Senja di Pelupuk Mata

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati, Cerpen Perpisahan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 1 January 2022

Dedaunan kering tersapu angin, tersimpah ke tanah. Menghadirkan aroma khas kala hujan yang masih menerpa dan tak kunjung henti. Rayna hanya bisa mengeratkan jaket yang dikenakannya, berlari menerjang rintikan hujan. Dan benar saja, rapat sudah dimulai, dirinya terlambat tiga puluh menit lamanya. Setelah menginjakkan kaki diruang OSIS, ia baru saja ingat proposal yang sudah dibuat sampai begadang kemarin tertinggal di meja kamarnya. Padahal ia harus menyerahkannya hari ini kepada ketua OSIS, Vano Anggara, cowok terpopuler di SMA Buwana Jakarta yang kabarnya pernah menolak puluhan perasaan seseorang.

“Eh lo anak yang baru datang, sini! proposal lo mana?”
“Maaf kak, ketinggalan,” jawab Rayna gugup.
“Oh, karena lo datang terlambat dan nggak bawa proposalnya, mulai hari ini lo jadi pacar gue!”
“Hah, apa-apaan sih kak!” bentak Rayna kesal.
Didepan semua anggota OSIS lainnya, dengan santainya Vano melontarkan kalimat itu dari mulutnya.

Seketika suasana ruang OSIS yang tadinya serius, kini menjadi gaduh. Sorakan datang dari segala penjuru, bahkan banyak juga yang ikut terbawa suasana. Namun, ada juga yang tidak. Ya… mungkin karena perasaan mereka yang pernah ditolak oleh Vano. Rayna yang dari tadi berdiri didepan pintu langsung pergi meninggalkan ruang OSIS. Ia sangat marah, jengkel dan juga bingung. Berjalan tanpa haluan, hingga tak terarah. Akhirnya Rayna memilih untuk pulang dan tidak mengikuti rapat.

Langit sore ini memang indah. Terhampar anggun tanpa awan yang menggantung. Memejamkan kedua mata, merasakan belaian angin senja. Sudah cukup lama Rayna duduk di depan gerbang sekolahnya. Terlihat handphone yang digenggamnya menunjukkan pukul empat lebih lima menit. Ayah yang seharusnya sudah menjemput Rayna dari satu jam lalu tak kunjung datang. Ia mendapat telepon dari bunda bahwa ayahnya ternyata masih lembur di kantor dan mungkin akan pergi ke luar kota secara mendadak. Akhirnya Rayna memutuskan untuk pergi menuju halte di dekat sekolahnya. Namun nihil, tak ada satu pun bus yang berhenti.

“Rayna, naik!” suruh Arya di dalam mobil.
“Nggak,” jawab Rayna cuek.
“Yakin nih, lo nggak mau naik?” ucap Vano dengan menyeringaikan bibirnya.

Rayna menatap langit yang mulai menjingga. Warna lembayung yang ada di sana menambah keindahan yang ada. Sekolah sudah ditutup, bahkan jalanan mulai dipadati oleh banyak kendaraan yang berlalu lalang. Dengan enggan, akhirnya Rayna memutuskan pulang bersama Vano. Mobil Vano melaju dengan kecepatan normal. Tidak ada sama sekali pembicaraan di dalam mobil itu, hanya terdengar suara Rayna yang menunjukkan arah menuju ke rumahnya. Vano mengabaikan ocehan Rayna, padahal tepat di depan mobilnya adalah kompleks perumahan dimana Rayna tinggal. Mobil Vano hanya melewati rumah Rayna. Rayna menyesal harus pulang bersama Vano.
“Kak, stop!” bentak Rayna
“Udah lo diem aja.”

Kali ini Rayna benar-benar marah, namun ia tak mampu untuk mengungkapkan semuanya. Ia hanya diam karena kesal. Namun, kemarahannya sedikit meredup ketika melihat pemandangan indah itu beriringan dengan mobil Vano yang perlahan mulai berhenti. Taman dengan hamparan padang rumput luas yang dipenuhi banyak bunga.

Vano mengajak Rayna duduk di tepi danau yang letaknya tidak jauh dari taman itu. Danau kecil dengan deretan batang-batang pinus yang tegak meninggi. Ada banyak bangku bambu yang dibuat mengitari pohon batang pinus. Rasanya memang seperti sudah disiapkan untuk tempat bersantai ataupun sekedar menikmati aroma hutan pinus yang berbau menyegarkan ini.
Ya… lagi dan lagi tidak ada pembicaraan diantara mereka. Karena kesal, Rayna pun sudah tidak tahan berada disini lagi, hingga akhirnya ia memulai obrolan yang memecahkan kesenyapan diantara keduanya.

“Aku mau pulang!”
“Kalau gue nggak mau gimana?”
“Kenapa sih? seneng banget gangguin orang.”
“Lo itu seharusnya bersyukur punya pacar kayak gue. Ya… meskipun nggak begitu romantis sih, seenggaknya gue ganteng dan ngerti hal yang bisa buat lo seneng,” ucap Vano dengan bangga.
“Dih, nggak usah sok kepedean ya kak! Emang sejak kapan kita pacaran?” jawab Rayna sinis.
“Kemarin.”
“Itu kan cuman sepihak kak!”
“Tapi lo nggak bisa nolak permintaan gue!”

Sampai saat ini tidak bisa disangkal jika memang pada kenyataannya Vano selalu menang debat dengan siapapun. Melihat wajah Rayna yang cemberut karena kesal, membuat Vano tidak bisa menahan tawanya. Keheningan diantaranya hanya seperti hembusan angin yang berlalu. Canda dan tawa mulai nampak dari sisi keduanya.

Senja mulai tenggelam, bulan memancarkan sinarnya. Gemerlap ribuan bintang bertebaran menghiasi langit malam. Lalu lalang kunang-kunang malam, bagaikan lampu perahu di tengah laut buta. Vano segera mengantarkan Rayna pulang ke rumahnya sebelum malam semakin larut.

Waktu yang berlalu membuat mereka berdua semakin dekat. Bahkan mereka juga saling memberikan nomor telepon. Sering berkomunikasi walau hanya sekedar membahas hal yang tidak penting.

Bel sekolah berbunyi, Rayna yang baru saja meninggalkan kelasnya mendapat pesan dari Vano. Vano meminta Rayna untuk menunggu didepan kelasnya, XII IPS 1.

Berita kedekatan antara Vano dan Rayna masih menjadi trending topic di tahun ini. Cemooh, cacian, bahkan hinaan datang dari segala penjuru, membuat Rayna risih. Terhanyut dalam sunyi, seakan-akan sudah menjadi makanan sehari-hari. Namun, bagi Rayna itu hanya sebuah angin yang berlalu dan tidak peduli adalah tindakan yang paling tepat saat ini. Rayna berlari menuju kelas XII IPS 1, karena ia takut jika tidak tepat waktu Vano akan marah.

“Rayna!” teriak Sarah di belakangnya
“Kamu harus ikut aku, kak Vano…” ucap Sarah yang terhenti.
Rayna yang tidak tahu apa-apa itu pun langsung menuruti perkataan Sarah. Wajah Sarah yang begitu cemas, membuat Rayna khawatir. Seakan ada hal besar yang terjadi pada Vano. Berlari di antara lorong-lorong kelas. Semua mata tertuju padanya. Rayna benar-benar tidak mengerti.

Langkahnya terhenti. Terlihat dari celah-celah kecil di antara kerumunan siswa-siswi, Vano berkelahi dengan anak sekolah lain. Meskipun tidak nampak terlalu jelas, Rayna sangat mengenali suara Vano. Ia berlari, menembus kerumunan yang hampir mirip seperti demo masal itu.

“Kak, ayo!”
“Rayna? argh..,” rintih Vano
“Ayo kita ke UKS.”
“Nggak perlu.”
Kali ini Rayna sangat memaksa, bahkan Vano yang ahli berdebat itu tidak bisa mengelak lagi.

Dan sampailah mereka di UKS sekolah. Bukannya duduk, Vano malah kabur. Rayna yang sebelumnya khawatir menjadi kesal. Ia segera membawa beberapa obat untuk mengobati Vano dan berlari mengikutinya.
“Kak, mau kemana?”
“Udah lo masuk aja.”
Rayna tidak yakin Vano masih bisa menyetir. Ia hanya bisa menatapnya, orang paling keras kepala yang pernah ia temui. Tubuhnya penuh luka, lebam di sekujur tubuh. Bahkan hidungnya mengeluarkan cairan merah kental. Rayna memilih untuk mengalihkan pendangannya, tak tega jika harus menatap kondisi Vano yang seperti itu.

Masih disini dengan cerita dan nuansa yang sama. Saat itu lembayung senja sedang menyelimuti danau. Matahari mulai melenyapkan eksistensinya. Seakan mengerti ini adalah waktu untuk membiarkan bulan bersama dengan bumi. Langit sore seperti obat dengan perpaduan warna yang apik. Rayna menghela napas pelan, kemudian mengulas senyum.

“Kenapa berantem? Ingat kakak itu ketua OSIS, yang harus menjaga nama baik sekolah!” ucap Rayna, sambil mengoleskan obat merah di wajah Vano.
“Duh, lo sebenernya bisa ngobatin nggak sih!”
“Dasar!” kata Rayna dalam hatinya.
“Lo itu nyebelin. Soal omongan lo tadi maksudnya apa? Mau ngejek gue gitu?”
“Nggak tuh.”
“Udah deh, lo nggak usah bawel. Ibu gue aja nggak sebawel lo,” ejek Vano sambil tertawa.
Canda di antara mereka menghadirkan tawa. Menggariskan senyum indah di wajah keduanya. Tidak tahu sampai kapan ini akan bertahan. Seperti senja, Rayna merasa ini akan segera berakhir.

“By the way minggu depan gue ujian sekolah dan minggu setelahnya wisuda. Gue nggak tau setelah lulus nanti masih bisa ngerasain momen ini lagi atau nggak.”
“Fighting! aku yakin kak Vano bisa. Kehidupan memang seperti ini, ada senja ada perpisahan.”

Senja merindukan bulan. Waktu bergulir begitu cepat. Hari sudah berganti minggu, minggu sudah berganti bulan, bahkan bulan sudah berganti tahun. Selama itulah Rayna tidak bertemu dengan Vano. Vano yang hampir setiap hari mengabarinya, sekarang menghilang. Rayna tidak berani lagi untuk menghubunginya. Bukan karena takut, bukan karena marah, tapi karena rasa gengsinya. Hari ini adalah hari pengumuman kelulusan SMA. Rayna berharap bisa bertemu dengan Vano.

“Selamat kepada Vano Anggara dan Jelita Estefani, sebagai peraih nilai tertinggi!” sambut pak Hardian, selaku kepala sekolah.

Sesaat Rayna terdiam, menatap kerumunan siswa-siswi yang sedang berbahagia merayakan hari kelulusannya. Mencari seseorang. Dan dia melihatnya. Pandangan Rayna tertuju pada Vano yang sedang menaiki panggung itu. Rayna berlari, namun disaat tepat berada di depan panggung, Vano melangkah pergi. Rayna menghela nafas.

Bel sekolah berbunyi. Rayna yang seharusnya sudah pulang dari satu jam lalu, masih menunggu di depan gerbang sekolah. Ia berharap bisa bertemu dengan Vano, tapi hasilnya nihil. Mencoba mengingat sesuatu. Terlalu banyak yang dipikirkan. Tentang senja, tentang gerimis, dan tentang dia. Sebuah tempat terlintas di benak Rayna. Danau di dekat taman itu.

Berlari sekencang-kencangnya. Berfikir bahwa masih ada sebuah harapan yang akan terbit dengan indah. Menelusuri setiap jengkal danau. Tapi tidak juga menemukannya. Rasanya ingin menyerah. Handphone Rayna berbunyi, ia melihat nama yang tertera di sana. Ya… nama yang diharapkan Rayna selama ini, Vano. Ia langsung membuka satu pesan dari Vano.

“Hai Ray! Gue minta maaf karena tiba-tiba menghindar dari lo. Takdir menyatukan kita dalam keadaan yang sangat rumit. Gue emang egois. Gue memilih buat lanjut kuliah di Jepang. Senja selalu seperti ini. Perlahan datang, lalu menghilang. Tergantikan keremangan malam, menyisakan kehampaan. Memberi beribu makna walau hanya hadir sesaat. Gue harap lo baik-baik saja di sana!”

Tanpa terasa setetes air mata jatuh membasahi pipi Rayna. Merasakan kehilangan yang sangat dalam. Memang benar, senja ibarat rindu. Selalu ingin bertemu meski harus menunggu. Senja dan rindu itu sama. Sama halnya dengan dia. Dia hanyalah angin yang sekedar singgah lalu pergi.

“Hai Vano, aku juga mencintaimu. Aku harap dengan senja kamu bisa mengetahuinya,” ucap Rayna sambil menyeka air matanya beberapa kali.

Cerpen Karangan: Hanida Hafsya Tsabita
Blog / Facebook: Hanida Tsabita

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 1 Januari 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Senja di Pelupuk Mata merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Siapa Sangka

Oleh:
Telah menjadi rahasia umum di kalangan perempuan sekelas bahwa Shiella diam-diam menyukai Wildan. Memang patut kuacungi jempol atas ketegaran hati dan kepandaiannya menyembunyikan perasaan selama dua tahun terakhir. Rapat

Kesempurnaan Milis

Oleh:
Bukankah kita tahu bahwa kesempurnaan hanya milik sang pencipta. Setidaknya itu yang ada di pikiran orang lain, selain sumbu. Sumbu yang ceroboh telah jatuh cinta pada milis yang sempurna.

Aku Bukan Diriku Lagi (Part 1)

Oleh:
Seorang gadis dengan angkuhnya berjalan di tengah koridor sekolah yang bertaraf internasional. Semua mata menatap ke arahnya. Ada yang memujinya karena kecantikan wajahnya dan tatapannya yang sangat tajam. Dan

Friend or Love? (Part 1)

Oleh:
“Hufft lega..” ucapku sembari duduk di bawah pohon beringin besar ini. Nyaman rasanya berteduh di sini. Rindang, sejuk, dan cukup untuk bersembunyi dari kejaran massa, ehh kejaran temen maksudnya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *