Tak Terduga

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 6 January 2018

“Dari kemarin gue perhati’in, loe tuh senyam-senyum sendiri. Udah empat hari. Kenapa sih, loe?” tanya Bona, yang memergokiku sedang melamun… lagi.

Bona adalah sahabat karibku. Kami bukan cuma sekedar teman kos, tapi kami sudah bersahabat sejak masih duduk di bangku SMA dulu. Aku selalu mengutarakan perasaanku kepadanya. Namun, yang satu ini adalah sesuatu yang istimewa, dan hanya aku yang boleh mengetahuinya. Aku sedang jatuh cinta.

“Nggak. Nggak ada apa-apa kok, Bro,” bantahku, berbohong kepadanya.
Bona sedang menganalisis ekspresi di wajahku. Sial, aku lupa kalau Bona adalah seorang mahasiswa psikologi! Dia terkenal pandai dalam membaca raut wajah seseorang! Jangankan membaca kebohongan kelas teri –seperti aku, kebohongan kelas kakap pun bisa dia ungkap dengan mudah!
Dia nyengir! Ekspresinya mengingatkanku pada seekor kucing yang sedang menerkam mangsanya. “Aku tahu…” godanya.
Ya, Tuhan!
“Oke-oke. Baik. Aku menyerah. Tapi aku mohon rahasiakan ini. Aku mau kasih tahu kamu, karena kamu itu sahabatku,” ujarku.
Bona bersedekap. “Itu adil,” gumamnya penuh kemenangan.

Aku berusaha menemukan suaraku. “Gua… lagi naksir cewek, Sob,” bisikku. Aku sempat ingin memaki diriku, karena dengan mudahnya mengatakan ini.
“Siapa, hayo???” godanya lagi.
Kali ini tak ada kompromi lagi. Ini rahasia. Jadi aku berkata, “Masih rahasia,” dan agar terdengar lebih bijak aku menambahkan, ”Gue bakal beritahu elo, kalo gue ama dia udah jadian. Gue janji,” janjiku, pada sahabatku.

Sebenarnya cewek itu adalah Aurel, yang tak lain dan tak bukan adalah teman satu jurusanku, satu kelas. Sudah lama aku menyukainya. Aku tahu dia sedang menjomblo, dan sudah seminggu ini aku melakukan aksi PDKT kepadanya, mulai dari mentraktir, membantunya mengerjakan tugas-tugas kuliah, mengajaknya jalan-jalan di malam minggu, atau sekedar apel mengunjungi rumahnya. Bahkan, empat hari lalu, kala dia sedang sakit dan harus menjalani rawat inap di rumah sakit, akulah yang menemaninya sepanjang malam karena kedua orangtua Aurel sedang berhalangan, dan mempercayakanya kepadaku.
Jadi, kupikir kami sudah cukup dekat.

Hanya saja, aku masih berusaha keras mengumpulkan segenap nyaliku. Ini tak semudah berakting seperti orang gila di depan cermin. Tiap kali aku memikirkanya, telapak tanganku akan berkeringat dingin, dan bicaraku akan berubah gagu. Namun, berkat tekad yang kuat, kunekatkan diriku untuk segera mengutarakan perasaanku padanya.

“Rel,” gumamku, memulai. Saat ini kami sedang berada di taman kampus. Rimbunya pohon tanjung dan pohon-pohon lain membuat udara begitu sejuk dan nyaman.
“Ya?” balasnya. Ia menutup buku manajemen yang dibacanya, dan membalas tatapanku. Matanya yang gelap seperti menyedot kesadaranku ke dalamnya.

Sepuluh detik berlalu, dan aku tak sanggup benar-benar memandangnya. Jantungku serasa ingin meloncat dan menerobos keluar rongga dadaku.
Kupaksa mataku untuk menatap kedua matanya secara sadar. Tak hanya mata, bibirku pun kupaksa untuk berbisik, “Ada yang ingin aku omongin ke kamu, Rel.”
Entah kenapa, Aurel butuh empat detik untuk mencerna ucapanku. Dan tiba-tiba, ekspresinya berubah: wajahnya memerah, dan ia seperti sedang menahan cengiran di bibirnya. Aku tahu, ia sedang malu karena sesuatu.
“Tunggu,” ujarnya menyelaku. “Maaf, tapi aku mohon biar aku yang ngomong duluan. Please,” imbuhnya memohon.
Kenapa? Ada apa?
“I…iya. Silahkan,” gumamku, sembari berusaha menyembunyikan rasa keberatan dalam suaraku.

“Sejujurnya, aku suka sama seseorang, Jon,” akunya kepadaku.
Aku terkesiap. Apa jangan-jangan itu aku? Apa jangan-jangan Aurel sudah tahu kalau aku mencintainya, dan ia menyambut rasa itu? Cinta itu?
Sekali lagi jantungku berdegup gugup! Harapan membuncah di tenggorokanku!
“Siapa, rel?” tanyaku, dengan bersemangat.
“Dia,” wajah Aurel semakin memerah, “…Bona, Jon…”
Dunia sudah kiamat!
Jantungku serasa diremas-remas oleh jemarinya yang lentik! Ada dorongan untuk menangis, namun aku segera ingat kalau aku ini seorang cowok. Aku punya harga diri
“Oh,” komentarku, untuk menyembunyikan sensasi sakit ini.
“Giamana, Jon? Menurut loe gimana?”
“A-apa yang gimana, Rel?”
“Pendapat loe tentang Bona. Kalau enggak salah, loe kan temen satu kosnya. Makanya aku ngomongnya sama kamu.”
RIP hati dan perasaan Joni Arif Dirga.
“Ya… Hmm, oke-oke aja. Bona cowok yang baik,” kataku, sembari menyunggingkan senyum kecil keterpaksaan.

Entah kenapa, suasana berubah jadi canggung. Mungkin satu atau dua menit, tak ada pembicaraan di antara kami.
Aurel memecah keheningan itu. Ia tersenyum. “Oh ya, katanya kamu tadi pingin ngomong sesuatu ke aku. Maaf, tadi aku udah lancang nyela omongan kamu. Maaf banget, ya?”
Aku mau muntah.
“Oh. Tadi. Umm… aku cuma kepingin tanya soal materi pak Harsono kemarin. Itu, si dosen filsafat. Catatanku kurang lengkap kemarin.” Lalu aku meringis untuk menyembunyikan raut brokenheart-ku.
Aku ingin mencubit pipiku dan berharap ini hanya mimpi.

Berbulan-bulan aku berusaha mati-matian agar bisa menahan siksaan ini: melihat Aurel dan Bona selalu bergandengan tangan dengan mesra di lingkungan kampus. Tersiksa!
Aurel dengan berani telah menyatakan perasaanya pada Bona, dua minggu setelah percakapan kami yang berujung luka itu. Betapa cinta penuh dengan keanehan, kala Bona, yang hanya sebatas mengenal Aurel sebagai mahasisiwi dari fakultas tetangga, menerima perasaan Aurel setelah seminggu PDKT.
Aku berharap kebahagiaan mereka berakhir. Namun, aku juga menyadari kalau aku sama sekali tak berhak untuk merenggut kebahagian orang lain, sekalipun kebahagiaan itu menyakitkan untukku.

Semoga aku segera menemukan kebahagiaan lain yang setimpal dengan derita ini. Semoga.

Cerpen Karangan: Danang Teguh Sasmita
Facebook: Danang Sasmi (Facebook)

Cerpen Tak Terduga merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kekasih Virtual

Oleh:
Berawal cuma iseng saat ada yang ngajak chatting pas lagi online di facebook, karena aku kenal orang yang ngajak chatting jadi aku ladenin aja. Kak Iman namanya dulunya kakak

Cinta Yang Berhenti

Oleh:
Pada suatu hari pada waktu itu aku sedang ulangan, oh iya aku sampai lupa, perkenalkan nama aku Dinar. Pada waktu ulangan aku dipanggil teman aku yang bernama Mia. “Din

Korban Cemburu

Oleh:
Pagi itu, ketika matahari sudah tersenyum sembari menyinari setiap detik yang kulalui mengurai kemacetan pagi hari. Aku berjalan menuju ke sekolah. Hari itu tidak ada acara yang berarti (karena

Cinta Mikha

Oleh:
23 Desember 2014 merupakan hari perpisahan antara aku dan dia. Namaku Mikhaila Putri, biasa dipanggil Mikha, aku kuliah di salah satu universitas swasta di Jakarta. Dia adalah mantan pacarku

November Akhir Penantianku

Oleh:
Akhir November 2015, aku berhenti mengharapkannya dan mencintainya. Setelah 5 tahun aku mempertahankan perasaan ini padanya, dan berharap ada kesempatan untuk kembali karena kesalahanku di waktu itu. Hari demi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *