Senja Untuk Fajar

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 7 December 2017

Fajar akankah Senja terus begini? Akankah Senja hanya memantulkan sinarnya yang indah tanpa Fajar datang untuk menyatukannya? Sinar itu mungkin akan terlihat lebih indah.

Syair demi syair telah kuhembuskan dalam setiap denyut nadi selama aku masih bernafas. Telah kutautkan kata agar jadi puisi romansa yang mengesankan.

Kini aku jadi kikuk setiap melangkah. Tak tau mata angin siapa yang menghembuskan. Hingga tersentuh kabar angin, bahwa aku sedang menyimpan rasa.

“Semuanya sudah paham? Sudah? Satu yang Bapak pesankan buat kalian, matematika itu bukan hapalan yang mampu kalian pecahkan hanya dengan membacanya. Berhubung jam sudah habis, dan lonceng pun sudah berbunyi. Kita cukupkan sampai disini saja. Dan jangan lupa juga ya! Kerjakan PR-nya di rumah!”
“Ya Pak Toto!!!” Jawabku dan teman-teman hampir serentak. Guruku yang satu ini memang super gokil. Candaannya yang agak nggak masuk akal, sering kali membuat kami habis pikir, disela-sela rehat saat pelajaran Matematika berlangsung. Cuma hiburan katanya.
“Biar gak tegang kalo belajar Matematika dan lebih santai”
Apalagi usianya masih terbilang muda, Beliau tak susah payah untuk mengambil hati para siswa, karena mungkin, terasa lebih solid.

“Bila?!” Seseorang memanggilku ketika sedang mengemas buku, “Ya!” Jawabku, setelah kulihat siapa dia.
“Buatin aku puisi dong!” Pintanya seraya berjalan kearahku. “Nggak ah!, Aku sibuk!” Balasku selagi mengambil buku, tempat aku mengarang tentang sesuatu.
“Kamu mah pelit!, O iya! sibuk ngapain sih? Sibuk mikirin itu ya? Yang itu? Atau Fajar dalam karangan kamu? Bil, aku doain Senja ama Fajar sinarnya bisa cepat bersatu ya!” Jawabnya sambil terkekeh.
“Frieska?! Apaan sih!! Jangan-jangan kamu yang jadi ‘mata angin’ itu ya?” Balasku agak berteriak. Karena dia sudah agak jauh. Mungkin gak kedengaran makannya gak ada jawaban.

Satu dua lantai sudah aku lewati hingga akhirnya aku sudah berada di koridor sekolah. Menengok ke kanan dan ke kiri. Bingung saat istirahat begini aku ke mana. Kutekadkan niatku utuk pergi ke tempat, dimana aku sering melukiskan seseorang lewat tulisan. Ya mungkin dia ‘AKTOR’ dalam kabar angin itu.

Tempatnya tak jauh dari kelasku, hanya berjarak sekitar 6 meter. Di sini juga aku sering melihatnya saat dia sedang berguarau dengan siswa lain.
Kadang aku berpikir ‘kenapa aku tak semudah itu?’
Tenatng aku dia tau. Tapi tak pernah ada gerakan membalas. Satu yang kusimpulkan itu berarti dia tak menginginkanku.

Ping!!
Kesibukanku sedikit terganggu, saat sedang asyik menulis tentang dia. Bukan seperti mata-mata. Tapi, melalui sosial media yang sedang ngetrend.

Laila O2n
“Bil, keluar yuk!! Hari gini kenapa di rumah sih? Jangan mikirin tentang Fajar mulu, tentang Becek aja sekali-kali kenapa sih? Abis Fajar itu siapa sih? Sekolahnya di mana? Ganteng gak?
“Nggak ah! Kamu aja aku lagi males. Hahaha apaan sih! Laila, laila.”

Jariku mengotak-atik tombol, membalas pesannya Laila. Sedikit tertawa kecil setelah membacanya. Temanku yang satu ini agak sedikit kurang-kurang. Tak tau kenapa? ‘Laila Amek’ begitulah nama salah satu akun sosmednya. Memang terkenal sedikit lola, tapi seru. Otomatis bisa jadi penghibur saat aku lagi galau. Galau-in dia, yang mungkin tak tau sebabnya. Kayak cinta sendirian.

Saat ini sesi penerimaan rapor. Semua guru telah berkumpul. Mejanya pun sudah tersusun rapi, beserta rapor para murid di depan wali kelas masing-masing. Tak lupa juga di sudut sana juga terlihat buku yang ditumpuk. Tingginya sekitar 30 cm lebih, itu buku untuk sang juara-juara.

Bapak ketua kurikulum bergegas berdiri ke depan mic, dengan membawa rekap juara. Saat salam disuguhkan, aku dan siswa-siswa yang lain membalasnya dengan penuh semangat. Itu tandanya penerimaan juara dalam beberapa menit lagi akan dimulai.

Sembari mendengar kata pembukaan beliau. Aku sibuk mencari di mana dia. setelah beberapa menit, akhirnya aku menemukan Fajar itu. Yang sedang asyik berbincang duduk di atas kursi. Masih dengan gaya saat aku menamainya Fajar.
Aku sedikit tersenyum. “Mungkinkah nanti namanya akan muncul” Gumamku dalam hati. Secara dia juga pintar, seringkali meraih juara.

Tanpa aku menyadarinya Bapak kurikulum ternyata sudah sampai pada pengucapan juara. Menit demi menit, satu dua kelas sudah dibacakan siapa juaranya. Hingga saat nama mereka terpanggil semua bertepuk riuh. Tanda bahagia bahwa tiga siswa terpilih wajahnya dikenalkan. agar jadi motivasi bagi siswa-siswa lain.

“Sekarang kita ke kelas XI IPA 1, juara satu diraih oleh anak kami…” Bapak tersebut kembali bersemangat. Bersuara lantang memecahkan seluruh penjuru sekolah. Kulihat siswa-siswa kelas XI IPA 1 wajahnya sudah tegang. Jantungnya berdebar-debar. Pandanganku juga tak luput dari dia yang juga berwajah sama. Kembali kudengarkan suara lantang Bapak kurikulum. “Syam Faitir Rahman” Lanjut beliau setelah memutuskan pembicaraannya beberapa menit. Wajahnya tampak bahagia, dengan cepat dia berdiri. Berjalan dengan hati-hati ke tempat para juara didirikan. Itulah Syam, iya atau tidak dialah Fajar yang selalu dinantikan Senja.

Hari ini hari pertama masuk sekolah setelah 1 minggu hari libur. Waktu yang 7 hari itu, cukup untuk para siswa merefreshingkan otaknya, agar tak selalu dibebankan dengan tugas sekolah.
Aku yang tak bersemangat langsung memasuki kelas. Dalam kesendirianku aku bertanya ‘apakah berita itu benar? Syam? Fajar itu sedang menyatukan sinarnya?’

Terdengar adzan maghrib berkumandang tanda bahwa sang pencipta ingin hambanya melaksanakan perintah. Walaupun hanya sekejap. Setelah sholat kulanjutkan membaca Al-Qur’an. Aku sering membaca surat Yasin.

Itu caraku agar terbebas dari beban dunia. Agar otakku tak lagi terasa berat. Perlahan satu ayat demi satu ayat. Hingga tanpa sadar, aku sudah sampai di penghujungnya.
“Sadaqawlahhul’azim” Lantunan suaraku memecahkan keheningan. Sesaat aku berdiri untuk membuka mukena. Lalu berjalan ke meja belajarku, kuletakkan Al-Qur’an di atasnya.

Kembali kupikirkan berita itu. Disaat aku sudah membaringkan tubuh di atas kasur.
“Benarkah berita itu nyata? Jika memang benar? Kenapa Fajar itu tak mau menyatukan sinarnya? Mungkinkah dia tau akan sinarku? Atau sinarku menjelma sebagai benalu? Pengganggu?” Pikirku dalam hati. Tak tau kenapa aku seperti luka ada sesuatu yang menggores hati.

“Hey teman-teman, katanya Syam jadian sama cewek kelas XII IPA 2. Namanya Ranti. Yang nembak katanya si cewek. Tapi belum diterima sama si Syam. Padahal katanya Syam juga suka. Tapi kok bisa gitu ya?”

Selangkah lagi kakiku akan menyentuh lantai pertama kelas. Tak jadi setelah aku mendengar berita itu kembali. Sakit memang! Kepada siapa aku menumpahkannya, kepada Syam?

Sejenak aku terdiam. Lalu bergegas pergi ketempat favoritku. Tempat dimana aku sering melihatnya dari kejauhan. “Mungkinkah sinarku menjelma sebagai benalu? pengganggu?”

Riuh bunyi burung menyadarkanku sekitar 15 menit tadi, ternyata aku termenung. Melamunkan hal itu lagi. “Tak pernah kurencanakan dalam hidupku, aku hidup sebagai pengganggu!”

“Bila?!” Aku menoleh ke arah suara, dengan sedikit terkejut lalu aku membalasnya “Ya, ada apa Syam?” Kataku dengan memberinya ruang untuk duduk.

Dia tampak tak enak hati. Mungkin kalimat yang akan dia katakan bisa membuat aku luka. Dengan ragu dia mulai berbicara. “Bil, bisakah sinarmu itu pergi? Aku menyukainya Bil. Aku lelah dengan semua ini, juga dengan kabar angin itu. Seolah kita ada sesuatu”

Aku diam. Bukan karena aku tak ingin membalasnya. Hanya saja aku tak tau kata apa yang bisa memulainya.

“Bil, aku ingin kamu tau sinarmu dan sinarku tak mungkin bersatu. Bisakah kamu memaklumi itu. Aku…”

Tanpa mendengarnya lagi aku langsung berdiri. Meninggalkannya sendirian. Berlari sejauh mungkin, tapi aku tak bisa. Tanganku bisa digapainya. Kulepaskan tanganku dari genggamannya. Hingga rintik hujan pun mulai jatuh.

“Bil, aku tau ini tak mudah! Aku juga tau bagaimana rasanya jadi kamu!” Lanjut Syam sambil ingin menggapai tanganku kembali. Tapi aku menepisnya.
“Tak bisakah sinarku tetap di sana! Aku takkan mengganggu Syam! Aku masih tau batas-batas ke mana sinarku akan kupantulkan! Aku masih tau!” Tegasku sedikit berteriak. Wajahnya pun agak memerah.
“Ya aku juga tau! Tapi tak pernahkah kamu pikir! Perlahan semua ini berubah! Alur drama yang kuinginkan tak seperti ini! Tak pernahkah kamu pikirkan itu!” Balasnya dengan melihat kearahku.

Rintik hujan mulai membasahi bumi, awan yang semulanya cerah kini berubah jadi awan hitam. Angin sepoi sepoi itu pun telah berlalu.
Aku diam. Mungkin samar hingga bening itu tak tampak olehnya (terimakasih hujan, kau menyembunyikan kesedihanku)

“Kenapa semuanya begini! Tidakkah kamu lihat! Dia datang tapi aku tak menghiraukannya! Tak sadarkah kamu! Semua ini perlahan berubah. Hidupmu, perasaanmu dan sinarmu itu! Hanya menjelma sebagai pengganggu!”
“Itu lebih sakit Syam, tak bisakah kamu melontarkannya lebih halus”
Rasanya hatiku berjuta kali lebih sakit. Dugaanku benar. Bahwa aku benalu. Tak banyak yang bisa aku lakukan, hanya diam mematung.

“Bila?!” Katanya lagi ingin jawaban dariku.
Aku membalasnya perlahan. Juga dengan bening yang sedari tadi bercucuran.
“Maaf, maafin aku Syam” Jawabku. Setelah mendengar perkataanku dia pergi. Hanya punggungnya yang bisa kulihat dari kejauhan. Meninggalkanku sendirian di sini.

Kapankah semua ini berakhir? Tak bisakah aku merasakan sepercik kebahagiaan? Apakah nasibku akan sama seperti alam? Hujan yang datang akan digantikan oleh pelangi?

Entahlah. Munkin kebahagiaan itu akan kurasakan saat bangku sekolah telah usai.

Cerpen Karangan: Melta Fitri
Facebook: imelta gnema tanjung queen

Cerpen Senja Untuk Fajar merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cukup Kau Rasakan Saja

Oleh:
“Ini pacar lo? Cantik. Pinter lo milihnya!” decak kagum itu kian mengental. Membuat gadis yang diperkenalkan merasa risih sendiri karena mendapat respon seperti itu. “Ata, aku malu.” Bisiknya pelan.

Berkah Jadi Santri

Oleh:
Nama gue Sofi, gue siswa di salah satu Mts swasta di Kediri. Gue siswa yang lumayan bandel tapi juga lumayan pinter. Eitzh… bukan bermaksud sombong. Gue hidup serba kecukupan

Reuni Pedih

Oleh:
Aku mengerti banyak hal darimu, tentang arti cinta, kasih sayang, ketulusan, kepedihan, rasa sakit, serta kehidupan. Karenamu aku temukan jalanku, jalan hidup yang termotivasi olehmu, jalan yang membawaku padanya.

Girl And The Theory

Oleh:
Gadis itu terlihat sangat terburu-buru semenjak memasukki gerbang Starhigh. Ia terus saja berjalan dengan langkah panjangnya dan wajah yang menunduk, hingga -BUKK- Ia menabrak sesuatu yang membuatnya terjatuh ke

Ajari Aku Teori Cinta (Part 2)

Oleh:
Aku adalah sosok yang dikenal dengan imej baik tanpa skandal apapun walaupun satrio selalu menggangguku tapi biasanya aku hanya diam tak peduli. Tapi entah kenapa rasanya sudah tak tahan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *