Pengorbanan Hati

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 25 January 2016

Sinar mentari pagi menyinari pagiku. Hari ini adalah hari kedua, di tahun pelajaran baru, aku mulai masuk sekolah. Aku melangkahkan kakiku menuju kelasku, namun belum sampai ku ke kelas, aku melihat salah satu adik kelasku yang sedang menjalani acara MOS. Aku memperhatikan dirinya lekat, kenapa? Entahlah aku juga tidak tahu. Yang aku tahu, aku seperti mengenalnya. Aku mencoba mengingatnya, siapa dia? Dan semakin ku ingat, hanya satu orang yang ku ingat yaitu Haikal Pratama, adik kelasku waktu di SMP, yang pernah dekat denganku. Tapi mungkinkah? Aaaaah… Memikirkannya membuatku pusing, lebih baik aku masuk saja ke kelas.

Seminggu sudah berlalu sejak hari itu. Sekarang aku sedang berada di pinggir jalan menunggu angkot untuk pulang ke rumah. Baru lima menit aku menunggu, tiba-tiba ada seseorang yang berhenti di depanku sambil berkata, “Kak, lagi nunggu siapa?” aku kaget mendengar suaranya, ternyata itu Haikal. “Eh Kal, lagi nunggu angkot nih, lama banget.”

“Ayok kak, ikut Haikal aja. Kayaknya kalau udah sore gini, angkot udah jarang lewat.” ucapnya menawariku untuk pulang bersamanya. Aku berpikir sejenak, sebelum akhirnya aku mengangguk. Haikal mulai melajukan kendaraannya ketika aku sudah menaiki kendaraannya. Hanya lima belas menit waktu yang dibutuhkan Haikal untuk mengantarku sampai depan rumah. Aku pun turun.

“Thanks ya Kal,” ucapku, Haikal mengangguk.
Aku mulai berbalik, namun, “Kak,” panggilnya. Aku kembali menatap Haikal.
“Ada apa dek?”
“Boleh minta nomor kakak gak?”
“Hmm… Boleh,” aku menyebutkan nomor handphone-ku.
“Makasih kak, nanti aku sms kakak yah,” Haikal pun pergi meninggalkan rumahku.
Malam pun datang, seperti biasa, setiap malam setelah selesai belajar, aku selalu menonton tv di kamarku. Saat aku sedang menonton salah satu sinetron di tv, handphoneku bergetar, aku melihat layar handphone-ku, yang ternyata ada sebuah pesan masuk, tapi aku tidak tahu itu nomor siapa, karena tak tertera nama. Mau tak mau aku pun membukanya.

“Kak? Ini Haikal”
“Kakak lagi apa?”

“Ah ternyata ini nomor Haikal,” gumamku setelah membaca isi pesan itu. Lalu aku membalas pesannya.
“Iya dek, lagi nonton tv ajanih kalau kamu lagi apa?” Kami terus berkirim pesan, sampai tak terasa, satu jam sudah berlalu. Aku pun sudah mulai mengantuk. “Sudah dulu yah Kal, kakak. Udah ngantuk. Gnight. Sampai bertemu besok di sekolah.” Itulah akhir percakapan kami.

Keesokkan paginya, “Hai Kak, mau pulang bareng lagi gak?” sapa dan tanya Haikal.
“Enggak usah dek, ngerepotin kamu jadinya.” tolakku sambil tersenyum.
“Gak apa-apa kak, aku malah seneng bisa pulang bareng kakak.” mau tak mau aku pun mengangguk.
Dan semakin hari, kami semakin dekat. Pergi dan pulang sekolah kami selalu bersama. Kemudian di sore itu, kami pergi ke salah satu pantai yang ada di daerah kami.
“Indah banget yah sunsetnya, Kal,” ucapku sambil menatap sunset itu.
“Iyah kak, indah banget. Tapi masih kalah indah dengan mata kakak.” aku blushing ketika mendengar ucapan itu.
“Ah kamu mah bisa aja.” ucapku sambil tersipu malu. Tak terasa, hari pun semakin sore, dan kami memutuskan untuk pulang.

Waktu berjalan begitu cepat, di pertengahan semester pertama, di sekolahku mengadakan pendaftaran untuk calon Osis baru. Haikal mengikuti pendaftaran itu. Dan sebelum diterima menjadi Osis, Haikal harus mengikuti Latihan Dasar Kepemimpinan atau yang sering disingkat LDK. Latihan itu diadakan di luar kota, lebih tepatnya di kota Bogor. Selama Haikal menjalani LDK, kami tak saling mengabari, bahkan aku pun tidak tahu sejak kapan ia pergi. Sebenarnya aku tahu informasinya, namun aku tidak tahu kapan pastinya. Dan setelah aku tahu, ia malah sudah berada di Bogor. Kecewa sih, tapi mungkin memang dia tidak sempat untuk mengabariku.

Dua hari aku menunggu kabarnya, namun kabar itu tak datang juga. Akan tetapi setelah aku mendapat kabarnya, aku mendapat kabar yang tak enak. Yaitu aku mengetahui bahwa ia sedang dekat dengan Keyla, kakak kelas sekaligus salah satu anggota Osis di sekolahku. Awalnya aku tak percaya, namun setelah aku melihat foto-foto bersama mereka yang terpasang rapi di mading sekolah, aku jadi yakin, kalau mereka memang sedang dekat. Pagi ini, ketika aku baru saja datang, aku melihat Haikal dan ia pun melihatku. Namun tak seperti biasanya, dia tidak menyapaku. Alhasil aku yang memberanikan diriku untuk menyapanya lebih dulu.

“Hai Kal,”
“Oh iya Kak,” jawab Haikal gugup.
“Kenapa Kal, kok kamu gugup sih jawabnya?” tanyaku.
“Eng..ggak kok kak!” elak Haikal. Aku menghela napas. Lalu aku melemparkan satu pertanyaan lagi.
“Kenapa sekarang kamu ngejauh kal?” tanyaku langsung sambil menatap Haikal. Namun belum aku mendengar jawaban darinya, tiba-tiba bel berbunyi. Aku semakin penasaran mengapa Haikal tiba-tiba menjauhiku, apa karena Keyla? Ah rasanya itu tidak mungkin!

Keesokkan harinya, aku melihat Haikal duduk berdua di taman sekolah bersama Keyla. Aku semakin yakin bahwa mereka memang sedang dekat. Mengapa hatiku merasa sakit melihat mereka berduaan? Apa aku suka dengan Haikal? Ah tidak mungkin. Karena terlalu lama memperhatikan, Haikal pun akhirnya mengetahui bahwa aku sedang memperhatikan mereka, dan tiba-tiba saja dia mendekatiku.

“Hai Kak, ngapain berdiri aja di sini? Ikut gabung yuk?” ucapnya menawarkanku dengan nada yang lembut.
“Nggak terima kasih, kakak mau ke toilet, karena tiba-tiba perut kakak sakit.” tolakku ketus. Aku berbohong pada Haikal bahwa perutku sakit, agar aku bisa pergi dari hadapannya. Bel pelajaran terakhir berbunyi, aku pun bergegas untuk ke luar kelas, belum jauh kakiku melangkah, aku melihat Haikal dan Keyla di parkiran sekolah. Sepertinya Haikal mau mengantar Keyla pulang. Dan hal itu cukup membuatku pulang dengan rasa kecewa. Sejak ku tahu Haikal dekat dengan Keyla, aku pun semakin jauh darinya.

Seperti malam-malam sebelumnya, selesai belajar aku melihat handphoneku. Ternyata ada pesan dari Haikal, rasanya malas sekali aku untuk membacanya, apalagi mengingat sikapnya terhadapku akhir-akhir ini. Namun rasa penasaranku memaksaku untuk membacanya. “Kak, maafin Haikal yah. Haikal harus menjauh dari kakak, Haikal kayak gini, karena Haikal mau ngejaga perasaan Kak Keyla yang sekarang udah deket banget sama Haikal. Terima kasih buat semuanya Kak. Sekali lagi Haikal minta maaf.”

Betapa terkejutnya aku membaca isi pesan itu. Mengapa Haikal bisa sejahat ini? Mengapa dia hanya ingin menjaga perasaan Keyla saja? Apa ia tidak ingin menjaga perasaanku? Setidaknya dengan mengirim pesan seperti itu, itu sama saja melukai perasaanku. Sebenarnya dianggap apa aku olehnya selama ini? Aku tak menyangka, ternyata Haikal setega ini padaku. Sejak itulah aku memutuskan untuk berpindah sekolah, di salah satu SMA yang terdapat di kota Bogor. Aku sengaja berpindah sekolah agar aku tidak melihat mereka lagi. Terlalu sakit rasanya bila harus mengingatnya kembali. Hari ini, saat aku sedang menyiapkan buku untuk sekolah besok, tiba-tiba handphoneku berbunyi. Ternyata itu telepon dari Haikal. Aku segera mengangkatnya.

“halo Kak,” aku mendengar suaranya, suara adik kelas yang pernah mengisi ruang di hatiku.
“Iya halo, ada apa kal?” jawabku datar.
“Kakak kenapa enggak kasih tahu aku kalau kakak udah pindah sekolah?” tanya Haikal dengan nada suara khawatir dan kecewa. Huh, pembohong!
“Memangnya itu penting? Sehingga kakak harus mengatakannya padamu?”
“Kakak…” ucapnya lirih.
“Sudahlah lupakan!”

Kami pun berganti topik pembicaraan, tiga puluh menit kami bercakap-cakap via telepon sebelum akhirnya Haikal memutuskan sambungan teleponnya. Dan betapa terkejutnya aku ketika Haikal menjelaskan bahwa ia menyesal, dan ia meminta maaf padaku atas kesalahannya itu. Dia bilang dia sangat menyesal telah menyakitiku. Dia juga mengira bahwa Keyla tidak mempunyai kekasih, makanya ia berani mendekati Keyla. Tapi ternyata Keyla sudah mempunyai kekasih. Sebenarnya ini bukan salah Haikal, namun meski begitu, hatiku sudah tidak tergerak untuk menerimanya kembali. Karena semuanya sudah terlambat! Hatiku sudah kau sakiti, dan rasanya sudah terlalu sakit, jadi tak ada lagi kata untuk kembali. Selamat menyelesaikan penyesalanmu Haikal, kau telah menyia-nyiakan seseorang yang tulus padamu, hanya untuk orang yang baru kau suka. Itulah kata-kata yang ku ucapkan di akhir percakapan kami.

The End

Cerpen Karangan: Nurkholifah Fadzilillah
Facebook: Nurkholifah Fadzilillah

Cerpen Pengorbanan Hati merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku, Kalian, Kita

Oleh:
“Cepat sekali, ya…” Tanpa sengaja aku menggumamkan sesuatu di tengah lamunanku. Suasana kelas yang sunyi membuatku berpikir akan sesuatu. Ini bukanlah tentang betapa cepatnya laju angin hingga menyeret awan

She Not Good (Part 2)

Oleh:
Keesokan harinya, aku hanya berjalan-jalan di pusat kota Manhattan, Tidak kuliah membuat aku tidak memiliki kegiatan, keinginan mencuri pun tampaknya tidak bisa kulakukan, karena aku mungkin masih diawasi oleh

Si Pemalu

Oleh:
Namaku Alise aku gadis kelas 1 SMA yang pemalu. Setiap kali bertemu dengan orang aku selalu bersembunyi sambil gemetaran. Aku takut sekali bila bertemu dan bercakap-cakap dengan orang lain

So Long

Oleh:
Ku lewati jalanan dengan langkah tertatih untuk menuju pulang ke rumah. Bulan-bulan dan para bintang yang terlihat menunduk sedih karena tertutup mendung. Hujan deras mengguyur seluruh tubuhku yang separuh

Hari Yang Gak Aneh

Oleh:
‘Ayo cepat berangkat! Jangan sampai terlambat! Dan tetaplah semangat! Ke sekolah! .. Go go go Satria!!’ Itulah sepenggal lagu ‘Anak Kampung’ dari grup band Jupiter Antariksa yang telah beredar

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *