengan penutup kepala itu langsung duduk di samping gadis itu. Gadis itu masih termenung dan tak mempedulikan sekitar, namun orang yang duduk di sampingnya terlihat repot sekali membenarkan tasnya yang kebasahan karena hujan. Gadis itu melirik ke samping melihat seorang pria yang sedang mengeluarkan ponselnya dari tasnya, setelah ponselnya berada di tangannya, tangan yang lainnya membuka penutup kepala sweaternya. Dan ternyata… itu dia! Orang itu.

Gadis itu tak bisa mengalihkan padangannya pada orang itu. Orang itu melirik lalu tersenyum pada gadis itu lalu kembali fokus pada ponselnya. Entak kenapa ia merasa dag-dig-dug, jantungnya berdebar kencang, ia merasa gugup padahal hanya duduk di sampingnya, udara menjadi terasa dingin ditambah AC di kereta yang menyala membuat tangannya menjadi dingin sekali. Berkali-kali gadis itu menelan ludah, memejamkan mata rasanya ingin meledak karena merasa begitu bahagia, tak pernah sebahagia ini. Tak terasa kereta sudah berhenti di stasiun berikutnya, seorang nenek berjalan di gerbong kereta, dan lagi dengan sigap orang itu bangkit dari duduknya lalu menghampiri si nenek dan menuntun untuk duduk di samping gadis itu.

“Terima kasih, Nak.” Kata nenek itu sambil tersenyum.
“Iya Nek..” Orang itu tersenyum dan mengangguk sekali.

Untuk pertama kalinya gadis itu mendengar suara orang itu, lagi-lagi ia terkesima. Orang itu berdiri tepat di hadapan gadis itu. Tangan kirinya berpegangan pada pegangan yang menggantung di besi tempat menyimpan barang, tangan yang satunya masih sibuk dengan ponselnya. Waktu terasa begitu cepat, hingga tak terasa sudah sampai di stasiun tujuannya. Benar saja, orang itu juga turun di stasiun yang sama dengan gadis itu. Setelah ke luar dari kereta, gadis itu baru sadar bahwa hari sudah gelap, ibunya pasti khawatir ditambah hujan saat itu turun begitu deras. Ia terdiam menunggu hujan reda di depan pintu ke luar stasiun. Hujan begitu deras sehingga ia tak bisa pulang, gadis itu berkali-kali melihat ponselnya membaca pesan dari ibu dan kakaknya. Ia hanya bisa menarik napas, bingung akan bagaimana. Ia tak ada pulsa untuk membalas pesan ibu atau kakaknya untuk meminta menjemputnya dan membawakan payung. Tak mungkin ia harus menerjang hujan sederas ini.

Tak lama ponselnya bergetar lama, di layarnya tampil panggilan dengan nama ‘ibu’ ketika hendak menyentuh layar berwarna hijau.. Ah, sial ponselnya mati. Gadis itu meremas kesal ponselnya dan wajahnya menampakkan kepasrahan, ia hanya memandang jalanan yang becek. “Pakai ini.” Seseorang dari menyodorkan payung berwarna hijau tua dari samping.
Gadis itu melirik kesamping, orang itu! “Heh, gak usah.” Gadis itu merasa kikuk.
“Pakai aja, Hujannya deras udah hampir malem, nanti Ibu kamu khawatir.” Kata orang itu sambil tersenyum.

Sepertinya orang itu dari tadi melihat pesan dan telepon dari Ibu gadis itu, “Eehh..”
“Udah, pakai aja.” Orang yang memakai sweater hijau itu menyodorkan payungnya lagi berkali-kali.
Dengan ragu gadis itu mengambil payung itu, orang itu tersenyum lalu berlari menuju sebuah warung yang berada di seberang. Gadis itu masih terpaku melihat orang itu dari seberang. Gadis itu segera mengembangkan payung hijau itu lalu berjalan pulang.

Gadis itu kegirangan sekali akibat kejadian itu, setiap hari ia membawa payung itu ke sekolah. Ia terus-terusan melihat payung itu tanpa jemu. “Ciee tumben bawa payung terus.. Biasanya hobi hujan-hujanan.” Goda seorang teman. Gadis itu hanya tersenyum setiap kali temannya menggodanya. Sudah tiga hari sejak kejadian itu gadis itu tak melihat orang itu, tak di stasiun ataupun di kereta. Kali ini gadis itu tak menunggu orang itu, ia membiarkan takdir mempertemukannya secara tidak sengaja seperti kemarin. Kemarin ia lupa mengucapkan terima kasih pada orang itu, jadi jika ia bertemu dengan orang itu lagi, ia akan mengembalikkan payung itu dan berterima kasih. Dan satu hal yang ia ingin ia ketahui, yaitu nama orang yang selama hampir setahun ini menarik perhatiannya dan membuatnya melakukan hal yang paling ia benci, yaitu menunggu.

Pagi itu kereta berangkat pukul 06.30 gadis itu seperti biasa menunggu kereta untuk ke sekolah. Ia duduk di kursi di antara peron, tiba-tiba ia teringat dengan payung hijau yang dipinjamkan oleh orang itu kemarin. Ia segera membuka tasnya lalu mengeluarkan payung itu. Ia padang payung hijau itu, warnanya hijau, seperti warna kesukaannya. Gadis itu berpikir bahwa orang itu juga memiliki kesamaan warna favorit karena setiap kali bertemu orang itu, ia akan selalu memakai warna hijau. Kereta datang tak lama, ia mengambil duduk dekat dengan pintu. Kereta pagi itu masih sepi, belum terlalu banyak penumpang jadi suasana saat itu begitu hening hanya ada suara roda kereta yang berjalan di atas rel. Gadis itu melihat jendela kereta, memperhatikan pemandangan di luar, hujan. Tak lama kereta sampai di stasiun pemberhentian terakhir. Gadis itu sudah bersiap di depan pintu kereta yang masih tertutup. Ia melihat gerbong sebelah, matanya membesar melihat sosok yang sedang berdiri di ujung pintu sana. Orang itu!

Kereta berhenti, gadis itu segera berlari ke luar mengejar jalan orang itu di antara beberapa orang yang sedang berjalan ke luar stasiun. Ia terus mengikuti orang itu dari belakang, dan mencoba menyusul orang itu, tiga meter, dua meter, satu meter… lalu langkah gadis itu terhenti. Orang itu menghampiri seorang perempuan dengan almamater salah satu Perguruan Tinggi. Ia mengusap-usap rambut pria itu, lalu merangkulnya kemudian berjalan sambil berpegangan tangan menuju pintu ke luar stasiun. Seperti ditampar, gadis itu terpaku antara terkejut dan kecewa. Ternyata pria yang selama ini ia tunggu di stasiun setiap hari sudah menjadi milik orang lain. Kenapa rasanya sangat menyakitkan? Kenapa seperti ini? Rasanya ingin menangis. Mengapa bisa ia kecewa pada orang yang bahkan tak ia tahu namanya itu?

Ini pertama kalinya ia merasa seperti itu. Ada apa dengannya? Kenapa rasanya begitu terluka melihatnya sudah memiliki kekasih? Apa namanya ini? Gadis itu mencengkeram payung hijau yang sedari tadi berada di tangannya tersebut. Rasanya ingin menangis, tapi mana mungkin ia menangis pada sesuatu yang tidak ia mengerti. Apa ini? Mungkinkah ini yang dinamakan cinta? Gadis itu mengalihkan pandangannya dari kedua orang yang sedang berpegangan tangan tak jauh berada di depannya. Ia menatap kursi di mana ia biasa menunggu orang itu setiap hari, lalu beralih pandangan ke payung hijau yang berada di tangannya. Sesampai di sekolah, ia basah kuyup. Untung saja ia selalu mengunakan jaket atau sweater sehingga seragamnya tak basah semua. Teman-temannya menghampiri gadis itu dan melihatnya heran dengan keadaan gadis itu. Ia sedang membuka jaket berwarna hijaunya dan meletakannya di kursi.

“Yaa ampun, basah kuyup?” Seorang teman bertanya.
“Ke mana payung hijau yang selalu dibawa kemarin?”
“Aku tinggalkan di stasiun.”

Cerpen Karangan: Resna Meita Ekawaty
Facebook: Resna Meita Ekawaty
Mahasiswa Sastra Indonesia. Universitas Padjajaran

Cerpen Payung Hijau merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Penantian Cinta Tak Terbalas

Oleh:
“Ar aku suka kamu..” ucapku padanya “Aku juga suka kamu Win” jawabnya “Apa berarti kita bisa pacaran?” tanyaku “Maaf Win tapi aku tak bisa, aku baru aja jadian sama

Inikah Senja

Oleh:
Ketika senja berlalu pergi, ketika sinar jingganya mulai kelam, ketika langit biru mulai menghitam, Ia, wanita yang manis itu menumpahkan segala air mata pengharapannya. Menumpahkan segala rasa sesal akan

Salahku Memendam

Oleh:
Malam itu, Radit si pemuda tampan dan lugu sedang duduk termangu di kursi meja belajar di kamarnya dengan memainkan sebuah pensil yang usai ia gunakan untuk melukis sebuah wajah

Yang Terbaik

Oleh:
“Selamanya.. hanya dirimu yang selalu ada dalam hatiku.. selamanya.. tentang dirimu, kau selalu hadir dalam mimpiku.. engkau satu cintaku selamanya..” Itulah lagu yang sering kita nyanyikan. Bayu, nama pacarku.

Saat Cinta Tak Berbalas

Oleh:
Cinta, aku benci kata-kata itu. terlalu sering sakit karena cinta. apakah salah jika aku ingin bahagia karena cinta. Sepertinya cinta belum memberikan aku kesempatan untuk bahagia karenanya. Setelah sekian

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *