Sebuah Afeksi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Patah Hati, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 22 April 2019

Bangku berwarna cokelat itu masih sama, tak berubah sama sekali. Bangku kayu tempat dimana aku dan dia bertemu, saat umurku baru menginjak lima belas tahun.

Rambut panjang nan lembut berwarna amber senada dengan bola matanya yang besar, kulit putih bersih bak porselen dan sebuah tas berisikan gitar menemaninya sore itu.

Matanya menatapku tepat saat bola basket milikku bergelinding ke arah kakinya yang jenjang, ia tersenyum saat aku masih terkesiap akan kecantikannya yang rasanya tak akan pernah luntur sampai mati pun.

“Milikmu?” katanya sambil menyerahkan bola berwarna oranye cerah itu kepadaku. Ia lebih tinggi dariku saat itu, dan cengirannya memberikan warna pada hariku.

Dan semenjak itu pula, bangku cokelat dibawah pohon apel yang berada di taman kota menjadi tujuanku tiap pulang sekolah.

Tiap jam setengah empat sore tepat, akan terlihat seorang gadis berambut panjang yang bersenandung kecil sembari menggerakkan sedikit kepalanya mengikuti ritme lagu yang didengar melalui earphone.

Juga tiap jam setengah empat sore tepat, akan ada seorang pemuda yang setia duduk di ayunan selama beberapa jam hanya untuk mengawasi gerak-gerik gadis berambut amber itu. Ya, pemuda itu aku.

Hingga sore di hari kelima semenjak aku mulai mengamatinya, ia tiba-tiba berjalan ke arahku dengan tas gitarnya lalu duduk di ayunan kosong yang berada di sebelahku.

“Bagaimana kalau kita berteman?”
Kata-kata itu meluncur mulus dari bibir tipisnya, ia mengulurkan tangan sembari tersenyum lebar, aku tertawa kikuk lalu menyambut uluran tangannya.

Sore itu, kita resmi berteman.

Hari demi hari berlalu, jarak diantara kami seolah menipis. Jika dulu hanya ada aku yang memperhatikan dirinya dari jauh, maka kini ada aku yang berjalan di sebelahnya mendengarkan ceritanya tentang hari-hari beratnya di sekolah musik dan berakhir dengan kami tertawa bersama sesampainya di taman kota.

Bangku cokelat itu favoritku dan dia, tempat dimana kami berbagi cerita juga sedih dan tawa, tempat dimana kami menghabiskan waktu dengan menghitung buah apel yang hampir masak, tempat dimana kami bisa bermain bersama.

Umurku sembilan belas tahun waktu itu, dan sang gadis berambut amber itu sudah memasuki dua puluhan. Kami bertemu di bangku cokelat yang tertutup daun-daun kering yang berguguran tertiup angin musim kemarau.

“Maaf,” dia tersenyum kecut, tanganku berada di genggamannya, “aku harus pergi.”

Aku menatapnya, tepat di matanya, kembali mengagumi betapa indahnya warna amber yang kulihat saat ini. Aku tidak menangis, aku laki-laki, aku tidak akan menangis, namun nyatanya tangan kurus miliknya bergerak di pipiku, menghapus aliran air yang seketika jatuh dari mataku.

“…tanpamu aku bisa apa,” cicitku sambil menunduk, tidak ingin ia melihat diriku yang hancur.

Suara tawa yang kudengar tiap sore itu memasuki telingaku, “Bocah, kau pasti bisa!” dan tepukan lembut di kepalaku serta usapan kecil yang ia berikan membuatku tenang kembali.

Dan sore berikutnya, tidak ada lagi sang gadis berambut amber yang biasa kunanti tiap harinya, tidak ada lagi gadis dengan tas gitar yang bercerita tentang guru botak yang memarahinya setiap hari karena ia selalu lupa kunci, tidak ada lagi teman yang bisa kuajak berbagi senyum dan tangis, tidak ada lagi sahabat yang selalu menunjukkan tingkah konyol tiap aku sedih agar senyumku kembali, tidak ada lagi gadis berambut amber sang genius gitar yang menjadi cinta pertamaku.

Hingga aku mulai beranjak dewasa, tidak pernah kulewatkan satu hari pun untuk tidak datang ke taman tempat dimana banyak kenangan indah terjalin di sana, bangku cokelat yang terbuat dari jati pun masih kokoh berdiri dan setia menjadi saksi bisu kunjunganku.

Umurku dua puluh tiga saat ini, tumbuh dengan baik dan merasa beruntung karena mendapat pekerjaan yang dapat mencukupi kehidupan sehari-hariku.

Waktu terus berjalan, tahun pun tetap berganti namun pikiranku seringkali melayang keempat tahun lalu disaat gadis berambut amber yang selalu mencuri atensiku pergi begitu saja.

Rindu? Sudah pasti.

Namun kali ini aku berusaha untuk berpikir secara logis, kala itu aku masih muda, mana mungkin mengerti banyak soal cinta, ibuku sendiri berkata kalau itu hanya cinta monyet, cinta jadi-jadian, cinta palsu.

“Hei, bocah, apa kabar?”

Semenjak gadis itu pergi, aku sering berkhayal, berhalusinasi seolah gadis amber itu ada di hadapanku. Seperti saat ini. Namun ada yang aneh, aku yakin aku sudah berulang kali mengerjapkan mataku namun bayangan gadis itu tetap bertahan.

“Wah, kau sudah besar,” mata gadis itu masih amber, yang berubah hanya warna rambut yang terlihat lebih gelap dibanding empat tahun lalu. “kau pasti masih sering bermain basket, tinggimu bahkan sudah mengalahkanku.”

Aku masih terdiam, saat gadis itu tersenyum pun mataku masih termangu menatapnya. “Aku asli kok.” Senyuman di wajah gadis itu melebar, dan aku tahu benar kalau hatiku sudah jatuh untuk kedua kalinya pada orang yang sama.

Gadis itu menyukai astrologi, segala hal berbau kebumian dan segala teori tentang tata surya adalah favoritnya. Karena itu aku selalu fokus belajar tiap Pak Heru—guru fisikaku saat SMA dulu —menerangkan bab astronomi di kelas.

Mulai dari perbincangan tentang konstelasi bintang sampai omongan soal Betelgeuse yang lebih besar dari matahari membuat malam itu terasa hangat.

“Itu Venus, bukan?” gadis itu menunjuk ke arah cahaya di langit yang bersinar lebih terang diantara yang lain, aku tertawa sebentar sebelum menjawab, “Bukan. Itu kejora.”

Tawa gadis itu adalah kesukaanku, karena itu aku akan lakukan banyak cara untuk membuatnya tertawa lebih sering. “Sama saja, pintar!” tawanya menenangkan, wajahnya yang berseri juga sudah bisa membuatku tenang.

“Eum,” aku bergumam kecil, kembali berpikir apa saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengutarakan perasaanku. “Aku—” suaraku tercekat, tertahan di tenggorokan dan itu menyiksa, menyukaimu, lanjutku dalam hati. Kepalaku menunduk saat bola mata seindah langit senja itu menatapku dengan hangat, “Ya? Kau kenapa?” suaranya bagai zat adiktif yang membuatku ingin terus mendengarnya bicara mulai dari pagi hari sampai malam menjelang.

Aku menelan salivaku lambat, lidahku kelu, tak ada kata yang bisa kukeluarkan saat ini. Gadis itu tiba-tiba mengikik pelan, “Aku boleh bertanya?” aku menatap gadis itu bingung namun aku tetap mengangguk.

Jemari lentik gadis itu bergerak menyisir rambutnya yang berwarna cokelat tua, “Apa kau pernah jatuh cinta?” tanyanya, ada senyuman simpul yang tersungging setelah ia menanyakan hal tadi.

“Pernah.” Aku menjawab dengan pasti, meminum cokelat hangat yang disediakan dengan rakus karena aku mulai grogi dengan suasana canggung seperti ini.

Gadis itu menatap langit yang penuh gugusan bintang dan bulan sabit ikut meramaikan pemandangan malam ini, “Jatuh cinta itu,” ia kembali mengalihkan pandangannya kearahku. “indah ‘kan?”

Aku tidak menjawab, mataku masih menatap mata ambernya penuh dengan afeksi yang tidak bisa dijelaskan oleh kata. Ia berumur dua puluh lima tahun, tapi wajahnya masih terlihat seperti anak baru lulus SMA, masih sebersih saat pertama kali aku bertemu dengannya, tidak ada bercak noda nakal atau bekas jerawat yang menganggu. Gadis itu manis.

“Ya—”

“Dan kau tahu bagaimana rasanya dilamar dengan sebuket bunga baby’s breath putih? Itu jauh lebih indah!” ia memotong ucapanku, dan suaranya pun berubah menjadi sangat riang.

Aku menggeleng, jelas aku tidak tahu bagaimana rasanya dilamar karena aku laki-laki. “Kau harus datang ke acara pernikahanku empat bulan lagi, aku akan berdandan secantik mungkin karena itu kau harus melihatku!” ujarnya penuh semangat, wajahnya begitu sumringah hingga rasanya tidak mungkin untuk tidak tersenyum di hadapannya.

“Wah, selamat, aku turut bahagia.” Aku mengacak surai cokelatnya yang lembut, terus tersenyum dan berusaha menyembunyikan segala perasaanku yang sudah bercampur aduk.

Aku tidak tahu mana yang lebih pedih, ditinggal pergi selamanya oleh gadis itu atau gadis amber yang kusukai kembali muncul di hadapanku bersama calon suaminya yang jelas jauh lebih baik jika dibandingkan denganku. Yang pasti yang bisa kulakukan sekarang hanyalah tersenyum.

Karena aku mencintai gadis itu, maka bahagianya juga termasuk bahagiaku.

fin

Cerpen Karangan: Nrkgxo
Blog: Anindiixo.wordpress.com

Cerpen Sebuah Afeksi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kok

Oleh:
Daun itu melayang, tak tau harus berhenti di mana hanya berharap angin menempatkan di tempat yang baik. Hari berlalu dan itu sangat terasa bagiku. Hidup itu sangat tak bisa

Kekasih Pilihan

Oleh:
“Pokoknya ayah akan jodohkan kamu dengan anak sahabat ayah”. Dan seketika ucapan itu pun menggema ke seluruh pendengaran Meyra. Membuat seluruh sendinya terasa layu. Memuncak hingga ke ujung relung

Untukmu Selamanya

Oleh:
Masih teringat satu kenangan yang tak pernah dapat kulupakan, yaitu semua kisah tentang Dia (Septian Nanda). Awalnya kami hanya sebatas teman biasa yang biasa bermain, bernyanyi dan belajar bersama

Warung Internet (Part 2)

Oleh:
“Haaaii!” gue megap-megap pas gue lihat ada kepala cowok yang nongol dari pintu warnet yang setengah kebuka. Mujur, ternyata itu bukan kepala melayang. Tapi kenapa orang ini ngerusak suasana

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *