Rasa Yang Sama

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 18 January 2017

“Do, Bagaimana jika aku membantumu mengangkat minuman-minuman ini?” memang ini berat tapi tidak mungkin aku membiarkan seorang perempuan yang mengangkatnya, “Memang kau sanggup Mit?” dia tersenyum dan mengangguk tanpa bicara dia langsung mengangkat dua dus minuman menuju motorku. Ya aku akan mengikuti kegiatan Pendidikan Karakter di basecamp para TNI AU di daerahku. Karena aku hanya sebagai pendamping, dengan bantuan dari teman-teman aku pun memutuskan untuk berjualan karena tempatnya sangat panas.

Saat tiba disana kulihat dia sangat kelelahan, maklumlah ia menaiki bus peserta yang penuh sesak dan otomatis ia tidak dapat tempat duduk di situ dan sudah dapat dipastikan ia berdiri di dalam bus selama 30 menit. Berhubung aku hanya membawa dua dus minuman maka sebagai lelaki pastinya aku menawarinya untuk naik ke tempat perkemahan yang bertempat di puncak gunung bersama. Seperti dugaan tempat ini sangat panas, aku salut dengan Mita yang tidak mengeluh meskipun ia lelah, dia tetap membantuku menawarkan minuman yang kujual.

Tidak terasa hari pun mulai sore. Peserta Pendidikan Karakter semua istirahat, karena sudah waktunya sholat asar. Tapi aku tidak melihat Mita, maka kuputuskan untuk mencarinya. Karena aku khawatir, bagaimana tidak ini dikelilingi hutan, jurang dan sebagainya. Bagaimana jika dia tersesat? Dia kan perempuan. Syukurlah kulihat dia sedang duduk di sebuah tebing yang tidak terlalu tinggi. Dia melihat sesuatu jauh di depan matanya. Aku duduk di sebelahnya, “Apa yang kau lihat?” kataku sekedar untuk pemecah sunyi. “Bukankah ini indah?” katanya menunjuk hamparan sawah di depannya, lalu tersenyum. Sangat manis senyumnya itu. “memang sangat indah, tapi ada yang lebih indah dari yang kau lihat saat ini.” Dia mengerutkan dahinya. “apa memangnya?” dia menopang dagunya dan memfokuskan pandangannya kepadaku. Tentu saja hal ini membuat jantungku berdetak sangat kencang. Saat bibrku akan melontarkan apa yang kupikirkan tiba-tiba ada seorang peserta yang berteriak “Kak, ada yang sakit.” Mita yang awalnya fokus kepadaku lagsung berlari menuruni tebing, “Mit, hati-hati” kataku sambil berteriak karena ia sangat terburu-buru hingga tak mempedulikan dirinya sendiri. “dasar perusak suasana” gumamku lirih, dan menyusul Mita yang berlari menuju tenda yang ramai.

Dia berteriak, “Tolong yang lain jangan disini, agar dia bisa menghirup Oksigen dengan bebas.” Sontak seluruh siswa yang berada di situ bubar, dan aku membantunya untuk mengobati siswa yang pingsan. Seram juga tenda ini berada di dekat hutan dan jurang dan sekarang sudah waktu maghrib. Seluruh siswa saja diarahkan ke bawah untuk sholat di masjid. Dan mirisnya lagi lampu di tenda ini mati. Dia memeluk siswi tersebut, mungkin agar dia tenang. Beruntung ada guru yang membawa siswi tersebut pulang karena fisiknya tidak memungkinkan untuk mengikuti kegiatan berikutnya.

“Edo. Kita ke bawah yuk, disini kita mau ngapain? Lagi pula aku lapar.” Aku baru ingat dari pagi aku belum melihatnya makan sama sekali, “Baiklah” aku memboncengnya ke bawah belum sempat aku mematikan mesin motorku, ada siswi yang sakit lagi sehingga harus diobati di tenda. Sehingga aku dan Mita naik ke atas lagi untuk membawa siswi tersebut tentu saja dengan motorku. Setibanya di atas Mita langsung turun dari motor dan membantu siswi tersebut menuju tenda. Karena terburu-buru saat hendak mengambil kotak P3K ia terpeleset dari atas aku bermaksud memegang nya agar ia tidak jatuh, tapi apa daya aku semakin mempercepat proses jatuhnya kita. Beruntung dia tidak terluka, jika saja dia sampai terluka pasti aku sangat bersedih karena orang yang aku sayangi terluka.

Setelah siswi tersebut sudah tertidur dan sudah ada guru yang menjaga aku dan Mita pun memutuskan untuk turun lagi membantu teman-teman yang lainnya. Namun motorku dipinjam salah satu guruku yang hendak membeli obat-obatan ke Kota. Jadi aku putuskan untuk jalan kaki tentu hanya berdua dengan Mita. Kurasa ia kurang menyukai usulanku ini, karena jalan kaki tentu hanya berdua dengan Mita. Kurasa ia kurang menyukai usulanku ini, karena jalan yang akan kulalui gelap dan menurun. Dengan berbekal senter aku menuruni gunung ini dengannya. Sekilas kulihat wajahnya ketakutan, sebenarnya aku juga sangat ketakutan, tapi aku lelaki aku tidak boleh terlihat panik di depannya, aku meraih tangannya agar ia tidak takut.

Waktu pun berlalu sejak pertama aku memegang tangannya saat itu, aku semakin yakin bahwa aku menyukainya. Namun, jika aku menyukainya bagaimana dengan nasib Febri? Aku masih dengannya, namun aku telah menyukai Mita. Tidak ini bukan salah Mita, oh aku baru ingat 7 hari lagi adalah hari ulang tahunnya. Aku harus menyiapkan sesuatu untuknya, setelah 10 menit berpikir aku meirik jam di tanganku pukul 14. 30 artinya Mita akan pulang dari PSG nya, aku meraih kunci motorku untuk menjemputnya karena kudengar ia sakit saat ini. Saat ku tiba di temmpat PSG nya ia telah berjalan menuju halte, “Neng ojek?” kataku berhenti tepat di sebelahnya yang sedang sibuk mengetikkan sesuatu di ponselnya. “Tidak mas terimakasih,” dia menoleh dan langsung memukulku gemas. “Kamu itu bikin aku kaget saja.” Aku tak mampu menahan tawa ku melihat wajahnya yang menggemaskan. “ayo naik” kataku sambil menyerahkan helm. Dan kutarik gasku setelah ia benar-benar naik di jok motorku. “mau aku ajak sebentar?” “Kemana?” “Ke tempat ngobrol”
Dia mengangguk tanda setuju, langsung saja ku bawa ia ke taman yang masih jarang dikunjungi oleh orang, dia menceritakan seluruh masalah yang membuatnya merasa terbebani. Bahkan dia menangis di depanku, astaga aku sangat tidak tega melihat air mata perempuan yang kusayangi jatuh. Mita andai saja kamu tau aku menyukaimu, apa kamu akan menjauhiku? Aku tidak ingin hal itu terjadi. “Edo, terimakasih ya kamu sudah ada di hidupku. Kamu membuat hidupku bewarna, terimakasih kau sudah kuanggap kakakku sendiri.”
Entah kenapa mendengar hal itu hatiku seperti diremas. Sakit rasanya, “kamu tenang ya, apapun yang terjadi aku akan selalu ada untukmu.” “yuk pulang” dia berdiri dan menghapus air matanya. Di jalan dia tak henti-hentinya tertawa karena candaanku yang menurutku tidak lucu sama sekali. Mungikin dia tertawa karena tak ingin aku sakit hati. Akhirnya aku sampai di rumahnya.

Saat aku berangkat sekolah kulihat ada seorang perempuan yang tengah duduk dengan resah di halte. Dan ternyata dia adalah Mita, langsung saja kutawari dia untuk berangkat bersama. “kamu tidak telat?” “kan searah tidak mungkin aku telat.” Aku tersenyum ke arahnya. Saat sudah sampai dia mengucapkan kata-kata yang membuat tenagaku serasa terisi penuh, “kamu semangat ya sekolahnya, hati-hati di jalan kamu jangan sakit ya,”

Saat aku pulang sekolah aku sengaja lewat di tempat PSG nya dan mampir ke toko yang berada di kantor itu, kebetulan dia ditugasi menjaga toko itu. “selamat siang,” katanya sambil tersenyum dan wajahnya memerah ketika yang masuk ternyata aku. Seluruh teman-temannya yang berada disitupun berkata “Cie Mita di jemput pacarnya.”
Apa maksudnya ini? Apa Mita juga menyukaiku? Sampai dirumahpun aku masih memikirkan apa yang dikatakan oleh teman-teman Mita tadi. Daripada aku memikirkan hal yang tidak jelas aku memutuskan untuk ke toko kue memesan kue untuk Mita, semoga dia senang. Namun, di jalan aku melihat ada toko yang menjual aksesoris. Kuputuskan masuk untuk mencari hadiah untuk Mita yang akan berusia 16 tahun 3 hari lagi, pilihanku jatuh kepada boneka bewarna merah jambu berbentuk beruang. Dan sebuah cincin dari monel, aku sedikit mengira-ngira besar jarinya dengan sela-sela tanganku yang saat itu memegang tangannya.

Setelah menemukan ukuran yang pas, aku kembali ke tujuan awalku untuk memesan kue. Sayangnya, aku bertemu dengan Mita di toko kue, dia tengah membeli kue mungkin ia lapar. “Edo sama siapa?” “Sendirian saja,” “Mit cepatlah, waktu istirahat kita sedikit.” Teriak seorang perempuan mungkin teman PSG nya. Mita tersenyum padaku, “aku duluan ya” aku mengangguk dan tersenyum.

Aku kembali ke tujuan awalku, “Mbak saya pesan Kue Ultah untuk tanggal 9 ya tulisan nya HBD Mita” pegawai tersebut mengangguk, dan menyerahkan Nota sebagai bukti pengambilan Kue. “Diambilnya jam 12 ya mas” aku mengangguk dan pulang.

Tepat pukul 00.00 aku meneleponnya, berharap akulah orang pertama yang mengucapkan Selamat Ulang tahun untuknya. “selamat ulang tahun Mita” dan sederetan doa yang menjadi adat saat ada yang berulang tahun, kudengar ia menangis di sana aku pun menenangkannya.

Sepulang sekolah aku langsung ke toko kue mengambil kue pesanan ku kemarin, dan setelah memastikan seluruh perlengkapan yang ku persiapkan telah ada. Aku bergegas ke tempat PSG nya. Beruntung Mita sedang beristirahat, aku meminta bantuan kepada salah satu temannya yang telah aku mintai bantuan sejak 4 hari lalu. Aku menyalakan lilin dan membawa kue ke tempat Mita memakan bekalnya. Aku menyanyikan lagu selamt ulang tahun dari Jamrud.
Hal itu sukses membuat air mata Mita jatuh, dia meniup lilinnya, dan kami semua memakan kue Ultah ini bersama bahkan pegawai toko pun ikut merayakan ultah Mita, ku lihat Mita sangat senang hari ini. Aku berdoa semoga senyum Mita yang seperti ini yang akan ku lihat setiap harinya, bukan air mata.

Waktu pun berlalu aku dan Mita pun sudah menginjak kelas 3 SLTA aku dan dia sama-sama fokus kepada pelajaran msing-masing, namun sedikit terpikirkan olehku, Sebentar lagi kita akan lulus. Lalu bagaimana aku bisa bertemu dengannya, meskipun bisa tidak akan sesering saat bersekolah. Sedih juga rasanya. Hal ini mengingatkanku kepada salah satu film dari Thailand yang berjudul “First Love” cerita itu hampir sama denganku. Aku mencintainya, selama 3 tahun, tidak berani untuk mengungkapkan perasaanku sendiri kepadanya, aku menjadi pengagumnya. Namun, yang berbeda adalah di akhir cerita karakter utamanya akan bersatu dan menyatakan cintanya tapi aku, hanya bisa menjaganya dari jauh.

Andai saja Mita juga memiliki rasa sepertiku pasti aku akan sangat bahagia. Hari-hari pun berlalu, wisuda kami pun tiba. Aku melihat dia memakai gaun bewarna merah jambu, sangat cantik. Bahkan aku sempat tidak mengenalinya. Kebetulan namaku disebutkan tepat sebelum namanya. Aku mennunggunya di tangga panggung dan membantunya turun. Aku memegang tangannya untuk kedua kalinya.

Saat aku kuliah aku sudah tidak bersemangat lagi karena aku tidak bertemu dengannya. Namun, takdir berkata lain, aku sejurusan dengannya. Aku sangat bahagia, namun hal sama tetap terjadi aku hanya memendam perasaanku padanya. Entah sampai kapan aku harus menahan perasaanku padanya. Saat aku melamun aku mendengar suara banyak orang yang menyebut namaku.
Kuputuskan untuk mendekati mereka, sekedar memastikan apa yang mereka bicarakan tenyata benar mereka membicarakanku. Dan di akhir pembicaraan kata-kata mereka sungguh ingin membuatku berteriak, ternyata Mita telah menyukai seorang lelaki. Ya hatiku sangat terluka, namun apa dayaku aku bukan siapa-siapa baginya. Aku ingin mengenangnya dan aku tidak akan pernah melupakan cintaku padanya, aku pergi ke tebing yang berada di dekat Kampusku.

“Edo, kamu kenapa sendiri disini?” aku menoleh, ya ternyata Mita menghampiriku. “Aku hanya jenuh.” Dia menatap lurus kke depan sambil tersenyum, “kau tau Mit? Terkadang apa yang kita inginkan itu tidak harus selalu menjadi nyata. Seperti saat ini, aku harus melepaskan orang yang aku suka agar dia bahagia.” Dia tersenyum dan menunduk dia menarik nafas dalam. Angin di tebing ini seakan mengerti apa yang kurasa. Dia perlahan menampakkan dirinya dan menghilang, membawa lari dedaunan yang telah kering.
“Aku mengerti yang kamu rasakan Edo, aku juga merasa seperti itu sekarang. Aku menyukai seorang lelaki sejak 5 tahun lalu. Namun, kudengar ia telah menyukai perempuan lain.” Tunggu 5 tahun itu sama seperti waktu aku memendam perasaanku padanya, mungkinkah orang yang ia maksud aku? “Do, aku pulang dulu ya? Kamu mau pulang?” aku menggeleng, aku ingin mengenangnya saat ini.

Dia mengacungkan kelingkingnya ke arahku, “untuk apa?” “aku berjanji tak akan menjauhimu jika aku telah memiliki seorang kekasih sekalipun.” Dia tersenyum sangat tulus aku mengaitkan kelingkingku pula. Dan dalam hatiku saat aku berjanji ini aku mengucapkan bila aku akan selalu mencintainya.

Perlahan dia menghilang dari pandanganku, “aku mencintaimu Mita. Kamu jangan pergi.” Kurasakan tetsan air jatuh pada telapak tanganku, air apa ini? Apa mungkin hujan? Tidak langit sedang cerah saat ini, lalu apa aku menangis?
Ternyata benar aku menangis untuk pertama kalinya setelah aku beranjak dewasa. Apa aku lemah? Benar aku lemah karena Cinta. Aku tak mampu menyatakan rasaku padanya. Namun, mengapa saat dia menyukai seseorang aku merasa kecewa? Andai saja aku menyatakannya dari dulu, aku pasti akan merasa sangat bahagia.

Mita andai kamu mengerti apa yang aku rasakan, apa kamu masih mau dekat denganku seperti ini? Apa kamu akan menjauhiku karena kamu marah padaku? Aku terlalu takut jika kmau membenciku Mita. Biarlah aku memendam rasa ini selamanya.

Saat aku melangkahkan kakiku untuk ke rumah kostku aku mendengar suara Mita yang sedang mengatakan identitas orang yang ia sukai dan betapa terkejutnya aku bahwa orang itu adalah aku. Namun, ia juga takut jika aku menjauhinya. Dia juga memendam perasaan padaku. Setidaknya aku lega rasaku tidak bertepuk sebelah tangan.

SELESAI

Cerpen Karangan: Imro’atun Maghfiro
Facebook: Imro’atun Maghfiro

Cerpen Rasa Yang Sama merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Berakhir

Oleh:
Suga namanya, harus tepat dalam pengucapannya, nggak usah ditambah R, cukup Suga saja. Orang bilang dirinya manis, tapi dia tidak merasa demikian dia hanya merasa dirinya sangat tampan saja.

Rain

Oleh:
Seorang gadis tengah duduk sembari memegang selembar kertas yang hanya berisi 4 kata yaitu I LOVE YOU, KARIN. Itu surat cinta yang pertama kali ia terima, entah kenapa surat

Diam

Oleh:
Pria itu bernama Radit. Pria yang mengagumkan, elok, tidak kasar, tetapi terkadang menyebalkan. Aku sendiri belum lama ini telah dekat dengannya. Fayza yang mungkin masih pacarnya begitu memiliki sifat

Payung Orang Lain

Oleh:
Suara hujan tak menjadi sebuah melodi yang membuatku tertidur. Selimut tebal yang hangat tak membuat rasa kantuk menghampiri. Aku hanya memperhatikan handphone yang menunjukkan potretan seseorang. Seseorang yang mulai

Menikah

Oleh:
Air mata ini jatuh berlinang, saat aku melihatmu duduk di pelaminan. Kesedihan itu kian membuncah saat, kau diciumnya. Lelakimu itu lalu dia tersenyum menang. Aku pergi terlalu dini tak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *