Semoga Kau Bahagia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 27 April 2018

Tak terasa-rasa hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun-pun berganti tahun, kini usiaku genap 21 tahun. Di Dunia ini tiada yang aku takuti, musuh tak kucari. Namun, jika bertemu selangkah kakipun takkan ku-unduri. Akan tetapi, jika harus dihadapkan dengan situasi dan kondisi seperti ini. Sungguh, bingung aku jadi setengah mati.

Kala itu, aku masih duduk di bangku SMA dan kamu duduk di SMP/MTS. Rasanya seperti mimpi, orang desa sepertiku bisa mengenalmu, dan bahkan mendapatkan kesempatan untuk merajut Cinta, Kasih dan Sayang padamu, yang secara Ekonomis dan Agamis jauh lebih sempurna dariku.

Lama sudah kita merajut Cinta, Kasih dan Sayang itu. Sampai akhirnya aku lulus SMA, hubungan yang kita jalin itu tetap utuh, seperti awal kita jumpa. Berselang beberapa bulan setelah kelulusan, aku harus angkat kaki dari desa dan kabupaten yang dulu mempertemukan aku dengan dirimu.

Tepat sehabis lebaran Idul Fitri 2013, aku pergi meninggalkan kampung halaman. Sedih dan gembira, aku rasakan saat itu. Air matamu yang dulu mengiringi langkah kakiku, itulah yang membuatku terasa iba dan sedih. Sementara, Do’a dan ucapan selamat jalan yang keluar dari selah bibir manismu, membuatku seneng dan gembira.

Kesedihan dan kegembiraan tak cukup hanya dihari kepergianku, setiba di kota tujuanpun, rasa itu masih terus membungkus kalbuku. Sampai suatu ketika, tanpa kusadari kamu pun telah duduk di bangku SMA/SMK. Itu artinya cara berpikir kita sudah semakin dewasa. Harapan dan cita-cita seakan menjadi prioritas utama, sementara Cinta, Kasih dan Sayang yang sempat kita rajut sedikitpun tidak pernah redup.

Hari-hari terus berlalu, sementara aku dan dirimu kini terpaut di dua pulau (Jawa dan Sumatera). Handphone, yang menjadi penghubung antara aku dan dirimu. Terkadang kita tak kenal siang ataupun malam, banyak waktu yang kita habiskan sekedar untuk saling mendengar suara.

Suara itulah yang kemudian kita tafsirkan sebagai obat rindu. Tak jarang pertengkaran terjadi, itu semua dilandasi adanya kecurigaan satu sama lain. Maklum, curiga itu kan tanda cinta. Tanpa kusadari dua tahun telah berlalu sejak kepergianku dan namun tetap terukir dalam jiwaku.

Saat itu bertepatan dengan libur panjang, aku putuskan untuk pulang kampung. Rasa bahagia dan gembira seolah tak bisa dibendung, apa lagi saat aku aku konfirmasi akan kepulanganku, suara lembutmu semakin memikatku untuk cepat-cepat bertemu.

Setibanya di kampung banyak waktu yang kita habiskan bersama, sebagai bukti lihat saja foto di atas. Masih teringat olehku kala itu aku menjemput dirimu untuk menemui orangtuaku. Sikapmu yang malu-malu waktu itu, berhasil memikat kedua orangtuaku, untuk mengambilmu sebagai menantu (Lampu hijau untukku menikahimu). Begitupun dengan ayundaku semuanya menyambut dirimu dengan baik.

Namun, semua harapan dan janji-janji yang dulu kita sepakati kini hilang dan sirna. Diam-diam kau mendua, sebagai bukti banyak foto yang kutemui di akun Facebookmu. Sampai akhirnya aku pun mulai undur diri dari kehidupamu. Kucoba menjalin hubungan dengan wanita-wanita yang sebetulnya sedikitpun tidak aku Cintai.

Waktu kian berlalu, Sementara dirimu dengan kesungguhan hati, telah menemukan sosok yang bisa menggantikan diriku. Berselang beberapa tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2016, Aku mendapat kabar rencana pernikahanmu.

Hancur, luluh, senang dan gembira saat itu tak bisa aku bedakan. Dalam hati aku berbicara, semoga bahagia selalu dan menjadi keluarga sakinah mawadah wa rahmah. Walau pada dasarnya diriku sedikit tak percaya. Namun, apakah daya sebagai seorang muslim saya harus percaya bahwa, semuanya itu sudah diatur oleh yang Maha Pencipta (ALLAH SWT).

Tepat pada awal bulan Maret 2017 kemarin, akhirnya ketidak percayaanku kala itu mendapatkan jawaban yang nyata. Dimana pada bulan itu, adalah hari bahagiamu (Hari Pernikahanmu).

Dengan lapang dada, senang dan gembira aku titipkan salam dan maafku, lewat temanmu. Karena, aku tak bisa hadir dihari bahagiamu. Sekali lagi kuhaturkan maaf dan salam, serta akan kukirimkan do’a untukmu dan keluargamu, semoga bahagia selalu. (Red)

Samawa…

Semoga apa yang disemogakan tersemogakan.

Cerpen Karangan: Sadikin
Facebook: Jeme Selepah

Cerpen Semoga Kau Bahagia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Failed Anniversary One Year

Oleh:
Sebuah cerita bermula pada tanggal 17 November 2015, tepat pada malam itu jam 20.45 WITA di depan perpustakaan kampus dia mengungkapkan perasaanya. Hati terasa begitu senang ketika dia hendak

Di Balik Putih Abu Abu

Oleh:
Pagi itu adalah pagi yang menegangkan. Hari dimana pengumuman penerimaan siswa-siswi baru di salah satu SMA di sekolahku. Aku pergi ke sekolah tersebut bersama teman akrabku dengan mengendarai sepeda

Aku dan Dia (Part 1)

Oleh:
Rasanya masih terasa hangat sapaan-sapaan manis dari bibirmu kemarin, rayuan yang mampu membuat diri ini meleleh seketika saat kau bilang “i love u” untuk pertama kalinya padaku. Disaat itu,

Malam pun Menangis

Oleh:
Aku menyayanginya, entah? apa yang ada di pikiranku sehingga aku terlalu tergila-gila dengannya, atau aku yang terlalu bodoh untuk mencintainya? Kurasa tidak. Karena aku, sangat menyayanginya. Tak pernah kulepas

A Little Story About Love

Oleh:
Cinta pertama. Cinta pertama adalah secuil kisah yang pernah terjadi di hidupku. Ada senang, sedih, kecewa—semua bercampur menjadi satu. Hal yang paling kuingat adalah kisah manisku dengan dirinya, satu-satunya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *