Telah Usai

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 24 February 2018

Sekitar pukul 07:15 aku pergi dari rumah menuju sekolah dengan Limosin KUNING Langgananku. (hehe.. maksud eike, angkot Chiin) Setibanya di sekolah pukul 07;30. Yaah, pas lah, nggak telat, dan nggak terlalu cepat. Aku melangkah ringan menuju kelas tanpa beban. Berhubung ini hari, hari Guru, Aku bakal ngucapin selamat hari guru ke guru-guru favoritku doonk… kayak Bu Anggi, Bu Anim, Bu Aina, Bu Rohayati, Pak Avan, Pak Ricky, Pak Yuswan, Pak Agus, Pak Amunio, pokoknya yang paliiing aku favorit kan deeh!!! Jadi rasanya seneeng banget.

Aku masuk ke kalas, Suasana riuh khas kelas itu. Sumpek dan berdebu. Yah, yang tak lain adalah debu karena belum piket. Palingan entar lagi pak Avan bakalan nyantroni ni kelas lalu ngomel kayak gini “SIAPA PIKET? KOK BELUM PIKET INI, KELAS MASIH BERDEBU KOTOR.” LALU DIA MENUNJUK TONG SAMPAH yang BERADA DI SUDUT PINTU “BUANG SAMPAH TU yang PIKET!!” teriaknya.

Dan 5 menit kemudian pak Avan muncul di muka pintu. Sesuai tebakanku, dia akan berkata yang sebelumnya sudah aku jelasin tadi. Aku nyengir melihatnya dengan kemeja warna Biru yang menurutku Cantiiik banget. Baju seragam yang sengaja dibuat untuk HUT-PGRI. (kemeja biru itu Cuma SMA Dharma Patra aja. Kalo pakaian yang memang untuk HUT-PGRI di sekolah Negeri sih warna putih dengan corak Batik emas. Pokoknya cantik dan mewah deh kesannya.)

Setelah ngomel-ngomel panjang lebar, pak Avan pun pergi dari kelas kami. Aku meletakkan tasku di mejaku. Kulihat Iqbal sedang murung di bangkunya. Aku pun mendatanginya. “Iqbal? Ada apa?” tanyaku.
“enggak apa-apa” jawabnya datar.
“oh..” aku terhenyak. Lalu aku kembali ke Bangkuku. Terduduk lemas. Pasti Iqbal lagi ada masalah tuh. Enggak mungkin kan dia diem gitu. Dingin banget sama aku. Mana sikapnya kalo ditanyain cuek mulu.

Stella muncul dari pintu. Ia meletakkan botol Tupperwerenya ke meja.
“kenapa kamu? Kok murung?” tanyanya heran.
“enggak apa-apa.” Jawab ku menggeleng.

“enggak apa-apa kamu bilang? Jelas-jelas mukamu muram gitu.”
“aku enggak apa-apa Stella” kata ku dengan senyum (senyum terpaksa tentunya)
“oh” katanya mengangguk.

Bel masuk pun berbunyi. Seperti hari Guru kayak dulu, Pasti semua Siswa-Siswi disuruh Upacara Peringatan Hari Guru se-Indonesia. Upacara berlangsung lama banget. Mana mataharinya nggak nanggung lagi. Teriiiik bangeeet kayak mau meleleh deh aku. Stella dan Hanny berjongkok di belakang.
“aduuuh Eryn.. Panas banget tau..” rengek hanny.
Aku tersenyum. “sapa juga bilang dingin?”
“hehe” hanny terkikik.

Stella yang berkulit putih tampak merah wajahnya. Lalu Ia menatapku, “aduh Eryn. Gak tahan lagi aku. UKS yukk..” ajaknya,
“yuuk.. bareng aku aja.” Hanny menyahut. Lalu di tariknya lengan Stella menuju UKS.
“Hedeeeeh… ngeri banget sinar mataharinya hari ini!!” aku mendumel. Zaryn terkikik. “UKS yuuk.. Aku juga gak tahan sama mataharinya nih. Panaaass bangeeeet…” katanya. Aku menyeringai. Berhubung juga aku gak tahan. Kutarik aja langsung tangannya. Hingga akhirnya kami sampai di depan ruangan UKS. Dan berjumpa dengan Stella dan Hanny.

“Beuuugh…!! Enak benget. Dingiiin di sini.” Celetuk Zaryn.
“Iya. Cool,” kataku sumringah.

Tampak Hanny dan Stella sedang tergolek lemas karena kepanasan. Dari jauh tampak Emily sedang dituntun oleh Citra. Aku merasa cemas melihat Emily, tapi aku serba salah, kalau aku perduli sama dia tetep aja dia nganggap aku kayak kambing congek yang sok-sokan ngebantu dia. Sesampainya dia di UKS. Dengan refleksnya aku mendekatinya.
“Emily, kamu kenapa?” tanyaku. Citra melirikku dengan sinis. Tapi aku tak mempedulikan lirikkan itu. “aduuh mama.. sakiiit…” pekik Emily dengan memegang perut bawahnya. Oh! Aku tahu. Pasti dia sakit perut karena datang bulan!

Tanpa kusadari, aku berlari ke lemari UKS dan bertanya ke Bu Anim. “Bu, Ada minyak angin tidak?” tanyaku. “coba kamu lihat di laci meja ibu.” Jawab Bu Anim dengan menunjuk lacinya. Aku segera membuka semua lacinya. Dan Dapat!!
Aku segera berlari dan memberikan minyak angin itu ke Citra. Citra segera menerima minyak angin itu. Dioleskannya ke kepala Emily. “Emily, kemejamu dibuka sedikit ya di bagian perut. Biar kuoleskan minyak angin.” Kataku. Emily mengangguk. Aku segera mengoleskan minyak angin itu dan kemudian memijit perutnya. Kututup kembali perutnya yang terbuka tadi dengan kemejanya. Aku kembali mengurut perutnya. Kuoleskan minyak angin tadi ke Dadanya, Punggungnya, serta kepalanya. Aku memijit kepalanya. Hingga akhirnya ia tenang.

Upacara selesai. Siswa-Siswi berhamburan pergi menuju kelasnya masing-masing dan segera menyiapkan pesta kecil-kecilan untuk wali kelas masing-masing.
“Balik yuk Ryn.” Ajak Zaryn.
“oh, iya, sebentar.” Kataku. “Emily balik denganmu kan Citra?” tanyaku. “iya.” Jawab Citra dingin.
Aku memaklumi sikap Citra. Aku pun balik ke kelas sendiri.

Saat melintas melewati kantor, aku menghentikan langkahku. Aku mengurungkan niatku untuk ke kelas, tapi melaksanakan plan pertama yaitu, MEMBERIKAN SELAMAT HARI GURU kepada semua guru satu kantor. Dari Pak Avan, Pak Yuswan, Bu Anggi, Bu Anim, Pak Amunio, Pak Agus Salim, Bu Aina, Bu Rohayati, Pak Sukandar, Pak Sofyan, Bu Juriati, Bu Titik, pokoknya guru Satu kantor deeh…
Setelah bersalam-salaman dengan semuaaa guru, Aku cuz balik ke kelas. Aku masuk dengan hati Riang.

“makasih ya Eryn udah bantuin aku.” Kata Emily dari tempat duduknya. Kata-katanya mengejutkanku. “oh iya. Sama-sama.” Kataku tersenyum. Citra, dan teman-teman lain yang mengikut Emily pada bingung karena Emily dan aku sudah bertegur sapa lagi. Aku senyam-senyum sendiri. “chee.. udah teguran nii yee dengan Emily..” Stella terkikik. Aku mengedikkan bahu dengan ringan. “alhamdullilah…” kataku sumringah.

“perhatian kepada sumua Siswa-Siswi kelas X, XI, XII Harap berkumpul ke aula untuk mengikuti acara Hut-PGRI se-Indonesia.” Pengumuman itu terdengar sampai 3 kali. Yaah, yang memberikan kan pengumuman itu yang tak lain adalah Pak Wahyu atau yang sering kami panggil dengan sebutan Pak We..
Lepas dari masalah pengumuman, Semua Siswa-Siswi SMA DP pun berjejal memasuki Gedung Aula. karena penuh dan pengap. Aku dan Stella keluar dari Aula.

“Kantin yukk Rryn..” ajak Stella.
“Yuuk..” kataku.
Kami pun berjalan ke kantin, di kantin rupanya Kakak-kakak kelas XII udah nangkring di Kantin dari tadi mungkin.

“Mak, pesan roti bakarnya ya (satu catatan buat semua, Stella tadi manggil ibu kantin dengan sebutan mak itu sebutan anak-anak sekolah ke ibu-ibu kantin yang jualan di kantin).” Kata Stella. “Rasa Coklat.” Tambahnya lagi. Lalu ia menoleh kepadaku. “Dari tadi kayaknya kamu Muram aja, ada apa Ryn? Cerita dong..!” pintanya.
“aku merasa kayaknya Iqbal tuh cuekk bangetma aku. Udah 3 hari dia kayak gak peduli ma aku gitu.” Kataku dengan menunduk.
“hmm, sebenarnya di belakangmu ada cerita sedih banget ya kalo itu untukmu. Sebenarnya aku mau ceriita ma kamu. Tapi aku takut kamu entar sakit hati. Aku nggak mau kamu sakit hati Ryn.” Kata Stella dengan nafas berat.

“ada apa? Cerita aja. Aku mau tau gimana sikap Iqbal di belakangku.” Jawabku.
“kamu yakin? Aku nggak mau kamu tertekan lagi kayak kemarin nka.” Kata Stella iba.
“udah cerita aja. Aku mau denger ceritamu.” Kataku tegas.

“kemarin, waktu kita lagi gak temenan, si Emily cerita dengan kami semua kalo dia mau mutusi kamu, tapi Iqbal gak tega karena dia udah terlanjur dekat dengan ortumu. Apa lagi mamamu.” Kata Stella dengan mengunyah roti Bakarnya. Macam disambar petir di siang bolong. Aku terkejut minta ampuuun. Rasanya mau jatuh gedebuuk aja dehh. Kepalaku pusing. Dengan seketika air mataku sudah ngumpul di pelupuk mataku. Aku mengadah ke atas agar air mata sial ini gak bakalan jatoh.
“tuu kan bener kamu sedih! Udah ah. Yuk cabut ke kelas…” kata Stella dengan menarik tanganku. Aku hanya mengikut saja. Rasanya kayak udah gak berraga lagi. Hanya rohku saja yang melayang. Dadaku sakiiit. Nyeseeek bangeet…!!!

Stella mengajakku masuk, kulihat Iqbal sedang dikelilingi gengnya Emily membuat dadaku semakin sesak. Ya tuhaaan jangan sampe ni air mata jatuh..! dan aku nggak mau dia ngeliat air mata ini jatuh!! karena tak tahan, aku segera keluar dari kelas. Dan duduk di bangku tembok di depan kelas. Aku menunduk. Perlahan-lahan air mataku jatuh membasahi rokku.

“Ryn…” Seseorang menepuk pundakku, Tapi aku tak bergeming sedikit pun. Aku tetap saja menunduk. Saat ini aku tak mau ada yang tau kalau aku sedang hancur berantakan. Perasaanku luluh lantak. Hancur sehancur-hancurnya. Rasanya pengen aja teriak-teriak sambil nyanyi lagu OLGA yang HANCUR HATIKU itu. Sediih banget aku.

“Eryn..” seseorang itu menepuk pundakku lagi lalu duduk di sampingku. Ternyata itu Stella. “sudah lah, jangan nangis. Ngapain nangis. Gada gunanya juga nangisi dia. Laki-laki pengecut gitu aja pun. Masih banyak laki-laki lain Ryn..” kata Stella menenangkan ku. Aku tak menjawab. Hidungku kayaknya tersumbat deh. Pasti ingusan niihh.. aduuuh.. gimana dong nih?

“oii Ryn kok diem aja sih?” tanyanya. Aku menoleh dengan pandangan nanar.

“Wadaaaww..! kenapa jadi begini sih..” katanya.
“hemm udah lah tuh..” kataku tersenyum dengan kecut.
“sabar ya Ryn.” Katanya prihatin.
Aku mengangguk lesu.

Aku menghapus air mataku. Berusaha untuk tenang. Tarik nafas pelan-pelan lalu buang dengan perlahan. Aku masuk ke kelas dengan cuek tanpa menghiraukan Iqbal dan yang lain. Aku mengemasi buku-buku ke tas. Dan kubawa tasku keluar. Aku duduk kembali di luar. Dengan memegang tali ranselku, aku menguantkan hatiku. Kepalaku rasanya seperti hendak meledak. Sakiit banget hatiku. Stella duduk di sampingku dengan membawa ranselnya juga. “Udah lah tuh. Jadi sekarang kamu mau gimana?” tanyanya. Aku menggeleng lemas. Stella menghela nafas. “yang sabar ya Eryn.” Katanya lagi. Aku tek merespon. Aku paling benci dikasihani. Rasanya pengen aja aku cabut dari tuh sekolah lalu pulang ke rumah dan menangis sekeras-kerasnya.
“Aula yuk..” ajakku dengan suara sengau yang sok-sok di riang-riangkan. (Malah jadi kayak suara sapi) Stella menoleh kepadaku dengan tersenyum. “ya udah.. yuk lah..” katanya.

Kami berjalan melewati koridor kelas-kelas unggulan dan akhirnya sampai juga di Aula. Kami melihat guru-guru yang sedang menyanyi, Siswa-Siswi yang adu bakat ngeband. Dan banyak lagi deh hiburan yang lainnya. Pokoknya seru.. tapi aku nggak merasa bahagia melihat tuh semua. Hatiku masih sakit banget. Iqbal… kenapa sih kamu tega banget. Kenapa harus nikam aku dari belakang? Kenapa harus bilang-bilang itu semua di belakangku?!

“Eryn.. Aula penuh kali. Gada tempat duduk.” Kata Stella..
“hemmm… ya udah.. kita duduk di situ aja.” Kataku dengan menunjuk sebuah bangku kayu yang panjang. Kami pun duduk di bangku itu. Dengan malas aku menatap ponselku. Biasanya jam segini ada sms yang berisi emoticon kiss atau pun emoticon mengejek.

“Eryn, perut aku sakit banget.” Celetuk seseorang. Aku tanda suara itu. Siapa lagi kalo bukan si halimah. Aku menoleh kepadanya dengan malas. Lalu, tiba-tiba saja tampangnya seperti terkejut melihat wajahku.
“Apaan?!” semburku kesal.
“mata kamu merah Ryn. Kamu abis nangis??” katanya lagi dengan wajah heran tapi menurutku itu adalah wajah yang mengejekku. Aku tak menjawab. Kualihkan lagi wajahku ke depan. Menghindari tatapannya. Paling males kalo lagi kacau gini ditanya-tanyain.

Ia menyentuh pundakku. “kau ada masalah ma si Iqbal ya?” tanyanya.
“hmm..” aku mengangguk.

“gara-gara apa?” tanya lagi yang makin kepo aja.
“entah lah. Pusing kepalaku.” Sahutku datar.
“oh..” jawabnya kemudian. Mungkin dia memaklumi sikapku yang seperti itu kepadanya. Dia jelas tau gimana sikapku kalau aku lagi bad mood. Jadi kurasa dia nggak perlu tersinggung.

Kulihat Stella sibuk sendiri dengan ponselnya. Rasanya males banget di sekolah kalo kayak gini kejadiannya. Bagusan pulang!!
“Eryn, pulang yokk..” celetuk halimah.
Ini nih yang namannya pucuk dicinta ulam pun tiba. Baru aja aku kepikiran buat pulang. Tau-tau aja langsung diajakin pulang sama si halime. Untuk saat ini, kuikutin usulnya.
“ok! Yukk pulang.” Kataku masih dengan nada datar. Si halime tersenyum “ya udah. Yuk kita ambil surat izin pulang.” Katanya kemudian.

Kami mengambil 2 lembar surat izin keluar dari Tata Usaha. Setelah itu kami isi, dan kami minta tanda tangan pak Amunio, Yah, berhubung dia hari ini lagi piket. Jadi kalo mau pulang, mesti minta tanda tangan guru piket.

“kamu kenapa pulang nak?” tanya pak Amunio kepada ku.
“saya ada urusan keluarga mendadak pak. Jadi saya disuruh mama pulang.” Kata ku berbohong. (demi keselamatan batin gak papa deh bohong..) Pak Amunio memandang wajahku. Mungkin karena mukaku yang serius ia menjadi percaya padaku.
“ya sudah, kamu pulang hati-hati ya.” Kata pak Amunio.

Setelah mendapat tanda tangannya, aku langsung cabut dari situ dan segera menuju ke Pos si om satpam biasa jaga.
“mau ke mana kamu Eryn?” tanyanya.
“ada urusan keluarga om. Jadi aku di suruh pulang cepat.” Kataku masih dengan muka datar.
Si om memperhatikanku. “ah.. Serius kamu? Nanti kamu cabut.” Dia mulai cengar-cengir memancingku agar ketawa dan jujur.

Hatiku lagi sepat banget, kayak rasa teh botol sangking sepatnya. Nggak ada sedikit pun keinginan buat tersenyum atau pun nyengir untuk membalas cengiran si Om. Aku masih bertahan dengan muka datar.
Si om lalu nyerah juga. “ya udah. Hati-hati kamu pulang ya.” Katanya kemudian.
Aku mengangguk. Lalu aku melangkah keluar dari gerbang sekolah. Berjalan dengan gontai di trotoar.

Aku menyeberang jalan, dan terduduk di sebuah kedai. Aku membeli Satu aqua gelas dingin, lalu kuminum dengan pelan.
Rasanya air dingin yang kuteguk tadi tak dapat menyegarkan hatiku yang terluka. Rasanya sedih kali digituin sama pacar sendiri. Sakiiiit bangeeet rasanya.

Aku menatap lurus ke depan. Mana sih angkot?! Aku udah capek nih. Rasanya mau ngehempasin tubuhku ke tempat tidur. Lalu nangis sepuasnya.
Ah! Itu dia limosin kuning yang kutunggu-tunggu dari tadi sampe karatan. Alias Angkot. Aku segera masuk ke dalam angkot itu. Hmm.. jam segini biasanya banyak ibu-ibu pulang dari pasar. Jadi isi angkot tak lain adalah ibu-ibu dengan belanjaannya masing-masing. Aku duduk di bangku tempel depan pintu masuk angkot.

Aku menatap layar Ponselku. Kulihat foto Iqbal. Terasa nyeri di hatiku. Rasanya air mata ini pengen jatuh mulu. Tapi nggak mungkin kan? Secara di hadapanku ada 5 orang ibu-ibu. Gila aja kalau aku netesin ni air mata di depan mereka. Otomatis mereka akan bertanya dengan melihatku heran. Pasti dalam benak mereka Aku ini anak SMA yang kurang sehat. Kuketik sebuah pesan singkat melalui SMS. yang berisikan:
Makasih udah malu-maluin aku di belakang aku. Mungkin hubungan kita hanya sampai sini. Jujur aku sayang banget sama kamu. Tapi mungkin kamu nggak sayang sama aku.

Hedeeeh… Aku memasukkan ponselku ke saku bajuku. Aku menatap lurus ke arah jalan. Kepalaku makin pusing melihat bayang semu yang mengakibatkan pohon itu seperti ikut berjalan mengikutiku.

Tak lama kemudian aku sudah sampai di daerah Jalan rumahku. Aku segera menyetop laju si angkot dan turun dari angkot, lalu menyerahkan 2 lembar uang seribuan ke si sopir angkot. Setelah membayar uang itu, si angkot pun melaju kembali melanjutkan perjalanannya.

Aku menggenggam tali ranselku dengan erat. Aku melihat kanan kiri untuk menyeberang, dan ketika suasana jalan tampak lengang, aku pun menyebrang. Aku terus berjalan menyusuri jalan. Aku berbelok memasuki gang kecil yaitu jalan pintas untuk capat sampai ke rumahku. Sampai di ujung gang akan bertemu Rel Kereta api. Setelah itu aku akan menuruni sebuah turunan. Dan akhirnya sampai di Home Sweet Home. Pintu rumah itu terbuka lebar. karena nggak tahan lagi, aku segera berlari menuju rumah. Kubuka sepatuku dan kaus kakiku. Lalu langsung kutinting ke dalam.

“Assalamualaikum..” kataku yang lansung nyelonong masuk ke rumah. Mama dan Rissa yang sedang menonton TV menoleh kepadaku.
“udah pulang kak?” tanya mama dengan tersenyum.

Aku mengangguk. “Ma.. kakak udah putus ma Iqbal” kataku.
“ha?? Kok bisa kak?” tanya mama.
“pokoknya kakak udah putus ama Iqbal, TITIK!!” kataku. Kucampakan sepatuku ke belakang. Tempat biasa menaruh sepatu. Mama menatapku prihatin. Aku tak berani mlihat mata bening itu. karena jika aku menatap mata bening itu, Aku pasti akan menangis di hadapan mama. Dan aku tak ingin menangis di hadapan mama. Aku segera masuk ke dalam kamar. Kulepaskan jilbabku. Aku membiarkan Rambutku tergerai menutupi wajahku yang sembab. Telah usai sudah kisah cintaku. Cinta yang berawal manis, berakhir pahit! Kuhempaskan tubuhku ke tempat tidur. Kubenamkan wajahku ke balik bantal dan aku menangis.

Cerpen Karangan: Fryanka Anggini
Blog / Facebook: Fryanka Blog / Fryanka Anggini
TTL: Kep. Natuna. 14 april 1998
hobby: Menulis, Membaca, Menyanyi, Memasak.

Cerpen Telah Usai merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Terima Kasih Sudah Hadir Di Hidupku

Oleh:
Aku adalah seorang anak yang bisa dibilang orang berada, karena ayahku adalah seorang dosen di universitas kobe. Namaku Nania sarashwati biasa dipanggil Nia. Aku bersekolah di sekolah menengah atas,

Tentang Viana

Oleh:
Semilir angin datang berhembus, menerbangkan lembut rambut gadis jelita yang tidak jauh dari hadapanku. Tawanya yang bisa membuat pikiranku tak pernah lepas dari dirinya. Senyumnya, sifat ramah tamahnya yang

Pertemuan Yang Singkat

Oleh:
Hari itu tanggal 1-2 November adalah hari yang sangat berkesan dalam hidupku karena hari itu aku mengikuti jambore literasi. Di sana aku mendapat teman dari berbagai daerah. Saat di

Dramatisasi Penyakit

Oleh:
“Bunda gak akan lama kok sayang cuma tiga hari aja hari Selasa nanti juga udah ada di rumah” Bujuk Diana kepada anaknya Monna. “Kalau ayah sama bunda gak pergi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *