Tentang Dia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 17 September 2015

Namanya seperti kartun, itu hal pertama yang muncul di benakku. Laki-laki berwajah imut dan bermata sayu itu yang berhasil menaklukkan hatiku. Alasannya karena dia mirip dengan laki-laki yang pernah aku temui di salah satu Mall. Tidak masuk akal memang, tapi aku memang menyukainya. Kelas X semester dua, aku mulai sering melihatnya. Terlebih lagi, menunggunya lewat di depan kelasku. Ingin rasanya aku menyapa atau mengajaknya berkenalan, tapi aku tahu, itu hal bodoh yang amat memalukan. Jadi, aku memilih untuk menyimpan perasaan aneh ini sampai suatu saat waktunya tiba.

Aku tak begitu banyak tahu tentang dia. Dia ikut ekstrakulikuler SKI, ekstra yang bergerak dalam bidang islami, hanya itu yang aku tahu. Dan satu ketika, saat Maulid Nabi berlangsung di Masjid Al Akbar Surabaya, dia menjadi panitia. Mengenakan baju koko berwarna putih, sarung dan kopyah. Berjalan kesana-kemari seperti setrika. Dan, mataku tak mau lepas darinya.

Namanya Bima. Laki-laki murah senyum yang selalu menjadi alasan dalam setiap senyumku. Laki-laki dengan rambut berjambul khas yang lucu, laki-laki yang hobi bermain sepak bola, dan laki-laki yang.. Ah, entahlah. Dia memang terlalu sempurna di mataku. Ya, cinta itu buta, kan? Aku menyukainya dalam diam untuk waktu yang lama. Sampai akhirnya, kenaikan kelas di depan mata. Satu harapanku -aku bisa satu kelas dengannya. Nyatanya, takdir berkehendak lain. Kami tidak satu kelas, namun kelas kami berdampingan. Oh, alangkah indahnya bila aku dan Bima bisa berdampingan juga. Sayangnya, itu hanya mimpi.

Bahkan sampai kelas XI semester dua awal pun, aku tak kunjung berani mengatakan perasaanku. Sampai akhirnya, aku tahu dia memiliki kekasih. Rasanya seperti… Entahlah, ada sesuatu yang menusuk, amat menyakitkan. Bahkan, hal yang jauh lebih menyakitkan dari sakit gigi adalah, aku melihatnya jalan berdua di depan mata kepalaku sendiri. Saat itu, aku berhenti bernapas selama beberapa detik, saking kagetnya. Itu seperti kenyataan pahit yang berbanding jauh dengan harapanku. Hingga akhirnya, aku memutuskan untuk merelakan dia.

Ya, biar saja wanita itu merebut Bima-ku. Sakit? Tentu saja. Sedih? Amat sangat sedih. Kecewa? Jangan ditanya. Yang aku pikirkan saat itu, asal dia bahagia, aku tidak apa-apa. Lagi pula, apa yang harus aku lakukan selain melepasnya? Toh sampai kapan pun aku tidak bisa memaksakan perasaan sepihak ini. Dia berhak bahagia, walaupun bukan dengan aku. Dan aku juga akan bahagia, jika dia bahagia.

Akhirnya, aku benar-benar move on. Cukup lama aku tidak melihat twitternya. Walaupun kadang, masih terbesit rasa tidak rela saat melihatnya bersama wanita itu. Mereka tampak bahagia, tersenyum tanpa beban seolah-olah mereka tidak sadar ada satu wanita yang amat tersiksa sedang menatap mereka dengan hati yang rapuh. Ini sedikit berlebihan, tapi sungguh, aku menyukai Bima. Sampai saat ini. Alasanku masih tetap bertahan adalah, semakin aku melupakan Bima, semakin dia sering mendatangi pikiranku tanpa izin. Dan itu tentu saja semakin membuatku gagal untuk pindah ke hati baru.

Dan suatu ketika, ibarat sebuah es raksasa yang jatuh di padang pasir, hatiku mulai mendingin. Betapa bahagianya aku saat melihat twitternya tak lagi ada nama wanita itu. Ya, mereka berpisah. Aku tidak peduli karena apa, atau bagaimana kejadiannya. Yang terpenting, dia tidak lagi ada yang memiliki. Dan kesempatanku untuk mendapatkannya kembali besar. Dan untuk Bima, mulai saat itu aku berjuang.

Hingga puncaknya, aku mengatakan semuanya. Ya, perasaanku selama dua tahun terakhir. Alangkah bahagianya saat dia menjawab, “Aku bisa ngerti, Nad.”
Ini konyol. Perasaanku semakin tak menentu. Aku bingung, apakah aku tetap menunggu atau harus pergi agar dia tidak terganggu?

Setelah cukup lama berpikir, akhirnya aku memutuskan untuk berhenti. Bagaimana pun juga, aku tidak bisa memaksakan kehendakku. Aku menyukainya, sangat menyukainya, tapi di sisi lain, dia tidak memiliki perasaan sedikit pun padaku. Jadi, aku tidak punya alasan lagi untuk tetap bertahan. Aku rasa, dua tahun sudah cukup. Aku hanya berharap Bima yang mungkin saat ini sedang berbahagia karena aku tidak lagi mengganggunya bisa bahagia dengan wanita lain. Bahagia, tanpa sakit seperti yang aku rasakan.

Cerpen Karangan: Anadya Alyasavitri
Blog: www.anadyaalyasavitri.blogspot.com
Facebook: Anadya Alyasavitri
Follow my twitter: @Anadyaal

Cerpen Tentang Dia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Andai Dulu Rey

Oleh:
“Kamu deket sama dia yah?” “Nggak, kenal aja…” “Tapi kalian smsan kan?” “Iya…” “Sering?” “Gak juga…” “Bohong, mereka smsan tiap waktu kok…” “Waduh bahaya nih, saingan kamu tuh…” Seorang

Cinta Tak Direstui

Oleh:
Pagi itu, kubuka facebook dan kumelihat ada sebuah permintaan pertemanan dari sorang gadis. Dan cerita asmara aku bermula pada saat aku “konfimasi” permintannya. Awalnya sih aku sedikit canggung padanya

Takut Melangkah

Oleh:
Pagi yang malang. Di saat manusia lemah itu menyeruput kopi pahitnya dengan perasaan bimbang. Sudah lama dia tidak merasakan getaran yang dia rasakan saat ini. Getaran yang membuatnya seperti

Triangle Love

Oleh:
Angin malam masih menemani malamku yang kelam. Bagaimana mungkin aku lupakan begitu saja kisah pahit yang ku lewati. 2 tahun yang lalu, “Rama, tunggu aku!” pekikku mengejar laki-laki di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *