Rasa Tabu Bersamamu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 8 May 2017

Suasana pagi yang cerah, telah menyelimuti desa Rajun Pasongsongan Sumenep. Mulai termusiki kokok ayam tetangga yang memenuhi gendang telingaku. Orang-orang kesana kemari merangkul cangkul membawa celurit dan bekal terbungkus kresek hitam di tentengnya. Tapi bukan berarti bersiaga untuk carok ya guys, orang luar memang mengenal orang madura terkenal jurus carok di saat membawa celurit. Padahal mereka tengah pergi ke ladangnya untuk mengairi rumput, padi, jagung dan tanaman lainnya. Maklum sekarang lagi musim hujan, para petani harus menancapkan semangatnya untuk tanaman emasnya.

Sementara itu aku, habib dan rohman masih menampakkan suara sepatu, bergegas untuk sekolah ke Arraudlah Rajun Pasongsongan Sumenep, yang jaraknya kurang lebih dari 2 km dari rumah. Sedangkan di satu sisi sinar matahari mulai menyentrong dan panasnya menyengat ke pori-pori kulit kita. Yah.. inilah perjuangan sang penjajah indonesia.

Sampai ke sekolah seperti biasa aku langsung menemui sahabat dekatku atau lebih akrab dengan genk, yang tak lain hanyalah awik, aris dan tawaf mereka sudah dari tadi berkumpul dalam kelas. Dan di samping mereka ada neng Imah dan Iza kekasihku yang khusuk membaca novel. sudah lama aku menaruh hati pada neng Imah. Tapi, aku memilih menyimpan perasaan ini. Dulu aku punya inisiatif untuk mengungkapkan perasaan pada neng Imah, tapi, aku dapat kabar bahwa akan ada yang mau melamarnya. Pula, mana mungkin ia mau denganku. Secara ia keturunan darah biru atau paling tidak abahnya tokoh masyarakat. Jauhlah langit dan sumur plus beda kasta, sedangkan orangtuaku hanya seorang tani ekonomi pun terbatas. Semenjak kejadian itu aku meniatkan diri untuk mengalihkan perasaanku pada Iza sahabatku juga sahabat neng imah. Tanpa sesadari kupandangi neng Imah lamat-lamat, serasa tiada bosannya memandangi wajahnya yang anggun dan senyumnya yang merekah.

“Rul… nanti sore main bola yuk?” ajak Tawaf membuyarkan lamunku
“Oh.. i..i..iya kalau ngak hujan insyaallah, tapi kalo hujan aku ngak bisa janji..”
“Katanya manusia itu hebat… tapi kenapa ya manusia itu takut sama hujan..” ledek Awik mulai sok kepintaran
“Huuuu…” demo anak-anak serentak dalam kelas
“Apaan sih kalian ini.. iri ya karena muka ku cakep.” Ujar Awik memamerkan dirinya sendiri
“Huuu.. cakep asal diliat dari atas monas. Hahah…” sambung Aris
“Hahah iya kamu mang cakep caca tak khekep..(madura) hahahh” leluconku, mengundang anak-anak ikut tertawa. Namun, ada yang aneh dari rohman terlihat murung.
“Kamu kenapa Man?” tanyaku khawatir
“Biasa mas broken heart, Aisyah cewekku lagi ditunangin sama orangtuanya..” kata rohman memelas
“Owh.. galau nih ceritanya, kacian anak mama.” kataku menghibur
“Sabar.. pasti ada yang terbaik” sambung Tawaf
“Iya Man, yang sabar, Allah telah menentukan jodoh kita, saat kita berada dalam kandungan. Ya bisa jadi Aisyah bukan yang terbaik buatmu” neng Imah memberikan motivasi.
“Makasih neng” rohman berusaha tegar
“Pantesan aja di jalan gak ada kokoknya” ujar Habib
“Emang ayam berkokok” Rohman mulai tersenyum
“Biasanya ya kalau lagi patah hati itu banyak konsumsi cabe, biar refresh kembali” Awik mulai kepintaran lagi
“Hahah, makan tuh cabe sekilo..” ledek neng Imah
“Lok gak ada cabe, di rumah ada, kebetulan emak kemaren manen cabe, dijamin lebih satu kilo gratis pula buat kamu. Hahaha” ledek iza ikutan
“Hahaha emang kalian kira aku apaan? Hahh…??” tanya Rohman geram
“Entahlah” jawab Arul dan Iza serentak tanpa sengaja
“Hemmz” lirik Aris
“Sweett… swet.. kompak banget sih…” gurau Habib, dari saking geroginya wajah ku memerah, lalu menjitak kepala Aris dan Habib. Sedang Iza menunduk kepala tersipu malu.

Akhir-akhir ini ada yang mulai berubah dari Iza, serasa ada sesuatu yang ia simpan. Kasak-kusuk kabar angin selalu kudengar bahwa Iza itu selingkuh. Tapi aku tak menghiraukan masalah itu. Kadang hatiku ragu sama Iza. Serasa hatiku bukan untuk Iza, tapi untuk neng Imah.
”Terserah kamulah mas, percaya atau tidak. Yang penting aku sudah mengatakan yang sebenarnya sama kamu. Terserah…!” ketus Rohman sementara Arul hanya tertunduk lesu dan membisu.” mas, Iza itu selingkuh dari kamu, kamu harus percaya mas, dia selalu menghubungi mantannya dan paling parahnya lagi iza ngajak baikan lagi sama mantannya. Kamu kurang percaya apa mas? Jelas-jelas iza itu selingkuh di belakangmu…!” ketus rohman lagi
“Aku gak bisa percaya tanpa bukti” kataku singkat
“Aku. Awik, Aris, Tawaf, Habib juga teman yang lainya adalah bukti atau saksi mata mas, dan aku berani bersumpah atas perkataanku tadi mas..” Rohman mulai menampakkan raut wajah geramnya, aku hanya mengelengkan kepala.
Kabar angin itu bukan hanya datang dari teman genkku, teman yang lain pun berdatangan lapor kepadaku bahwa Iza selingkuh di belakangku. Entah mengapa saat itu aku percaya jika cintaku diduakan. kedua gendang telingaku telah muak akan laporan Iza yang mengkhianati cintaku kedua kalinya. Dengan kecewa langsung kulemparkan tas sekolahnya ke atas kasur lalu kuraih handponeku.
”Playglir …” satu pesan terkirim tertera nama Iza
Satu menit… dua menit… pun tak ada jawaban dari Iza..
”Dasar orang munafik” aku tetap memaksa jawaban dari Iza. Tiba-tiba ponselku berbunyi.
“Mas, Iza sms aku nih, tentang masalah yang itu..” kata habib
“Sudah jangan dibalas, makasih ya infonya.” ketusku.
Rasa benci ku kepada iza semakin menjadi. Bukan hanya itu aku sangat menyesal telah berusaha mencintai iza yang pembohong dan munafik.

Selepas jam istirahat aku tak memilih ke kantin atau ikut genknya berkumpul, aku lebih memilih baca novel di atas bangkunya. Perlahan-lahan Arul membuka lembaran novel karangan Vina Afidatus Sofa, dengan judul bukunya Pinangan Untuk Naura. Tiba-tiba neng Imah mendekatinya.
“Rul.. besok novelnya itu bawa ya, aku mau pinjam.” seru neng Imah
“Insyaallah jika tidak lupa neng..”
“Loh.. kok masih insyaallah..”
“Ya biasalah, kan manusia punya rasa lupa..”
“Oh.. ya, pokoknya jangan sampai lupa..” kata neng imah sembari ke luar kelas.

Malam itu tiba-tiba ada suatu yang ganjal di benakku, berkali-kali ku baringkan tubuhku di atas kasur mencari sesuatu yang entah ku tak tau apa yang kufikirkan. Sekali ku menoleh ke buku novel, aku ingat seketika. Dengan lewat novel ini, serasa ada kesempatan yang tepat untuk mengungkapkan perasaanku yang kembali hadir di hatiku. Dulu, aku sama sekali tak punya harapan untuk mengungkapkannya. Mungkin lewat ini adalah waktu yang sangat tepat. Terbata-bata kuambil bolpoin dalam tas, lalu ku oretkan sesuatu di novel pada halaman ke 28. Dengan hati-hati kurangkai kata-katanya yang lumayan indah.

21 maret 2013
Mungkin, lewat ini aku bisa mencurahkan isi hatiku yang sudah lama aku pendam. Sebenarnya sudah lama hati ini punya rasa sama kamu. Tapi, entahlah semua ini aku tak dapat menemukan keberanian untuk diungkapnya. Aku mencintaimu, tulus dari hatiku. Walau aku tau bahwa kita bagaikan bulan dan bintang. Walau saling sayang tapi, tak mungkin dapat bersatu.
Arul.

Berkali-kali ku membacanya, takut ada kata-kata yang keliru atau tidak jelas. Aku berharap neng Imah membaca surat ini dan membalasnya. Tapi, apakah ia neng Imah mau sama aku? Ahh.. aku bener-bener bingung. Rasanya aku keburu besok. Cepat-cepat mengasih buku ini sama neng Imah. Sepuluh menit kemudian aku pun tertidur pulas sembari tangan memegang novel yang akan ku kasih neng Imah besok.

Assholatukhirumminannaum…
Suara adzan subuhku telah berkumandang sementara aku masih tertidur pulas, mimpi apa yang membingkis di bunga tidurku, dan tak seperti biasanya aku bangun kesianggan. Biasanya aku selalu bangun sebelum subuh, untuk sholat malam pada sang kholiq..
“Bangun nak, sudah subuh..” suara ibu membangunkan tidurku
“Iya buk.. way..” sembari bergeliat dan menggaruk kepalanya. Dengan mata masih terpejam ku pergi kekamar mandi, mengambil wudhu’.
“Neng, masih tidurkah kau di sana? Entahlah neng, barusan aku memimpikanmu, memberimu beberapa novel kesukaanmu. Jangan pernah hapus senyummu itu untukku neng. Dan semoga Allah meridhai hubungan kita neng.” Besit ku selesai setelah memunajatkan doa pada sang kholiq
Ternyata neng Imah lebih dulu sampai di dalam kelas, dengan sengaja kuulurkan novelnya ke tangan neng Imah, saat neng Imah mengambilnya, ku mengalihkannya. Sengaja ku membuat Iza di dekat neng Imah cemburu. Setelah wajah Iza mulai nampak cemberut baru aku memberikan novelnya, neng Imah hanya tersenyum ke arahku.

Keesokan harinya novel itu sudah ada di bangku, di atasnya ada peringatan halaman 68. Yang merupakan halaman di pragraf terakhir. Aku tak tau ada apa di halaman itu. Mungkin itu balasan dari neng Imah.. Dengan rasa gemetar aku membukanya dan tak lupa membaca basmalaH berkali-kali. Tulisan yang sangat bagus seakan menjadi hiasan di novelku.

22 maret 2013
Namun, aku lebih bersahabat denganmu. Menurutku sahabat kan abadi selama-lamanya. Tapi aku hargai perasaanmu. Tapi, aku harap kamu tak pernah berubah hanya karena sebuah keungkapan. Jangan merubah suasana yang damai dan penuh persahabatan, jadilah orang yang kuat dan teguh pendirian.
Greenis it of vg

“Yes…” kataku sambil jingkrak-jingkrak dalam kelasnya, dari saking bahagianya.
“Kenapa kamu mas?” tanya Habib heran.
“Eh.. eee.. engak gak papa..”
Tak ada seorang pun yang tau tentang hubungan asmaraku dengan neng Imah, seakan aku rahasiakan semuanya. Tapi sayang, tak lama lagi ia akan takmir di Annuqayah sementara aku menetap di Arraudhah. Tak apalah, walau raga terpisah jauh yang penting hatiku dengan neng imah bersatu. Setelah neng imah tau tentang hubunganku dengan Iza dulu, ia mulai menjauh dariku. Bahkan senyum itu mempudar.
“Mas, nih ada titipan dari neng Imah..” Rohman menyodorkan buku dan bolpoin warna ungu kesukaanku
“Makasih ya Man..”

03 juli 2013
Terimakasih atas segala tersaksinya. Namun sayang, keputusan akhir dariku aku tetap ragu dan bahkan mulai hari ini aku tak percaya lagi padamu. Aku telah tau semuanya. Dari awal hubunganmu sampai keadaan hari ini. Dan ternyata kau bohong padaku. Kau berhasil menipuku dengan peran manismu dan aku cukup bangga dengan prestasi dan bakatmu itu.
Awalnya kau kira kau benar-benar tulus bersahabat denganku tapi akhirnya ku temukan sendiri tanpa susah payah. Kenapa hati kecilku ragu padamu, dan jawabannya aku hampir saja tertipu oleh topengmu. Kau tak jujur dan sok menghargaiku tapi pada dasarnya kau munafik. Kamu bermain di belakangku dengan peran yang sangat halus dengan hati-hati. Dan hasilnya aku hampir saja terlalu jauh kau tipu. Apalagi kau datang dengan topeng sahabat yang aku butuhkan. Kau tau sendiri ia barang antik di dunia ini bagiku. Dan kau benar-benar menjalankan misimu dengan baik sehingga hampir separuhnya kepercayaanku kuberikan padamu.
Uhh… aku sangat kecewa padamu..!

Tanpa terasa bulir air mata menetes di pipiku. Mungkin ini sudah takdirku untuk berpisah denganmu neng, aku sadar aku memang tak pantas buatmu. Tapi, sampai kapanpun aku tak akan pernah hapus rasa di hatiku ini neng. Seakan aku sangat terpukul dengan perasaan ini. Aku tak pernah menyesal mengungkapkan perasaanku padamu. Tapi aku lebih menyesal karena aku telah membuatmu kecewa.
Bukan maksudku menyakitimu neng, justru aku yang tersakiti karena hatiku sangat mengharapkanmu. Semoga Allah merencanakan sesuatu dari kejadian ini. Hari ini biarkan aku terpasung rindu. Biarkan senja saja yang menyampaikan rinduku padamu.

Cerpen Karangan: Intan Elok Okti Wardani
Facebook: Putry Padang Pasir
Intan Elok Okti Wardani, disapa Inel. Aktif di FLP Pamekasan, LPM Activita, Teater Alif dan Organisasi ekstra.

Cerpen Rasa Tabu Bersamamu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ilusi Hati (Part 2)

Oleh:
Arza berbeda. Begitu yang Diandra tangkap sejak awal pertemuannya dengan cowok itu. Namun gadis itu tidak ingin jatuh kembali. Sudah cukup hatinya diremukkan oleh masa lalu. Semua cowok sama

Pengkhianatan Cinta

Oleh:
“Maafkan Aku.” Hanya itu kata yang terus kau ucapkan dari bibirmu, kata itu tidak bisa membuat hilang rasa sakitku. Seketika dadaku terasa sakit, kenanganku bersamamu masih terlintas dalam benakku.

Di Tengah Hujan

Oleh:
Kenalin aku Aya duduk di bangku kelas 3 SMP, aku punya teman namanya Dana dia sama kaya aku kelas 3 SMP juga. Aku berteman dengannya sudah lama. Sejak kami

My Enemy My Boyfriend

Oleh:
Waktu istirahat tiba, Aku dan Naya bergegas ke kantin. Aku langsung memesan bakso kesukaanku. “Nay, kamu mau makan apa? Aku udah pesen bakso”, kataku kepada Naya. “Hmm Aku pesen

Hari Yang Indah

Oleh:
“Icha,… Bangun, udah jam berapa ini? Kamu telat lho sekolahnya! Kebiasaan deh habis shalat subuh tidur lagi!” omel ibu. “Ahh ibu! Iya deh Icha bangun!” jawabku sambil duduk dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *