Penantian Sekar Kala Senja

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 28 January 2017

Ketika senja tiba, gadis berambut panjang itu segera berlari ke luar rumah. Ia meninggalkan semua pekerjaannya yang masih berantakan. Tidak peduli dengan omelan bundanya, dia terus saja berlari melewati satu pintu ke pintu lainnya. Hari ini adalah tepat dua tahun, orang yang sangat dicintainya akan pulang untuk menemuinya.

Gadis itu bernama Sekar, kembang desa di kampungnya. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya tiba juga hari yang dinantikannya. Gadis manis, yang memiliki lesung pipi ini tidak ingin melewatkan kesempatan menyambut kekasihnya. Dengan senyum sumringah, ia berdiri tepat di depan pintu. Matanya terus menatap tajam jalanan yang ramai lalu lalang orang juga kendaraan.

Satu jam telah berlalu, namun lelaki yang ditunggunya tak kunjung datang. Sementara matahari sebentar lagi akan tenggelam. Tapi Sekar masih duduk termangu di pelataran rumahnya. Ia tidak ingin beranjak dari tempatnya. Meskipun sang ibu memintanya agar lekas masuk ke dalam rumah, karena sebentar lagi maghrib. Hingga kumandang adzan terdengar di telinganya, lelaki yang sedari tadi ditunggunya tetap tidak muncul dari balik pagar rumahnya.

“Mas, apa mungkin kamu terlambat pulang?” gumamnya sembari menatap pintu pagar.
“Sekar! Ini sudah maghrib. Ayo cepetan masuk! Nggak baik, anak perawan duduk di luar maghrib begini,” seru ibunya memanggil.
“Iya bu!” sahutnya sembari berseru. Ia lekas beranjak dari duduknya, “Baiklah mas, besok aku akan menunggumu lagi,” tukasnya kemudian berbalik, dan berjalan masuk ke dalam rumah.

Hari berikutnya, begitu senja nampak, gadis lugu ini cepat-cepat berlari ke luar rumah. Harapannya masih sama, menunggu lelaki yang dicintainya datang menjemput. Sambil membawa cincin emas, untuk melamarnya. Seperti janji yang pernah diucapkannya dua tahun yang lalu, sebelum mereka berpisah.

“Dek, aku sangat mencintaimu. Aku juga ingin menikahimu,” mendengar ucapan lelaki di hadapannya, membuat Sekar merasa bahagia. Lantaran pria yang dicintainya, ternyata berniat untuk meminangnya. Itu berarti semua harapan dan impiannya untuk menikah akan menjadi kenyataan.
“Tapi…” lanjut lelaki itu, kemudian menghentikan ucapannya. Mukanya yang tadinya sumringah, berubah bingung.
“Tapi kenapa mas?” sentak Sekar penasaran.
“Hemm… bagaimana aku mengatakannya padamu…” lelaki itu tampak gusar.
“Kenapa mas, kok malah bingung?”
“Jadi begini, kamu tau kan? Kalau mas ini, anak yatim. Upah yang aku dapatkan dari hasil kerja di bangunan, sudah habis untuk kebutuhan sehari-hari. Untuk melamarmu, mas harus mengumpulkan uang lebih dulu, agar bisa membelikanmu cincin. Sementara kalau mas kerja di sini, sulit sekali menabung,” terangnya.
“Lalu apa yang akan mas lakukan?”
“Begini dek, kemarin mas dapat tawaran dari Eko. Teman sekampungku yang sudah dua tahun ini merantau ke Jakarta. Dia mengajakku untuk ikut dengannya merantau ke sana. Katanya upah yang akan aku dapatkan cukup untuk biaya hidup disana, buat emak, dan sisanya masih bisa ditabung.”
“Jadi maksud mas?” hati Sekar sudah dipenuhi dengan kegelisahan. Ia merasa takut kalau orang yang dicintainya akan meninggalkannya. Lelaki itu bernama Jaka, pria dari kampung sebelah, yang berhasil merebut hatinya. Dua tahun lebih mereka menjalin hubungan, hingga akhirnya Jaka berani menyatakan keinginannya untuk melamar dirinya.
“Iya dek, mas berniat merantau juga,” ucap Jaka.
Sekar jadi serba bingung, antara harus bahagia, ataukah bersedih. Ia merasa senang, ketika Jaka ingin menikahinya. Namun di sisi lain, dia juga merasa sedih, kalau harus jauh dari kekasihnya itu.

“Dek, kenapa kamu diam saja?”
“Sekar bingung mas, harus bilang apa,” sahutnya lirih. Mukanya terlihat tak bersemangat, senyum di bibirnya tiba-tiba saja menghilang.
“Mas tau, ini bakalan sulit buat kamu dek. Mas sendiri, sebetulnya juga tidak ingin jauh darimu. Tapi kalau tidak begitu, bagaimana bisa mas melamarmu. Orangtuamu pasti akan menolak lamaran mas, jika penghasilan mas saja masih pas-pasan.”
Sekar hanya terdiam dan menundukkan kepalanya. Ia tidak bisa berucap apapun, selain mendengarkan ucapan kekasihnya. Hatinya dilanda kegelisahan yang amat dalam. Memang benar, kedua orangtuanya bakalan menolak lamaran Jaka, jika mengetahui perekonomian lelaki itu.
“Dek, bicaralah… jangan diam saja.”
“Kalau memang pergi merantau sudah jadi keputusanmu. Sekar tidak bisa berbuat apa-apa lagi mas.”
“Tapi kamu mengijinkan mas merantau kan?”
“Sebetulnya sulit buat Sekar, melepas kepergian mas kesana. Tapi aku tau, kalau mas melakukan semua ini juga buat Sekar. Jadi tidak masalah, kalau aku harus menunggu sampai mas pulang untuk melamarku.”
“Beneran dek?” Sekar mengangguk pelan. “Mas janji, setelah dua tahun, mas akan segera kembali untuk melamarmu.”

Tibalah hari, dimana Jaka akan berangkat ke Jakarta bersama Eko. Sekar menemaninya di terminal, hingga bus datang. “Nah, itu dia busnya sudah datang!” seru Eko menunjuk bus yang dimaksud.
“Mas, perlengkapannya sudah dibawa semua? Tidak ada yang kelupaan kan?” tanya Sekar khawatir.
“Udah. Kalau begitu mas berangkat ya?” Jaka mengenggam erat kedua tangan Sekar, sembari menatap tajam mata gadis itu.
“Mas jangan sampai telat makan ya, jaga kesehatan, jangan lupa ibadahnya.”
“Iya. Mas pasti akan selalu ingat semua pesanmu.”
“Mas, janji kan? Akan pulang menemui Sekar setelah dua tahun?” gadis itu menatap kekasihnya penuh kecemasan.
“Iya Sekar. Mas janji, tepat dua tahun dari sekarang, aku akan datang ke rumahmu membawa cincin emas untuk melamarmu. Kau bisa menyambutku di depan rumah, kala senja tiba.”
“Janji mas?” tanyanya lagi memastikan.
“Iya mas janji!” lelaki itu memeluk erat tubuh kekasihnya, lalu beranjak masuk ke dalam bus. Lambaian tangan Sekar mengiringi kepergian kekasihnya.

Semenjak hari itulah, Sekar selalu menunggu dan percaya kalau lelaki yang dicintainya pasti menepati janji yang telah dibuatnya. Seminggu sudah berlalu, gadis berambut panjang yang terurai itu masih saja menunggu kekasihnya di pelataran rumah. Ia menunggu kala senja tiba, seperti janji yang telah diucapkan Jaka padanya.

Kegelisahan mulai menyelimuti hatinya, lantaran satu tahun telah berlalu begitu cepat. Sementara Jaka masih tak kunjung datang. Tentu saja Sekar merasa resah, benarkah lelaki itu akan menepati janjinya. Atau justru ia sudah melupakan dirinya, dan mendapatkan gadis lain di Jakarta. Beragam pertanyaan mulai muncul dalam benaknya. Sesaat keraguan dalam dirinya mampu ditepis olehnya, berkat janji cowok itu yang tiba-tiba saja terlintas di pikirannya.

“Sekar, ini sudah lebih dari tiga tahun sejak Jaka pergi. Bukankah dia janji padamu hanya pergi dua tahun?” tanya sang ibu yang tiba-tiba muncul dari balik punggunya.
“Iya ibu, memang. Tapi Sekar percaya pasti mas Jaka bakalan datang. Mungkin saja dia belum bisa meninggalkan pekerjaannya.”
“Tapi ini sudah lebih dari setahun sesuai janjinya. Setidaknya dia bisa menghubungimu kan?” ucap ibunya sembari duduk di sebelahnya.
“Mungkin mas sangat sibuk, sehingga tidak bisa berkirim surat ataupun menelepon.”
“Tidak Sekar, ibu rasa dia sudah lupa dengan janjinya.”
Mendengar perkataan ibunya, Sekar merasa sedikit kesal. “Bu, jangan berkata seperti itu. Mas Jaka itu lelaki yang baik, dia mencintaiku, jadi Sekar percaya dia pasti akan datang untuk menepati janjinya. Ibu tunggu saja, dia pasti akan datang melamarku!”
“Baiklah, kalau memang itu keinginanmu. Tapi kamu juga harus ingat umurmu. Ibu ingin agar kau segera menikah!” tandas sang ibu, lantas beranjak masuk ke dalam rumah.

Senja datang lagi, seperti biasa, Sekar melangkahkan kakinya ke luar rumah. Ia duduk di pelataran sembari menatap pintu pagar yang mengelilingi rumah besarnya. Gadis itu masih enggan berdiri, sampai waktu benar-benar gelap. Barulah dia mau masuk ke dalam rumah. Tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat. Sang ibu pun merasa cemas, lantaran putrinya memasuki usia 24 tahun.

Mendengar akan kecantikan dan keluguan Sekar, banyak pria dari berbagai kampung datang berniat untuk melamarnya. Namun berbagai lamaran, langsung ditolak olehnya. Lantaran sikapnya itu, sang ibu menjadi marah besar. Karena putrinya masih saja keras kepala, tanpa memikirkan usianya yang sudah makin bertambah.

“Sekar, apa lagi yang kamu cari? Kau harus menikah! Ini sudah lebih dari empat tahun kamu menunggu mas Jakamu itu. Tapi apa? Dia tidak juga datang!”
“Bu, tolonglah… jangan berkata seperti itu…”
“Tidak Sekar!” bentak ibunya. “Kamu yang harus dengarkan ibu! Sudah cukup ibu bersabar denganmu selama ini. Apa kau lupa, usiamu sudah 24 tahun! Mau sampai kapan kamu menunggu si Jaka yang tidak jelas itu?!”
“Mas Jaka pasti datang Bu!” sahut Sekar penuh keyakinan.

Ditengah kegundahan hatinya, gadis itu masih percaya kalau kekasihnya akan segera pulang dan membawa lamarannya. Setiap hari tidak ada hal lain yang dilakukannya, selain menunggu di depan rumahnya. Semua tetangga sering membicarakan dirinya, lantaran kebiasaannya yang selalu duduk di pelataran rumah ketika senja. Ada sebagian yang merasa kasihan, namun ada pula yang justru menggunjingkan dirinya.
Akan tetapi, gadis lugu ini tak menghiraukannya. Ia percaya lelaki yang dicintainya pastilah datang menjemput dirinya. “Mas, kamu sudah janji sama aku. Kamu bakalan melamarku, dan cuma mas yang ada di hatiku. Jadi Sekar percaya, mas tidak akan ingkar janji,” gumamnya melamun di pelataran rumah.

Kini penantiannya sudah berada di ujung keputus asaan. Lelaki itu tetap tak kunjung datang. Tak tau apalagi yang harus dilakukannya. Sebab Jaka tidak pernah memberinya kabar sama sekali. Sekar pun akhirnya memasrahkan semuanya kepada sang Ilahi.

Pagi ini, saat berbelanja di pasar, tanpa sengaja dia melihat seseorang yang pernah ditemuinya. Lelaki bertubuh kurus, dengan rambut ikal, tengah menggandeng seorang wanita yang tengah hamil. “Sepertinya aku mengenalnya, tapi dimana ya?” Sekar kembali mengingat-ingat. “Nah… iya aku ingat! Dia kan Eko, temannya mas Jaka! Tapi kenapa dia ada di sini? Lalu mas Jaka di mana?” pikirnya penasaran.

Dengan langkah gontai gadis berambut panjang yang dikuncir ke belakang itu menghampirinya. “Maaf, kamu temannya mas Jaka kan?” celetuk Sekar.
“Iya,” sahutnya manggut-manggut.
“Lalu mas Jaka dimana? Bukankah kalian merantau ke Jakarta? Kalau sudah pulang, kenapa dia tidak menemuiku?” sontak lelaki itu saling pandang dengan wanita hamil di sebelahnya. Mereka nampak bingung.
“Bentar deh, aku ingat-ingat dulu,” pria itu mencoba mengingat sesuatu. “Hemm… kalau nggak salah, kamu Sekar kan? yang dulu nemenin Jaka nunggu bus, waktu akan berangkat ke Jakarta?” lanjutnya.
“Iya aku Sekar, pacarnya mas Jaka. Dia bilang padaku, setelah merantau dua tahun dia akan pulang untuk melamarku. Tapi sampai sekarang, dia tidak juga datang menemuiku,” tukas Sekar menggeleng. “Ini bahkan sudah lebih dari empat tahun!” imbuhnya sedikit kesal.
“Jadi kamu tidak tau?!” kaget lelaki itu memelototi dirinya.
“Tau apa?” pria itu lagi-lagi nampak bingung memandangi istrinya. Sementara Sekar jadi tambah penasaran. “Apa katakan?”
“Kalau…” ucapannya mendadak tertahan.
“Kalau apa?” Sekar sudah semakin geram.
“Mas, kau harus mengatakan yang sebenarnya padanya,” celetuk istrinya, sembari mengusap bahunya.
“Jadi begini, sebetulnya Jaka…” lagi-lagi ucapannya terhenti.
“Mas Jaka kenapa?!” Sekar jadi panik. “Apa terjadi sesuatu yang buruk padanya?”
“Jaka sudah menikah.”
Mendengar perkataan Eko, yang tak lain adalah teman Jaka. Terang saja, Sekar jadi syok hingga terjatuh ke tanah. Semua harapan dan impiannya untuk menikah dengan lelaki yang dicintainya telah hancur. Ia tidak menyangka, kalau kepercayaan yang diberikan olehnya, akan berakhir dengan pengkhianatan. Penantiannya selama lebih dari empat tahun pun, tidak membuahkan hasil sama sekali. Justru yang diterimanya hanyalah kabar pernikahan Jaka dengan wanita lain.
“Sekar, bangunlah… kamu tidak apa-apa kan?” tanya wanita hamil yang sedari tadi berdiri di depannya.
“Ternyata benar kata ibuku, tidak ada gunanya aku menunggu mas Jaka. Padahal selama ini, aku mempercayai janjinya. Namun apa yang aku terima?” mata Sekar mulai berkaca-kaca. Tetes air matapun mengalir membasahi pipinya. Disaksikan oleh beberapa pasang mata yang melihat mereka.
“Tenanglah Sekar, ayo bangun!” suruh wanita itu sembari memegangi lengannya. “Mas bantuin donk!” serunya kemudian.
Badan Sekar terasa lemas dan tak bertenaga. Eko bersama istrinya menawarkan diri untuk mengantarnya pulang, namun Sekar menolak. Gadis itu masih duduk termangu bersama kekecewaannya di salah satu tempat, tak jauh dari pasar. Semua angan-angannya hancur berantakan. Hanya ada penyesalan dalam dirinya, karena tidak mendengarkan ucapan dari ibunya.

Cerpen Karangan: Putri Andriyas
Blog / Facebook: www.putriandriyas.wordpress.com / Putri Andriyas
Saat ini tengah sibuk membuat cerpen, serta aktif berbagi cerita yang inspiratif dan menyenangkan lewat blog. Untuk mengetahui lebih lanjut, beberapa tulisan saya, bisa kunjungi blog pribadi saya.
www.putriandriyas.wordpress.com
Ingin kontak saya? bisa via email maupun facebook.
Email: putriandriyas[-at-]gmail.com
Facebook: @putriandriyas

Cerpen Penantian Sekar Kala Senja merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


LDR

Oleh:
Hari itu, tanggal 12 juli 2013 ketika aku akan membuka hasil tesku di salah satu perguruan tinggi negeri di jawa tengah, tepatnya di Semarang. Penentu apakah aku akan pindah

Rindu Dalam Angan

Oleh:
Cinta tak pernah salah, hanya saja kadang waktunya yang tidak tepat. Cinta tak bisa memilih kepada siapa ia berlabuh. Namun cinta bisa menentukan kemana ia akan membawa si pemiliknya

Malam pun Menangis

Oleh:
Aku menyayanginya, entah? apa yang ada di pikiranku sehingga aku terlalu tergila-gila dengannya, atau aku yang terlalu bodoh untuk mencintainya? Kurasa tidak. Karena aku, sangat menyayanginya. Tak pernah kulepas

Nita

Oleh:
Bangku di sudut salah satu cafe yang menyajikan banyak macam varian kopi ini adalah satu-satunya yang kosong. Letaknya paling ujung, tepat di dekat toilet dan westavel. Walaupun bukan bangku

Bebek Berbaju Korpri

Oleh:
Seekor bebek berbaju korpri, bernafas api dan bersayap kelelawar mengejarku di padang ilalang setinggi lutut. Aku ketakutan karena bebek itu bernafsu sekali ingin menjadikanku makan siangnya. Matahari di atasku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *