Sebatas Teman

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 16 June 2016

“Hey… kamu sini… ayo main… haha…” suara gelak tawa anak laki-laki itu terdengar dari dalam ruang belajar taman kanak-kanak itu.
“Varo… tunggu aku… aku juga ingin main…” pinta anak seumuran dengannya.
“ayo naik ayunan… kamu yang naik… nanti aku yang ngegerakin ayo…”
“oke-oke… tunggu sebentar…”
Hap!
“Eh, kamu kenapa malah ke atas…?”
“Aku ngegerakinnya dari atas… tenang aja..” kata anak laki-laki yang bernama Varo itu.
GREEKK!!
“Kyaaa… sakit… aww… Syeila tolong Varo… jari varo ada darahnya…” teriak Varo
“Ha? Varo… kamu kenapa? Aduh… gimana ini? Bu guru… tolong… tolong Varo.”

Rumah Varo
“Assalamu’alaikum Varo…?”
“Wa’alaikumsalam Syeila… ayo sini…”
“Gimana tanganmu? Masih sakit ya? Kamu sih kemarin gak hati-hati… huh…”
“Cie… khawatir sama aku nih ya… haha…”
“Apaan sih… kita kan temenan…”
“Iya iya… sampai kita besar nanti kita akan terus temenan dan bersama kan?”
“iya dong… hihi… tapi kamu janji loh ya… gak akan ninggalin aku sendiri? Oke?”
“Oke! Aku janji”. Jari kelingking mereka terikat satu sama lain dan keduanya nampaknya terlihat bahagia.
Hmmm… inikah persahabatan? Ouh… ayolah… mereka masih sangat kecil untuk dibilang saling mencintai… hm? Kalau memang mengingat masa kecil… kita selalu bahagia ya… nggak pernah mikirin masalah… nggak pernah sakit hati… iya kan? Nggak seperti sekarang… sakit hati umum dirasakan oleh sorang remaja seperti kita. Ya… inilah anugrah… waktu terus berlalu… siapa sangka… mereka berdua telah beranjak dewasa… dari taman kanak-kanak mereka sangat dekat… tapi, semenjak Sekolah dasar lalu Sekolah Menengah Pertama… mereka mulai menjauh… bahkan apa kalian tau? Varo menjalin sebuah hubungan dengan teman sekelas Syeila. O iya… perlu diketahui umur Varo 1 tahun lebih tua dari Syeila. Ya… Varo menjauh dari Syeila. Syeila merasa kesepian kerenanya. Menykitkan bukan? Untunglah Syeila masih punya teman-teman yang baik yang selalu bisa membuatnya melupakan si Varo. Sekarang Varo sudah lulus dari SMP dan menjutkan ke Sekolah Menengah Atas. Syeila pun juga berencana untuk melanjukan kesana. Bukan karena disana ada Varo, melainkan karena Ibunya juga menyarankan kepadanya.

Setelah selesai Ujian Nasional, Syeila bisa santai tapi juga harus mengurusi Sekolahnya yang baru.
“Libur?” pesan masuk dari facebok Syeila menampilkan sebuah nama yang mengiriminya pesan.
“Iya”
“Mau ngelanjutin sekolah mana?”
“Kayaknya sih sama…”
“Wih… udah daftar… enak dong… tinggal nunggu hasil… sekarang udah nyantai…”
“Hmmm… iya.”
“Ya udah ya… mau ke luar dulu..” . hanya begitu? Itukah yang hanya disampaikan Varo kepada sahabat kecilnya dulu? Bahkan sebenarnya Syeila ingin bercerita banyak dengan Varo. Tapi, sepertinya Varo sibuk. Dia merasa Varo telah berbeda dengan Varo yang dia kenal dulu.
“Huft… kamu sekarang jauh Varo… aku sulit untuk menggapaimu… semoga kamu tak lupa dengan janji yang kita buat dulu.”

Syeila sekarang sudah masuk di sekolah itu. Dia berhasil. Dia memilih untuk mengekost di sebuah rumah yang tak jauh dari sekolahnya. Ngomong-ngomong, dia telah kembali. Ya… Varo kembali memasuki kehidupan Syeila. Mereka sering pulang ke rumah bersama dan berangkat bersama. Ke rumah ya… bukan kerumah kost tapi kerumah asli mereka. Tapi, kali ini nampak berbeda. Ada sesuatu yang mengganjal di antara mereka berdua. Tapi apa? Rasa canggung dan gugup menyelimuti setiap langkah mereka.
“Kenapa ini? Kenapa sulit untuk bicara sesuatu? Lidahku terasa kaku… Argh… ini memalukan…” kata Syeila dalam hati.
“Hey Syeila, kamu masih ingat sama Bella teman sekelasmu yang itu? Hm?”
DEG!
“Rasa apa ini? Sesak rasanya jika mengingat nama itu. Mengingatnya oksigen ini seperti hilang begitu saja. Aku kenapa? Aish..”
“Syeila? Kamu dengar gak sih?” Varo menepuk bahu Syeila yang membuatnya tersadar dari alam bawah sadarnya.
“Eh, iya… aku masih ingetlah… kenapa? Kamu masih suka ya sama dia?” Syeila mencoba untuk tersenyum walau rasanya sakit mengatakannya.
Terlihat Varo tersipu malu atas godaan dari Syeila.
“Kenapa gak balikan aja kak?”
“Hah? Gak ah… itu masa lalu… masih banyak wanita baik disini…” varo menoleh memandang Syeila.
Melihat Varo memandanginya, Syeila berusaha untuk menutupi saltingnya.
“Hmm… iya kak… Aku dukung kok… kakak harus move on dari si Bella dan cari perempuan yang lebih baik…”
“Amin… makasih ya Syel… kamu memang Sahabat terbaik aku” pungkas Varo yang tepat di persimpangan mereka berpisah jalan.
Syeila berhenti dan hanya melihat punggung Varo dari belakang. Rasa aneh itu kembali muncul di benak Syeila.
“Teman ya kak… memang, aku hanya sebatas sahabatmu… tak lebih dari apapun…? Hmm… sudahlah… aku lelah…” Syeila berbicara pada dirinya sendiri.

Tak terasa, sudah 5 bulan Syeila bersekolah disini. Banyak hal yang terjadi. Hubungan mereka berdua? Entahlah… masih nggantung. Tapi, syeila bertekad untuk melupakan Varo karena dia ingin sukses dulu katanya. Memang benar… sekarang Varo menjauh dari Syeila. Lagi.
Hah… sungguh menyedihkan nasib gadis ini. Tanpa dia ketahui, rupanya, salah satu temannya bernama Salsha juga dekat dengan Varo. Apa ini? Kenapa Varo? Apakah Varo yang mendekat atau gadis ini? Sejak kapan Varo mengenal Salsha? Untuk apa? Semua pertanyaan yang bermacam-macam memenuhi pikiran Syeila. Dia baru saja mengetahui hal itu ketika Salsha menanyakan dimana rumah Varo.
“Syeila? Kamu kenal Kak Varo kan? Rumahnya dimana? Dia tetanggamu ya?” tanya Salsha
“Eh, emm.. i..iya… dia tetanggaku… kenapa?”
“Oh… gak kok.. gak papa…”
“Kak Varo… aku memang bukan siapa-siapamu kak… tapi, aku hanya takut kehilangan dirimu… kau sudah terlalu banyak membantuku… kau terlalu barharga untukku… aku mohon, kak… jangan tinggalkan aku…” Syeila menitikkan air matanya. Baru kali ini Syeila menangis hanya karena masalah seperti ini.
“Semuanya terlihat jelas. Mereka dekat rupanya. Kalian menjalin sebuah hubungan. Ya… sekarang Salsha menjadi pacar Varo. Sudahlah… aku ingin pergi dari dunia ini. Aku sudah lelah dengan semuanya. Ayolah Syeila… kamu pati bisa melupakan kak Varo… aku tahu itu… “ Syeila bergumam tak jelas untuk meyakinkan dirinya agar dia kuat.

“Kak, minggu ini kamu mau pulang ke rumah gak?” syeila bertanya.
“emm… iya kok kayaknya…?”
“boleh barengan?”
“bolehlah pastinya”
Ya… seperti yang direncanakan… hari sabtu mereka pulang menggunakan bus umum… diam. Syeila gelisah dalam diamnya. “Huft… oke! Nanti aku akan bicara.”

Setelah turun dari bus, mereka jalan kaki untuk sampai ke rumah meereka masing-masing. Syeila rasa ini waktunya.
“Kak!”
“Iya? Ada apa??”
“Kakak mau nggak Syeila ajak ke padang rumput dulu… syeila mau liat sunset disana.”
“Emmm… boleh… ayok..”

Sesampainya di padang rumput, matahari tepat di ufuk barat. Sebentar lagi matahari akan tenggelam. Syeila memetik setangkai Dandelion dan meniupnya bersama dengan terbangnya harapan Syeila. Sekarang ini, bintang menghiasi malam di padang rumput. Suasana hening dan dingin menyeruak di sekitarnya.
“Kak!?”
“Hm?” Varo menatap lurus ke depan. Tidak menatap Syeila. Namun mereka duduk bersampingan di bawah pohon.
“Aku mau bilang sesuatu ke kakak.”
“Bilang aja… penting ya…”. syeila diam dan mulai berbicara.
“Kok rasanya kak Varo jauh ya dari aku… gak kaya waktu kecil dulu… aku kangen kak masa-masa itu. Aku tau aku hanya teman kecil kak Varo. Tapi, bagiku kakak lebih dari itu. Aku hanya takut kehilangan kakak. Aku selalu ingin mempunyai soerang kakak yang selalu ada di samping Syeila. Dan sampai akhirnya aku menemukan kak Varo. Tapi, sepertinya kak Varo lebih memilih Salsha dibanding Syeila. Jujur kak, aku tak tau apa yang Syeila rasain sekarang. Syeila kadang cemburu liat kalian berdua. Tapi… Syeila rasa ini bukan tentang rasa persahabatan. Aku tak yakin, tapi kak Varo sekarang beda dari yang Syeila kenal. Syeila Cuma berharap Kak Varo gak ninggalin Syeila. Syeila butuh kakak sebagai seorang Sahabat buat Syeila. Hiks…” ucap Syeila dengan penuh tangis yang berderai di wajahnya.
Mendengar ucapan dari Syeila, Varo hanya tersenyum. Varo menghentikan langkahnya dan berbalik arah.
“Syeila, dengerin aku sekarang. Memang aku berubah. Itu pun pasti ada negatifnya. Tapi, bagi Kak Varo Syeila itu lebih dari seorang pacar yang kakak punya. Sahabat itu lebih berharga dari apapun itu Syeil… maafin kakak kalau gak pernah peka sama perasaan Syeila ke kakak. Kakak udah terlalu jahat sama Syeila. Kakak gak pantas buat Syeila. Syeila pasti bisa temuin orang yang lebih baik dari pada kakak. Syeila tetap Sahabat kak Varo yang terbaik kok… sampai kapanpun, Kak Varo gak mungkin ngelupain Syeila. Soalnya kakak gak akan sampai sini kalo bukan karena Syeila. Lebih baik, Syeila jadi Sahabat selamanya buat kakak… kakak udah nggap Syeila kaya adik kakak sendiri”

Ya… walapun terasa sesak untuk mendengar kalimat terakhir dari Varo, tapi syeila berusaha untuk tetap tersenyum. Syeila sekali lagi akan belajar menjadi Sahabat yang baik untuk Varo. Syeila terbenam dalam tangis di pelukan Varo. Dia tak tau apa rasa ini. Antara senang, kecewa, sedih, sesak, lega. Semuanya mengalir dalam darah gadis cantik itu. Pelukan Varo membuat Syeila menjadi hangat. Malam ini, malam yang indah bukan…

The End

Cerpen Karangan: Ana Zahra
Facebook: Ana Zahra

Cerpen Sebatas Teman merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hasil

Oleh:
“yeeeaayyy..” teriak semua murid yang sedang melempar jas sekolah kesayangan mereka. Pada saat itu pengumuman kelulusan sekolah baru saja diumumkan, setelah kami semua melewati banyak ujian, akhirnya kami bisa

Kebahagiaan Sementara

Oleh:
Seperti biasa, aku ke sekolah dengan mengendarai angkutan umum. Aku berjalan dari rumah menuju halte tempatku biasa menunggu angkutan yang jaraknya tidak begitu jauh, “Cuaca hari ini sedikit mendung.”

Di Pojok Perpustakaan

Oleh:
Ada satu pojok, di penghujung ruang perpustakaan, diapit tembok di bagian belakang dan jendela terbuka di bagian depan. Tak tahu menahu, aku duduk saja, selang dua bangku di sebelahnya.

Cafe Biru Muda

Oleh:
Mereka duduk berdampingan, sementara di seberang meja seorang gadis berambut sebahu tertunduk resah. Meja bernomor 18 itu diliputi ketegangan. Bahkan tidak ada seorang wetress pun yang berani mendekat padahal

Apa Salah Ku

Oleh:
Hari ini begitu cerah, karena saat aku berangkat ke sekolah sinar mataharinya begitu terang sampai sampai mataku tersilaukan oleh cahaya itu. Ku awali hari ini dengan penuh semangat 45

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *