Tentang Perpisahan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 2 June 2019

“Asalamualaikum warah matullahi wabarokatuh..”
Salam subuh Ryan di rakaat terakhirnya. Setelah berdzikir Ryan berjalan menuju pintu keluar mushala. Udara menghembuskan dinginnya menabrak dada. Tarikan nafasnya menarik masuk hawa sejuk ke dalam paru-parunya.

Setelah melepas sandal di anak tangga ke dua, tangan kanan merogoh kunci rumah di kantong baju kokoh sebelah kanan. “Kreekk krek..” suara kunci masuk kedalam lubang dan berputar ke kanan. Suara erekan pintu rumah terbuka memecah keheningan di subuh itu. Setelah duduk di sofa dan mulai melafadzkan Al-Fatehah sembari membuka halaman-halaman Al Quran. Lembaran demi lembaran terhenti pada surat Al-Kahfi.

Hari sudah mulai menderang, matahari mulai naik menampakan gradasi cahaya indahNya. Bacaan Al-Kahfi nya rampung bersama melayangnya kalimat sadakallahul’adzim di udara pagi itu. Tangan kanannya meraih hanphone yang ada di meja di depannya. Jempol kirinya menggeser pola kunci tombol pada Lcd smartphone. Terpampang pada layar, pesan We Chat “Ada yang ketiduran nih..” pesan dari Dinda yang kemudian langsung dibalas ketikan oleh Ryan. “Nggak kok, lagi sempetin baca Quran tadi nih.. hehe” balas Ryan dalam applikasi sosmed buatan China itu. “Aku on the way nih..” tambahnya sebelum ada balasan dari Adinda. “Ok” balas Dinda kemudian, padat dan singkat. Setelah membaluti tubuhnya dengan jaket kulit coklat Ryan meraih helm, “krrkk..” kerikan gerigi tali helm yang menjepit rahang Ryan. Setelah memanaskan mesin motor, Ryan berangkat menuju rumah sang Adinda.

“pip pip..” suara klakson motor mengalihkan pandangan Dinda dari hanphone yang digenggamnya ke sumber suara. Posisinya masih duduk bersandar menghalang pada pintu masuk rumah. “Ready?” Tanya Ryan sambil menunjukkan jok bagian belakang motor dengan jempol kanan ke bagian belakang. Dinda segera bergegas berdiri dan menaikkan tali tas di bahu kirinya. Kedua pasangan itu kemudian mengitari pagi dengan obrolan ringan hangat penuh harmoni di pagi hari yang dingin itu. Keduanya memiliki tujuan yang sama yaitu, pantai.

Suara desiran ombak menyambut kedatangan sejoli Ryan dan Dinda.
“Kamu tau nggak? Suara yang paling aku suka?” cercah Ryan pada Dinda di sela-sela suara ombak menghamburi pasir pantai. “Apah..?” Tanya Dinda. “Suara ombak, suara jendela terbuka dipagi hari, dan..” Ryan menahan kalimatnya sambil melirik Dinda yang duduk di sampingnya. “Suara tawamu ketika mencoba menertawai berbagai hal.. apapun itu.” sambung Ryan. “Dinda hanya tersenyum sambil menatap ke depan ke arah lautan luas yang terpampang di depannya. Tak lama gadis itu berdiri sambil menyeka-nyeka pasir yang menempel di celana bagian belakangnya. “Ayuuk, mandi..” ajak Dinda kepada Ryan yang masih duduk di sebelah kirinya. Desiran ombak membasahi kaki mungil Dinda, perlahan naik ke betis dan membasahi seluruh tubunya, niat Dinda untuk membasahi tubuhnya dengan air laut di akhir pekan tertunaikan. Ryan melepaskan sendal jepitnya di atas pasir pantai itu. Perlahan menuju samudera yang disana telah menunggu putri pujaan hatinya. Canda tawa, obrolan ringan, dan kasih sayang beradu bersama percikan air laut yang larut bersama harmoni di pagi hari.

Terjulur kedua tangan dari arah belakang leher Ryan, mengalir di telinganya suara bahwa “Bawa aku ke sisi yang paling dalam..” bisik Dinda. Pangeran itu menggendong permaisurinya ke sisi yang kakinya tak lagi menyentuh pasir dan karang dasar lautan. “Di sini kita sudah cukup berada pada sisi yang dalam..” bisik Ryan pada gadis yang bersandar yang memeluknya dari belakang. Tanpa ada suara Dinda seolah hanya meresapi keintiman dari keduanya yang terombang-ambing oleh ombak lautan.

“Ini sudah cukup, makin jauh kita akan tenggelam..” canda Ryan.

Setelah berenang menuju bibir pantai hingga kaki kembali menyentuh pasir. Dinda bergegas berenang ke daratan meninggalkan Ryan yang masih enggan naik dari gelayutan ombak. “Ayoo. Sudah cukup, kamu sudah cukup kedinginan tadi pas gendong aku..” teriak Dinda dari bibir pantai, tangan kirinya memegang sendal. Ryan menyusul sambil mengibas-ngibaskan sisa air laut di rambutnya.

Keharmonisan pagi hari itu berakhir dengan naiknya matahari yang menghadirkan kemilau cahaya sinarnya di atas samudera.

Beriringan dengan renggangnya komunikasi, hingga hadirkan jarak yang berujung pada perpisahan. -Perpisahan yang prematur.

Kini kenangan itu masih terus membekas pada setiap pagi Ryan. Perpisahannya dengan Dinda masih sulit dinafikan olehnya. Ia tak ingin membodohi dan membohingi dirinya bahwa melupakan itu sama mudahnya dengan mencintai.

Bahkan jika Ryan bisa kembali membawa Dinda ke tengah lautan, dia akan membawanya ke sisi yang paling sulit dijangkau oleh siapapun. Bahkan jika Dinda harus tenggelam? Ryan akan biarkan Dinda tenggelam dalam genggaman.

Bahwa hanya ada satu cinta yang mampu menyelamatkannya, cinta dan penyesalan Ryan.

Dari dalam samudera terdalam yang bernama Rindu, Ryan masih tak ingin keluar, Ryan masih ingin berenang di atas permukaan samudera yang meski terkadang pilu, entah kelak Ryan akan kembali terbawa pada arus yang bernama Kenangan, ataukah takdir ini memang harus pecah kepada karang yang berukirkan: Perpisahan.

Cerpen Karangan: Keviyano
Blog / Facebook: Kevin Abdullah
Tidak setabah Rasulullah, tidak seberani dan sekuat Umar, tidak sesabar Ibrahim, dan tidak serupa Yusuf.

Cerpen Tentang Perpisahan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tak Mungkin Bersatu

Oleh:
Sudah lewat dari jam dua belas malam. Masih saja mata ini tak mau terlelap. Entahlah, apa karena senang, bahagia, khawatir, gelisah. Semua seakan menyatu. Ya. Besok adalah hari pernikahanku

Kau Yang Terindah

Oleh:
Kata orang masih cinta monyet jika kita menyukai seseorang di usia kita yang duduk di bangku SD. Bagiku itu mungkin juga, namun yang aku sukai dia jauh di atas

Tak Sepenuhnya Rapuh

Oleh:
Hill, begitulah Andra memanggilku. Perlu kalian tau kalau Andra adalah kekasihku. Hubungan kami sudah berjalan kurang lebih sekitar 3 bulanan. Aku dan Andra begitu bahagia dengan hubungan kami. Setiap

Maaf Aku Mencintaimu

Oleh:
Gilang, cowok paling tenar, tampan, kece, smart pula. Siapa sih yang gak kagum sama dia. Sejak pertama bertemu, aku langsung ada rasa dengannya. Yaps, tepatnya cinta. Tapi mana mungkin

Cintaku Tak Semanis Brownies Cake

Oleh:
Buku diary menjadi saksi bisu atas kesedihan yang masih tak mampu kuluapkan dengan kata-kata. Benarkah ini? Benarkah hati ini telah rapuh? Di bawah teriknya matahari kurasakan sebuah kehangatan tangan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *