Terkadang Gila Itu Malah Sempurna

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 18 March 2017

Tidak perlu repot-repot mencari cinta di negeri seberang, kalau kau melihat ada yang pantas untukmu di batas dinding. Bukan karena sudah lama mengenalnya atau karena dia sempurna, memang sudah jodoh ya mau diapakan. Dunia ini memang gila ya, segila bagaimana aku bertemu dengannya dan memutuskan untuk memadu cinta. Gila.

8 Maret 2016
“Vina, duluan ke toko ya. Mama masi mau siapin keperluan Jennifer buat persami. Adikmu belum siap-siap lagi. Kotak makan buat mas-masnya jangan lupa.” mama menyerahkan kunci toko ke tanganku yang masih erat memegang remote TV.
“Ampun dah ma. Ini lagi ada wawancara eksklusif sama anggota DPR yang kena kasus korupsi itu. Nanggung banget.” kataku sambil mengunyah bakwan goreng dengan mata masih tertuju ke layar TV.
“Vina, Jennifer itu…”
“Iya deh, iya.” aku langsung mencari-cari kunci motor di atas lemari dekat TV dan membawa kotak makan untuk mas-mas yang bantu-bantu di toko. Segera aku bergegas memacu sepeda motorku di jalanan menuju toko kami.

“Loh, mas Danang, mas Anjas. Kok udah makan? Ini kan dibawain makan?” aku melihat mas-mas ini makan di kursi depan toko sambil mengangkat kotak makan yang aku bawa dari rumah.
“Yo ndak apa-apa toh, nanti kita habisin itu juga. Ini dari rumah makan sebelah lagi opening hari pertama. Yang kasih mbak-mbak cantik lagi. Ya diterima saja.” kata mas Anjas dengan mulut yang penuh makanan.
“Oh, ruko sebelah ada yang isi juga akhirnya.” kataku sambil membuka tokoku.
Aku menghidupkan lampu, beres-beres uang di laci, dan mempersiapkan toko sesiap mungkin sebelum dikunjungi pelanggan.
“Mas, koran hari ini udah datang belum?” kataku setengah teriak ke arah depan toko.
“Oh, ini mbak Vin. Sebentar ya mbak.” kata mas Danang.
“Gak usah kesini mas, saya saja yang ke sana.” sahutku sambil setengah berlari.
“Gara-gara Jennifer ini, masa mau nginap di sekolah aja gak bisa mandiri. Jadinya, gak bisa nonton si anggota DPR tadi itu.” keluhku berbisik sambil membuka-buka isi koran.
“Apa mbak? Saya gak denger.” Bisa saja mereka dengar suaraku padahal sudah berbisik begini.
“Bukan apa-apa mas.” kataku sambil menuju meja laci, kemudian membaca dengan serius.
“Permisi, saya dari rumah makan sebelah mau kasih kotak makan buat mbak.” suara cowok ini mengagetkanku setengah mati.
“Eh, iya iya makasih ya. Selamat buat openingnya.” kataku seraya tidak percaya kalau di hadapanku hadir sesosok laki-laki tampan. Glenn Alinskie?
“Nama saya Glenn. Saya yang punya rumah makannya.”
No way! Namanya persis lagi. Glenn Alinskie KW.
“Saya kira yang punya tokonya mbak-mbak. Tadi pegawai saya kotak makannya dianterin mbak-mbak.” kataku sambil tersenyum. Mungkin senyum mengerikan karena bercampur kegugupan.
“Khusus buat mbak saya yang anterin aja. Hahaha..” aku benar-benar terdiam dan susah mengucapkan sepatah katapun.
“Ya sudah, saya pamit dulu ya mbak.” sosoknya pergi. Seperti kilat saja kehadirannya. Mengenalkan namanya tetapi tidak menanyakan namaku. Kata “khusus” itu benar-benar menggangguku seharian ini.

15 April 2014
“Aku berjanji sehabis kita wisuda nanti, aku akan melamar kamu.” tangannya membelai rambutku dengan mesra.
“Sungguhan, Bill?” aku memandang matanya berkaca-kaca.
“Makanya kamu serius skripsinya. Revisiannya segera diperbaikin.” Bill menunjukkan wajah seriusnya. Wajah seriusnya yang aku takutkan. Setakut aku kehilangannya.

10 Maret 2016
“Lagi sepi pembeli, non?” Glenn tiba-tiba muncul di sebelahku saat duduk di kursi depan toko.
“Eh, kamu Glenn. Ini lagi gantian jaga sama mama.” kataku sambil meneguk air mineral.
“Aku minta id line kamu dong. Bosen ngurusin kerjaan mulu. Biar kalau bosen, kita chattingan gitu.” Glenn mengeluarkan handphone keluaran terbaru dari kantongnya.
“Sorry, aku gak punya social media. Punyanya nomer hape doang.” kataku sambil mengeluarkan handphone hitam putih.
“Widiih, masih ada hape beginian?” katanya melihat handphoneku seperti melihat hewan langka.
Aku menunjukkan wajah kesal, lalu memalingkan mataku ke jalan raya.
“Sorry deh. Jangan marah dong.” Glenn mengarahkan wajahnya yang pura-pura bodoh itu ke arahku.
“Sorry, mau jemput adik dulu ke sekolah.” aku meninggalkan dia, lalu masuk ke dalam toko.

27 Juni 2014
“IPK tertinggi kedua. Gila kamu Vin!” teman-temanku berlari-lari ke arahku sambil teriak-teriak.
“Belum lihat tuh. Ya, syukurlah.” aku menghela nafas lega. Tidak mengherankan IPK tertinggi pertama diraih oleh Bill.
“Akhirnya mimpi Vina terwujud juga. Wisuda cum laude, lulus tiga setengah tahun, habis itu dilamar Bill. Kamu bahagia banget pasti Vin.”
“Buruan cari kebaya wisuda. Sewa tempat make up.”
Mereka semua sibuk sendiri membicarakan aku. Aku masih ingat pada masa awal kuliah dulu, satu pun tidak ada mereka yang peduli bahkan melirikpun tidak. Semua ini karena Bill. Dia membantuku mencapai ini semua.
Walaupun, menderita.
Ika, sahabatku tiba-tiba menarikku lalu mengajakku bicara.
“Kamu gak dimarahin lagi kan sama Bill?” tanyanya to the point.
“Ika, aku cinta banget sama dia.” kataku perlahan-lahan.
“Aku gak nanya itu, Vin!” teriaknya.
“Dia selama ini udah banyak membantuku. Membantuku menjadi orang berharga.” kataku penuh keyakinan kepada Ika.
“Dia gak pernah membantu kamu Vin, sadar dong! Kamu itu cinta dia, makanya kamu berusaha menjadi terbaik di mata dia. Berusaha sempurna.” Ika menggoncang bahuku.
“Kamu gak pernah ngerti aku.” aku berlari meninggalkan Ika.

11 Maret 2016
“Vina, hapemu bunyi-bunyi terus dari tadi. Jangan di depan TV terus.” papaku teriak-teriak dari ruang tamu.
“Iya, pa.” aku berlari ke arah handphoneku. “Nomor siapa ini?”
“Halo, selamat malam.” kataku sopan. Mungkin ini pelanggan, batinku.
“Selamat malam, saya mau protes pengiriman barang atas nama…”
“Glenn, please deh.”
“Loh, kamu kok tahu. Batal deh ngerjain kamu. Hahaha…”
“Kamu kok tahu nomorku? Kan aku gak jadi kasih ke kamu.” kataku setengah ketus.
“Dari mas Danang di toko kamu, sebagai ganti aku kasih nomor mbak-mbak yang kerja di rumah makanku. Hahaha…”
“Kamu dari tadi ngakak mulu.”
“Kamu yang terlalu serius.”
Malam itu kami berdua pun bertelepon sampai pagi. Entah kenapa aku nyaman sekali mengobrol dengan laki-laki yang baru aku kenal beberapa hari ini. Aku hanya merasa, aku bisa menjadi diriku sendiri bersamanya. Tidak perlu sempurna…

2 Oktober 2014
“Bill…”
“Iya, kenapa?” Bill curiga memandang wajahku.
“Aku gak diterima kerja di Jepang.” kataku ketakutan.
“Kenapa? You’re perfect. IPK, pengalaman organisasi, dan lainnya.” Bill teriak ke arah wajahku.
“Aku gagal di test kesehatan. Aku harusnya bilang dari dulu. Aku itu ada sakit, Bill.” Aku kemudian menangis memeluknya. “Bill, please. Kamu akan tetap ngelamar aku kan? Bill..”
“Vina. Kamu tahu ini kan rencana kita dari awal. Di Jepang kita bisa berkarir lalu menikah. Semua juga demi masa depan kita Vin. Demi kebahagiaan kita.”
“Bill…”
“Maaf, Vin.” Bill melepas pelukku lalu pergi meninggalkanku.

12 Maret 2016
“Vin!” seseorang mengejutkanku dari belakang.
“Glenn, dasar.”
“Aku punya binder nih, mau isi gak?” kata Glenn sambil mengeluarkan binder bergambar Hello Kitty.
“Hahaha… Gila kamu. Maksudnya apa nih? Hello Kitty lagi.” Aku benar-benar geli sekarang.
“Iya nih, tadi ke toko buku, gambar-gambar begini semua. Ya udah.” Kata Glenn sambil mengambilkan bolpoin dari kantongnya.
“Loh, kamu baru beli? Buat apa?” kataku sambil membuka-buka bindernya yang masih kosong.
“Buat isi biodata kamu. Kamu sih gak punya sosmed. Aku cari di twitter dan facebook, gak ada.” Glenn menatapku dekat.
Sejenak aku terdiam, kemudian angkat bicara. “Ya udah, apa nih yang mau ditulis?”
“Pertama, nama lengkap kamu.”
“Vina Gunawan”
“Singkat banget ya namamu. Simple lagi.” Kata Glenn sambil manggut-manggut.
“Tau, di keluargaku namaku paling simple sendiri. Adik-adikku, Jennifer Claudia Gunawan dan Clara Cynthia Gunawan. Aku sering berpikir aku kok bisa paling beda sendiri, seperti tidak berharga saja.”
“Sssttt.. Bagiku kamu malah lebih cantik sendiri tuh.” Glenn menggodaku. “Lanjut, deh. Tempat tanggal lahir.”
Aku pun mulai menulis lagi sampai hampir semua dataku tertulis di bindernya.
“Eh ada yang kelupaan” kata Glenn tiba-tiba. “Pendidikan yang pernah ditempuh.”
Aku terdiam. Sejenak aku seperti mengingat masa lalu. Aku mulai menulis dari TK sampai SMA, kemudian berhenti.
“Ya udah, kalau kamu gak pernah kuliah juga gak apa-apa.” Kata Glenn. Sedikit menyinggung, tetapi aku benar-benar tidak mau membicarakan masa lalu. Sakit itu tidak boleh diungkit kembali. Tetapi, tanganku bergerak menuliskan,
“Teknik Elektro” kemudian aku menuliskan nama kampusku.
“Vina! Ka-kamu…” Glenn memandangku tidak percaya.
Entah kenapa mataku panas dan mengeluarkan air mata, lalu aku berlari meninggalkan Glenn.

3 Oktober 2014
“Ika, aku capek cari yang sempurna. Aku capek.” Aku memeluk Ika sambil bercucuran air mata. “Aku benar-benar sudah cinta mati dengan Bill.”
“Vin, kamu move on ya sayang. Kamu itu kan cewek hebat.” Ika memelukku sambil membelai rambutku.
“Aku udah hilang akal. Prestasi, cum laude, sarjana, apa itu semua Ka? Aku bahkan lupa bagaimana caranya bahagia.” Aku terisak-isak sampai tidak bisa berbicara lagi.
“Vina, kamu mending istirahat dulu dari semua ini. Kamu masih muda, coba kamu tenangin dulu diri kamu di suatu tempat.” Kata Ika lembut dan kemudian ikut menangis.
“Aku udah mutusin. Aku mau pulang aja ke Balikpapan. Mau bantu-bantu usahanya mama, biar sekalian ngelupain ini semua. Aku mau ganti nomor hape dan hapus semua sosmedku”
“Apapun itu, aku dukung Vin.” Ika masih memelukku sampai aku benar-benar tenang.

15 Maret 2016
Glenn tak pernah lagi menemuiku bahkan meneleponku. Aku sungguh kehilangan dia, senyumnya yang jenaka. Aku mendatangi dia ke rumah makannya.
“Glennnya ada mbak?” tanyaku pada mbak-mbak di sana.
“Sudah dua hari di rumah, katanya sih sakit mbak Vina.” astaga Glenn sakit.
“Ya ampun. Aku minta alamat rumahnya dong, mbak.”

Rumah Glenn sangat asri. Banyak tanaman dan bunga-bunga langka. Aku mengetuk pintu pagarnya.
Seorang perempuan seumuran mamaku keluar. “Siapa ya?”
“Saya Vina, tante. Temannya Glenn.”
“Oh, silakan masuk, nak.”

Aku duduk di ruang tamunya. Aku melihat foto keluarga Glenn. Ternyata dia adalah anak semata wayang.
“Vina, kok bisa sampai sini?” Glenn tiba-tiba muncul dengan pakaian tebal.
“Iya, aku dengar kamu sakit ya?” kataku sambil mengambil tempat duduk di dekatnya.
“Udah mendingan kok.” Glenn menjawabku singkat.
“Kamu kok jadi pendiem sih?” aku menggandeng tangannya.
“Hehehe… Mungkin karena masih sakit.” Glenn terlihat sangat kaku.
“Eh, iya. Kamu tinggal sama siapa aja di sini?” tanyaku
“Sama mama aja berdua.” Wajah Glenn semakin pucat.
“Papa kamu?” aku menatap wajahnya yang entah kenapa menjadi sendu.
Hening, Glenn terdiam dan badannya semakin kaku.
“Papa udah meninggal karena stroke sebulan yang lalu, Vin” Glenn kemudian menangis.
“Glenn, maafin aku.” aku pun memeluk dia.
“Papa stroke karena aku. Aku drop out kuliah. Pokoknya aku ini gak berharga. Udah, Vin. Kamu tinggalin aja aku. Aku ini gak pantes bersama kamu.” Glenn teriak tidak karuan.
“Glenn…” aku menggandeng tangannya kemudian bersandar di bahunya. “Kalau saja aku bisa memilih masa lalu, aku memilih menjadi orang yang biasa-biasa saja. Setidaknya, aku bisa menjadi diriku sendiri dan mencari kebahagiaan yang sejati. Masa laluku menjadi orang yang sempurna gak enak, Glenn.” Kemudian aku yang menangis.
“Vina…”
“Aku sayang kamu Glenn, apa adanya dirimu. Kamu hadir memecahkan hidupku yang monoton ini.” aku memandang Glenn. “Please, kamu jangan ungkit kehidupan cintaku yang lalu ya.”
“Gila, Vin. Gila gila gila…” Glenn tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya.
“Kenapa Glenn?” aku ikut bangkit berdiri.
“Kamu pulang ya, tunggu aja. Aku mau bicarain tentang kamu ke mama. Siapa tau aku bisa cepat ngelamar kamu.” Glenn langsung ceria seperti orang yang tidak sakit.
“Gila, cepat banget!”
“Emang gila! Aku udah tergila-gila sama kamu!” Glenn kemudian memelukku.

END

Cerpen Karangan: Rosa D S
Blog: morningdew95.wordpress.com

Cerpen Terkadang Gila Itu Malah Sempurna merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kamu

Oleh:
Kamu orang yang belakangan ini selalu hadir dan menyelinap di antara kesibukanku sehari hari, kamu orang asing yang sekarang tak kurasa keasingannya lagi. Kamu yang terlihat begitu tegar dan

Tinggal Kenangan

Oleh:
Pagi itu sangatlah cerah, mentari pagi muncul memancarkan sinar cerah dengan semangat 67 eh semangat 45 maksudnya. Sama denganku, hari ini adalah hari ulang tahun orang yang sangat aku

Pupus

Oleh:
Aku tak mengerti apa yang ku rasa, Rindu yang tak pernah begitu hebatnya. Aku mencintaimu lebih dari yang kau tau. Lagu itu selalu mengingatkan aku akan sosoknya yang selalu

Kembali

Oleh:
Setiap kali Fuji melewati perempatan jalan itu, selalu ada bayangan seorang gadis disana. Gadis yang membuatnya jatuh cinta, gadis yang membuatnya mengacuhkan gadis-gadis cantik lain. Dan gadis itu pula

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *