Rejection

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 4 February 2018

Hai! Namaku Dika. Umur 17 tahun, dan bersekolah di SMA Wowow dekat rumah. Saat ini di sekolah, aku menjalani kegiatan tahunan yang selalu membuat hati deg-degan. Bila berjalan lancar, maka sudah yang kedua kali aku melakukannya di SMA. Dengan perasaan berat, seolah-olah ketakutan akan pemikiran tak karuan, aku berangkat memenuhi tugas sebagai seorang siswa. Sesampainya di sana, aku bertemu teman lama dan melihat bersama beberapa lembar kertas yang terpampang dalam papan pengumuman.

Tahukah kalian kegiatan apa yang aku lakukan? Kegiatan yang membuat hati senang, buruk, atau tetap biasa setelah melihat lembar penentuan. Kegiatan yang mendatangkan keuntungan atau kerugian. Kegiatan yang menguji mental kami para siswa. Ya. Kegiatan itu adalah, pembagian kelas.

Apa yang terjadi bila kami berkelas dengan para siswi cantik? Kesenangan akan menghampiri. Bila banyak siswanya? Kemuraman yang melanda. Tak ada ciri khas atau teman banyak yang tetap? Sebut saja membosankan. Intinya, kami semua murid teruji mentalnya dengan pembagian acak dari kelas A sampai E. Dan aku terpilih di C.

Tak ada teman akrab di kelas baruku. Mereka semua biasa-biasa saja, tak menarik perhatian. Namun aku beruntung karenanya, sebab temanku ada yang kelasnya lebih sial daripada aku seperti kebanyakan murid di bawah rata-rata, kebanyakan siswa-siswa resek, atau banyak yang tak dikenal sama sekali. Ha ha! Ingin aku tertawakan mereka, namun mereka menghilang entah ke mana. Jadi, aku tak lakukan dan pergi ke kelas baruku. Kelas terdekat dengan ruang guru.

Karena baru pembagian, sesuai kebiasaan akan ada perebutan kursi saat baru memasuki kelas. Dengan sigap dan tanpa basa-basi, begitu pintu terbuka aku berjalan menuju bangku kesukaanku, dimana tahun lalu tak aku dapatkan. Pojok belakang dekat jendela. Tempat penuh dengan pemandangan. Bila lihat ke luar kaca jendela, pemandangan hijau nan asri terpampang jelas menyegarkan pikiran. Bila lihat ke arah sebaliknya, suka duka pertemanan tak kalah mengesankan. Aku tak akan pernah bosan sit up di tempat kesukaanku itu.

Namun kesenanganku sirna begitu saja. Setelah pembagian kelas, tepatnya lima menit sejak memasuki kelas, seorang guru berjabatkan wali kelas C memasuki ruangan. Beliau memiliki rambut putih dan berkopyah hitam, berwajah amazing dan full of smile. Beliau tunjukkan semua yang terlihat pada beliau kepada kami semua, tanpa ada yang disembunyikan. Lalu, tangannya menunjukku seraya berkata, “Kau jadi ketua kelas.”.

Oh tidak! Aku tak menyangka beliau akan menunjuk siswa biasa sepertiku menjadi murid nomor satu sekelas. Ingin aku tolak, tapi ingatan saat beliau mengajar di kelasku satu tahun lalu tentang ketegasan ia mengambil keputusan membludak. Aku tak berani menolak dan smile saja terhadap perkataan beliau.

Setelah itu, ditunjuklah para pejabat kelas sampai ke akar-akarnya. Hal itu tak memakan waktu lama sebab beliau hanya main tunjuk tanpa peduli siapa orang yang beliau tunjuk.
“Baiklah. Susunan, perangkat, dan tempat duduk kelas telah terbentuk. Waktunya perkenalan! Tapi karena merepotkan dan memakan waktu lama, singkatkan saja dengan nama dan asal kelas kalian. Pojok dekat jendela, perkenalkan dirimu!” kata beliau.
“Dika Aghan, Satu B.” kataku berdiri seketika. Perkenalan berlanjut ke depanku, lalu ke samping setelah terdepan. Perkenalan berakhir di pojok terjauh dari jendela.

“Tok! Tok! Tok!” ketuk seseorang tiba-tiba.
“Masuk!” kata wali kelas merespon. Pintu kelas terbuka, dan muncullah seorang siswi memasuki ruangan.

Aku tertegun. Pertama memandang ia, dunia terasa penuh warna. Tak ada yang aku rasakan kecuali kekaguman. Kecantikan wajahnya, kilauan rambutnya, manis senyumannya, dan aura yang dimilikinya membuat hati para Adam tergetar. Dengan berjalan santai, dia tiba-tiba melirik penuh kejutan ke arahku. Aku tergagap dan buang muka ke jendela sambil berpikir, betapa anggunnya dia.

Lalu dia perkenalkan diri. Namanya Cinta Olivia. Dia pindahan dari SMA Indah Sesemesta, sekolah di sebelah timur kota yang aku tinggali. Dia pindah beralasan pekerjaan orangtua, jadi dia orang baru di kota kami.

“Baiklah Cinta, kau duduk di sana!” kata wali kelas menunjuk bangku kosong. Bangku dimana terdekat di samping kananku. Bangku dimana tak ada pembatas apapun. Bangku dimana pemandangan terjelas yang bisa aku pandang. Wajahku merah merona karenanya.
“Baik Pak!” kata Cinta. Dia akhirnya duduk di sampingku.

Waktu berjalan tanpa henti, hingga bel akhir pelajaran berdering. Dengan kehadiran gadis layaknya dewi langit di dekatku, ketegangan pikiran tak bisa aku hindari. Karena itu pula aku tak bertingkah seperti hari-hari biasa yang aku lakukan, berkomunikasi. Aku merasa mati gaya berdekatan dengan dia. Sehingga saat bel berdering, aku pergi cepat meninggalkan kelas untuk menenangkan hati nurani, dan orang yang aku pikirkan itu memanggil sebutanku keras.

“Ketua kelas!” panggil Cinta. Langkahku terhenti dan aku terdiam di tengah jalan layaknya tiang.
“Wali kelas bilang kau akan mengantarku berkeliling sekolah.” kata Cinta. Langsung jiwaku penuh membara. Jiwaku tiba-tiba terbakar oleh api semangat. Bendera kesempatan mulai naik menuju puncak. Dalam hati terlintas rasa syukur akan kehadiran wali kelas yang selama ini tak buatku senang. Dengan smile dan tulus ikhlas dalam dada, aku menjawab “ya” menandakan kesetujuan. Kami berkeliling sekolah hingga larut senja, karena usahaku untuk melakukan kesempatan berdua ini aku lamakan seakan-akan aku akan hidup selamanya.

Waktu demi waktu melaju. Jam demi jam berjalan, dan hari demi hari berganti. Aku selalu bersemangat ke sekolah dengan datang lebih pagi, lalu pulang lebih senja hanya untuk melihat wajahnya, senyumnya, dan keanggunannya. Hidupku terasa penuh makna berada di dekatnya. Dan juga, kehidupanku berubah dari hari-hari sebelumnya. Aku merasa kehangatan bersamanya. Aku merasa tenang saat dengannya. Aku merasa bahagia berada di sampingnya. Aku jatuh cinta kepada dia. Maka dari itu, aku dengan segala kemampuanku mencoba hal paling bersejarah dalam hidupku. Aku menyatakan perasaanku.

Tepatnya dua bulan. Dua bulan setelah dia pindah, aku nyatakan cintaku. Di tempat tentram di sebuah ruang kelas, disaat jingga menampakkan keindahan, di saat kami hanya tinggal berdua, di situasi-situasi inilah aku utarakan kata-kataku. Aku utarakan uneg-unegku. Aku utarakan perasaan terpendamku. Aku keluarkan segala keinginanku. Dan dia terdiam sejenak tak menjawabku.

“Maaf! Aku tak bisa menerimanya!” kata cintaku menolak.

Aku hancur. Duniaku berubah abu-abu. Badanku menjadi lemas dan rapuh. Aku tak menyangka kata-kata rejection dia lontarkan padaku dengan berhiaskan senyuman. Namun, meski senyumnya indah, hatiku terasa hampa. Dadaku terasa sesak. Aku tak kuasa untuk menahan kekecewaan. Maka, tanpa pikir panjang aku juga berikan senyuman dan berkata, “Oh, begitu.” seakan-akan aku baik-baik saja. Lalu, aku bergegas pamit pulang tanpa melihat wajahnya yang rupawan.

Ah dunia. Kejamnya. Aku merasa dunia tak berpihak. Seluruh jiwa raga yang aku pertaruhkan selama dua bulan sia-sia. Aku tak bisa berbuat apa-apa selain meratapi kenyataan. Dalam batin aku berpikir, beginikah perasaan para pria yang cintanya bertepuk sebelah tangan? Jika iya, aku merasa iba. Tak aku sangka rasa sakit yang aku alami begitu luar biasa. Sampai-sampai, aku merasa takut untuk bertemu dengan Cinta saat sekolah. Aku merasa malu. Namun apalah daya perasaan. Berbekal tekad kuat dan akting hebat sebagai kelebihan yang aku punya, berangkatlah aku ke sekolah ke esokan harinya.

Dan saat bertemu dia, alangkah bodohnya diri ini. Bodohnya aku memikirkan hal yang tak penting. Ternyata Cinta bisa bertingkah biasa layaknya hari-hari yang telah kami lewati. Dia mampu berinteraksi seperti tak peduli apa yang terjadi kemarin. Dan suatu saat dia tersenyum dengan candaannya, senyum dengan kecantikan yang dimilikinya, senyum dengan ketulusan hatinya, senyum indah dermawan yang biasa dia berikan kepada aku, temannya, entah kenapa membuat hatiku ringan. Membuat semua duniaku kembali berwarna. Lalu, tak sengaja aku meneteskan air mata yang tak beralasan jelas. Tanpa sepengetahuan Cinta, aku buang wajahku ke jendela dan berharap, “Semoga kau bahagia Cinta. Aku mendoakan kebahagiaanmu.” dalam batin sembari mengusap air mata. Terima kasih Sang Pencipta, aku bersyukur bertemu dengan dia. Semoga aku bisa melihat senyum indahnya selamanya.

Cerpen Karangan: Ari Wijayanto

Cerpen Rejection merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Favorite Girl

Oleh:
Namaku M. Rio Fernando, biasa dipanggil Rio. Aku menyukai seorang gadis, seorang gadis yang ku anggap unik. Dia pekerja keras, sangat percaya diri dan mudah bergaul. Awalnya aku tak

Asnita

Oleh:
Akhir-akhir ini aku menghabiskan waktu demi buku-bukuku. Buku-buku yang yang tak akan pernah meninggalkanku sendirian, walau dalam diam. Kau terlihat sibuk dengan kawan-kawan sekamarmu itu hingga kau lupa padaku.

Gara Gara Selfie

Oleh:
Waktu itu hari sabtu, seperti biasanya SMP kami rutin melakukan jalan santai, hari itu kami berjalan kira-kira 1,5 km dari SMP. Akan tetapi aku -Rani- dan kelima temanku -Echa,

Dan Akhirnya

Oleh:
Mungkin tidak hanya aku yang berpikir bahwa hadirnya sebuah kabar itu adalah suatu hal yang penting dan tidak boleh disepelekan. Kabar terkini ataupun kabar terbaru itu sangat aku hargai

Bisakah Aku Kembali

Oleh:
Minggu pagi itu aku berbaring di atas kasur yang seperti magnet, melekat dan sulit untuk terlepas dari punggungku. Ditambah lagi dengan penyesalanku yang masih terus berputar di dalam kepala

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *