Sepotong Cokelat Untuk Derby

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 9 April 2016

“Aku ingin berjalan bersamamu. Dalam hujan dan malam gelap. Tapi aku tak bisa melihat matamu, Payung Teduh – Resah.”

Pagi yang dingin. Tak biasanya sepagi ini aku sudah mendengarkan lagu dengan headset. Lagu yang terus aku putar berulang kali, tetapi aku tak kunjung bosan.
“Maya, ayo makan. Ada sup tahu tuh di dapur.”

Sup tahu memang makanan favoritku, tetapi aku tak nafsu makan kali ini. Aku baru mematikan lagu di handphone dan beranjak dari tempat tidur saat ku lihat jam. Jam 8 pagi. Aku berjalan perlahan tak bertenaga ke dapur dan menatap lekat-lekat sup tahu yang masih mengepulkan asap. Sungguh aku masih tak bisa melupakan kejadian semalam. Aku menggelengkan kepala, mencoba mengusir jauh-jauh ingatan itu lalu menyendok sedikit demi sedikit sup tahu ke dalam mangkuk. Aku menjatuhkan diri ke sofa usang yang kata Ibu umurnya lebih tua dariku. Tanpa basa-basi aku mengangkat kaki kanan ke atas sofa, persis seperti preman di warteg. Pandanganku jatuh ke sup tahu di dalam mangkuk pink yang ku pegang sekarang. Ayolah, mengapa aku tak bisa mengusir kejadian malam kemarin? Pikiranku buntu, aku memejamkan mata sekejap. Lalu menghela napas panjang sepanjang yang aku bisa.

Kemarin, malam minggu. Ya, malam minggu. Seumur hidup aku tak pernah membenci malam minggu walaupun katanya malam minggu itu menyeramkan untuk orang-orang yang masih single. Tapi bagiku malam minggu seperti malam-malam biasa. Tak ada bedanya sama sekali. Toh, sama-sama gelap. Seperti biasa, Sabtu sore aku selalu latihan Taekwondo di sekolah dan sampai terakhir kali aku latihan minggu lalu tidak ada yang aneh. Berangkat naik angkot, latihan, pulang dijemput Ayah. Simple. Tetapi, hari ini sungguh akan sangat-sangat berbeda. Aku jamin.

Senyumku sedikit mengembang saat tahu Ayah akan pergi ke Belgia selama dua minggu. Tak bisa ku bayangkan berapa banyak cokelat yang akan Ayah bawa. Sayangnya, selama beberapa kali latihan kedepan tidak ada yang menjemputku. Apalagi aku pulang selepas maghrib dan angkot yang mengarah ke rumahku sudah tidak ada kalau malam hari. Pikiranku melayang, senyumku melebar. Ada rencana yang tiba-tiba datang entah dari mana. Aku teringat dengan seseorang yang aku kagumi sejak dulu, tetapi aku tak pernah mau berbagi perasaan ini walaupun ke sahabatku sendiri. Karena aku yakin saat itu aku cerita, detik berikutnya aku akan mati. Mengapa? Orang yang aku suka adalah.. Pelatihku sendiri.

Aku tahu ini gila, aku tahu. Tetapi perasaan ini datang dengan sendirinya. Jarak umur kami juga cukup jauh, bisa jadi 6 tahun, atau 10 tahun mungkin. Derby, dialah yang membuatku hampir gila seminggu ini karena latihan diliburkan dan aku belum bertemu lagi dengan dia. Otakku terus mencari cara agar aku bisa memberi dia cokelat, alasannya sih oleh-oleh dari Ayah. Benda pink ini tiba-tiba memberi ide gila. Rumahku dengan Derby satu kompleks, hanya berbeda beberapa blok. Setiap selesai latihan dia selalu bertanya padaku, “dijemput gak?” dengan senyum manisnya yang dibalut angin malam. Begitu menyejukkan. Hari ini dan latihan berikutnya, aku akan pulang dengan Derby. Setelah Ayahku pulang nanti akan ku beri dia cokelat dengan alasan oleh-oleh dari Ayah.

Aku menuruni jembatan penyeberangan jalan dengan begitu girangnya hingga membuat tangganya berdentum-dentum karena terbuat dari besi. “Selow May, semangat amat.” Dita yang tertinggal beberapa anak tangga di belakangku menggerutu karena suara dentuman anak tangga yang begitu berisik.
“Ya maaf, Dit.” Tanpa sibuk menoleh aku malah semakin cepat menuruni anak tangga hingga sampai di seberang jalan. “Ayo, Dit, cepetan!”
Aku bersama Dita dan Amel sedang menyusuri gang menuju tempat latihan, kali ini tidak latihan di sekolah karena kelas dua belas sedang ujian. Kami bertiga persis seperti tiga bebek yang sedang bergosip, begitu berisik. Bicara apa saja yang terlintas di pikiran. Tertawa sekeras toa masjid. Begitu menyenangkan.

“Eh, Sabeom!” Amel tiba-tiba memanggil seseorang. Sabeom (baca: sabem) itu sebutan untuk pelatih.
“Kenapa tiba-tiba ada sabeom Derby?” Dita tiba-tiba nyeletuk. Tunggu. Derby? Aku otomatis membalik badan dan mendapati Derby sedang duduk di tukang jus sambil memainkan handphone. Derby mengangkat kepala. Sejurus pandangan kami bertemu. Aku tersenyum kaku sekaligus salah tingkah.
“Sabeom, Amel nitip satu ya!”
“Dita juga!” Sedangkan aku? Aku tidak berbicara sepatah-kata pun, hanya bisa nyengir kaku dan tertawa garing.
Kami sampai di tempat latihan, di gerbang ada pelatih kami, Keenan, sedang nongkrong di warung menyapa kami yang baru datang.
“Langsung masuk aja!”

Kami bertiga masuk ke tempat latihan, banyak anak sekolah lain. Aku yang baru pertama kali latihan di sini merasa kikuk. Anak-anak lain tidak terlihat di mana pun. Saat kami memutuskan untuk kembali dan bertanya pada Keenan. Derby melangkah masuk. Membuat aku lemas seketika. Dita dan Amel memburu Derby yang membawa dua jus, entah satunya untuk siapa. Aku melirik keresek yang dibawa Derby, jus alpukat dan satunya lagi aku tak tahu, tapi aku sangat yakin itu jus jeruk.

“Hayo tebak ini jus apa.” Derby mengangkat tinggi-tinggi keresek putih yang dipegangnya.
“Yang hijau pasti alpukat!” seru Dita, “yang kuning, hmm, mangga!”
“Bukan.” Jawab Derby singkat.
“Jeruk!” akhirnya aku membuka mulut, lega rasanya. Tapi aku masih berdebar. Derby membalikkan badan, melihat ke araku yang sedari tadi membuntutinya.
“Jeruk apa coba?” Aku terbungkam. Rasanya ada kupu-kupu di perutku. “Gak tahu.” Lalu aku nyengir kuda karena salah tingkah. “Sabeom tahu aja aku suka jus alpukat.” Lanjutku sambil melirik jus alpukatnya. Derby membalik badan dan melemparkan senyum simpul yang tentu saja membuatkan mau tidak mau balik melemparkan nyengir kuda andalanku.

Aku menyimpan tas di pinggiran lalu merangkap jersey yang sedari tadi aku pakai dengan baju dobok -baju Taekwondo- lengkap dengan sabuk kuning polos. Sebelum dimulai aku masih sempat melihat Derby dengan gagahnya melilitkan sabuk hitam di pinggangnya. Mempesona. Latihan dimulai. Anehnya latihan kali ini tidak melelahkan, mungkin efek bertemu Derby. Dua minggu lagi aku akan mengikuti ujian kenaikan tingkat, jadi hari ini hanya berlatih jurus saja. Aku sedikit kecewa saat anak-anak sabuk kuning dipisahkan dengan yang sabuknya lebih tinggi. Derby melatih yang sabuknya lebih tinggi sedangkan sabuk kuning dilatih oleh Keenan. Latihan ditutup oleh tes jurus. Aku termasuk yang lumayan dalam menampilkan jurus. Tetapi kali ini aku dibuat berdebar hebat karena Derby yang memimpin dan mengoreksi tes kali ini.

Akhirnya tes selesai. Aku melepas sabuk dan melepas baju dobok, membiarkan jersey bernomor punggung tujuhku menghirup udara segar. Senang rasanya akan pulang, lebih tepatnya pulang bersama Derby. Aku melirik Derby dari jauh, melihat dia yang tengah tersenyum membuat aku tersenyum juga. Aku tak bisa membayangkan akan seperti apa pulang bersama Derby nanti. Sedetik kemudian aku memberanikan diri menghampiri Derby, tetapi ditemani oleh Amel. Awalnya Amel yang membuat basa-basi cukup panjang sampai akhirnya aku meyakinkan diri untuk berbicara pada Derby.

“S-Sabeom–” Sial, aku tercekat. Aku bisa melihat Derby menatapku dan langsung membalas, “Ya?”
Aku masih berusaha berkata-kata, tetapi sulit. “Sabeom pulang ke Marga Cinta gak?” Akhirnya aku bisa mengatakan apa yang sangat ingin aku sampaikan ke Derby, mengajaknya pulang bersama walaupun sebenarnya hanya numpang.
“Tergantung situasi dan kondisi.” Hah? Maksudnya? Aku tidak bisa mencerna semuanya, seharusnya dia bilang ‘Ya, kamu dijemput gak? Kenapa? Mau nebeng?’ lalu aku akan menjawab, ‘Aku gak ada yang jemput, nebeng ya?’ lalu pulang bersama di bawah rintik hujan yang deras. Jauh berbeda dengan ekspektasiku selama ini.

“Aku gak ada yang jemput, beom, nebeng lah, please.” Aku berusaha memasang wajah semelas mungkin agar dia mengatakan ‘ya’.
“Lihat nanti, ya.” Lalu Derby menghilang di bilik kamar mandi. Ayolah, Derby. Maksudmu, ‘Ya’ atau ‘Tidak’?
Aku bersama teman yang lain masih menunggu hujan reda. Hujan begitu deras malam ini. Ditambah aku yang galau gara-gara Derby. Sepanjang hujan belum reda aku terus menerus membuat kode bahwa aku tidak dijemput, tetapi sepertinya Derby tidak melihat aku yang sedang dilanda galau. Keenan tiba-tiba menghampiri aku dan teman-teman, ikut ngobrol.

“Sabeom, Maya gak ada yang jemput.” Teman-teman memang penyelamat.
“Rumah kamu di mana?” Keenan menatapku kasihan, tetapi aku tahu rumah Keenan berlawanan arah dengan rumahku, hanya Derby yang searah. “Marga Cinta, Beom.” Aku sudah menebak kalimat yang akan dikatakan oleh Keenan.
“Sama Derby, tuh. Dia juga di Marga Cinta. Der! Ke sini!” Derby menghampiri Keenan dengan jurus tendangannya, yang membuat anak-anak lain menghindar sambil tertawa.

“Apa, Nan?”
“Itu Maya gak ada yang jemput, anterin, Der.” Derby hanya menatapku. Aku tahu ini bukan jawaban ‘Ya’.
“Naik angkot aja bareng sama yang lain.” Betul, kan. Dia tak akan pernah bilang ‘Ya’.
“Tapi angkot ke Marga Cinta udah gak ada kalau malam. Kasihan Maya, Beom,” Bela temanku, aku hanya mengiyakan, berdoa supaya Derby akhirnya mengalah dan mengantarkanku pulang. Derby terdiam sebentar, ku harap dia akan bilang ‘Ya’.
“Naik ojek aja, masih ada, kan?” Iya ada, tetapi aku ingin pulang bersamamu, Der, sekali ini saja. Derby malah pergi. Ngobrol dengan yang lain.

Hujan akhirnya reda. Semua orang bersiap pulang. Kecuali aku. “Aku gak ada yang jemput, nebeng lah.” Ini akan menjadi kalimat terakhir, sungguh, aku bosan mengatakan kalian itu terus menerus selama hampir satu jam.
“Ya sudah, ayo pulang, Sabeom antar sampai rumah.” Bukannya Derby yang mengantarku pulang, malah Rizky, dia pelatih juga. Tetapi aku hanya mau pulang dengan Derby. Aku masih menggerutu dalam hati sampai Rizky memanggilku dari kejauhan. “Maya.” Aku meliriknya, “let”s go!” sungguh aku ingin Derby yang seperti ini, bukannya Rizky.

Akhirnya aku membuntuti Rizky menuju lapang parkir. Aku memperlambat langkah, berusaha dengan cepat memesan ojek online dan akhirnya berhasil. Saat aku tiba di lapang parkir, ojeknya sudah terpesan. “Sabeom, aku dijemput.” Rizky akhirnya hanya menemaniku sebelum ojek datang. Aku hanya diam seribu bahasa. Mengutuk Derby yang seakan tidak ingin mengantarku. Aku sadar, aku yang egois. Sebenarnya aku hanya ingin memberikan cokelat pada Derby dengan alasan tanda terima kasih dari Ayah berupa oleh-oleh cokelat Belgia. Ojek pun datang, aku merelakan tumpangan gratis Rizky, karena aku hanya ingin Derby.

“Sabeom, aku duluan ya.”
Rizky tersenyum simpul. “Ya, hati-hati.”

Aku berjalan dengan penuh rasa kecewa, hujan masih mengguyur pada saat itu. Semakin deras. Menenggelamkanku dalam rasa kecewa lantaran harapan yang terlalu tinggi. Aku hanya memiliki dua atau tiga kesempatan lagi untuk bisa pulang bersama Derby. Tetapi aku sadar, harapan itu hanya punya sedikit sekali kemungkinan akan terwujud.
Sebuah pertanyaan masih berputar-putar di benakku. “Apakah di antara kesempatan kedua atau ketiga akan ada hasil? Atau mungkin nihil seperti sekarang?” Jawaban sementara: tunggu kesempatan kedua itu datang dan aku akan tahu.

Cerpen Karangan: Marsa Shabrina
Facebook: Facebook: Marsa Shabrina Ruhiyat
Marsa Shabrina, panggil saja Mase, Mojang Bandung Tomboi yang lahir 16 tahun yang lalu, berstatus jomblo karatan, baru sekitar 8 bulan yang lalu masuk SMAN 13 Bandung, 2 tahun lagi lulus dan jadi mahasiswa ITB, aamiin.

Cerpen Sepotong Cokelat Untuk Derby merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Atas Namaku

Oleh:
Atas namaku angin pun selesai bertiup, dalam sajak dan sepi hidup menggeraikan sayap-sayapnya. Aku adalah seorang cewek yang berhijab, berwajah cantik, dan bertubuh ideal. Cita-citaku adalah menjadi seorang designer

Asal Kalian Bahagia

Oleh:
DRRTT.. DRRTT… Suara hand phoneku bergetar beberapa kali. Pertanda ada satu pesan singkat yang masuk. Dari nomor tak dikenal, siapa yah? Padahal, dari awal aku punya handphone, aku tak

Akhirnya, Cinta Tak Terbalas

Oleh:
Hari Rabu, di sekolah… Semua anak anak kelas XII sibuk mempersiapkan camping yang akan dilaksanakan 2 minggu lagi, yaaa mungkin karena ini terakhir untuk seluruh kelas XII merasakan kebersamaan

Penantian Tak Berujung

Oleh:
Pagi yang cukup indah, dengan langkah sumringah Ara masuk ke dalam kelasnya. Ara adalah seorang gadis cantik dengan tinggi 165 cm, kulit putih mulus dia juga memiliki segudang prestasi

Tanpa Sebab Aku Mencintaimu

Oleh:
Malam mulai menjelang, sang surya yang siang tadi benderang terganti oleh redupnya sang rembulan, di teras rumah di kursi reot hasil bikinanku tiga tahun yang lalu aku duduk termenung,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *