Tak Seindah Yang Nampak

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 18 July 2017

Di dalam sebuah foto yang bergantung di dinding, aku melihat wajah Doni. Tampan dan misterius. Di dalam foto berbingkai cokelat itu, aku tak melihat ada senyum di wajah Doni. Ekspresi wajah datar dengan sepasang mata yang menatap tajam menjadi pemandangan dalam foto itu.

Dari semua foto yang menampilkan wajah Doni, entah mengapa foto itulah yang paling aku sukai. Dalam foto itu Doni mengenakan kemeja putih lengan panjang yang dipadu dengan celana bahan berwarna hitam. Lengan bajunya ia gulung nyaris sampai ke siku. Kedua tangannya yang dimasukkan ke dalam saku celana semakin menambah pesona maskulin yang dimilikinya.

Aku menemukan foto itu di gudang. Saat kutemukan keadaanya sungguh memprihatinkan. Lusuh, kotor, hingga tidak menampakkan objek dari foto itu lantaran debu yang amat tebal. Debunya bahkan membuatku terbatuk-batuk hingga sulit bernapas. Tapi aku lalu mengambil foto itu dan membersihkannya. Dengan sehelai kain dan cairan pembersih kaca aku mulai membersihkan foto itu.

Tidak lama kemudian, tampaklah sosok dalam foto itu. Sosok yang telah lama menghilang. Seorang yang begitu kurindukan hingga membuat kejernihan berpikirku mulai tertutup kabut. Karena dia, hingga detik ini aku belum melepas masa lajangku. Karena dia, banyak pria yang patah hati akibat penolakan dariku. Karena aku selalu yakin bahwa ia akan kembali padaku dan menjelaskan alasan kepergiannya lima tahun yang lalu.

Aku selalu marah pada diriku sendiri. Marah karena aku tidak tahu kesalahan apa yang kulakukan hingga ia pergi tanpa pamit dariku. Kepergiannya yang tiba-tiba sempat membuatku lupa pada banyak hal. Lupa pada dunia sekitar, pada keluarga, bahkan lupa betapa berharganya diriku. Karena kepergiannya aku mulai hilang kepekaan. Aku tidak pernah peka terhadap pria yang menunjukkan kasih sayangnya padaku. Tidak pernah melirik mereka bahkan tidak pernah peduli akan keberadaan mereka. Semua karena aku masih mencintai Doni.

Lima tahun berlalu sejak Doni meninggalkanku dalam tanda tanya. Tapi aku belum bisa melupakan bagaimana aku mencintainya. Aku bahkan masih ingat dengan aroma tubuhnya yang maskulin. Senyumnya yang menawan masih begitu lekat dalam ingatanku hingga nyaris membuatku gila. Bagaimana aku bisa melupakannya sementara bayangan akan dirinya terus saja menghantuiku setiap malam. Tak jarang aku harus terjaga sepanjang malam hanya untuk mengenang dia. Mengenang semua hal yang berkaitan tentang dia, mulai dari bagaimana aku tergila-gila padanya, hingga hubungan kami yang mulai retak.

Aku mengenal Doni saat awal menjajaki dunia kampus. Ketika itu aku yang masih berstatus mahasiswi baru kebingungan mencari ruang kuliah. Satu per satu ruang kuliah kutelusuri namun aku tak menemukan teman-temanku. Tiba-tiba mataku tertuju pada sosok tinggi yang bersandar di tembok. Dari penampilannya aku bisa menduga kalau dia adalah senior. Dengan langkah pelan dan perasaan sedikit ragu, aku mendekatinya.

“Permisi, Kak. Ruang kuliah 102 di mana yah?” Tanyaku dengan suara pelan.
Ia tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapku dari kaki sampai kepala lalu bertanya, “Anak baru ya?”
“Iya, Kak.” Kataku.
“Tuh.” Katanya sambil menunjuk ruang yang ada di hadapannya.
Aku melihat isi ruangan. Kosong. Aku sempat berpikir bahwa ia bercanda tapi ternyata ia benar karena di atas kusen pintu tertulis jelas ‘Ruang 102’. Aku kembali menatapnya. Tapi dia hanya diam lalu menarik tanganku.
“Kita mau ke mana, Kak?” Tanyaku panik.
“Ikut saja!” Katanya.
Aku hanya diam sambil mengikuti langkahnya. Cengkramannya sangat kuat hingga membuat pergelangan tanganku terasa sakit apalagi aku harus mengikuti langkahnya yang panjang. Seluruh orang yang ada di koridor menatap kami. Mungkin mereka berpikir kalau aku adalah anak baru yang akan segera dihukum oleh senior yang kejam.

Dia melepas tanganku ketika tiba di sebuah ruang besar berdinding kaca. Di dalamnya ada banyak buku yang dipajang di rak-rak tinggi menjulang hingga nyaris menyentuh langit-langit. Di pintu depan ruang itu tertulis ‘Perpustakaan Pusat’. Aku tidak tahu mengapa ia membawaku ke tempat itu. Selama ini aku tidak pernah suka dengan perpustakaan karena bagiku tempat itu sangat membosankan.

Dia menarik satu kursi untukku lalu mulai berbicara mengenai hal-hal yang tidak kupahami. Gender. Diskriminasi. Aku sama sekali terheran-heran dengannya. Menurutku dia sangat aneh. Membicarakan hal-hal semacam itu dengan orang yang baru dikenal bukanlah hal yang biasa. Seharusnya ia menanyakan namaku, asal sekolahku atau dari kota mana aku berasal. Tapi ia justru menanyakan bagaimana pandanganku tentang orang-orang yang suka mendiskriminasi. Tentu saja aku hanya menjawab kalau itu bukan sesuatu yang baik.

Mungkin ia tersadar kalau kami sama sekali belum memperkenalkan diri sejak awal pertemuan. Ia lalu mengulurkan tangannya padaku. Keraguan sempat menyelimutiku namun aku tetap menyambut uluran tangannya.
“Doni.” Katanya singkat.
“Vania.” Kataku.

Untuk beberapa saat lamanya kami terdiam. Akhirnya aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Mata tajam, hidung mancung, dan kulit yang kecoklatan. Aku baru menyadari betapa indahnya pemandangan di depanku. Aku tidak tahu bagaimana ekspresi wajahku saat melihat wajahnya itu. Aku hanya bisa melihat ada kesan yang aneh di wajahnya. Kesan dingin meskipun ia tersenyum.

Sejak saat itu aku selalu memikirkan tentang Doni. Malam-malamku yang tadinya singkat kian hari kian berubah menjadi panjang karena bayangan akan sosok Doni yang aneh selalu merasuk pikiranku. Iya, dia memang aneh tapi justru itulah daya tariknya. Aku selalu tertantang untuk menerobos masuk ke celah hatinya. Mencari tahu apa yang ada dalam pikirannya. Hal itu pulalah yang mendorongku untuk tak ragu menyatakan cinta padanya.

Orang bilang suatu hal yang tabu jika wanita menyatakan cinta terlebih dahulu. Tapi aku tak pernah peduli kata mereka. Dengan mengumpulkan segala keberanian aku pun segera menemui Doni yang baru saja keluar dari kelas usai mengikuti perkuliahan.
Aku lalu mengajak Doni ke taman. Tak ada siapa pun kecuali kami berdua. Lalu tanpa ragu aku langsung menyatakan perasaanku padanya. Jantungku seperti ingin melompat keluar. Perasaan gugup dan cemas mulai menyergapku. Kurasakan setetes keringat mengalir di wajahku. Bagaimana kalau ia menolakku?, batinku.

Lama terdiam akhirnya ia buka suara. Dan betapa bahagianya aku saat ia bilang “iya”. Aku sontak memeluknya dan tidak kuhiraukan lagi bagaimana ekspresi wajahnya kala itu. Tapi aku sempat menangkap ada ekspresi aneh di wajahnya. Ekspresi yang sulit kupahami. Sudahlah, toh dia memang aneh.

Meski aku sudah memiliki Doni, tapi aku belum bisa menemukan celah untuk masuk ke hatinya. Doni terlalu dingin untuk disebut sebagai kekasih. Aku merasa ada tembok pemisah antara kami berdua. Kami tidak pernah menyatukan hati. Saat itu juga aku sadar bahwa Doni tidak mencintaiku. Betapa bodohnya diriku yang baru bisa merasakan hal itu setelah menjalin kisah selama hampir empat tahun.
Tapi aku tidak peduli. Semua kebodohan itu kulebur bersama impianku untuk tetap bersama Doni. Aku masih terus melangkah di sisinya. Menerobos kerumunan manusia yang menatap kami dengan pandangan yang berbeda-beda. Ada yang senang, ada pula yang tidak senang. Tak jarang aku mendengar suara bisikan teman-teman yang berkomentar terntang kami.

“Wah, kalian berdua sungguh pasangan yang manis.” Kata Yola dengan wajah yang dibuat terlihat imut.
“Kau ini aneh. Kenapa kau ingin pacaran dengan dia? Apa kau tidak tahu dia laki-laki seperti apa?”. Kata Indah. Aku tidak mengeri maksud dari perkataannya.
“Vania, kau hati-hati ya! Doni itu macan. Palyboy kelas kakap.” Kata Yogi sambil tertawa terbahak-bahak yang membuatku tidak senang.
“Tampan sih, tapi…” Kata Wanda cekikikan sambil menutup mulut dengan tangannya.
Begitulah lontaran kalimat yang selalu kudengar dari teman-teman. Aku tidak mengerti mengapa mereka membenci Doni.

Aku tahu selama ini Doni memang tidak punya teman. Dia hanya berteman dengan kesendirian. Sering kudapati ia duduk sendiri dan kulihat mata teman-teman lain yang menunjukkan ketidaksukaan. Ia seperti orang yang dikucilkan.
Pernah sekali aku menanyakan alasan mengapa ia tidak memiliki teman. Alasan mengapa teman-teman di kampus selalu berbicara hal buruk tentang dia. Tapi ia justru marah dan melempar buku yang sedang ia baca. Aku tak pernah melihat dia semarah itu. Wajahnya mengeras. Jika saja aku bukan wanita mungkin ia sudah memukulku.
“Jangan pernah tanyakan itu lagi! Kau mengerti?” Bentaknya padaku.
Saat itu aku sangat takut. Sisi lain dari Doni akhirnya terkuak di hadapanku. Sesaat aku merasa ngeri. Dengan tangan dan kaki bergetar aku segera beranjak dari sampingnya. Tapi langkahku terhenti saat kurasakan tangannya menarikku dalam pelukannya. Pelukan pertama darinya. Selama ini akulah yang selalu memeluknya.
“Maaf. Aku tidak bermaksud menyatkitimu. Aku hanya kesal.” Katanya lirih.
Aku hanya mengangguk dan menangis dalam pelukannya yang hangat. Pelukan yang selalu kutunggu selama bertahun-tahun. Tapi pelukan itu hanya sekedar hiburan karena setelah itu ia justru kian menjauh dariku.

Hari demi hari hubungan kami kian kelabu. Sering kudapati dia melamun seorang diri atau marah pada sesuatu yang sepele hingga suatu hari aku mendengar dia berbicara pada seseorang di telepon.
“Aku juga merindukanmu.”. Kata Doni.
Siapa yang ia rindukan? Batinku.
Suara Doni terdengar parau seperti baru menangis. Lalu ia melanjutkan lagi percakapannya.
“Tidak mungkin.” Doni membentak. “Itu akan menyakitinya. Dia sangat mencintaiku dan aku tahu itu. Bagaimana bisa aku mengatakan kalau aku… aku… aku, ah sudahlah.”
Apa ini? Kenapa dengan Doni? Batinku.
Namun aku tak pernah tahu cerita yang sebenarnya. Saat aku ingin meminta penjelasan Doni justru menghilang. Ia seolah raib bersama dengan hembusan angin. Hari itu adalah hari terakhir aku melihatnya. Percakapannya dengan seseorang di balik telepon itu adalah suara terakhirnya yang bisa kudengar.

Entah sudah berapa lama aku menatap foto Doni. Terlalu lama hingga aku lupa bahwa aku harus segera ke rumah Yola karena dia sedang merayakan ulang tahun pernikahannya yang keempat.

Di rumah Yola, aku bisa melihat ada banyak teman semasa kuliah yang datang. Setelah mengucapkan selamat pada Yola dan suaminya, aku lalu menyapa mereka satu per satu. Menjabat tangan, berpelukan atau sekedar basa basi tentang kehidupan dan karir.

Di tengah keasyikan kami berbincang, tiba-tiba seorang pria menyapaku. Suara berat yang khas. Aku menoleh ke asal suara. Lalu kurasakan kakiku mulai tak mampu menopang berat badanku saat kulihat si pemilik suara. Seketika aroma masa lalu mulai tercium. Doni. Ia telah kembali. Pesonanya bahkan tidak luntur. Masih tetap sama.

Untuk beberapa saat kami terdiam. Rasanya aku ingin marah tapi tidak bisa. Ingin kupeluk tubuh Doni tapi aku urung melakukannya. Ada banyak pertanyaan yang ingin kuajukan padanya. Tapi ketika aku ingin membuka suara tiba-tiba seorang pria dengan setelan jas berwarna putih menghampiri Doni. Pria itu agak lebih pendek dari Doni. Kulitnya putih bersih. Rambutnya klimis dan licin. Sepertinya ia sangat memperhatikan penampilannya.
Pria klimis itu lalu berdiri di dekat Doni. Seakan tahu yang sedang kupikirkan, pria itu memperkenalkan dirinya padaku. Tangannya kekar tapi halur. Kuulurkan tanganku padanya lalu kuperkenalkan diriku.

“Vania.” Kataku singkat.
“Ali” Kata pria itu. “Aku pacarnya Doni.”

Aku tertawa. Kupalingkan wajahku pada Doni dengan harapan bahwa yang dikatakan oleh Ali barusan hanyalah gurauan semata. Tapi anggukan kepala dari Doni membuat tawa dan senyumku hilang. Berganti dengan air mata yang tiba-tiba saja menjelma menjadi anak sungai kecil di wajahku. Lalu perlahan semua terasa berputar.

Cerpen Karangan: Rawi Muin
Facebook: Rawi Muin

Cerpen Tak Seindah Yang Nampak merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hujan Rintik Rintik (Gerimis) Part 1

Oleh:
Tokoh utama kita bernama Sofanji atau biasa dipanggil teman-temannya panjul. Diantara pertemanan sesama cowok, memang ada kecenderungan membuat nama keren yang sudah susah diberi oleh orangtuanya menjadi lebih aneh.

Antara Resa dan Resi

Oleh:
Siang menjelang, seperti biasa Resa dan Resi kedua saudara kembar ini mengisi waktu luang mereka bersama anak-anak di masjid tidak jauh dari rumah mereka. Namun, keadaan berubah saat dusun

Sekejap dalam Mencinta

Oleh:
Hai namaku Rain! Aku tinggal di Jakarta dan bersekolah di SMA Pelita Bangsa. Aku mempunyai saudara kembar yang bernama Rani. Dia bersekolah di SMA Harapan Bangsa. Aku juga punya

Kenangan Tentang Dinda

Oleh:
Ini adalah sebuah cerita dari masa lalu, cerita menyakitkan dari seorang yang baru patah hati. Konon, sebuah cerita cinta tak selalu berakhir indah. Akan ada yang menangis, akan ada

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *