Permainan Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 15 September 2017

Ketika mereka menghabiskan kopi berdua di bawah sinar bulan purnama, mata pun terkunci pada sesama. Namun itu dulu, ya dulu, kini yang bisa Beni lakukan hanyalah mengunci tatapannya pada selembar foto lusuh. Dirinya duduk dengan seorang wanita, senyumnya pun lebar dan tulus, lilin menyinari mereka berdua melengkapi lampu ruangan yang redup. Meski mata mereka tertuju pada kamera, tidak bisa disembunyikan ingin rasanya mengintip satu sama lain dari pojok mata.

“Ben, kamu nggak apa-apa?” rangkaian suara lembut menarik Beni kembali ke atas bumi. Ia terkejut dan melonjak dari kursinya seraya menjawab terpatah-patah. “Eh iya… tentu lah. Jarang tepat waktu, silahkan duduk Lin.” Seorang wanita berambut hitam tebal segera duduk di seberang Beni. “Wah udah lama juga nih, kantor sibuk ya?” sambut Beni. “Yah… gitu deh, namanya juga bank.” Beni tersenyum dan tertawa mendengar jawabannya, ia menjentikkan jarinya seraya berucap pada Lina, “Pesen dululah, kamu nggak fokus kalo lagi laper hahaha.” Lina tertawa lebar, membalas tidak mau kalah, “Emang kamu nggak?” “Yahh… aku mah nggak bisa fokusnya kalo lagi ada kamu,” jawab Beni seraya melirik Lina. Lina menyikut dirinya, wajahnya memelas, “Ah dasar gombal… udah dari dulu itu mah.”

Segelas mojito disajikan, Lina senang tidak kepalang melihat rum segar yang dihiasi jeruk nipis dan didampingi es serut. Beni tersenyum pada pelayan yang masih muda, belum tembus dua puluhan, “Makasih ya mbak,” ucapnya lembut dan mengalir disertai lirikan yang menghangatkan. “Oh iya.. hmm maka, eh sama-sama.” Pelayan tersebut gugup kelagapan, hampir menjatuhkan Manhattan yang dipesan Beni. Beni tertawa dangkal seraya pelayan tersebut berjalan cepat menuju teman-temannya yang sudah siap menerkam. Tatapan Lina kini tajam seraya menyeruput mojitonya, entah karena asam atau faktor lain.

“Masih aja kamu?” tanya Lina tajam.
“Maksudnya?” wajah Beni menggoda tertantang
“Yah… nggak berubah aja, udah 35 lho kamu.”
“Hah! Umur 20an baru pemanasan, sayang. Sekarang baru game night!”
“Hmmm… nggak sebaiknya kamu mulai dewasa?” sahut Lina seraya mengusap wajahnya.
“Hah? Pekerjaan udah dapet, pendidikan pun udah S3. Inget lho, kamu lagi ngomong ke siapa?”
“Oh iya, seorang narsistis nggak jelas yang bisa nulis tingkat dewa walau suka main ke sana-sini. Nggak tahu nih kenapa dia masih aku jadiin temen.”
“Oh…” jawab Beni datar seraya memandang foto yang ia mainkan di bawah meja, “Aku lebih suka rektor termuda dan penyair ternama, tapi bolehlah.”
“Aduh…. harapkan burung yang terbang tinggi, punai di tangan pun dilepaskan.”
“Hey! Jangan gitu dong, kalo kamu jadi penyair juga entar aku makan dari mana?”

Cocktail masing-masing telah habis, mereka menyusuri gemerlap kota Jakarta dengan pepohonan betonnya serta sungai aspalnya. Beni tersenyum mengamati Bundaran H.I. dengan air mancur warna-warninya, mobil menderu saling menyaingi sementara semut-semut mengisi halte berusaha kembali ke ratunya masing-masing. “Lihatlah, Lin… ini baru Jakarta yang sebenarnya. Jakarta itu harapan, karena tanpa harapan nggak ada kebersamaan. Mereka mengharapkan hidup yang lebih baik, jadilah mereka ingin kembali bersama yang dikasihi.” Lina mengangguk-angguk membiarkan alunan kata tersebut berhembus keluar dari telinga kanannya. “Yah… sosiolognya kambuh deh. Tapi Prof, kalo udah hampir separuh baya dan rumah masih kosong kembalinya ke mana?” Beni tersenyum miris mendengar olokan Lina, “Hahaha! Sekarang kita ngomongin ekonomi aja deh.”

Bunyi WA mengisi kehampaan ruangan, Lina segera melirik ponselnya namun kembali memandang jalanan kota Jakarta. “Penting ya?” tanya Beni. Lina hanya menggelengkan kepalanya, namun Beni masih membidiknya. Lina pun menyerah, “Velo mau balik. Besok udah di sini.” Beni tertegun, “Oh,” jawabnya datar seraya mengeluarkan foto yang sudah lusuh dari kantung jasnya. “Udahlahhhh masa ngeliat itu terus, buat yang baru tuh mumpung dia balik,” goda Lina. Beni hanya bergumam dan tersenyum, mereka pun berpisah, sang penyair kembali ke sarangnya sedangkan sang ekonom kembali bermandikan angka-angka.

Tatapan Beni kosong ketika mobilnya menyusuri jalanan Jakarta yang tidak pernah sepi meskipun jam telah menunjukkan dini hari. Ia ingat hari terakhirnya bersama Velo, ketika mereka makan malam. Ia menyodorkan sebuah kertas lecek pada Velo, angka 24 tercetak tebal di atas kertas. Velo membalasnya dengan sebuah kertas berbeda, namun menunjukkan angka yang sama. Beni mengerutkan dahinya dan menaikkan alisnya, “Oh, satu lagi sayang?” Velo tertawa menggoda, “Yep, tunggu aku dari New York ya.” “Hah! Emang ada permainan adil?” balas Beni. Velo melirik dan tersenyum tipis, Lina mengejutkan mereka berdua ketika suara rendahnya membuka percakapan. Beni terlonjak dari lamunannya seiring bunyi rem mengiris gendang telinganya, hatinya berdetak kencang melihat sebuah mobil lain berhenti di depannya. Hanya beberapa langkah yang memisahkan.

Hari sudah petang ketika ponsel Beni berdering, suara mulus Lina membersihkan telinga. “Velo mau ketemu, di mana nih?”
“Sency yuk… udah lama nggak di kitchenette, winenya lagi ada promo nih.”
“Inget umur, Ben…”
“Ngapain? Mendingan inget kamu aja deh.”
“Hmmm… okelah, ketemu nanti ya.”
“Yoiiii,” Ben kembali menghangatkan ponselnya di dalam saku.

Mereka bertiga sedang tertawa puas ketika pelayan menuangkan segelas merlot. Mata Beni menatap tajam ombak merah yang menderu, membentuk sebuah lautan dalam gelas tersebut. Dengan perlahan, ombak-ombak tersebut mulai melebur membentuk sebuah cairan merah pekat nan bening. Velo berbisik halus, “Udah kebiasaan ya?” Beni hanya tertawa setengah hati sementara Lina telah dirasuki kenikmatan steak yang dipesannya. “Ayo nih, kalo diliatin aja kapan diminumnya hahaha,” ucap Beni mendahului sulangan mereka bertiga.

Tidak lama, ponsel Lina pun berdering, wajahnya yang berbahagia segera dihantui kekecewaan seiring ujung lain sunyi senyap. Beni dan Velo memandang Lina, bertanya-tanya. “Aduh maaf banget nih, BI ada rapat mendadak, cabut dulu ya.” Beni memelas dan tertawa terbahak-bahak, “Yahhh untung aku jadi rektor sama penulis.” Velo dan Beni pun memeluk Lina erat. “Nanti kita makan bareng lagi ya,” ucap Lina seraya meninggalkan Velo dan Beni berdua.

Beni memandang rambut Velo, menyadari ujungnya masih dicat kecokletan.
“Gimana Eropa?”
Velo mengernyitkan dahi, “Yahhh gitu deh, pastinya nggak ada kamu.”
“Iyalah, nggak ada temen main ya?” balas Beni menyikut Velo
“Main apa nih?”
“Hahaha… tahu lah, masih 24?”
“Gitu lah, di sana banyak sih. Tapi kan nggak kehitung.”
“Yoiiiiii, siap-siap kalah sayang.”
“Oh, kamu terlalu yakin. Kita lihat aja nanti ya.”
“Btw, sebentar lagi ada film bagus nih. Mau nonton?”
“Aduh mau bangettt, di sana kerjaannya teater semua nih.”
“Hahaha kayaknya kita harus tukeran tempat deh.”
“Bener… bener.”

Velo dan Beni tersenyum lebar ketika pintu bioskop terbuka lebar, wajah-wajah bahagia mengisi ruangan meskipun beberapa terharu sedih. Ia memandang Velo kembali, entahlah, ada yang berbeda dengan dirinya. Matanya yang kecil nan manis masih sama, bibirnya pun juga. Velo membalas pandangannya, Beni tergerak entah mengapa. Ia menarik punggung Velo, mengusap rambutnya dengan perlahan. Matanya memandang dalam, kepalanya pun mendekat. Velo tidak menolak, Beni yang terbutakan entah apa tidak melihat senyuman miris Velo. Ia mencium Velo dalam, mengoles bibir sesama. Beni segera menarik diri, lipgloss creme Velo melumuri bibirnya.

Velo memandang menggoda, memicingkan kepalanya. “Lho kenapa? Aku suka kok.” Beni memandang Velo kembali, penat nan pucat. Ia tanggalkan tangannya dari punggung Velo dan berbicara halus, “Aku tidak tahu, sayang… aduh maaf nih.” Velo hanya tersenyum, kini sebuah senyuman lebar yang terpahat di wajahnya. Ia mendekati Beni dan berbisik menggelitik di telinganya, “Oh, jangan buat itu yang terkahir kali, Ben.” Beni mengangguk-angguk, “Itu janjiku sayang.” Ia berjalan pergi, Velo masih memandangnya namun segera pergi meninggalkan Beni yang masih melayang di khayangan bermandikan kebahagiaan dan bercumbukan cinta.

Di bawah langit malam serta bintang yang berkelip, Beni memandang rumahnya yang kini terasa terlalu besar. Sebuah perasaan yang tidak pernah mengisi dirinya, kesepian. Ia lihat tempat tidur yang kini terasa terlalu luas serta makanan yang terasa terlalu mengenyangkan. Ia tersenyum pada dirinya sendiri, membuka lemari dan mengambil sebuah kotak. Sebuah cincin berlinang permata bergemilang dari kotak tersebut, ia bergumam pada dirinya, “Janjiku, Ibu.” Ia mengeluarkan ponselnya dan berbicara bahagia, “Halo, Lin! Besok ketemu di taman ya, yang deket kantormu itu lho.” Ujung lain telepon sunyi, tertutup meninggalkan Lina yang kebingungan namun tidak bisa menolak.

Jaket hitam tebal menyelimuti Beni dari angin malam yang menusuk tulangnya. Ia melihat Lina yang berjalan mendekatinya. Beni melebarkan tangannya dan memeluk Lina erat, Lina tersenyum melihat Beni. Matanya lebar, “Udah lama nggak lihat kamu sebahagia ini?” Beni hanya mengangguk-angguk dan menatap kolam. “Aduh lama banget lah. Ikannya keburu kenyang deh hahaha.” Wajah Lina kelam namun Beni kembali membahagiakannya, “Masih inget nggak, waktu kamu ulang tahun? Nangis seharian disakitin diplomat itu, terus aku dateng bawa kue, ngasih makan ikan bareng.” Lina hanya tersipu malu.

Beni berlutut dan mengeluarkan sebuah kotak beludru dari saku jaketnya. Ia membuka kotak tersebut, memperlihatkan cincin permata yang telah ia lap di rumah. Beni mengunci pandangannya pada mata Lina dan berucap dengan halus. “Di bawah bulan purnama ini dan gemuru air kolam, maukah engkau mengisi hidupku sampai hari tua wahai permata hati? Maukah engkau menikahiku?” Lina tidak bisa berkata-kata, ketika mulutnya mulai terisi Beni telah mendahuluinya. “Kira-kira Velo bakal nerima nggak ya?” Lina terperanjak, kegeraman merasuki dirinya.
Lina memeluk Beni erat, cincin berlian tersebut hampir terselip dari tangan Beni. “Ben… selamat ya, akhirnya kamu ketemu juga.” Lina menepuk pundak Beni, air mata meleleh di pipinya. Beni pun mengeluarkan sapu tangannya, mengusapnya dengan lembut. “Jangan menangis lah sayang, kamu pasti diundang kok,” ucap Beni dengan sebuah cekikan kecil. Namun Lina segera membuang pandangannya, tidak berani berkunci tatapan dengan Beni. “Aku rencananya sih mau ngelamar dia besok malam, gimana? Kamu dateng dong,” pinta Beni. Lina hanya bisa berdiam diri dan membalas datar, “Hmmm… aku liat jadwal kantor dulu ya.” Beni mengangguk dan tersenyum lebar, “Kau tahu, kedatangan teman karibku akan bermakna banyak.” Lina mengangguk-angguk meskipun kini kata teman terdengar perih di telinganya.

Velo terlihat memesona seperti biasanya, Beni mengenakan sebuah dasi kupu-kupu merah yang menemani jas abu-abunya. Velo tersenyum melihat Beni yang berdiri tegak, senyumannya pun yakin dan dalam. Sepuluh tahun berteman bersamanya, Velo akhirnya melihat senyuman tulus Beni untuk pertama kalinya. Velo terlihat puas dan menghampiri Beni yang baru saja menuruni BMWnya.

“Jarang ngajak makan di sini?”
“Hahaha nostalgia bolehlah.”
“Owh yang waktu itu difoto Lina ya?”
“Masih inget aja kamu. Ayo masuk.”

Mereka memasuki restoran tersebut, tangan Beni erat menghangatkan punggung Velo. Mereka duduk tepat di sebelah jendela, Beni menarik sebuah kursi mempersilahkan Velo duduk. Seorang pelayan datang membawa spaghetti yang dilumuri saus tomat menggoda dan dihiasi serpihan-serpihan daging. Tidak berselang beberapa lama semangkuk risotto datang, terkulai tak berdaya dari nafsu Beni. “Kayak dulu lagi pesennya?” Beni mengangguk, matanya tidak lepas dari Velo. Beni menghabiskan seperempat minumnya dan berucap halus.

“Aku cinta kamu, Vel”
“Kamu mabuk ya?”
“Nggak, Vel. Sepuluh tahun, ku sadar sebenernya aku cinta kamu.”
“Ben… apa maksudmu?”
“Yah aku cinta kamu, aku peduli sama kamu. Kamu nggak kayak wanita lain.”
“Ben, aku memang mencintaimu juga. Cintamu tulus dan aku nggak tahu… kamu bisa bikin aku tersenyum bahagia.” Velo memamndang mata Beni dalam.
“Kamu mau nggak menikahiku?” tanya Beni seraya membuka kotak yang telah ia siapkan.
Velo pun tersenyum, namun bukan bahagia maupun terharu melainkan sebuah senyuman miris yang menggelapkan dunia. Velo menutup kotak tersebut dengan perlahan, mengacangi Beni yang masih kebingungan dan mengeluarkan sebuah kertas. Angka 25 tertulis di kertas tersebut, sepasang angka dari tinta bercetak tebal yang tidak dapat dihapus. Baik dari memori maupun hati. “Aku selalu menang, Ben…” Ucapan tersebut terngiang dalam kepala Beni, menyayat hatinya dan merebus darahnya. Ia menghempaskan kotak tersebut namun menyimpan cicinnya kembali dalam sakunya. Beni membanting meja dan segera meninggalkan restoran, senyuman gemilang Velo masih membayangi dirinya.

Ia menyetir kencang, gemuruh drum seakan memukuli gendang telinganya sementara gesekan violin kusut menyayat telinganya. Air mata mulai mengalir menuruni pipinya, namun ia hanya bisa menyetir lebih cepat dan lebih cepat. Sebuah rumah berlantai dua berdiri tepat di depannya, ia turun dan mengetuk pagar. Kemejanya sudah kusut dan ikatan dasinya sudah tidak karuan. Namun pikirannya tidak kusut, masih rapi dan filosofis cemerlang mengetahui apa arti cinta. Cinta bukanlah apa yang membuatmu bahagia sementara, namun apa yang selalu hadir di sisimu baik dalam tawa canda maupun ketika hari sedang gelap.

Kini hanya Lina yang mengisi pikirannya, tidak ada orang lain. Seorang pria tua keluar dari rumah, ia tarik kembali memorinya, mengingat wajah supir Lina. Pria tua bersuara serak tersebut mengeluarkan sebuah surat, wajahnya prihatin mengamati diri Beni dan menepuk pundaknya. “Ibu udah pergi ke Washington, kayaknya dia tidak ngasih tahu Mas ya dirinya diundang Bank Dunia? Ini titipan Ibu untuk Mas.” Beni mengambil surat tersebut, mengangguk hormat pada pria tua tersebut dan kembali memasuki mobilnya. Air matanya tidak karuan ketika melihat tulisan tangan Lina yang rapi miring ke kanan dengan tinta pena yang banjir di beberapa bagian.

Untuk Beni, “teman baikku”, sejak dulu
Aku ingat ketika dulu, kulihat dirimu bersandar pada dinding sekolah dengan buku tidak pernah lepas dari tangan, Paradise Lost tertera pada sampul buku apek tersebut. Namun kau berbeda, kau bukanlah seorang penyendiri lebih condong pada seorang introvert walau engkau lebih suka kata penyair. Ku ingat pertama kali mengobrol dengan kamu di bawah hujan Januari, dari situlah ku tahu… di balik tatapan dingin tajammu adalah seorang pria hangat dan pengertian. Hitunganku akan berapa kali engkau membantuku pun telah hilang, tetapi tidak ada gunanya meratapi masa lalu. Aku mendekap diri mu yang sekarang, engkau lebih hidup sekarang, tidak sekaku dulu.
Mungkin ya kau telah memainkan cinta banyak wanita sejak dulu. Aku pun tidak bisa menyalahkan dirimu, mengingat alasan engkau menyerahkan konsep cinta sejati ke angan-angan. Aku pun juga tahu mengenai permainanmu dengan Velo yang telah beberapa kali kuingatkan untuk berhenti. Memang biasanya kamu yang selalu bilang seperti ini tapi… aku peduli denganmu, Ben… aku mencintaimu. Ketika engkau mengeluarkan cincin bermandikan permata semalam, tidak dapat kujelaskan sebahagia apa diriku dan mengakui bahwa… sebagian diriku menginginkan itu sejak dulu. Ketika nama Velo terlontar dari mulutmu, kau akhirnya menusukku setelah sepuluh tahun bersahabat.
Sepertinya permainanmu bertahun-tahun telah mengelabuimu mengenai makna cinta sejati, cinta sejati bukanlah cinta yang tidak mengekang dan membiarkanmu memainkannya dengan banyak orang… namun sebuah perasaan yang akan menjaga dirimu tidak kesepian saat malam dan tentram ketika badai menghadang. Kekasih sejati pun bukanlah orang yang akan memainkan cinta bersama dirimu… namun dialah orang yang akan menikmati cinta bersamamu. Kini, aku sedang berada di seksi VIP pesawat Emirates menuju Washington. Sebenarnya aku ingin memberitahumu dua hari yang lalu bahwa aku ditelepon pimpinan Bank Dunia… tapi ada banyak yang terjadi dalam dua hari. Aku tidak tahu kapan aku akan kembali. Tolong jangan susul aku, Ben… aku hanya ingin kau mengingat, siapa yang memainkan cinta akan berakhir dipermainkan cinta.

Cerpen Karangan: Ghafi Reyhan
Seorang pria muda yang suka menulis mengenai dunia di sekelilingnya.

Cerpen Permainan Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mantan

Oleh:
Aku terduduk lesu di depan laptop sambil menahan perih dan sakitnya perasaan yang baru saja dilukai oleh seorang pujaan hati yang mungkin tak bisa ku miliki lagi. Ku tatap

SKY

Oleh:
Aku berdiri di sebuah jembatan kayu panjang yang mulai tua. Sendirian aku di tengahnya. Di ujung jembatan ku merasakan seorang laki-laki sedang memandang ke arahku. Aku tak ingin melihatnya.

Mungkin Ini Bukan Saatnya

Oleh:
Namgue Chepy biasa dipanggil abeng, gue sekolah di ponpes al-ikhlas jambar kuningan. Pada hari senin di sekolah cuacanya masih sepi dan berkabut, sambil menunggu anak-anak yang lain gue pergi

Jawaban Atas Dilema

Oleh:
“Apa aku salah. Mungkin tidak. Hubungan ini salah sedari awal seharusnya tak begini. Yang ku mau tidak begini, ya Allah.” Tina bersedekap pasrah. Di meja salah sudut kafe ia

Friend and Boyfriend (Part 1)

Oleh:
Ini pertama kalinya ia menginjakkan kaki di SMA Darmawangsa. Di sinilah ia, dengan dandanan super norak, yaa seperti MOS biasanya. Rambut dikepang empat, memakai pita berwarna kuning, menggendong tas

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *