Payung Orang Lain

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 7 July 2017

Suara hujan tak menjadi sebuah melodi yang membuatku tertidur. Selimut tebal yang hangat tak membuat rasa kantuk menghampiri. Aku hanya memperhatikan handphone yang menunjukkan potretan seseorang. Seseorang yang mulai tinggal di hati dan di pikiranku tanpa permisi. Bagiku, dia itu Seperti payung yang melindungiku dari hujan, sayangnya pagung itu milik orang lain.

Aku tak mengerti rasa apa yang melandaku. Tapi rasa ini sangatlah indah untukku. Dia adalah awan teman satu kelasku. Sifatnya yang asik, membuatku nyaman. Awalnya aku dan dia tak saling mengenal, hanya tahu kalau dia adalah awan dan aku adalah resna. Kami tak begitu akrab karena dia adalah siswa pindahan dari kelas lain. setelah kami kenal dekat, dia adalah alasan aku betah diam di kelas.

Aku mulai menceritakan dia, payung yang masih menjadi milik orang lain pada sepupuku. Walau dia milik orang lain, tapi dia tetap melindungiku dari hujan. Aku kadang ingin tahu apa isi hatinya. Apa ada namaku di hatinya, atau hanya nama Sharleen, pacarnya yang tinggal. Entahlah, tapi sikapnya padaku membuatku berpikir ada namaku dalam hatinya.

Nampaknya, selama 1 semester dekat dengan sosoknya tak ada sebuah status yang kusandang. Kini, tercantum nama seseorang dalam status di BBMnya “Risda” pacar barunya. Awalnya aku sudah bertahan kokoh menghadapi angin dari segala arah, ketika semua temanku berkata kalau aku perusak hubungan awan dan Sharleen. Aku sempat mengakui itu, tapi ternyata bukan aku alasan terbesar Sharleen dan awan putus, karena ada gadis lain yang menjadi alasan terbesarnya. waktu itu aku bertahan dari badai dan angin, karena berfikir payung itu akan tetap melindungiku.

Tak berhenti sampai itu, aku masih berhubungan baik dengan awan. Apa aku hanya penikmat payung orang lain? Dia bahkan berkata kalau dia menyukaiku. Namun mengapa dia tak memeberikan hak milik payung itu padaku? Disebut orang kedua disetiap hubungannya itu tidaklah menyenangkan. Namun ada sedikit rasa bahagia ketika tetap berada di dekatnya. Jika kepemilikkan payung itu tak berarti, dibanding Risda aku bukanlah orang kedua. Akulah yang pertama jika berbicara tentang pacar barunya itu.

Mengabaikan hak milik payung itu setiap saat. Aku menikmati hari-hari berwarnaku dengannya, sekedar duduk di koridor, bermain rubrik berdua, atau mengerjakan tugas bersama. Itu menyenangkan, sangat menyenangkan.

Suatu hari, dia berkata kalau dia sudah tiga Bulan berpacaran dengan Risda. Aku benci mendengarnya, aku hanya sekedar tersenyum tipis. 30 menit kami habiskan tanpa suara, aku tak bisa bila harus berkomentar tentang hubungan mereka. Dia pun sadar betul kalau dia tak akan dan mungkin tak ingin berkata lagi setelah kata-kata yang membuatku diam tak berkomentar.

“Sorry” ucapnya kemudian setelah menikmati keheningan yang tak menyenangkan selama 30 menit. Aku hanya mengangguk mencoba kembali tersenyum dalam luka. Lagi-lagi perkataanya tadi membuatku tersadar kalau aku hanya penikmat payung orang lain. Aku butuh payungku sendiri, tapi saat itu hanya payung itu yang membuatku teduh, warnanya pun Indah. “Sorry Sharleen, sorry Risda telah menikmati payung kalian” ucapku dalam hati.

Angin bertiup menjauhkan payung itu dari atas kepalaku, membuat hujan membasahiku. Awan terlihat sedang terduduk berdua di koridor tempat aku dan awan biasa duduk berdua. Aku melupakan niatku untuk mengambil handphone di tasku, aku memutar badan kembali berjalan menuju perpustakaan. Dengan membaca buku, tak membuatku bisa menghiraukan poteretan singkat yang membuat rasa sedih hadir tanpa permisi. Mulut mulai bergetar menahan air mata yang akan mengalir. Perlahan cairan yang tak kuharapakan itu mulai membasahi pipiku.

Nampakknya aku harus pergi mencari payung punyaku, aku tak ingin jadi penikmat payung orang lain. Aku akan menjauh dari payung yang sudah lebih dari setengah tahun melindungiku. Bahagia dan sedih, Tak ada yang lebih dominan dari hubunganku dengan awan, yang entah apa namanya. aku seorang penikmat payung orang lain, tak lagi ingin dan tak akan jadi penikmat payung milik orang lain, karena itu payung orang lain.

Cerpen Karangan: Renita Melviany
Facebook: Renita melviany
Gadis yang lahir di kota angin, majalengka. Bersekolah di SMA Negeri 1 Talaga, Majalengka.

Cerpen Payung Orang Lain merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Menangis Dibalik Kesenyuman

Oleh:
Siang ini guru menyuruh kami untuk membuat sebuah lagu untuk sebagai pentas seni kami pun berbagi tugas untuk kelompok kami. Di kelompok kami ada silmi, dewi dan intan sedangkan

Dia Bukan Jawaban Doaku

Oleh:
Aku merapikan hijab pashmina di kepala, sebuah panggilan dari luar memanggil-manggil namaku, aku hafal suara itu. Laila teman seangkatanku di pesantren. Setelah rapi dan tertutup secara sempurna sesuai syariat

Mencintai Tak Harus Memiliki, Kan?

Oleh:
Tepat hari ini wisuda dilaksanakan. Sepintas terbayang wajah-wajah sentosa yang bangga dengan titel-titel segar kesarjanaan. Ya, hanya terbayangkan. Meski juga mendapatkan cap kelulusan, aku tidak hadir dan menjadi wisudawan.

Pengkhianat

Oleh:
Hmmmm, pagi yang indah mentari pagi mulai menyinari indahnya dunia ini, kulihat semua orang bersemangat awali hari yang indah ini. Setiap hari adalah hari baru bagiku dengan semangat dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *