Rinduku Haram Bagimu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 28 May 2016

Setelah setengah dekade aku menunggu, kini akhirnya kau kembali: meskipun itu belum pasti. Betapa hatiku hancur saat kau menghilang bak ditelan bumi. Aku mencemaskanmu. Setiap hari selalu ada debar yang sama. Akankah hari ini kau menemuiku? Akankah hari ini kau kembali? Aku merindukanmu, Jennahara. Namun rupanya tak lama lagi rinduku akan terbayar lunas. Aku mendapat kabar bahwa kau akan kembali. Kemarin, aku menemui orangtuamu untuk memastikan hal itu. Maafkan aku, Jennahara! Setelah sekian lama kau menghilang, aku baru menemui orangtuamu. Bukan apa-apa, kau sendiri tahu bahwa mereka tak menyukaiku.

“Saya tidak tahu!” ucap ibumu dengan raut wajah yang sama seperti pertama kali melihatku. “Tapi kemarin dia bilangnya mau pulang besok!” lanjutnya. Aku begitu bahagia mendengar kabar itu Jennahara.

Asal kau tahu, aku bahkan sempat membencimu Jennahara. Bagaimana tidak, di hari jadi kita yang ke dua tahun, kau pergi tanpa pamit dan permisi. Dan lebih parahnya lagi, nomor serta seluruh akun media sosialmu tidak dapat ku hubungi. Aku sangat mencemaskanmu, Jennahara! Tapi ternyata kau tak sekejam itu. setelah dua bulan menguap, kau mengirimkan surat elektronik. Dan aku sangat lega. Tapi jujur, aku tidak mengerti arti dari isi suratmu itu. Surat itu begitu singkat. Kau hanya menulis, “Aku baik-baik saja. Kau tak usah mempedulikanku lagi, dan tak usah terlalu merindukanku. Rindumu haram bagiku.” Apa maksudmu, Jennahara? Saat aku ingin mengetahui lebih jelas, kau malah tak membalas. Aku tahu kau sangat sibuk di sana. Tak ada waktu untuk membuka e-mail atau semacamnya. Bukankah begitu, Jennahara? Aku bahkan masih ingat sumpahmu waktu itu, Jennahara.

“Aku tidak akan meninggalkanmu, Ridal! Aku sangat mencintaimu!”
“Aku meragukanmu, Jennahara!”
“Kenapa? Kau tak usah terlalu mempedulikan sikap orangtuaku. Mereka salah. Cinta tak memandang perbedaan kasta!”

Ah, aku masih mempercayai sumpahmu, Jennahara. Tak mungkin kau meninggalkanku demi pria lain. Iya, kan Jennahara? Menurut Nayla, yang merupakan sahabat baikmu, kau akan pulang besok. Dengan membawa gelar sarjana dari salah satu universitas ternama di Negeri Paman Sam. Ah, aku bangga padamu, Jennahara! Untuk membayar lunas kerinduanku. Tak ada salahnya jika aku menyiapkan kejutan untukmu. Agar esok menjadi penyambutan yang super super spektakuler.

Jadi inilah daftar rencanaku:
1. Menyewa kafe langganan kita. Kau pernah bilang jika kafe itu adalah kafe terbaik di Jakarta. Jadi, akan ku usahakan agar kita bisa menghabiskan waktu di sana tanpa merasa khawatir di suruh pulang karena terlalu lama duduk di sana.
2. Mendekor kafe dengan mawar merah. Setiap kali kau melihat mawar merah, kau selalu menyuruhku untuk memetiknya. Menurutmu, tak ada bunga yang lebih indah selain mawar merah. Tenang saja Jennahara, matamu akan dimanjakan dengan ratusan mawar merah di sana.
3. Memakai setelan jas lengkap dengan dasi kupu-kupu berwarna merah. Kau bahkan sangat menggilai para aktor Hollywood hanya karena mereka sering memakai jas dan dasi kupu-kupu. Akan ku buktikan padamu. Aku tak kalah tampannya dengan Brad pitt atau siapalah itu.
4. Merapikan rambut. Sering sekali kau tak mau bicara padaku hanya karena aku belum sempat mencukur rambut. Tenang saja, akan ku rapikan agar kau semakin mencintaiku.

Dan masih banyak lagi yang harus ku lakukan. Mungkin, aku harus menemui Nayla. Menanyakan apa saja yang tidak ku ketahui tentangmu. Ya, itu harus! Kini aku sudah duduk di meja pojok dekat jendela. Dan semua rencanaku sudah ku persiapkan dengan matang. Aku yakin kau akan menyukai ini semua, Jennahara. Aku menunggumu dengan perasaan yang tak menentu. Sesekali aku memainkan dasi kupu-kupu merah yang melingkari leherku: menghindari kejenuhan. Dan semerbak mawar merah yang menghiasi setiap sudut kafe semakin membuat jantungku berdegup kencang. Mengapa kau lama sekali, Jennhara? Bahkan sudah berulang kali aku menoleh arloji di tangan kiriku. Bukankah aku menyuruhmu datang pukul tujuh? Tapi tenang saja, aku tidak akan bosan menunggumu.

Pukul sembilan malam. Kau datang dengan sedikit tergopoh-gopoh. Menggandeng seorang pria bule berbadan atletis. Kemudian kau duduk di pojok dekat pintu masuk. Aku bahkan melihat jelas saat matamu berbinar-binar melihat mawar merah di sana. Namun, tak ada yang lebih menyakitkan saat ku lihat bibirmu bergerak-gerak menghadap pria itu. Kemudian kau peluk dan mengecup basah bibirnya. Aku hanya terus mematung. Entah apa yang harus ku lakukan. Duduk di sini sambil melihatmu bercumbu dengan pria bule itu, atau justru pulang dengan terus terbayang kecupan basah bibirmu. Ah, sama saja, duduk di sini ataupun pulang hatiku tetap saja hancur. Namun kini aku tahu, kenapa rinduku haram bagimu, Jennahara.

Cerpen Karangan: Dede Supriatna
Facebook: https://www.facebook.com/dhegol.supriatna
Dede Supriatna lahir di Bogor. Dan merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Kunjungi akun Twitter/Instagramnya: @dhegol27

Cerpen Rinduku Haram Bagimu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Di Pantai

Oleh:
Bandung, 12 September 2001 Buat Tika. Hai, kamu masih ingat ketika kita dekat pertama kali? Bukan, bukan di Gereja. Kita memang sudah kenal di Gereja, tapi bukan itu. Maksudku,

Cuma Gara Gara Facebook

Oleh:
Amarah dan Kekesalan yang kini melanda Prasetyo, Kecewa yang selalu membayangi, beribu maaf yang entah berapa kali terlontar dari bibirnya. “Maafkan aku, ku akui aku memang salah. Maafkan aku

Kotak Surat Darimu

Oleh:
Kasih, Setelah beberapa pekan kau diam membungkam dan mengacuhkanku dengan tidak menemuiku, ratusan panggilan tak terjawab di handphonemu bahkan pesan via sms dariku tak satu pun mendapat respon darimu.

Satu Februari

Oleh:
Gue adalah mahasiswi semester 3 jurusan pendidikan matematika di salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Surabaya. Dara, itulah nama gue. Gue biasa di sapa dengan sebutan ara. Gue punya

Musim

Oleh:
Lima belas hari lagi. Jantungku semakin berdebar tanganku mulai berkeringat setiap kali melihat susunan tanggal tanggal di kalender yang menggantung tegak lurus di tembok kamarku. Suara kerumunan manusia yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *