Tak Kusangka

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 16 January 2018

“Nengsih, kamu ikut Hendro!” Kata mandor Arman pada gadis itu. Aku terkejut. Antara senang dan grogi. Bagaimana tidak grogi, dari awal aku melihat dia tadi detak jantungku mendadak berdegup kencang. Gadis itu hanya mengangguk. Sepintas kulihat pipinya memerah.
Lingkaran pagi buruh perkebunan kelapa sawit selesai dan ditutup doa oleh seorang mandor.

Aku, Hendro, 19 tahun, seorang buruh panen di sebuah perkebunan kelapa sawit yang ada di Kalimantan Tengah. Orangtuaku bekerja sebagai buruh harian lepas di perusahaan yang sama denganku. Karena kesulitan ekonomi, aku sekolah hanya sampai SMP. Setamat SMP, aku mulai bekerja. Awalnya hanya membantu orangtuaku karena usiaku belum mencukupi. Setelah usiaku 18 tahun, aku sudah bisa bekerja sendiri sebagai pemanen kelapa sawit. Dan sudah menjadi peraturan tempatku bekerja, setiap pemanen ada pendampingnya untuk mengambil butiran biji kelapa sawit yang rontok. Bila sudah beristri, maka istrinya sebagai pendampingnya, namun karena aku masih lajang pendamping aku diambil dari tenaga harian. Tiga hari yang lalu pendampingku keluar. Dan pagi ini masuk seorang buruh baru, Nengsih!

“Jalur 19 dimasukin belum?” Tanyaku pada Nengsih yang sedang menumpah biji-biji kelapa sawit pada alas karung.
“Belum…!” Jawabnya sambil membenarkan posisi alas karungnya yang miring.

“Eh, nanti malam ada pasar malam dekat balai desa. Nonton yuk!” Kataku sambil menatapnya sekilas.
“Aku belum boleh keluar malam oleh mama…!” Jawabnya dengan wajah seperti agak sedih.
“Oh, aku kira udah boleh. Iya deh. Gak apa-apa…!” Kataku sedikit kecewa.

Aku kemudian mendorong artco masuk ke jalur 19 mengeluarkan sisa buah kelapa sawit yang belum selesai aku keluarkan.

“Sudah target kamu, Dro?” Tanya Kang Yono pemanen tetangga ancakku.
“Kurang lima belas lagi, Kang!” Jawabku.

“Di ancakku buahnya udah kurang. Eh, kamu lihat Widya gak?” Tanyanya lagi. Widya adalah anak mandor Rusli yang bekerja di tim pupuk. Sepertinya Kang Yono jatuh cinta pada gadis itu.
“Kayaknya tadi pagi gak kerja, Kang!”
“Oh, pantas tadi pagi gak ada!”

Aku terus mendorong artco melewati lebatnya pohon kelapa sawit. Sepintas kulihat Kang Yono kembali mendodos buah kelapa sawit. Kang Yono adalah duda yang baru tiga bulan bercerai dengan istrinya.

Malam cerah diterangi bulan purnama. Aku nongkrong di dekat penjual kacang rebus sambil asyik mengunyah kacang rebus. Hingar bingar pasar malam terasa sepi bagiku. Tadinya aku berharap Nengsih mau ikut denganku ke pasar malam ini. Namun harapanku tidak terwujud karena Nengsih belum boleh keluar malam oleh mamanya. Jujur, aku jatuh cinta pada Nengsih. Namun entah mengapa aku tidak punya keberanian untuk mengutarakan isi hatiku.

Jam di HP ku menunjukan pukul 22:00. Hm, waktunya pulang ni. Kan besok bekerja. Aku kemudian bergegas ke tempat parkir mendekati sepeda motorku. Ketika melintas jalan, di pojok parkiran kulihat Kang Yono sedang asyik mengobrol dengan seorang gadis. Wajahnya tidak terlihat karena membelakangiku. Tapi aku yakin itu Widya. Mungkin Kang Yono sudah berhasil mengajak Widya pacaran.

Aku mendekati mereka.
“Pulang yuk, Kang! Dah malam ni!” Ajakku pada Kang Yono.
“Kamu duluan aja, Dro!” Kata Kang Yono.
“Aku duluan ya, Wid!” Kataku pada gadis yang masih membelakangiku. Dia menoleh. JEGER!! Bagai ada suara petir, aku terkejut setengah mati. Gadis yang kusangka Widya ternyata Nengsih!

Cerpen Karangan: Nur S
Facebook: Nur S

Cerpen Tak Kusangka merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Seperingatan Kemarin

Oleh:
Hari-hariku mulai terasa melelahkan bersekolah di sekolahku, entahlah itu karena apa?. Di usia mudaku saat sekolah di tingkat SMA mungkin bagi orang-orang adalah hal yang terindah dan tidak bisa

Tiga Sahabat Berakhir Dua

Oleh:
Pagi ini kota indah Jogjakarta diselimuti awan dingin. Selimut tebal masih menempel di tubuh, agar si dingin tak menyambangiku. Tapi tetap saja, aku tak bisa mengalahkan dingin hanya dengan

Empat Tahun Yang Hilang

Oleh:
Namaku Yasmin Aminah. Biasa dipanggil Ami. Waktu itu aku duduk di bangku XI SMK. Tepatnya anak MM (Multimedia) karena aku hobi menulis dan fotografi. Tak jarang aku sering bercerita,

Masa Masa Indah di Kampus

Oleh:
Namaku mariel al fahd, panggilan ku riel. kadang ri. aku kuliah di akademi bahasa indonesia jurusan sastra indonesia. semester 2. jam di dinding kelasku menunjukkan pukul 2.30 siang. berarti

Cinta Dalam Hati

Oleh:
Dengan diam aku puas menatapnya, dengan diam aku bahagia menikmati senyumnya walau itu bukan untuk ku, dia sosok lelaki yang beberapa minggu ini mampu mencuri fikiran, hati, perhatian dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *