Sipit

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 7 September 2015

Santi masih stay di depan meja komputernya, mengetik beberapa buah kata pada jendela chat-nya kemudian Enter, setelah menunggu beberapa lama balasan itu pun muncul.
“Oke sama-sama, salam kenal aja”

Terpancar jelas raut kebahagiaan di wajah Santi. Santi kembali menulis beberapa buah kata lagi dan kembali Enter, setengah jam menunggu tapi pesan Santi tak kunjung diread yang dimaksud, hingga tak tertera lagi nama itu di obrolan Santi, dengan sedikit kecewa Santi pun meng-Offkan Facebooknya dan berjalan ke luar kamar. Entah mengapa hati ini terasa begitu ingin mengenalmu batin Santi seraya menerawang senja sore itu.

Seminggu lamanya Santi tidak hadir di dunia maya, karena kesibukan berorganisasinya, dalam-dalam kesibukan itu terkadang ia teringat pada sosok yang hampir hadir di sepanjang hari nya. Dia begitu menarik buatku. Santi tersenyum sendiri.

Senja ini, Santi kembali pada posisi semula duduk tegak di depan layar laptopnya. Membaca bejibun pemberitahuan di facebooknya, dan sebuah senyum kini menghiasi bibirnya.
“Sukses dulu, baru gak jomblo” commentnya pada salah satu status Facebook Santi
“Iya kak, makasih” entah mengapa jadi tulisan itu yang Santi comment kembali.

Santi melihat obrolan facebooknya untuk memastikan bahwa yang dimaksud sedang On, tapi lagi-lagi kecewa sepertinya yang dimaksud tak terlihat di daftar obrolan. Sebuah status kembali dipost olehnya.
“Kamu begitu menarik, di usia senja kamu telah berhasil meraih kesuksesan itu, bahkan telah sukses meraih hatiku” memang terdengar lucu itulah Santi.

“Namanya Sandi” cerita Santi berapi-api pada temannya Mila.
“Kenal di mana?” tanya Mila kemudian.
“Di Facebook La, orangnya gak cakep-cakep kalilah cuma di usia semuda dia, dia udah bisa sukses, itu yang super banget” Cerita Santi lagi.
“Ahh, kenal di Facebook aja, jangan ngkhayal terlalu tinggi deh San, dia tuh beda daratan sama kita, kamu juga belum kenal dia terlalu dekat kan, siapa tahu dia bukan orang yang baik” nasihat Mila.
“Jangan gitu dong La, tega bener lo” ujar Santi meringis
“Iya, iya cuma jangan terlalu berharap deh, aku cuma gak mau kamu sakit hati entar” nasihat Mila lagi.
“Iya deh Mila sayang” Santi mencubit pipi Mila.

“Ini semua berkat doa restu orangtua dan Tuhan juga dek, Kakak ni apalah dek” balasnya.
“Kakak itu hebatlah kak, di usia sedini Kakak, Kakak udah ngebahagiaiin orangtua Kakak, gak banyak anak muda yang berpikiran seperti Kakak, apa lagi cowok” balas Santi pula.
“Yang hebat itu sang Maha Kuasa dek, Kakak cuma gak mau sampai ada penyesalan ketika orangtua Kakak meninggal nanti Kakak belum sempat membahagiakannya” balasnya terlihat dewasa.
“Pengenlah kayak Kakak” Balas Santi singkat.
“Ayolah gabung di bisnis Kakak” balas nya juga.
“Tunggu Kakak ke tempat Adik ya” balas Santi semakin agressif.
“Iyalah, nanti pasti Kakak ke sana kok, sabar ya” balasnya masih dalam jendela chat.

Sandy. Oh begitu indah nama itu, bahkan lebih indah jika tertera dalam obrolan Santi. Sekarang aktivitas Santi di dunia maya hanya memiliki 1 alasan. Chat dengan Sandy. Hampir setiap hari tidak pernah terlewatkan tanpa Chat-an dengan Sandy. Sandy.

“Sipit” Lagi Santi memulai percakapan.
“Kok Sipit?” tanya Sandy keheranan.
“Emang iya kan?” Santi merasa senang sendiri.
“Hahaha, masak sih dek?” tanyanya semakin membuat Santi Geer.
“Iya kak, emang Kakak gak pernah ngaca ya?” balas Santi lagi.
“Terserah Adik ajalah” Sandy pun mengalah.
“Sipit, Sipit” Santi mengejeknya.
“Ehh, dia nih ya, jangan panggil sipit dong” balasnya manja.
“Biarin”
“Minta nomor HP Adiklah, soalnya Kakak mau Off nih” hampir tak percaya Santi membaca kalimat ini segera dia menulis nomor HP-nya dan lalu Enter.
“Adik tunggu SMS-nya ya Pit ”

Terasa lengkap kebahagiaan Santi saat ini, bagaimana tidak pria idamannya kini selalu hadir di setiap pagi, siang, dan malam. Walau sekedar hanya untuk mengucapkan ‘selamat pagi’, ‘jangan lupa makan’, ‘tidur yang nyenyak’ itu terasa udah lebih dari cukup buatnya. Hingga pada suatu malam terasa sempurna sekali bagi Santi akhirnya kata-kata itu terlontar dari bibir Sandy lewat sebuah sms,

“Sayang Adik” berkali-kali Santi membaca pesan itu tapi memang benar tulisan itu tak lagi berubah masih sama.
“Yang bener kak?” tanya Santi dek-dekan walau hanya lewat sebuah SMS.
“Iya Adik” jawabnya mententeramkan Santi.
“Makasih kak, Adik juga. Adik tuh ngerasa udah dekat kali tahu sama Kakak, rasanya kalau tak sms Kakak sehari, rasanya ada yang kurang” balas Santi kepadanya.
“Kakak juga dek. Sayang Kakak sama Adik” balasnya membuat Santi semakin melayang.

“Sayang sebagai apa coba?” tanya Santi semakin berani.
“Menurut Adik?” Sandy balik nanya.
“Mana Adik tahu itu kan Kakak” jawab Santi tak mengerti.
“Adik sayang Kakak tak?” tanyanya pula.
“Sayanglah, Adik tuh sayang kali sama Kakak sipit” jawab Santi malu-malu.
“Iyalah Adik bawel, tidur sana” jawabnya terdengar manja.
“Iya Kakak sipit tidur juga, sayang Kakak sipit”

Hari-hari pun berlalu dengan sangat singkat. Hubungan Santi dan Sandy pun semakin erat. Semakin hari rasa sayang Santi ke Sandy terlihat semakin besar hampir setiap hari statusnya selalu berisi tentang Sipit, Sipit, Sipit, dan Sipit. Memang perasaan Santi buat pria yang dikenalnya lewat facebook itu telah begitu agung. Sejam saja tak mendapat balasan sms dari Sandy, Santi merasa begitu kecewa, dia terlalu takut Sipitnya itu hanya datang untuk sesaat.

Seperti para pria lain sebelumnya. Santi pun tak mengerti mengapa perasaannya pada pria yang belum dilihatnya secara langsung itu begitu kuat, rasa takut kehilangan selalu menghantui saat-saat di mana Santi belum menemukan balasan dari Sandy. Tapi memang harus Santi akui Sandy memang baik dia selalu peduli sama Santi di saat Santi sakit, meskipun ia tak di samping Santi tapi Santi merasakan bahwa Sandy selalu ada buatnya.

“Sipit ke mana sih? sering bikin orang kangen ya dia nih” suara Santi terdengar manja di telinga Sandy.
“Ya, ada yang kangen nih” ujar Sandy meledek.
“Eh, emang sipit gak kangen ya sama Adik?” tanyanya mengambek.
“Kangen sayang, lagi di mana nih?” tanyanya pula.
“Hari ini Adik ikut seleksi pertukaran pemuda pit” suara Santi terdengar berapi-api.
“Oh ya? semangat ya Adikku sayang” ujarnya menyemangati Santi.
“Pasti dong, demi Sipit sayang” ujar Santi kembali manja.

“Ya dong Adik. Kakak harus juara ya? Kakak sayang Adik Kakak nih” ujarnya kembali dengan kata manjanya.
“Kakak sayang Adik?” tanya Santi terdengar serius.
“Iya dong, emang Adik gak sayang Kakak?” tanyanya pula.
“Tapi sebagai apa?” tanya Santi sedikit serius.
“Emang Adik sebagai apa?” Sandy malah balik nanya.
“Kakak tuh udah anggap Adik seperti Adik Kakak sendiri” ujarnya santai.
“Apa?” tanya Santi tak percaya.
“Emang Adik nganggap Kakak apa?” tanyanya seperti tak bersalah.
“Selama ini, sebagai Adik kak?” mendung mengambang-ambang di pelupuk mata Santi.
“Maafin Kakak dek, Kakak gak bermaksud nyakitin perasaan Adik” ujarnya lembut.
“Tapi Kakak udah melakukannya” terdengar isakan kecil.
“Dek…”

Santi segera mengakhiri pembicaraan mereka di telpon, alangkah hancurnya perasaan Santi saat itu. Sipitnya mengatakan sesuatu yang sama-sekali tak pernah terpikirkan oleh Santi. Sipit, ternyata kamu sama saja dengan laki-laki lain datang hanya untuk menyakiti. Sipit kenapa kau harus datang jika sekarang kau harus pergi? Sipit, kenapa kau membuat hatiku semekar mungkin tapi kau sendiri yang mematahkannya? Sipit, aku begitu menyayangimu. Sukar buatku menerima semua kenyataan ini, Sipit.

Cerpen Karangan: Harmelia Susanti
Facebook: Zhi Zhi Amellia

Cerpen Sipit merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mengapa Harus Ayahku?

Oleh:
Siang itu panas begitu menyengat, matahari seakan ingin membakar seisi dunia. Tak terkecuali di pangean, kampung tempat dimana aku tinggal dan dilahirkan. Dimas, begitu orang-orang memanggilku. Lengkapnya Dimas Randika.

Aku Kembali

Oleh:
“Fandi, kamu kenapa sih selalu bersikap dingin sama aku? emang ada yang salah dari aku?” tanyaku pada Fandi. Fandi adalah sosok lelaki yang sangat ku kagumi dan ku cintai

Just Friendship

Oleh:
Antara Cinta dan Persahabatan. Mungkin itulah permasalahan yang saat ini lagi ada di fikiranku. Aku cinta dia, tapi dia adalah sahabatku. Aaaa… Aku galau tingkat dewa. Namaku Andien. Aku

Aa Deya

Oleh:
“Bingung!” Itu kata yang keluar darimu, saat ku tanyakan ada apa denganmu. Karena ekspresimu malam itu, menunjukkan raut “tak senang” akan keterlambatan janjiku padamu. Aaahh, aku kan sudah minta

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *