Pelampiasan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Patah Hati, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 19 May 2018

“Gue mau kita PUTUS”
Kalimat itu mendarat tepat di gendang telingaku. Bagaikan granat, ucapannya sukses membuat hatiku meledak. Mati matian aku mencari alasan agar bisa keluar rumah tanpa harus mendapat semburan maut ayahku ternyata ini hasilnya. Sorot matanya yang dingin melebihi dinginnya es batu di kulkas rumahku menjelaskan bahwa dia sedang tidak bercanda.

Aku terdiam tanpa bisa berkata apa apa, hatiku membara sampai padam dengan sendirinya dan habis hingga hanya menyisakan serpihan abu.

“Ha ha ha”
Aku tertawa dan benar benar tertawa, tidak peduli dia yang memandangku murka.

“Kok lo ketawa?” tanyanya sesaat setelah tawaku reda. Sementara aku masih geli sendiri meski kenyataan pahitnya masih menjalar di sekujur tubuhku.

Masih teringat jelas di ingatanku, satu minggu yang lalu tujuh hari sebelum hari ini dan pada hari yang sama. Dia mengatakan perasaannya padaku. Tidak ada yang spesial dari caranya, hampir sama seperti laki laki lain. Dia datang menemuiku dengan setangkai mawar merah.
“Gue tahu Tuhan gak mungkin mempertemukan kita tanpa alasan. Dan, salah satu alasan itu karena lo sebagai pengobat dari sakit hati gue. Gue butuh lo, gue mau lo dan cuma lo. Lo mau kan jadi cewek gue?”

Aku sempat terdiam, aku tahu arti semua kata kata itu. Aku sadar dia baru putus dari pacarnya yang bernama Sandra, yang tak lain sahabat satu sekolahku. Tapi aku mencintai dia lebih dulu sebelum mereka pacaran. Aku mengagumi dia dari senyuman pertama saat aku datang ke UKS.

Saat itu hari senin dimana hari paling sakral bagi anak SMA seperti kami. Upacara wajib yang bukan sekedar upacara biasa. Bagi sekolah kami, upacara adalah cara mempererat tali silaturahmi. Tidak ada perbedaan adik dan kakak kelas, bagi Kepala Sekolah kami semua sama.

Sialnya saat upacara baru berjalan sekitar sepuluh menit nafasku serasa habis diserap matahari pagi padahal saat itu masih hangat hangatnya. Asma yang sudah menemani hidupku dari kecil seakan enggan mengikuti upacara kali ini. Mau tidak mau aku harus menepi ke UKS.

Di sana dia menyapaku ramah, meski begitu dia hanya menganggapku cewek lemah. Revan sang ketua PMR siapa yang tidak kenal. Tubuhnya yang tinggi tegap, kulit sawo matang dan senyum mautnya seakan memberi nyawa baru dalam hidupku.

“Makanya minta nafas sama Tuhan jangan setengah setengah”

Aku tersenyum mendengar ucapannya, aku tahu itu hanya candaan. Dia memang digemari teman temannya karena sifatnya yang lucu.

“Ini diminum, cuma itu yang tersedia di sini. Gue tinggal dulu, semoga cepat sembuh” ujarnya tulus dan aku bisa merasakan itu. Aku pandangi satu tablet obat Asma yang tadi dia berikan. Sebenarnya aku sudah sedia sendiri obat yang aku dapat dari dokter. Tapi karena dia yang memberikan jadi aku simpan, lumayan buat kenang kenangan.

Aku pikir akan ada banyak kesempatan bertemu setelah itu. Tapi ternyata waktu tidak memberi kesempatan untuk aku bisa duduk bersanding bersama dia. Aku hanya bisa mengamatinya dari jauh, melihat senyum hangatnya. Kabar yang aku dengar dia resmi pacaran dengan gadis bernama Sandra. Meskipun aku datang berpuluh puluh kali ke UKS dia tetap tidak ada di sana. Waktunya terlalu tersita untuk bersama gadis berwajah tirus itu. Sebagai wanita aku bisa apa, aku memilih memendam perasaanku dalam diam.

Sampai waktu itu tiba, waktu dimana angin segar membawa kabar jika hubungan mereka telah bubar. Sandra yang tanpa alasan meminta putus dari Revan, itu kabar yang sempat beredar. Sebenarnya ada sedikit celah yang seakan membuka jalan kesempatan untuk aku bisa bersama Revan. Apa salahnya selama ini aku mengunci kuat hatiku.

Siang itu saat istirahat pertama aku datang ke UKS. Asmaku kambuh dan bodohnya aku tidak membawa obat hirup yang biasa aku gunakan. Dengan sangat terpaksa UKS menjadi tempat pertolongan utama.

Di sana aku bertemu dia, setelah cukup lama tidak bertemu langsung. Dia tidak seperti biasanya, wajahnya sayu seperti tidak ada semangat hidup yang bisa ia perjuangkan. Tidak aku sangka dia selemah itu. Padahal aku yakin sakit yang dia rasakan tidak sesakit penderitaanku selama ini. Antara Asma dan memendam cinta sendirian. Itu jauh lebih menyakitkan.

“Luka itu jangan dibiarkan menganga, kena bakteri nanti bisa infeksi” aku memberinya plester luka, meski aku tahu itu tidak berguna. Tapi setidaknya aku berusaha menghibur. Ternyata cukup membuatnya menyunggingkan bibir, dan dari kejadian itu kami menjadi dekat dan hanya hitungan hari dia mengungkapkan perasaannya.

Perasaan yang sebenarnya hanya sebuah lelucon. Ajang balas dendam atas rasa sakit hatinya karena sudah dicampakkan sandra. Gadis yang paling dia puja sejagad raya.

Kenyataannya, baru satu minggu tepat satu minggu dan pada hari minggu dia mengatakan pengakuan sebaliknya. Jika satu minggu yang lalu dia ingin bersamaku, kali ini dia ingin pisah begitu saja. Tanpa sebab tanpa alasan sama seperti yang telah Sandra lakukan.

Aku tertawa dan aku mengerti setelah mencerna semuanya. Tapi aku tidak mudah dipatahkan, meski sakit penderitaan hidupku melebihi semua itu. Jika dia ingin melampiaskan amarahnya yang tidak tersampaikan padaku, dia salah.

“Lo salah jadiin gue pelampiasan. Gue bukan lidi yang dengan mudahnya lo patahin dengan tangan lo sendiri. Terimakasih udah ngajarin cinta ke gue, apa yang lo lakuin ke gue akan gue jadiin motivasi.
“Cukup tahu rasanya jadi pelampiasan, asal lo tahu penderitaan gue buat bertahan hidup jauh lebih menyakitkan”

Dia hanya diam, tanpa permisi aku meninggalkan dia sendiri.

Cerpen Karangan: Navis Sa’adah
Facebook: Navis Sa’adah

Cerpen Pelampiasan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Apa Harus Cantik (Part 1)

Oleh:
Namaku Cika Afriska. Aku punya kakak perempuan yang nggak cantik-cantik banget, namanya Diana. Kak Diana itu, walaupun nggak cantik-cantik banget, dia punya banyak mantan pacar. Sekarang, Kak Diana sedang

Ilmu Bukan Cinta

Oleh:
Saat itu jam pulang, sekolah telah mulai sunyi. Aku memberanikan diri untuk melompat dari lantai tiga gedung sekolahku. Hal itu ku lakukan karena masalah percintaanku yang harus berakhir dengan

Cinta di Google Chat

Oleh:
Meita cewek keturunan Jepang-Belanda itu sangat cantik dan lincah nan manis imut. Meita mencintai Yuko Nato dari Jepang dan Meita dicintai Xu Lie dari China. Meita mempunyai teman berbeda-beda

Naksir Atau Cinta

Oleh:
Masa SMA, mungkin sebagian orang akan menjawab hal itu jika ditanya soal masa yang paling indah. Dimasa ini kamu bebas bergaul dan berteman dengan siapa saja. Indahnya kisah cinta

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *