Regina

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 19 May 2017

Mata cokelat, kulit cerah, pipi merona, dengan rambut hitam lurus dipangkas sebahu. Kalimat yang meluncur dari mulutmu kala itu, takkan mungkin bisa kulupakan. Katamu aku cantik, kemudian kau tersenyum dan menularkan senyuman itu padaku.

Persahabatan kita berjalan begitu menyenangkan. Entah bagaimana cara kita akrab, yang kuingat hanyalah kau dan aku begitu cocok satu dengan yang lain. Kata orang, tidak mungkin dua orang berbeda jenis kelamin dapat terus bersahabat. Pastilah akan datang saat dimana perasaan cinta menyelinap di antara ikatan persahabatan —kata orang. Lucu mengingat aku menyadari perasaanku padamu bukannlah lagi sebatas sahabat setelah satu tahun kita saling mengenal.

Mungkin aku jatuh cinta pada rambut cokelat tua milikmu yang selalu kau sisir dengan jari-jarimu, atau mungkin pada mata cokelatmu yang kau bilang serasi dengan mataku, atau mungkin juga dengan tawamu yang selalu mampu meluluhlantakkan hatiku. Aku tak mengerti, sejak kapan duniaku berotasi mengelilingi dirimu? Tak pernah kau dan aku berbicara soal cinta, namun sesekali sebelum tidur terbersit keinginan kecil memilikimu untukku sendiri.

Sesungguhnya aku punya banyak teman perempuan di sekolah yang bisa aku ajak bercengkrama, dan kau pun memiliki teman-teman lelaki yang sering kau ajak bercanda setiap jam kosong. Tapi lonceng istirahat berbunyi, kau dan aku selalu mencari satu dengan yang lain. Mungkin untuk makan di kantin, menemanimu membaca buku biologi di perpustakaan, atau sekedar menemanimu memainkan piano di ruang musik.

Aku ingat satu kali kau dan aku bermain jujur nekat dengan teman-teman yang lain. Bila tiba giliranku memilih, pilihanku selalu nekat. Karena aku takut pilihan jujur mungkin dapat membuka perasaan yang kusimpan erat selama ini. Namun kau berbeda, saat giliranmu kau memilih jujur. Semua menanyakan gadis seperti apa yang menjadi tipe idealmu. Pertanyaan yang tentu saja tidak aneh mengingat betapa populer dirimu namun masih menyandang status single. “Mata cokelat, kulit cerah, pipi merona, rambut hitam lurus sebahu. Meliki kepribadian yang baik dan menyenangkan. Mungkin akan lebih sempurna bila gadis itu dapat bernyanyi dengan merdu.” Semua teman tertawa, aku pun tertawa. Dalam hati aku berjanji akan memotong pendek rambut panjangku tapi aku sadar, bagaimanapun tak mungkin suaraku bisa menjadi merdu.

Kau dan aku semakin dekat, tak terasa 3 tahun sudah kita jalani bersama. Sampai kelulusan SMA, kau tak kunjung menyatakan bagaimana perasaanmu. Aku juga tak berniat mengatakan apa yang aku rasa selama ini karena kupikir, tak perlu diungkapkan dengan kata-kata bila kita dapat saling mengungkapkan dengan tindakan. Mungkin kau tipe laki-laki yang akan menyatakan cinta bila memang telah mapan dan matang. Aku pun meyakinkan diri bahwa aku telah mampu melewati 3 tahun dengan sabar menanti dirimu, bersabar sedikit lagi bukanlah suatu tantangan yang tak mungkin. Aku cukup optimis persahabatan kita bisa perlahan berubah menjadi ikatan pasangan kekasih bila aku menunggu dengan sabar.

Sebelum berpisah, kau mengajakku makan di kafe kesukaanmu tempat kita sering belajar bersama. Kau memesan cheese cake dan sirup sirsak kesukaanmu sambil menunggu kedatanganku. Masih teringat jelas bagaimana ekspresi wajahmu saat melihatku dengan potongan rambutku yang baru. “Mata cokelat, kulit cerah, pipi merona, dengan rambut hitam lurus dipangkas sebahu.” Kalimat yang meluncur dari mulutmu kala itu, takkan mungkin bisa kulupakan. Katamu aku cantik, kemudian kau tersenyum dan menularkan senyuman itu padaku. Kita kemudian berterus terang padaku tentang keinginanmu menuntut ilmu di luar kota. Sedih sekali mengetahui fakta bahwa kita harus menuntut ilmu di universitas yang berbeda. Namun aku menguatkan hati dan merelakanmu mengejar cita-citamu sebagai seorang dokter. Pesanku padamu ialah untuk sebisa mungkin memberiku kabar, dan jangan melupakan aku. Kau tertawa dan mengatakan tak mungkin aku akan dilupakan. Hati kecilku bersuara —jangan pernah melupakanku yang akan selalu menunggumu pulang.

Tentu aku kesepian dan sangat merindukan sosokmu menemani hari-hariku saat kuliah. Tiga bulan awal kuliah kita sering berkontak namun setelahnya, kau mulai jarang mengabariku. Sampai semester dua tak kutahu lagi keadaanmu. Kau bahkan tak pulang saat libur semester. Tapi tak lama kemudian kabar tentangmu kudengar dari teman SMA ku dulu. Bukan kabar yang enak didengar karena katanya, kau telah memiliki seorang kekasih sekarang. Jantungku tak karuan memukuli dinding dadaku, kepalaku pusing, dadaku sakit. Bukan karena kabar tersebut, melainkan karena berarti fakta bahwa aku sangat mengenalmu adalah fakta yang sangat keliru. Hari itu juga aku bertekad untuk mengunjungimu esok hari.

Aku datang ke kampusmu untuk memastikan kebenaran langsung dari mulutmu. Aku meneleponmu namun ternyata nomormu tidak aktif, jadi aku segera pergi ke fakultas kedokteran berharap keberuntungan mempertemukan aku denganmu. Ternyata tak susah bagiku mencari sosokmu, aku mengenalimu di mana pun kau berada. Kau berdiri memunggungiku di kantin fakultas. Rindu yang selama ini tertahan tak terbendung lagi. Ingin aku berlari memelukmu untuk mengobati hatiku yang begitu haus akan perhatianmu. Namun seketika langkahku terhenti saat kulihat seorang gadis menggandeng lenganmu mesra. Kau membisikkan sesuatu di telinganya dan ia pun tertawa. Aku yakin sekali ada tatapan sayang di sana.

Begitu banyak tanda tanya yang muncul di belakang kepalaku. Gadis itu begitu cantik dengan rambut hitam lurus sebahu. Aku yakin pernah melihat gadis itu di suatu tempat, wajah dan bola mata cokelat itu begitu familier. Regina— aku tersadar bahwa gadis itu adalah penyanyi yang baru naik daun. Tiba-tiba memoriku tentangmu berputar, dan berhenti pada momen saat kau menceritakan kenangan tentang sahabat masa kecilmu yang begitu kau rindukan “Waktu kecil orangtuaku begitu sibuk bekerja. Aku begitu kesepian, karena aku anak tunggal. Aku akhirnya menjalin persahabatan dengan gadis di samping rumahku. Kami selalu berangkat ke sekolah dan pulang bersama karena kami bersekolah di tempat yang sama dari SD hingga SMP. Suatu hari aku terlambat bangun dan saat kujemput di rumahnya, tidak ada orang di rumahnya. Kupikir ia sudah menunggu di sekolah namun ternyata saat aku tiba, ia tidak juga ada di sana. Aku tak pernah melihatnya lagi sampai hari ini. Ia pergi tanpa pamit, aku begitu kehilangan karena dialah satu-satunya orang yang selalu ada untukku. Aku bahkan tak memiliki fotonya. Jejaknya yang tersisa hanya tersimpan dalam ingatanku, namanya sahabatku itu Regina.”

Aku mencoba mencerna keadaan yang sedang terjadi dan menggabungkannya dengan segala memori tentangmu yang dapat kujangkau. Kemudian dengan mataku sendiri, aku melihat kau mengecup kening gadis yang sedang menggandeng lenganmu kemudian menggenggam erat tangannya. Terjawab sudah semua pertanyaanku selama ini. Betapa bodohnya aku mengira kau mencintaiku, mengira aku adalah nomor satu pada daftar cintamu, mengira bahwa gadis ideal yang kau deskripsikan adalah diriku. Aku ingat bahwa aku cemburu saat kau menceritakan tentang sahabat kecilmu, padahal hanya sekali itu kau menceritakan tentangnya. Ternyata kriteria gadis idealmu adalah deskripsimu akan Regina, sahabat masa kecilmu yang kini kau temukan. Seharusnya aku senang melihatmu bahagia, namun sesak di dada ini entah mengapa tak mau hilang.

Langkah pulangku lunglai ditemani air mata yang terus mengalir. Cintaku pupus, namun harus kurelakan. Tak seharusnya aku marah atau menangisi keputusanmu karena memang kau tak pernah bilang mencintaiku, akulah yang terlalu yakin kau memiliki perasaan yang sama denganku. Aku menghembuskan napas panjang kemudian tersenyum miris. Mungkin selama ini, kau menjadikanku obat yang setidaknya bisa sedikit menambat luka dalam hatimu, dan sementara waktu mengisi ruang kosong sampai kau kembali menemukan Regina— gadis pemilik ruang kosong itu.

“Mata cokelat, kulit cerah, pipi merona, dengan rambut hitam lurus dipangkas sebahu” Ternyata kalimat itu kau gunakan untuk mendeskripsikan gadis yang bukan diriku.

Cerpen Karangan: Putri Wijaya
Facebook: Putri Wijaya

Cerpen Regina merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hijrah Cinta

Oleh:
Lila tersadar dari lamunannya ketika Gia mencoba menepuk pundak kanannya. “Giaaaaa…” teriak Lila kesal. “sorry deh sorry.. lagian dari tadi ngelamun aja, ngelamunin apa sih?” tanya Gia penasaran. “mau

Dia

Oleh:
Sejak saat sebuah rasa yang datang begitu saja. Masuk menempati ruang-ruang kosong dalam hati. Pernah terlintas tanya yang besar dalam pikiran saat setiap kali bola matanya menghampiriku. Adakah rasa

Tertahan

Oleh:
Acara paling khidmat yang disaksikan oleh Tuhan, orangtua dan seluruh tamu undangan telah terlewati. Titik air yang menetes di pipi Neena–sahabat sejak putih abu-abu itu membawa gelombang haru yang

Blessing of The Rain

Oleh:
Hujan mungkin akan terus memberkatiku dengan titik-titik hujannya tapi semakin ku sangat percaya bahwa hujan itu telah mempertemukanku dengannya, semua itu tidak benar walaupun begitu dia sudah ada yang

10 Menit

Oleh:
Grata Sampurna. Itu namanya, persis orangnya yang sempurna. Grata, lelaki manis yang selalu menjadi idaman siswi SMA Leksana Jambi. Mata yang memancarkan ketulusan. Keindahan wajahnya yang tak bisa diduakan.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *