Tak Mungkin Bersatu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 31 May 2016

Sudah lewat dari jam dua belas malam. Masih saja mata ini tak mau terlelap. Entahlah, apa karena senang, bahagia, khawatir, gelisah. Semua seakan menyatu. Ya. Besok adalah hari pernikahanku dengan Rio. “Lebih baik aku menghubungi Rio,” ku ambil Handphone di meja sebelah tempat tidurku. Namun Rio tak menjawab. Mungkin ia sudah bermimpi. Lagi pula ia sangat lelah setelah berhari-hari mempersiapkan pernikahan kita. Aku melihat ke arah jendela. Malam ini begitu terang tanpa awan. Hanya ada bintang-bintang dipandu sang rembulan. Tak terasa air mataku menitik. Semakin lama semakin deras. Teringat sepuluh tahun silam saat usiaku masih belia. Delapan belas tahun. Saat aku masih SMA. Teringat wajahnya samar-samar. Seseorang yang pernah mengisi hati beliaku silam.

“Kamu lihat bintang itu, deh!”
“Kenapa? Biasa, kok.”
“Cantik ya? Enggak tertutup awan. Seperti gadis bernama Pia yang ada di sampingku sekarang…”

Pipiku merah tersipu malu. Setiap malam minggu Tora mengajakku ke taman kota. Hanya sekedar menikmati indahnya malam penuh bintang. Hanya itu saja. Namun itu adalah hal yang benar-benar indah. Hari yang indah itu kian lama kian menghilang saat pertama kali Tora bertemu ibuku. Wajahnya sedikit muram seperti orang yang kesal.

“Kamu ada apa? Ibuku tadi memarahimu?”
“Tidak.” Tora menjawab dengan singkat tanpa memandangku.
“Aku kenal kamu dua tahun ini. Saat kita pertama masuk SMA sampai sekarang ini kita pacaran…”
“Ayah kamu? Aku tadi tidak bertemu dengannya.”
“Oh, Ayahku sudah meninggal. Saat umurku 10 tahun. Aku ingat betul. Sampai saat ini aku menyimpan fotonya…” ku tunjukkan foto ayah padanya. Aku pikir, ia mungkin ingin mengenal keluargaku lebih jauh. Mendadak wajahnya kian memerah marah.

“Tora? Ada apa, sih? Ayo cerita…”
“Sebentar lagi, kan, kita akan ujian nasional. Lebih baik kita masing-masing fokus pada ujian ini.”

Baiklah. Kita sepakat untuk membatasi komunikasi. Aku percaya bahwa ia bersikap seperti itu karena memang ingin fokus untuk memiliki prestasi yang baik. Baik untuk diriku dan dirinya. Satu bulan berlalu. Ujian berlalu. Saatnya menunggu kelulusan yang tinggal beberapa hari lagi. Aku mencoba menghubungi Tora. Sayangnya tak pernah ada balasan. Entah telepon maupun sms. Sampai hari kelulusan tiba dan saat itulah kesempatanku menemui Tora.

“Tora? Apa kabar? Siap tidak mendengar kelulusan kita?”
“Baik.” Ia mengalihkan pandangan pada sekelilingnya, tidak memandangku.
Senyumku menghilang. “Tora? Kita masih pacaran, kan?” Tanyaku hati-hati.
“Aku rasa kita enggak bisa lagi.”
“Loh? Kenapa? Terus selama ini kamu susah dihubungi karena ingin putus denganku? Kenapa enggak dari dulu? Kenapa kamu jahat begini?!” Air mataku terjatuh pelan. Tora tetap saja tak memandangku. “Seharusnya aku bahagia di hari ini. Tapi kamu merusaknya. Jahat banget!”

Aku pergi dari hadapannya. Namun Tora mengejarku. “Pia?! Maafkan aku. Aku masih sayang padamu tapi…”
“Tapi apa? Kalau kamu sudah bosan denganku ya sudah! Jangan menggangguku!”
“Aku sebenarnya enggak mau berpisah denganmu. Aku tak bisa membohongi hatiku. Aku mencintaimu. Sungguh. Tapi ini harus ku lakukan.”

Tora berjalan mendekat dan berhenti di depanku. “Kita tak bisa bersama. Kita tak akan mungkin menikah kelak. Kita tak akan bisa.”
“Kenapa?! Seharusnya kamu jelasin dari awal, dong! Jangan di hari yang seharusnya bahagia ini!”
“Hhh..” Tora menghela napas panjang. “Kita bersaudara.” Ia berhenti sejenak. “A.. Ayahmu adalah Ayahku yang dulu pernah ku ceritakan padamu. Ayah yang jahat, yang pernah selingkuh dengan wanita lain… Dan, Ibumu adalah orang yang pernah merenggut kebahagiaanku dan kebahagiaan Ibuku. Maafkan aku…” Tora menunduk lemas.

Terlebih diriku semakin lemas diam tanpa kata. Benar-benar tanpa kata. Padahal kita sudah merancang masa depan yang baik dan indah. Padahal kita sudah begitu nyaman, akrab satu sama lain. Kita tak bisa berpisah. Tapi tak bisa juga untuk bersatu. Dialah cintaku dan juga kakakku.

Cerpen Karangan: Wanda Chacha Constantindeo
Blog: wandaconstan.blogspot.co.id

Cerpen Tak Mungkin Bersatu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ketika Senja Datang

Oleh:
Kasih. Telah kuterima pesan walimah darimu. Telah ku baca dengan kerapuhan jiwa tiada daya. Telah ku ucapkan “aku turut bahagia” meski tersimpan dusta lara. Kasih.. Telah kau ajarkan mencinta

Maaf Untuk Rena

Oleh:
“horeee.. kita lulus, gengs…”. teriak anna, anisa, rere dan Rena. Mereka berteriak histeris saat amplop kelulusan sudah di buka. Mereka berempat merupakan satu geng. geng itu mereka namai GENG

Tidak Harus Memilki

Oleh:
“wooy…” suara Cintya megagetkanku. “apaan sih, ganggu aja” jawab ku dengan cuek. “gue bawa berita baru, loe pasti kaget dengernya” kata Cintya. “kabar apaan?” balasku. “Mikha sama Dinda jadian

Cinta Tak Sampai

Oleh:
“Woy! Lagi ngapain lo?” aku terkejut dengan kedatangan Sari di belakang dengan mengagetkanku. Aku sontak langsung teriak, karena hal itu sudah terbiasa jika ada suara yang sedikit keras aku

4 Tahun Lamanya

Oleh:
Dengan tenangnya Gilang menatap indahnya wajah Sovi, indah senyum tipisnya dan indah tatapan matanya. Di saat itu sedang ada pengajian pemuda-pemudi di sebuah mesjid. Saking asyiknya Gilang menatap wajah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *