Yume Monogatari

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Jepang, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 5 May 2016

Angin bertiup lembut di siang panas nan terik, membuatku bisa merasakan sedikit rasa sejuk di saat badan ini terasa terbakar oleh matahari. Aku terus berjalan tergesa-gesa, berusaha secepat mungkin sampai ke rumah. Di tengah perjalanan aku mendengar ada seseorang yang memanggilku dengan jelas. “Yuuukkkiii!!” aku mencari asal suara itu. Di sebuah taman di pinggir sungai aku melihat ada seorang laki-laki. “Siapa dia?” tanyaku dalam hati. Dengan rasa bingung aku menghampiri laki-laki itu sambil terus bertanya bingung pada diriku sendiri.

“Siapa dia, mengapa dia bisa mengetahui namaku, dan apa maksud dia memanggilku?” Kini aku telah berada tepat di hadapan dia, kita berdua hanya saling menatap dalam diam tanpa suara. “Hai Yuki ternyata kamu gadis yang manis yah,” suara dia membuatku terkejut.
“Hehe iya terima kasih banyak atas pujiannya, sepertinya aku tidak mengenalmu, kamu siapa?” tanyaku pada dirinya.
“Oh iya aku lupa memperkenalkan diri padamu, aku adalah orang yang mengagumi caramu bermain basket.” Aku makin kebingungan atas jawaban yang diberikannya, karena selama aku bermain dan bertanding basket, aku merasa tidak pernah melihat sosok laki-laki ini.

“Emm kamu sering melihatku bermain basket, bolehkah aku mengetahui namamu?” Tiba-tiba suasana berubah hening kembali tanpa adanya jawaban dari laki-laki misterius itu, karena dia hanya diam tanpa adanya jawaban aku pun perlahan pergi meninggalkannya dan melanjutkan perjalanan pulang. Kaki terus berayun menata langkah untuk pergi meninggalkan laki-laki itu, tiba-tiba laki-laki itu berteriak dengan keras. “Aku Hito, senang berkenalan denganmu Yuki, sampai bertemu lagi.” Sontak aku terkejut dan langsung memalingkan badan, kembali melihat laki-laki itu, namun dia sudah berlari pergi.

Aku terus melangkahkan kakiku sampai tiba aku di rumah, “Tadima (aku pulang)” teriakku, namun tak ada sahutan yang menyambutnya. Aku bergegas menuju kamar dan langsung berganti pakaian. Badanku terasa lelah sekali, aku jatuhkan badan ini pada tempat tidur kesayanganku. Selagi mengistirahatkan diri, aku membayangkan kejadian saat berjumpa dengan laki-laki misterius. Namun perlahan aku mulai merasakan kantuk, kelopak mata ini mulai berat, perlahan-lahan kelopak mata ini tertutup dan sampailah aku pada alam tidurku yang sangat nyaman. Di malam yang sunyi, aku menatap langit yang berwarna hitam pekat, dihiasi titik-titik indah yang bercahaya. Aku berharap hari esok dapat menemui kembali laki-laki yang bernama Hito.

Malam pun semakin gelap udara mulai tak bersahabat, semilir angin malam yang sangat dingin sampai menusuk ke tulang. Aku berdiri di depan balkon rumah, melihat ke sekeliling rasanya sepi dan sunyi. Di ujung jalan tak jauh dari rumahku, aku melihat ada seorang laki-laki yang menggunakan jaket tebal berwarna cokelat lengkap dengan topinya. Aku merasa sepasang mata misteriusnya sedang menatapku. Aku terus menatapnya berusaha memperjelas pandanganku agar dapat mengetahui wajah di balik topi tersebut, namun sialnya aku tak berhasil, laki-laki itu telah memalingkan wajahnya seakan dia tahu jika aku sedang berusaha melihat wajahnya. Sebelum dia memalingkan badan dan berjalan pergi dia sempat melambaikan tangan padaku, aneh sekali bukan? Udara pun semakin dingin, aku pun masuk dan berusaha untuk tidur agar tidak terlambat bangun. Sang fajar mulai memancarkan cahayanya, cahaya silau itu menerobos masuk ke dalam kamarku melalui celah-celah sempit dan cahaya silau itu berhasil membangunkanku.

“Yukiii, bangun sayang jangan sampai kamu terlambat masuk kelas lagi hari ini!” suara ibuku dari balik pintu kamar.
“Iyaa Bu, aku sudah bangun. Aku akan mempersiapkan diri untuk berangkat ke sekolah,” jawabku pada ibu. Aku pun mempersiapkan diri mulai dari mandi, menggunakan seragam lengkap. Setelah selesai aku pun turun untuk sarapan. “Selamat pagi Ibuuu. Ibu buat sarapan apa?” tanyaku pada ibu.
“Pagi putriku yang cantik, maafkan Ibu yah, Ibu pulang terlalu malam, Ibu tidak masak apa-apa pagi ini, Ibu hanya menyiapkan roti untukmu, tidak apakan sayang?” tanya balik ibu padaku. “Iya Bu tidak apa kok, aku pergi Bu.” aku pun pamit untuk segera berangkat agar tidak terlambat.
“Hati-hati sayang.” kata ibu.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh aku pun sampai di sekolah, aku pun segera menuju kelas yang sudah ramai oleh obrolan pagi teman-temanku, entah apa yang mereka bicarakan. Aku bukan tipe perempuan yang suka berbincang panjang sambil bergaduh ria membuat kuping berasa sesak mendengarnya. Maka dari itu aku selalu pergi ke lapang untuk bermain dengan bola basket kesayanganku. Ternyata di lapang sudah ada Tanaka dia adalah sahabat baikku yang selalu setia menemaniku bermain basket sampai aku bosan dan lelah.

“Yukiii selamat pagi, apa yang membuatmu datang sepagi ini,” guraunya padaku.
“Selamat pagi juga Tanaka, jahatnya kau. Aku hanya berusaha agar tidak sering terlambat ke sekolah.” jawabku santai.

Kami berdua pun bermain basket dengan riang sampai tidak terasa bel masuk sekolah berbunyi. Aku dan Tanaka pun kembali ke kelas. Bel terakhir pun berdering waktunya untuk pulang, aku merapikan kembali isi tasku. Aku pergi meninggalkan kelas dan segera pulang. Di gerbang sekolah aku melihat Hito nampaknya dia sedang menunggu seseorang. Tapi aku menghiraukannya dan terus melangkahkan kaki menuju rumah. Namun ternyata Hiro mengikutiku dan menarik tanganku, sontak aku terkejut.

“Apa-apaan ini? Kamu mau membawaku ke mana?” tanyaku pada Hito.
“Ikut saja aku tidak akan macam-macam,” jawab Hito. Akhirnya aku pasrah mengikuti ke mana dia pergi. Jauh sekali rasanya dia membawaku, jalannya mulai asing di penglihatanku maklum saja aku orang baru di kota ini, aku baru pindah 6 bulan yang lalu.
“Hito aku mulai lelah, kamu ingin membawaku ke mana sih?” Tanyaku pada Hito. Namun dia hanya diam saja dan membungkukkan badannya di depanku.
“Ayo naik biar ku gendong katanya kau lelah!” Perintahnya padaku. Tanpa pikir panjang dia pun menggendongku dan berkata. “Ternyata kau berat juga yah Yuki-chan.” Aku pun tersipu malu dan mencubit ringan pipi Hito, dia pun hanya tersenyum manis.

Sampailah kami di sebuah danau yang indah sekali. Udaranya sangat sejuk membuat aku nyaman berada di sini. Mataku dimanjakan pemandangan indah. “Apa kau suka Yuki?” Tanya Hito padaku.
“Aku sangat menyukainya, terima kasih Hito telah mengajakku ke danau seindah ini. Aku senang.” Kami berdua menghabiskan waktu di danau ini dengan sangat ceria hingga tak terasa waktu mulai senja. Hito mengajakku untuk pulang karena dia takut, ibuku khawatir. Dengan berat hati akupun pulang meninggalkan danau indah ini.

“Jangan sedih Yuki-chan! besok-besok aku akan mengajakmu ke tempat-tempat yang lebih indah, aku akan memperlihatkan surga kecil yang Tuhan ciptakan di Kyoto. Aku berjanji.” Itulah janji Hito yang dapat membuatku kembali tersenyum manis. Hito mengantarkan aku hingga depan rumah, aku sudah mengajaknya masuk, namun dia menolak. Hito pun berlari kecil meninggalkanku sambil melambaikan tangannya dan memberikan senyum manis padaku. Menutup perjalanan pertama kami dengan sangat manis.

Aku pun masuk ke rumah. “Tadima (aku pulang)!” teriakku pada seisi rumah namun tidak ada yang menjawab, pasti ayah dan ibu belum pulang. Mereka memang seperti itu selalu sibuk dengan pekerjaannya hingga selalu pulang larut malam di saat aku sudah terlelap tidur. Keesokan harinya di saat pulang sekolah Hito menjemputku lagi dan mengajaku bermain ke tempat-tempat yang indah. Hal ini terus berulang sekitar satu bulan lamanya. Namun aku tidak pernah merasa bosan, mengapa? Alasannya karena Hito selalu mengajaku ke tempat yang baru dan menceritakan hal baru pula padaku. Kegiatan ini membuatku lupa pada hobiku bermain basket. Di mana hobi itulah yang membuat kami bisa sedekat ini sekarang.

Seperti biasa Hito telah berdiri tepat di depan gerbang sekolahku. Aku menghampirinya dengan rasa penasaran, dia akan mengajakku ke mana sekarang. Kami pun berjalan bersama ngatur langkah agar seirama. Tak ada satu kata pun yang terucap dari bibir Hito, dia bungkam seribu kata tak seperti biasanya. Sampailah kami di taman tempat di mana pertama kali kami berjumpa. “Kenapa kamu mengajakku ke taman ini Hito?” Tanyaku dengan sedikit bingung.
“Duduklah!” Pinta Hito padaku. Kami duduk di kursi taman yang berada di antara pohon sakura yang sedang bersemi indah, bunga sakura yang berwarna merah muda itu seakan menggambarkan rasa hatiku pada Hito.

Hari ini Hito nampak berbeda. Dia lebih banyak diam hari ini. Hari mulai gelap, angin berhembus lebih kencang, badanku menggigil dibuatnya. Ku lihat Hito membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah jaket berwarna cokelat. Dia menggunakan jaket itu padaku. Aku seperti mengenali jaket ini, aku berusaha mengingat kapan aku melihat jaket ini, sontak aku terkejut.

“Hito apa kau…” belum selesai aku bertanya Hito telah memotong pembicaraanku.
“Iya aku laki-laki yang pernah kau lihat di malam itu. Aku hanya memastikan kau aman di rumah, karena aku tahu kau selalu sendirian di rumah. Itu juga alasanku selalu mengajakmu jalan-jalan setiap pulang sekolah agar kau tak terlalu lama berada di rumah sendirian. Aku takut terjadi hal buruk padamu.” Semua alasan itu membuatku takjub, belum pernah ada laki-laki yang berlaku seperti ini padaku, aku semakin di buat jatuh cinta padanya. “Hari sudah semakin gelap, sebaiknya kita pulang Yuki-chan! Pakai saja jaketnya, angin malam tak baik untukmu. Biarku antar kau pulang.” tegas Hito. Kami pun berjalan pulang masih dengan hening tanpa adanya percakapan.

Sesampainya di rumahku, Hito langsung pamit untuk pulang, “Aku pulang dulu, kau hati-hati di rumah jangan sampai orang jahat bisa masuk ke dalam rumah. Jaga dirimu baik-baik Yuki-Chan!” Kata pamitan yang diucapkan Hito sedikit aneh di kupingku, karena biasanya tidak begini. Aku pun hanya mengangguk sambil menebar senyum manisku pada Hito, namun Hito tak membalas senyumku dia langsung saja pergi meninggalkanku dan melupakan jaketnya yang masih aku kenakan. Sikap aneh Hito membuatku sedih, aku tidak menyukai sikapnya pada hari ini. Waktu semakin malam dan aku memutuskan untuk tidur.

Pagi ini aku bangun terlalu siang sehingga aku terlambat masuk sekolah. Jika sudah seperti ini hariku pasti berantakan. Benar saja, banyak hal yang membuatku kesal. Ingin rasanya cepat pulang dan bertemu dengan Hito. Namun waktu berjalan lambat sekali. Sampai akhirnya waktu pulang tiba. Aku segera merapikan buku dan alat tulis, aku pun memasukannya ke dalam tas. Aku langsung berlari menuju gerbang sekolah, namun Hito tidak ada. Aku mencari ke sekeliling, memastikan jika Hito memang tidak datang. Dengan berat hati aku berjalan pulang. “Mengapa Hito tidak datang untuk mengajakku pergi yah?” Pertanyaan kecewa terlontar ke luar dari bibirku. Selama perjalanan pulang, aku melangkah dengan hati yang kusut. Hari ini semuanya kacau.

Ternyata di hari-hari berikutnya Hito tak pernah menjemputku lagi, “Ke mana dia? Dia menghilang tanpa jejak. Jika aku boleh berkata jujur aku merindukannya.” Kebahagiaanku pudar, senyumku berubah menjadi kesedihan, tawa riangku berubah menjadi tangisan, Hito benar-benar pergi entah ke mana, aku tak mengetahui di mana tempat dia tinggal. Untuk mengobati rasa rinduku pada Hito, sepulang sekolah aku selalu datang ke taman, tempat di mana awal dan akhir aku berjumpa dengan sosok pria misterius yang dapat membuatku jatuh cinta.

Hari libur tiba ayah dan ibu mengajakku pergi, untuk berlibur bersama, setelah sibuk menghabiskan waktu dengan kegiatan masing-masing. Ternyata ayah dan ibu mengajakku ke danau yang pernah aku kunjungi bersama Hito. Tanpa sadar aku menangis sontak ayah dan ibu terkejut. Ayah berusaha menenangkanku dan bertanya, “Mengapa anak cantik ayah menangis? apa anak Ayah tidak suka dengan tempat ini?” Aku pun mengusap air mataku dan memeluk ayah, saat aku memeluk ayah ibu pun memeluku. Kami bertiga saling berpelukan. Ibu menangis dan meminta maaf padaku, “Sayang maafkan Ibu dan Ayah yang terlalu sibuk dengan pekerjaan hingga sulit sekali memiliki waktu luang bersamamu. Maafkan Ayah dan Ibu yah sayang.” Senang rasanya mendapatkan pelukan hangat dari ayah dan ibu, pelukan itu membuatku tenang. Aku berusaha untuk menceritakan pada ayah dan ibu jika saat ini aku sedang merindukan Hito, dan merasakan kehilangan yang teramat sangat saat dia hilang.

Di tempat ini aku menceritakan semua yang telah aku alami kepada ayah dan ibu. Mereka menatapku sambil tersenyum ringan, sepertinya mereka mengejekku.
“Ternyata anak Ayah sudah mulai jatuh cinta,” ledek ayah padaku. Aku hanya tersenyum kecil padanya.
“Sayang jika dia memang sayang padamu dia pasti kembali, andai dia tidak kembali mungkin akan ada laki-laki lain yang lebih baik dari dia. Ya sudah jangan bersedih, kita pulang saja yuk, biar Ibu masakkan makanan kesukaan Ayah dan putri cantik Ibu.” kata ibu sambil mengusap manja rambutku, kami pun bergegas pulang meninggalkan danau penuh kenangan indahku bersama Hito.

Waktu terus berjalan, rasa cintaku semakin berkembang, namun Hito tak kunjung datang. Sempat berpikir untuk menyudahi rasa ini dan membiarkannya hilang, tapi sayangnya aku tak mampu untuk mengakhirinya. Aku masih menunggu kedatangannya lagi dan berangan dapat merajut indahnya cinta bersama Hito.

FUYU (musim dingin).
Hari ini, aku berencana mengunjungi sebuah restoran kecil di pinggiran kota sendirian untuk sekedar jajan dan jalan-jalan. Hari ini udara sangat dingin sekali. Aku pergi dengan menggunakan jaket yang agak tebal lengkap dengan topi dengan maksud agar badanku tetap hangat. Di dalam cafe aku sengaja tak membuka topi jaketku, aku melihat ke sekeliling restoran, di satu meja aku melihat ada laki-laki yang mirip sekali dengan Hito, dia sedang duduk sambil menikmati makanan dengan seorang gadis berambut panjang. Laki-laki itu mirip sekali dengan Hito saat aku melihat dengan sangat teliti aku pun yakin jika dia memang Hito, tapi siapa gadis itu? Saat rasa penasaranku memuncak aku mendengar dengan jelas sekali gadis itu berkata, “Aishiteru, itoshii hito (aku mencintaimu, kekasih hatiku),” lalu dengan spontan Hito mencium lembut tangan gadis itu yang sedari tadi di pegang olehnya.

Adegan romantis itu membuat air mataku menetes, seakan mewakili betapa sakitnya rasa hati ini. Di saat aku menangis tanpa sadar aku membuka topiku, lalu Hito melihat ke arahku dan menatapku kaget. Aku berusaha menghapus air mataku dan berusaha tenang agar semuanya tampak kembali normal. Aku tahu jika saat aku menangis, Hito melihatku. Hingga tak berapa lama gadis itu pergi meninggalkan Hito, sebelum gadis cantik itu pergi sebuah ciuman mesra mendarat tepat di keningnya. Aku berusaha tak menatapnya, aku berpura-pura tak melihat semuanya, dan membodohi diri sendiri untuk tetap diam di tempat ini. Setelah gadis itu pergi Hito pun menghampiriku.

“Yuki apa yang kau lakukan di sini? Kamu sendirian?” Tanya Hito padaku.
“Sudahlah semua itu bukan urusanmu sana pergi, temani gadis itu dan tinggalkan aku sendiri di sini,” aku menjawab, tak terasa air mataku kembali menetes. Dengan sigap Hito menghapus air mataku, dan tanganku menepisnya. “Aku dapat melakukannya sendiri, kau Jahat Hito kau telah membuatku jatuh cinta, kemudian meninggalkanku pergi dan ternyata kau telah memiliki kekasih.” Rasa sakit ini membuat air mataku terus berjatuhan.

“Gomennasai Yuki telah membuatmu jatuh cinta, perlu kau tahu aku pun mencintaimu. Aku tak sangka jika rasa kagumku padamu akan berubah menjadi rasa cinta dan kau pun ternyata mencintaiku. Tapi maaf aku tak bisa membalas cintamu, karena aku telah memiliki kekasih, dia mencintaiku dan aku mencintainya, aku tak bisa berbagi hati untukmu. Maafkan aku jika semuanya harus serumit ini.” jawaban Hito hanya membuatku sakit. Tanpa pikir panjang aku berlari ke luar dan meninggaklan Hito, laki-laki yang sangat baik dan selalu menjagaku namun sekarang dia telah melukai hariku.

Kini aku tahu cinta indah yang ku tunggu adalah cinta yang salah, cinta yang ku tunggu tak mungkin dapat ku genggam, karena telah ada yang menggenggamnya erat hingga tak mungkin dapat aku rebut. Aku harus ikhlas membiarkan cinta itu pergi, walau rasa perih harus ku rasakan tak mengapa. Mungkin benar akan ada cinta yang lebih baik di luar sana. Biarlah semua kenangan manis yang menimbulkan rasa cinta itu gugur seperti bunga sakura pada musimnya nanti.

-OWATTA

Cerpen Karangan: Sri Yulianti
Facebook: Sri Yulianti
Hai minnasan, aku baru belajar menulis cerpen, ini cerpen pertamaku yang dapat terselesaikan sampai akhir dan akupun baru belajar bahasa Jepang, jadi gomen ne jika ada kesalahan. Domou arigato.

Cerpen Yume Monogatari merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sorry, But l Love You

Oleh:
“Kadang, tanpa kita sadari jarak bukanlah salah satu alasan pencarian yang pasti, mungkin dia hanya selangkah di dekatmu.” “Raaaaaa? Hei Ranita Deanita?” suara seseorang yang jelas sudah sangat bersahabat

Sebuah Penantian

Oleh:
Malam beranjak kian larut, seiring purnama yang tersenyum penuh rona keindahan yang menyusup di balik jiwaku yang dirambati resah, sang purnama bersinar memancarkan cahaya kuning keemasan, seolah memberi secercah

My Destiny (Part 1)

Oleh:
“Oka-san (ibu), Oto-san (ayah)… Aku berangkat, ya…!” kataku seraya menyalimi tangan Oka-san dan Oto-san bergantian. “Hati-hati, Otoha. Jangan tersesat, ya! Kamu ‘kan belum terlalu hafal jalan disini,” kata Oka-san

A Reason

Oleh:
Hening. Atmosfir yang tercipta pun menegangkan. Mereka masih terdiam dengan gaya masing-masing -Sawako masih duduk di bangkunya dengan kepala tertunduk, Ayane masih berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan

Dilema

Oleh:
Kukuruyuk… Suara ayam berkokok mulai terdengar, matahari pun sudah mulai terbit, aku mulai bergegas menuju ke kamar mandi. Hari ini adalah hari pertamaku sekolah setelah libur kenaikan kelas dua

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *