Tak Seperti Drama Korea

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 28 October 2017

Matahari menyengat kulit semua orang bagai lebah. Juga menjilat kulit semua orang sehingga menjadi berwarna lebih gelap. Mendengar suara klakson yang begitu panjang dan melengking. Seperti salah satu satu adegan dalam drama korea, aku dan sepedaku hampir tertabrak. Ludah kutelan kasar, maut di depan mata. Terdiam tanpa kata selama beberapa detik, mengumpulkan sukma yang berlari kesana kemari karena ketakutan. Klakson lain juga ikut bersuara, membuatku sadar dengan dunia.

Aku meminggirkan motorku ke pinggir jalan. Mobil itu pun ikut terparkir di pinggir jalan yang lumayan agak luas. Seorang keluar dari mobilnya. “Adegan drama korea favoritku” ucapku dalam hati. Ah ternyata tidak, jangankan mengajakku pulang dengan mobil sport yang terlihat berkilau minta maaf pun tidak. Dia memarahiku dengan nada sedemikian rupa dibuat tinggi. “Memangnya kau ini siapa? Bukannya meminta maaf malah memarahiku. Oke aku yang salah, tapi apa otakmu tak berjalan lancar. Kau juga salah, berapa kecepatan mobil mahalmu hah? Dasar orang kaya!” Ucapku kemudian setelah dia terus menerus memarahiku. Pemuda itu terlihat marah, mengepalkan kedua tangannya dan wajah tampan yang putih pun berubah menjadi warna merah.

Bersama alunan musik dari smartphoneku, bersamaan pula suara merdu keluar dari bibirku. Nafas kuatur sedemikian rupa agar tak mengganggu suaraku yang merdu. Melodi yang indah terdengar jelas dengan headset yang terpasang di telingaku.

“Berisi” hatiku tak lagi kosong. Kejadian tadi, mengisi kekosongannya. Ujung-ujungnya wajah tampan pemuda itu berputar bagai kincir air di sungai buatan. Memisahkan lagu dan wajahnya begitu sulit, justru beriringan keduanya saling mendukung membuatku melukiskan senyuman.

Sejauh ini, aku tak pernah menyelam jauh ke dasar hati yang banyak orang kata kosong. Mendengar bisikan sesuatu yang bunyinya “kau menyukainya?”. Tadi itu hanya asap, belum ada api namun entahlah aku merasa kepanasan. Hanya bertemu tak sengaja, karena hampir kecelakaan. tapi rasa apa ini?

Jauh dari drama korea, aku fikir pemuda itu akan meminta maaf dan mananyakan kabarku atau bahkan mengajakku pulang dengan mobil mahalnya. Tapi aku bisa apa? Hidup tak selamanya seperti drama korea. Aku hanya tahu, pemuda itu tetap tampan walau memarahiku tadi. “Ahhhhh” teriakku, coba saja tadi aku tak terpancing emosi. Tapi this is me, aku tak bisa berpura-pura sabar kalau hatiku menggerutu.

Cuaca begitu terik, kesekian kalianya aku berlari-lari kecil sepanjang jalan menuju parkiran belakang sekolahku. Hanya sibuk membenarkan tumpukkan buku di tanganku yang agak berat. Melupakan tatapan orang-orang di sekelilingku yang melihatku heran. Anak SMA berlari seperti itu? Tapi emang aku sudah terbiasa melakukan itu.

Garis finis sudah di depan mata. Aku hanya tinggal menuruni tangga menuju tempat parkir belakang yang berada di bawah. Tapi tak berapa lama setelah aku berfikir demikian, seseoarang bertubrukkan denganku membuat buku-bukuku terjatuh. Berserakan bagai biji cengkeh di halaman rumahku. Tak mungkin. Dia lagi yang kedua kalinya membuatku terdiam beberapa saat karena kaget. Tapi itu benar, namun apa yang ia lakukan? Dengan wajah polosnya dia hanya menatapku. Apa tak ada keinginan untuk menyentuh bukuku dan membantuku? Dia tak marah-marah seperti sebelumnya, hanya menatapku beberapa detik yang sedang sibuk memunguti buku-buku tadi. Lalu melanjutkan langkahnya, mengacuhkanku yang terlihat membutuhkan bantuan.

Mengayuh sepeda dengan tas yang besar di belakang. Melepaskan segenap rasa malu karena pemandangan tak indah ada padaku. Bayangkan saja tas ranselku begitu besar di belakang. Tetapi aku pura-pura mengabaikan rasa malu itu. Tapi kok rasanya lebih berat mengayuh sepeda tadi. Tak lama sebuah mobil dengan klakson yang bersuara melengking berhenti di sampingku.

“BOM!” Teriak pemuda tadi yang membuka kaca mobilnya dengan menunjuk ke belakangku. Laki-laki brengsek, aku terjatuh karena kaget menyangka kalau benar ada bom di belakangku. BOM memang meledak, tapi bukan di belakangku namun dalam diriku. “Astagfirullah” ucapku pelan. Tak ada bom, pemuda tadi hanya berbohong padaku. Tidak, aku tak lagi memaki atau memarahinya. Tapi aku turun dari sepeda motorku lalu mengambil sebuah batu kecil dan melemparkannya ke mobil sport di sampingku.

Jangankan memanah, lemparan tadi meleset. Tak tepat sasaran. Momen macam apa? Ini malah membuatku malu dengan diriku. Pemuda yang menyebalkan tadi tertawa terbahak-bahak. Aku hanya menatapnya sinis, tak mengeluarkan sepatah katapun. “Ban mu bocor” ujar pemuda tadi kemudian. Sialan, pantas saja terasa lebih berat. Ini memang seperti dalam drama korea, tapi bukan yang menyenangkan. Jari-jemariku mengepal, namun aku tak akan marah-marah. Aku takut puasaku batal hanya kerana pemuda yang menyebalkan itu. Menarik nafas panjang, terpaksa aku harus turun dari sepeda sampai bengkel di depan sana.

Pergantian tahun, hari demi hari berlalu secepat hujan yang terbawa angin. Aku tak akan beralari-lari kecil lagi karena aku sudah menjadi seorang siswa kelas 12. Jika aku melakukan itu lagi, orang-orang akan menganggapku sebagai anak kelas sepuluh. Sejauh ini, cukup banyak orang yang menyangkaku kelas 10, tapi itu insyaallah tak kan lagi terjadi. Mengayuh sepeda berwarna merah muda, juga tas yang senada. mungkin itu yang membuat mereka berfikir demikian.

Semilir angin membuat kerudung yang menutupi dadaku bergerak-gerak. Mengorbankan mataku yang akan berdebu hanya untuk sekedar menempati kursi di depan. Berjalan cepat di tempat parkir yang menjadi tempat angin menari-nari.

Sampai sudah, aku telah sampai di kelas baruku yang bagus. Jemari tanganku meraih gagang pintu yang terpasang erat di pintu. Tanpa aba-aba pintu itu terbuka. Segera aku berjalan cepat menuju kursi terdepan, di depan meja guru. Bersama tasku yang berwarna merah muda aku duduk di kursi itu. Aku rindu duduk seperti ini. Tak tahan ingin mendengarkan pelajaran yang sudah dua minggu tak kukenal lagi. Suara katak mengganggu, tapi lumayan menemaniku yang hanya seorang diri. Dengan suara katak itu aku merasa ada yang menemani di pagi hari yang dingin. Satu, dua, tiga mulai ada siswa lain yang memasuki kelas. Mereka sibuk mencari tempat duduk yang sebagain besar telah ditempati.

“Astagfirullah” ucapku. Kebetulan macam apa? Aku satu kelas dengannya. Pemuda itu, pemuda menyebalkan. Pemuda yang membuatku meletakkan rasa untuk pertama kalinya. aku kembali mendapatkan pukulan yang menyebalkan. Pemuda itu tersenyum puas. Bisa-bisanya dia mengekspresikan wajah yang sedemikian rupa membuatku ingin muntah. Dia pun mungkin mendapatkan rasa kesal saat aku pura-pura tak mempedulikannya dengan cara mengangkat bibirku dan mengalihkan pandangan. Merelakan gerutuan bersuara dalam hatiku, memendamnya. Aku harus siap-siap mereda amarah setiap saat agar puasa daudku tak batal.

Seperti saat indonesia dijajah oleh jepang, aku pun begitu. Jemari tanganku sudah tak terhitung berapa kali mengepal. Sungguh aku tak pernah membalasnya, aku hanya menghiarukannya. Aku kadang takut amarahku akan memuncak. Sekejap saja, “astagfirullah” kuucapkan ketika penjajah hari-hariku mulai mengganggu. Ini tak seperti drama korea, tidak sama sekali. Adapun drama korea yang berjudul Boys Before Flowers mirip, tapi aku tak suka adegan ini. Seandainya seperti adegan drama korea yang romantis dan menyenangkan. Itu hanya andai-andai yang jauh dengan kenyataan, seperti dari sabang sampai merauke. Ribuan bintang, sama halnya dengan ribuan adegan. Namun hanya ada satu bintang, satu adegan yang mendominasi, yaitu adegan yang menyebalkan. Aku tau, dia hanya ingin diperhatikan.

Berlaku 1 bulan. Tak lagi aku diam, aku sekarang membalas apapun ulah pemuda yang bernama devan itu. Bila dia berbagi noda di kerudungku, aku pun akan melakukan hal yang sama pada pakaian atau tasnya yang mahal. Hanya saja, aku tak marah-marah lagi. Teman-temanku banyak yang berkata kalau kita cocok, ya mungkin benar. Tapi itu hanya pendapatku dan mereka, nyatanya tidak. Mana mungkin sabang dan merauke bisa bersatu? Kami terlalu jauh.

Seratus persen pertengkaran hilang. Kenapa aku rindu? Ya, aku mulai merindukan devan yang menyebalkan. Aku hanya takut, dia tak lagi menjahiliku. Apa mungkin karena aku menangis waktu itu? Ya. Aku pernah menangis karenanya, karena dia mencoret-coretkan tip-ex saat aku tertidur di kelas. Semenjak itu, dia berbeda dari sebelumnya. Ouh ya, dia berkata aku cengeng, aku tak bisa diajak bercanda. Dia pun jarang singgah ke tempat dudukku untuk mencoret-coret buku catatanku. Tak lagi memberiku coretan di tangan yang membuatku menjadi bahan ejekan. Uang, dia tak lagi menyembunyikan uang recehku. Semunya hilang, bahkan tak ada lagi pembicaraan antara kami.

Aku selalu berkata tak seperti drama korea, ini jauh dari drama korea. Ada sasaran lain, mungkin itu benar. Benar itu adanya, teman sekelasku yang bernama afifah adalah gadis yang menggantikan posisiku. Mereka berdua selalu bertengkar. namun entahlah beberapa orang berkata kalau devan menyukai afifah. Dan aku ada di antara mereka? Tidak, aku hanyalah sasaran lamanya yang sudah kadaluwarsa. Tiada tawa, jangankan tawa tegur sapa pun tidak. Aku salah ternyata, lebih menyenangkan sebelumnya. Di antara milyaran manusia dia yang paling menyebalkan, tapi bila ia menyebalkan orang lain ada rasa sakit.

Aku tak mengerti apa yang temanku katakan. Tapi dulu itu pernah kucurigai. Namun sebelum aku bertanya, dia terlajur pergi. Atau mungkin dia benar menjauhiku karena kode itu? Kode yang diungkapkan teman devan kalau dia menyukaiku. Tapi aku menjawab kalau aku cinta yang lain, padahal itu hanya bohong belaka.

Seperti burung beo yang sakit pepatuknya, aku dan devan tak pernah sekalipun berkata satu sama lain untuk waktu yang cukup lama. Semuanya berubah 180°, membuat aku merindu. Meninggalkan pertengkaran menyenangkan.

Tak seperti drama korea, tak juga seperti boys before flowers yang berakhir bahagia. Kembali menjadi dua makhluk tak kenal. Dua orang yang akrab karena pertengkaran menjadi asing untuk sekedar mengeluarkan suara. Dia adalah devan, bukan Goo Jun Pyo dalam drama boys before flowers.

Cerpen Karangan: Renita Melviany
Facebook: Renita melviany’s blog

Cerpen Tak Seperti Drama Korea merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Keanehan Aldi

Oleh:
Di pertama Aldi masuk kelas, sifatnya tampak berubah. Tidak seperti biasanya. Dia lebih senang menyendiri. Apalagi saat melihat Rifan, sahabatnya dari kecil. Wajahnya diselimuti kekesalan. Apa yang terjadi dengan

Kau Temanku Hartaku

Oleh:
Kami adalah teman yang tak pernah lepas dari genggaman. Selalu bersama itulah kami. Bukan teman masa kecil, bukan pula teman dekat rumah, dia adalah temanku semenjak masuk bangku SMA,

Trip to Rumah Hantu Darmo

Oleh:
Karena gue orangnya suka berpetualang, gue dan geng “ingusan” gue (geng yang terlalu cepat puber) sering pergi ke tempat-tempat yang menantang, kamar mandi cewek misalnya. Hahaha, gue bercanda Hahaha

Malam Minggu Yang Menyakitkan

Oleh:
Tepat pada malam minggu dengan gemerciknya suara hujan Ulo dan Mabi seperti biasa selalu sms-an. Ditengah kedamaian tersebut, Ulo ingin membicarakan sesuatu dan disitu pun perasaan mabi sudah tidak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *