Sahara

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 27 August 2015

“Apa dengan cara ini kau membunuh rasa rindumu?” Tanyaku pada Sahara. Sementara ia hanya tertunduk dan diam.
“Kalau begini terus kau bisa sakit, akan ku bilang pada Ayah dan ibu” lanjutku.
“Jangan Savana aku mohon, aku baik-baik saja”
“Tidak, kau tidak baik”
“Sudahlah Savana, aku tidak mau berdebat denganmu, aku mau istirahat dulu” ia membereskan tas kerjanya lalu beranjak dari sofa.
Ia terlihat begitu lelah meskipun begitu Sahara masih bisa tersenyum manis kepadaku. Aku tahu dibalik senyuman itu Sahara menyimpan sebuah kesedihan.

Hampir enam bulan sudah ia seperti ini. Melihatnya diam sepanjang hari aku tak akan heran kerena Sahara adalah tipe pendiam. Namun diamnya kali ini berbeda. Aku bingung dengannya. Jika ada masalah seberat apapun ia tidak pernah mau menceritakannya padaku, adiknya sendiri. Ia lebih memilih untuk memendamnya sendiri. Tapi pada akhirnya aku tahu mengapa dan apa yang sedang ia rasakan. Dan cara mengatasinya itulah yang membuatku tidak setuju.

Jam menunjukkan pukul 2 dini hari. Aku terbangun ingin ke kamar mandi. Aku melewati kamar Sahara lalu berhenti di depannya. Lalu ku buka sedikit pintunya yang ternyata tidak terkunci. Ku lihat dirinya sedang menengadahkan kedua tangannya di atas sajadah. Mulutnya tidak berbicara hanya air matanya yang mengalir. Aku kembali menutup pintu tanpa diketahui olehnya. Sahara, sebegitu besarkah rasamu padanya? Pada Kendra, laki-laki yang telah membuatmu seperti ini.

Kendra adalah teman satu kampus Sahara. Setahun yang lalu hubungan mereka berdua baik. Kendra kerap kali datang ke rumah untuk sekedar mengerjakan tugas kuliah bersama. Aku pun terkadang ikut nimbrung bareng mereka. Aku melihatnya, cara Sahara menatap Kendra mulai berbeda. Semenjak itu Kendra menjadi lebih sering datang ke rumah. Terutama malam Minggu. Semua berjalan baik-baik saja sampai waktu itu aku melihat Sahara tidak seperti biasanya. Saat keluar dari kamar kedua matanya sembab seperti habis menangis. Aku sempat menanyakan padanya apa yang terjadi, namun ia tak mau membuka mulut.

“Ra, bisakah kamu mengurangi kegiatanmu dalam satu minggu?” tanyaku sambil menuang jus jeruk ke dalam gelas.
Aku tahu tak baik berbicara saat makan. Tapi hanya saat sarapan aku bisa berbicara agak lama dengan Sahara.
“Tidak” jawabnya singkat.
“Kenapa? kau melakukan ini karena ingin melupakan Kendra, kan? Dengan menyibukkan dirimu sendiri”
“Tidak, aku melakukan ini karena aku memang harus melakukan ini”
“Tapi selama satu minggu penuh kau tidak ada liburnya. Minggu kau kuliah dan sorenya kau mengajar les privat sampai malam”
“Savana, sudah ku bilang aku akan baik-baik saja” ucapnya lembut.

Ia sama sekali tidak terpancing oleh kata-kataku. Ya, dia memang tidak sepertiku yang gampang sekali tersulut emosi. Sahara bahkan tidak pernah membentakku. Tutur katanya begitu sopan dan lembut. Itulah yang membuatku sangat sayang padanya. Dan jikalau marah, Sahara paling hanya akan mendiamkanku selama beberapa hari.

Sahara jatuh cinta pada kendra meski ia tak pernah menyampaikan perasaannya yang sesungguhnya kepada Kendra. Dan saat itu Kendra menyatakan langsung kepada Sahara kalau ia menyukai Sahara. Beberapa kali Kendra mengajaknya jalan, tetapi ia selalu saja menolak. Ia lebih memilih bertemu di rumah. Saat bertemu pun Sahara tidak banyak bicara. Ia gugup dan tidak tahu harus berkata apa di depan Kendra. Hari-hari menyenangkan itu tidak berlangsung lama. Kendra sudah jarang datang ke rumah dan komunikasi di antara mereka sudah bisa dibilang terputus.

Saat itu Sahara tidak sengaja membuka akun facebook Kendra. Di wall-nya terdapat sebuah foto Kendra dengan seorang wanita sedang bergandengan tangan. Terlihat begitu mesra yang pada akhirnya ia tahu kalau itu adalah pacar Kendra. Itu semua aku tahu dari diarynya yang ku temukan saat ingin mengambil novelku yang dipinjam Sahara di kamarnya. Karena itu pula aku didiamkannya selama tiga hari karena ketahuan membaca diarynya tanpa izin. Semenjak itu ia jadi seperti ini.

Malam ini hujan turun begitu lebat. Ku lempar pandangan ke arah jam berbentuk hati yang menunjukkan pukul 11. Sahara belum pulang dan itu membuatku sangat khawatir. Ku hubungi ponselnya berkali-kali tapi tidak ada jawaban. Sampai akhirnya aku mendengar suara pintu depan terbuka. Aku segera keluar kamar dan mendapati Sahara yang masuk dalam keadaan basah kuyup.

“Emangnya kamu enggak bawa payung, ra?”
“Payungku ketinggalan di kantor, na” ia lalu masuk ke kamarnya. Aku merasa kasihan padanya dan memutuskan untuk membuatkan Sahara teh hangat.
“Ra, ini ku buatkan teh hangat” aku masuk ke kamarnya dan melihatnya sedang meringkuk di atas tempat tidur.
“Kendra… Kendra…” Panggilnya mengiggau. Ku pegang dahinya. Ia demam suhu tubuhnya naik.

Sahara mnggigil terdengar jelas gemertak giginya sambil terus mengiggau memanggil-manggil Kendra. Aku panik sedangkan kami hanya berdua di rumah. Ayah dan ibu belum pulang dari Surabaya. Aku membuka lemari Sahara mencari selimut tebal untuk menyelimuti tubuhnya. Setelah itu aku mengompresnya. Aku tidak tega melihatnya seperti ini. Ku ambil ponsel Sahara dan menghubungi Kendra. Kebetulan ia sedang berada tidak jauh dari rumah kami. Sepuluh menit kemudian Kendra tiba.

“Kendra.. Kendra…” Sahara masih mengigau.
“Sahara, ini aku Kendra” Ucapnya sambil menggenggam tangan Sahara.
“Kendra…” matanya terbuka. Ia tersenyum lalu tak sadarkan diri.
Aku dan Kendra memutuskan membawa Sahara ke rumah sakit menggunakan mobil Kendra.

“Kenapa Kendra semalam ke rumah na?” Tanya Sahara yang masih terbaring di tempat tidur. Dokter belum mengizinkannya pulang selama dua hari kedepan.
“Itu, aku yang menghubunginya untuk membawamu ke rumah sakit”
“Untuk apa meminta bantuannya, na? lagi pula aku hanya demam biasa. Istirahat semalaman saja aku pasti sembuh”
“Demam biasa? Demam mu itu sudah mencapai 40 derajat selsius. Semalam aku hampir saja mengira kau akan mati” Sahutku sedikit kesal.

Akhir-akhir ini aku dan Sahara sering terlibat perdebatan. Apalagi setelah ia memutuskan untuk mengambil jam mengajar les privat pada minggu sore. Menurutku Sahara sudah overload dalam menjalani aktivitasnya. Aku tahu Sahara melakukan itu semua semata-mata untuk menjauhkan pikirannya dari Kendra.
Di tengah perdebatanku dengan Sahara, tiba-tiba Kendra datang menjenguk Sahara. Kendra meminta izin kepadaku untuk berbicara hanya berdua saja dengan Sahara. Aku pun mengiyakan dan keluar dari ruangan.

Lima belas menit kemudian Kendra keluar lalu pamit kepadaku. Aku masuk ke ruangan dan ku lihat Sahara menangis.
“Kenapa Sahara? apakah Ken menyakitimu lagi?” tanyaku khawatir. Sahara hanya diam.
“Sahara, apakah laki-laki itu menyakitimu?” Tanyaku lagi kali ini dengan sedikit penekanan. Rasa kesal bercampur marah kepada laki-laki itu kian memuncak.
“Tidak,” Sahara menggeleng lalu menyeka air matanya.
“Lalu kenapa kamu menangis?” lagi-lagi ia tidak menjawab pertanyaanku. Sahara hanya tersenyum.

Dear Diary,
“Sekarang aku sudah mendapatkan jawaban yang ku dengar langsung darimu. Dan kini aku sudah tidak mau bertanya dan berspekulasi lagi. Semua sudah jelas. Namun, entah mengapa meskipun semua sudah jelas dan aku pun sudah menerima, perasaan itu cukup mampu untuk membuat air mataku jatuh saat mengingatmu. Aku nggak tahu apakah ini perasaan cinta atau sayang atau hanya sekedar suka. Tahu kah kamu saat aku terbangun dari tidur, perasaan itu semakin kuat. Aku nggak tahu apakah itu yang dinamakan sakit hati atau patah hati karena aku belum pernah merasakan hal ini sebelumnya.

Aku cuma bisa menangis ketika aku tidak kuat menahan rasa itu. Dulu ketika aku masih kecil dan saat aku kehilangan boneka yang paling aku sayang. Aku akan meminta kepada Ayah atau Ibu untuk membantuku mendapatkan boneka itu kembali. Tapi kini aku tak bisa berbuat apa-apa. Hanya Allah yang bisa mengembalikanmu atau mungkin Dia akan menggantinya suatu saat. Ya.. aku percaya itu. Maaf karena aku nggak bisa menyatakan perasaanku yang sesungguhnya kepadamu. Karena hal itu begitu sulit bagiku. Hanya air mata inilah yang mewakili perasaan ini. Mungkin ini terdengar berlebihan, tapi inilah yang aku rasakan saat ini.”

30 Agustus 2012
Itu adalah diary terakhir Sahara yang ku baca tanpa sepengetahuannya. Karena setelah itu aku berjanji tidak akan membaca diarynya lagi tanpa izin.

Cerpen Karangan: Intan Hanana
Blog: hananazahra.blogspot.com
Facebook: Intan Hanana

Cerpen Sahara merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kehadiran yang Tertutupi

Oleh:
Hari ini aku sudah siap siap untuk berangkat sekolah. Tas sudah kugendong di punggung. Aku menunggu tetangga sekaligus sahabatku dari kecil. Namanya Rinov. Kami selalu berangkat bersama, dan beruntungnya

Love Story

Oleh:
“Krriiinggg krrinnggg!!!” Alarm Rina berbunyi.. “Iihhh, apaan sih nih alarm mengganggu gue tidur aja!” Ujar Rina “Ting tong ting tong!!” Suara bel rumah Rina “Iisshh kenapa lagi sih kok

Pelampiasan Cintamu

Oleh:
Hari minggu ini aku sedang tidak ada tugas. Semua tugas dari sekolah maupun yang ada di rumah sudah aku kerjakan dengan baik. Aku bebas mau ngapain aja hari ini,

Hanya Sebatas Kakak dan Adik

Oleh:
Saat itu Ruth adalah seorang siswi kelas X yang berarti juga seorang junior di SMAN Model 3 Palu, hal yang pertama terfikir di benak Ruth adalah bagaimana caranya mencari

Painful Love

Oleh:
Namaku Anila. Sekarang aku duduk di bangku kuliah semester 1. Aku mempunyai sahabat bernama Tania, kami selalu bersama dalam suka maupun duka dan pada suatu hari aku menyukai seseorang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *